
"Makanya ke sini nyusul. Di sini seru banget lho, Dek. Enak. Tempatnya juga bagus banget."
"Enak yang dimaksud Rena, bukan tempatnya, tapi aktivitasnya, Sayang."
Viona menoleh cepat ke arah samping, mendapat bisikan yang tiba-tiba. Terkejut mendapati wajah Marshal yang berjarak sangat dekat dengannya. "Kamu kapan pulang?"
Marshal malah mengedikkan bahu, acuh. Melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Melonggarkan dasi dan membuka jas kerja.
"Kak, udah dulu, ya. Marshal udah pulang. Hehe ...." Terpaksa harus menyudahi sambungan bersama sang kakak ipar. Padahal Viona masih ingin berbincang banyak dengannya. "Nanti aku telepon lagi."
"Oke-oke. Aku juga kebetulan harus nyiapin perlengkapan mandi buat suami. Dia sebentar lagi pasti bangun, kan, ya."
"Setelah kelelahan." Viona menambahinya disertai tawa yang menggema. Bayangan bagaimana acara bulan madu Vino di Maldives bersama istrinya, kini dia yang malu sendiri. Rena memang hampir menceritakan semua kegiatan mereka selama di sana. Tidak lupa juga memamerkan potretnya berada di tempat-tempat yang indah dan memanjakan mata. Membuat Viona iri dan ingin pergi ke sana juga.
Tawa mereka bersahutan. Terhenti saat mendengar gumaman suara serak khas laki-laki di ujung sana. Viona langsung tersenyum geli. Tidak pernah sedikit pun dia bisa membayangkan jika sosok yang selama ini selalu menjaganya, ternyata bisa bersikap manis yang sedikit manja pada istrinya. Vino punya sisi lain yang Viona sendiri, sebagai adiknya bahkan tidak tahu.
"Yaudah, aku tutup, ya, Dek. Bye. Assalamuaikum, Adik Ipar."
"Waalaikumsalam." Viona menutup sambungan sambil tersenyum. Menyimpan ponsel di atas nakas dan segera menghampiri Marshal yang tengah memejamkan mata sambil duduk di sofa. Terlihat sangat kelelahan. Kasihan sekali suaminya itu. Pasti pekerjaannya yang banyak itu telah menyiksa sedemikian rupa.
"Capek, Sayang?" Viona geli sendiri dengan suaranya yang sensual. Dia duduk di samping Marshal, mengusap rahang suaminya dengan lembut.
Marshal membuka mata perlahan, melihat ke arah nakas, tempat di mana ponsel Viona tergeletak. "Sudah teleponannya?" Dia melihat pada Viona lagi. Menegakkan tubuh dan memberikan ciuman hangat di kening dan kedua pipi istrinya.
"Apa pengantin baru itu memamerkan kemesraan mereka?"
Viona hanya tersenyum. Tidak perlu menjawabnya, Marshal pasti mengerti. "Tumben gak pulang malam?"
__ADS_1
"Aku ... sedikit sakit kepala. Jadi pulang cepat."
Viona ikut prihatin mendengarnya. Tangan halus dan lembutnya terulur pada kepala Marshal, memberikan pijatan ringan yang sangat Marshal sukai. "Mau mandi sekarang?"
Marshal malah mengubah posisi. Berbaring di sofa dengan kaki menjuntai dan kepala berada di pangkuan Viona. "Meminta pijatan enak tidak akan membuatku gila, kan?"
Viona terkekeh. Menuruti keinginan suaminya untuk memberikan pijatan. Sesekali dia bertanya banyak hal dan berbincang ringan dengan Marshal. Komunikasi yang terjalin baik, akan membuat sebuah kemistri yang baik pula dalam sebuah hubungan. Itulah yang mereka lakukan. Marshal dan Viona selalu mencoba untuk menjadi pasangan yang saling mengerti dan memperbaiki keadaan setiap harinya. Mereka memilih untuk bersama, sudah tentu harus tetap menjaga keharmonisan pernikahan, bukan?
***
"Temani aku ke acara Grand Opening Hotel, malam nanti."
Viona menoleh dengan cepat saat mengambil handuk untuk Marshal. "Malam ini?"
Marshal mengangguk pelan. "Kenapa? Tidak mau?"
