Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Si Jagoan


__ADS_3

Selamat hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1442 Hijriah, bagi yang menjalankan. Semoga sehat dan bahagia selalu untuk kalian semua.😘😘


_________________


Meskipun makin menyeramkan, tapi Marshal sudah mulai terbiasa. Viona dengan segala hal aneh, nyeleneh dan menguras kesabaran-memang sudah menjadi makanan sehari-hari. Marshal tidak akan protes atau bahkan menyerah begitu saja. Semua karena Dedek Junior.


Bolehkah Marshal mengklaimnya sebagai Chal Junior, sekarang? Dia ingin melakukan itu, tapi tahu, Viona tidak akan suka.


"Makanan yang tadi kamu minta, udah kamu makan? Vitamin udah diminum, kan? Kamu gak lakuin hal berat-berat, Sayang? Kamu istirahat cukup dan gak-"


"Chal, please ...." Viona menghela napas panjang dengan ponsel masih di depan telinga. "Kamu nyuruh semua penghuni rumah buat ngawasin aku. Apa itu gak cukup buat jadi jawaban?"


"Aku khawatir, Sayang. Kamu suka nekat. Aku hanya takut kamu dan anak kita kenapa-napa."


"Iya-iya, aku paham."


"Jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan aku! Ingat, kamu dan anak kita, bla ... bla ... bla ...." Marshal mengoceh panjang sampai Viona bosan dan merasa kepalanya pusing.


Sambungan terputus karena Marshal meminta izin untuk pergi sebentar. Ada rapat yang harus dia ikuti dan terpaksa Viona menyudahi panggilannya dengan kesal. Padahal ada yang ingin dia sampaikan, tapi Marshal sepertinya sedang sangat terburu-buru. Lebih baik memang dia datang ke kantor suaminya tanpa meminta izin dulu. Marshal tidak akan marah. Lebih tepatnya, tidak akan bisa marah, meskipun awalnya pasti mengomel panjang, lagi.


Viona diantar oleh sopir pribadinya menuju kantor sang suami. Dia membawakan bekal makan siang untuk Marshal, sengaja mengantarkannya sendiri karena Viona memang sedang jenuh akhir-akhir ini. Selain karena Marshal yang melarang banyak hal untuk dilakukan, dia juga memang tidak punya kegiatan apa pun di rumah. Hanya duduk berselonjor kaki sambil menonton televisi ditemani makanan ringan yang sehat dan segar.

__ADS_1


"Chal!" Viona mematung di ambang pintu ruangan kerja suaminya. Orang yang dia panggil malah terlonjak kaget dari kursi dan segera berdiri, terkejut melihat kehadirannya. "Katanya rapat, kenapa malah berdua sama wanita?"


Marshal tergesa menghampiri istrinya, tidak peduli dengan staf keuangan yang kini menunduk melihat kehadiran nyonya besar, berdiri di sampingnya saat sedang memberikan penjelasan. "Kamu ke sini kenapa gak bilang? Kamu-"


"Kamu bohong? Katanya mau rapat." Wajah Viona terlihat sangat marah. Dia bahkan menyimpan kantong makan siang dengan asal di sofa, masih melirik sinis pada wanita yang berdiri di samping meja kerja Marshal sambil menunduk. "Tapi kamu malah sama dia. Ini maksudnya apa?"


Perlu Marshal ingatkan lagi, jika tingkat kecemburuan Viona sudah melewati stadium akhir. Bahkan Marshal pernah dicemburui saat sedang berjalan dengan kliennya yang sudah berumur enam puluhan.


"Kita membahas keuangan untuk proyek baru, Sayang. Jangan berpikir ke mana-mana!"


"Tadi bilangnya mau rapat. Bukan bahas masalah ini, Marshal!"


"Rapatnya sudah bubar. Baru saja, Sayang." Marshal terlihat takut salah bicara, melirik staf keuangan yang masih saja berdiri takut di samping meja kerjanya. Rumor tentang nyonya yang kerap kali cemburuan memang sudah bukan rahasia lagi. Semua orang tahu dan selalu mengantisipasi hal itu supaya Marshal tidak kena amukan dan salah berdekatan dengan orang. "Anisa datang ke sini, setelah rapat, kami membicarakan keuangan proyek luar kota. Bukan apa-apa. Iya 'kan, Nisa?"


"Oh." Viona memperhatikan sejenak staf keuangan bernama Anisa itu, kemudian beralih dan duduk di sofa dengan masih terlihat kurang bersahabat.


