
"Jika Nyonya sampai tersentuh sedikit pun, maka aku tidak akan memafkanmu, Rio! Idemu sangat gila!"
"Tapi, Tuan juga menyetujuinya," sambar Rio dengan cepat.
Marshal terkekeh pelan. "Benar juga."
Kemudian mereka berdua tertawa.
Berjalan beriringan menuju sebuah kamar, Marshal dan Rio berbincang ringan mengenai rencana mereka.
Mari kita lihat apa yang sedang Viona lakukan! Seharusnya saat ini Viona akan ketakutan dan menangis di pojokan, pikir Marshal.
"Awas jika dia menyentuh nyonyaku!" Tatapan Marshal sangat tajam memperingatkan asistennya.
"Tidak akan, Tuan. Tenang saja." Rio memberikan senyuman lebar pada Marshal dan mempersilakan majikannya untuk membuka pintu kamar duluan.
Pandangan wajah pucat istrinya pasti langsung dia lihat. Viona pasti sangat ketakutan saat ini, Marshal sangat yakin.
"Sayang?" Marshal terpaku di ambang pintu melihat istrinya tengah berjongkok di atas laki-laki yang terkapar lemah, menggumamkan kata menyerah. Terlebih, wajah laki-laki itu penuh luka dan darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
Wajah Marshal langsung pucat ketika Viona bangun, masih sempat menendang dagu laki-laki yang sudah terkapar lemah di atas lantai yang dingin.
Apa yang terjadi?
"Sayang?" Dia melangkah perlahan mendekati istrinya yang nampak berkeringat dan dada yang naik turun tidak beraturan.
"Ampun, Nyonya ...." Samar-samar Marshal bisa mendengar suara lirih dari laki-laki itu.
Marshal menelan ludah kasar melihat ke arah pojokan kamar, terdapat Viona berdiri di sana, di bawahnya laki-laki itu terlihat setengah sadar sambil terus bergumam lemah. Dan Marshal ikut-ikutan setengah sadar melihat keadaan saat ini.
Viona berjalan mendekat padanya, memeluk tubuh Marshal dengan erat dan isakan keluar dari mulutnya begitu saja?
Marshal termangu. Viona menangis?
Masih dalam kesadaran yang kurang untuk mencerna keadaan, tangan Marshal terangkat mengusap punggung Viona yang bergetar. Tatapannya sulit diartikan melihat laki-laki di pojokan yang kini berguling ke samping sambil meringis dan memegang perutnya. Luka di wajahnya juga terlihat sangat parah.
Lalu, kenapa Viona bisa menangis? Apa laki-laki itu menyentuhnya?
__ADS_1
"Sayang?" Marshal menunduk, Viona menggeleng-gelengkan kepala dan kembali menangis kencang.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa jadi seperti ini?
"Rio!"
Orang yang dipanggil segera masuk ke dalam kamar. Reaksinya sama seperti yang Marshal perlihatkan tadi saat pertama kali menginjakkan kaki di sana. Terpaku dan bingung melihat keadaan.
"Tuan?"
Marshal menggeleng tidak tahu, saat Rio bertanya padanya. Ini bukan yang ada di dalam benak mereka. Bukan pula dugaannya. Kenapa bisa jadi seperti ini?
Marshal masih diam menenangkan Viona yang enggan melepaskan pelukannya, sedangkan Rio berjalan menuju laki-laki yang terus saja meringis, bahkan kesusahan untuk berdiri.
"Ampun, Tuan. Saya tidak menyentuhnya. Nyonya langsung menghajar saya," gumam laki-laki itu, meringis melihat Rio berada di hadapannya.
Rio terkejut, melirik pada Marshal yang sama terkejutnya. Mereka diam saling pandang, tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Tuan ...." Laki-laki itu memelas, meminta tolong pada Rio untuk membantunya bangun.
Dengan segera Rio melakukannya dan membawa laki-laki itu keluar dari dalam kamar. Melihat Marshal yang hanya memperhatikan, Rio menyiratkan pertanyaan lewat tatapan dan Marshal mengangguk. Dia akan membawa laki-laki babak belur itu ke rumah sakit secepatnya, sebelum nyawanya melayang.
Kecuali ... laki-laki itu melebihi batas perintahnya.
***
"Brengsek!"
"Uugh!" Marshal terpekik kaget menerima tendangan di tulang kering. "Aku minta maaf, Sayang."
"Nih, maaf, nih!"