Bola mata Marshal berputar sejenak. "Apa menghadiri sebuah acara Grand Opening harus memerlukan waktu dua hari untuk kamu persiapan?" Jelas Viona memberikan gelengan. "Kamu sudah cantik, sekalipun baru bangun tidur langsung diajak ke pesta, juga tidak akan jadi masalah."
Viona mencebik. Dikira dirinya bidadari yang bersinar setiap saat? Ucapan Marshal berlebihan, membuatnya sebal.
"Mau mandi bersama?"
Viona berdecak, satu tangan bertumpu di pinggang. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Apa Tuan ingin aku mandikan?" Senyuman miring tercetak di wajahnya yang cantik. Viona tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya. Selalu saja menyebalkan.
"Jika Nyonya tidak keberatan, dengan senang hati, aku bersedia."
"Cih!" Viona membuang muka malas. Ekspresi delikan matanya sontak membuat Marshal tertawa. "Udah, ah, mandi sendiri."
__ADS_1
"Nyonya tidak mau melayani?"
"Chal ...."
"Baiklah, aku mandi sendiri." Marshal menyerah dengan sisa tawa masih membekas di wajahnya. Dia berbalik badan dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedetik kemudian, kepalanya kembali muncul dari balik pintu. Senyuman jahil tercipta. Dengan cepat dia berjalan pada Viona yang sudah melangkah untuk pergi dari sana.
"Aaaa ... Chal!" Viona terkejut, berteriak keras dan menendang-nendang udara saat tubuhnya diangkat secara tiba-tiba. "Turunin! Aku gak mau mandi!"
Marshal tidak peduli dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Senyuman licik terbit melihat Viona yang kesal dan terlihat garang. Amarahnya berapi-api siap menghantam. Tapi, Marshal tahu, Viona tidak akan bisa melarikan diri. Pintu sudah dia kunci dan Viona hanya bisa menurut atau berakhir dengan mereka yang bisa keluar kamar mandi sampai malam menjelang.
"Chal, jangan macam-macam, ya!" Mata Viona memulat tajam, memperingatkan. Dia beringsut mundur karena tidak mau Marshal menyambarnya atau berbuat diluar dugaan. "Please, Chal ... ini kamar mandi." Melihat senyuman licik suaminya, Viona mulai was-was. Mandi yang Marshal ingin sepertinya melenceng arti. "Akuļ¼"
"Ssst ...," Marshal memperingatkan untuk diam. Telunjuknya teracung di depan bibir dan senyuman itu kembali terlihat jelas di sana. "aku tahu, kamu sudah selesai datang bulan, kan?"
Viona melotot tajam. Kenapa juga Marshal harus mengetahui hal itu? "Nggak, Chal. Belum." Berusaha untuk mengelak dengan sebuah kebohongan. Sungguh, bercinta di dalam kamar mandi tidak pernah ada dalam bayangannya sama sekali. Terlalu menakutkan, meskipun menantang untuk dicoba. "Nggak, Chal."
"Menolak berarti kamu tidak patuh padaku. Suamimu."
"Chal ...." Viona memasang raut wajah memelas. Memohon supaya tidak ada niatan kotor di otak suaminya. "Oke, hanya mandi."
Seketika itu juga tawa Marshal menggema. Sampau sudut matanya berair dan memegang perut dengan geli. Viona yang awalnya ketakutan, jadi heran melihatnya.
"Bukankah aku mengajak untuk mandi bersama? Kenapa kamu seperti itu ekspresinya, hm? Aku memang akan mengajakmu mandi, bukan hal lain." Dengan gemas Marshal mencubit hidung Viona. Tawanya masih terdengar, meskipun hanya tinggal sisanya. "Apa kamu berpikir kita akan bercinta di sini? Oh, ayolah, Sayang. Aku sebenarnya tidak berniat seperti itu. Ajakanku memang untuk mandi, bukan memuaskan diri."
Wajah Viona merona seketika. Berarti yang salah pikirannya. Bisa-bisanya dia memikirkan akan bercinta di sana. Marshal tidak menginginkan hal itu. Pikirannya yang terlalu berlebihan. Oh, Viona ... semenjak menikmati sentuhan Marshal otakmu memang semakin mesum.
"Tapi ... jika kamu mau melakukannya sekarang, aku tidak masalah."
__ADS_1
"Chal!"