Marshal sampai mengembuskan napas kasar, meraup wajah dan segera mengisyaratkan Anisa untuk segera keluar dari ruangannya. "Kita bahas lain waktu. Kamu bisa diskusikan ini dengan departemen lain. Nanti temui saya jika hasilnya sudah bulat."


"B-baik, Tuan. Saya permisi." Wanita itu undur diri membawa beberapa map dari atas meja kerja Marshal, kemudian pergi dan tidak terdengar lagi dia kembali.


Kini Marshal menghadapi nyonya yang terlihat enggan melirik padanya. "Aku bisa jemput kamu kalau mau ke sini. Kenapa tiba-tiba, Sayang? Bagaimana jika aku sedang ada urusan di luar kantor? Aku gak mau kelelahan."

__ADS_1


Viona mencebik, menopang dagu dengan sebelah tangan. Duduknya menyerong ke arah lain supaya tidak berhadapan langsung dengan suaminya. "Aku cuma nganter makan siang, kamu keliatan gak suka," gumamnya penuh penekanan, membuat Marshal terasa sekarat seketika.


Marshal semakin mendekatkan diri dengan Viona. Tangannya terulur menyentuh perut istrinya yang sudah terlihat membulat seperti bola, dia memberikan usapan lembut di sana. "Mama jangan marah, dong. Kasian Dedeknya jadi gak nyaman."


Viona menunduk, ikut mengusap perutnya saat tendangan berkali-kali terjadi dari dalam sana. Si Jagoan pasti merasakan apa yang ibunya rasakan sekarang. Jika dia marah terlalu lama pada Marshal, itu memang akan mempengaruhi anak mereka. "Maafin mama, ya. Abisnya suami mama nyebelin, Sayang."


"Papa," ralat Marshal. Viona selalu saja tidak mau menyebutkan itu untuknya. Dikira dia membuat anak itu sendirian, sehingga Marshal tidak boleh diklaim sebagai papanya.


"Iya, Papa." Viona mengulanginya penuh penekanan, melihat Marshal dengan enggan. Dia menunduk lagi, masih sambil mengusap perutnya bersamaan dengan usapan halus dari tangan suaminya. "Kamu jangan kayak papa, ya, Nak. Mama muak. Dia menyebalkan!"


"Sayang ...." Marshal terlihat sekali sedihnya mendengar ucapan Viona. Dia juga kesal jika Viona sudah berkata seperti itu. Anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Dua bulan yang lalu mereka mengetahuinya, ketika pemeriksaan bulanan tiba. Dan betapa bahagianya Marshal, karena anak pertama mereka seorang jagoan.


Mengetahui hal itu, justru Viona malah semakin banyak bertingkah karena takut anaknya mirip dengan Marshal, alih-alih dengan ia yang mengandungnya. Tentu saja keanehan juga berujung dengan Viona yang semakin hari, semakin banyak cemburu, bahkan selalu ikut ke mana pun Marshal pergi, karena takut suaminya tergoda wanita lain.


Padahal tidak diawasi seperti itu pun, Marshal tidak akan pernah melirik wanita lain berlebihan, selain istrinya. Tapi, Viona tetap saja tidak percaya. Tidak jarang dia juga ikut menemani Marshal bekerja di kantor hanya untuk memastikan suaminya berada dalam batas yang seharusnya.


"Kamu bawa makan siang, lagi?"


"Iya. Kenapa? Gak suka?"


Marshal langsung terdiam karena jawaban Viona sangat sewot. Istrinya menatap sinis dengan tangan masih mengusap perutnya dengan lembut. Si Dedek terus saja menendang, menunjukkan keberadaannya yang tidak mau diabaikan di antara mereka berdua. Dan Marshal cukup senang mengetahui hal itu. Karena sekarang dia jadi punya kebiasaan baru yang membuatnya bahagia dan melupakan lelah dengan cepat. Seperti mengusap perut istrinya atau hanya mengajak anaknya berbincang ringan. Kadang juga Marshal memberikan pelajaran saham dan perusahaan supaya kelak, ketika anaknya sudah tumbuh dia sudah bisa mengurusi pekerjaan ayahnya.

__ADS_1


Bukankah itu berlebihan? Ternyata Marshal dan Viona tidak ada bedanya. Sama-sama aneh dan berlebihan karena kehadiran anak pertama mereka.


__ADS_2