Marshal sampai berjongkok di hadapan istrinya, menutupi kepala dengan kedua tangan, menghindari pukulan Viona yang membabi buta. "Bukan aku, Rio yang merencanakannya! Sungguh!"
Viona tidak mendengarkan dan malah kembali menghajar suaminya sendiri.
"Sayang, aku tidak mau seperti Bondan. Hentikan! Aku minta maaf!"
__ADS_1
"Maaf? Kamu keterlaluan Marshal!" Kemarahan Viona membeludak keluar saat itu juga, setelah mendengar pengakuan kejam dari suaminya.
Dia pikir semalam dia memang bermimpi di datangi oleh Marshal dan dipeluk erat sampai tertidur pulas. Ternyata bukan mimpi, melainkan kenyataan dan tadi pagi laki-laki itu sempat meninggalkannya demi rencana gila yang membuat Viona ketakutan setengah mati.
"Terus, kenapa Vennay ada di sini?!" Viona menghentikan serangannya karena Marshal terus memohon ampunan. Masih menyisakan kemarahan besar, dia duduk di tepi ranjang, menepis tangan Marshal yang mencoba untuk meraih tangannya.
"Dia sekarang bekerja padaku. Amanda sudah dipenjara, dia tidak lagi menjadi manager-nya." Marshal bersimpuh di hadapan Viona, sesekali meringis merasakan bekas serangan istrinya yang menggila. Jika serangan di ranjang, Marshal akan menikmatinya, tapi kali ini malah menyiksa.
"Aku kira aku diculik, Sialan!" Viona memandang garang pada Marshal yang malah menjauhkan wajahnya sambil meringis. "Rencana biadab!" semprotnya lagi ke depan wajah suaminya.
"Aku minta maaf."
Bukan begini rencana yang sudah dia buat. Papa, rencana kita gagal. Kenapa jadi seperti ini? ringis Marshal dalam hati.
Niatnya memberikan kejutan indah untuk Viona dan membawanya untuk segera pergi. Tapi, jika seperti ini jadinya, semua rencana yang dia susun hancurlah sudah.
"Tanganmu berdarah, Sayang." Marshal meraih tangan Viona, memperhatikan buku-bukunya yang terdapat darah segar di sana.
"Darah si badjingan itu!"
Marshal menelan ludah kasar melihat sorot mata istrinya terdapat api yang berkobar-kobar. Tidak percaya jika Viona menghajar laki-laki tadi sampai terkapar lemah. Dia sempat syok saat Viona mengatakan, jika laki-laki tadi mau bersikap kurang ajar padanya. Viona yang tidak ingin dilecehkan langsung mengambil langkah kejam dan menghajarnya habis-habisan.
Marshal lupa jika istrinya sejak jaman sekolah sudah berlatih Taekwondo. Hanya mengalahkan satu laki-laki seperti itu akan sangat mudah baginya. Apalagi laki-laki itu tidak bisa melawan Viona, karena takut terhadap Marshal. Maka, pantas saja jika laki-laki tadi babak belur, bahkan hampir sekarat.
Jakun Marshal kembali bergerak saat Viona mengepalkan tangan, meraih kemejanya dan mengusapkan darah tersebut pada baju yang Marshal gunakan saat ini.
Sang Nyonya ternyata kejam juga. Hampir saja membunuh orang dengan tangannya sendiri.
"Sekali lagi kamu membuat aku ketakutan seperti tadi, maka aku pastikan kamu yang mati!"
Ancaman yang sangat menakutkan. Marshal hanya terdiam, tidak berani bergerak sedikit pun. Dia tidak tahu, jika Viona bisa bersikap sekejam itu. Selama ini, sosok Viona yang dia tahu adalah gadis cantik yang lemah lembut dan sangat sopan juga ramah. Tidak pernah tahu jika dia punya sisi pembunuh yang handal.
Istrinya terlalu menakutkan. Bagaimana jika dia berselingkuh, lalu Viona memergokinya? Marshal bergidig ngeri, sudah pasti nyawanya melayang saat itu juga.
"K-kenapa?" Marshal sudah harap-harap cemas. Sejak tadi Viona melihat padanya dengan tajam, tapi tidak berbicara apa pun.
"Kamu bilang melakukan semua ini untuk kejutan. Memangnya kejutan apa yang sudah kamu siapkan?"
__ADS_1
Apa hayoooo .....
Mhehe ... soriii😬😬