
Silau kemewahan dekorasi dan riuhnya para hadirin membuatnya kurang fokus melihat sosok tersebut. Setelah dipastikan jika penglihatannya tidak salah, setitik nyeri langsung menghantam dadanya.
"Viona?"
Ya, dia wanita yang begitu Sendi cintai. Kini ia duduk di deretan kursi para tamu VIP, paling depan, sehingga Sendi bisa melihatnya dengan jelas saat ini. Matanya membulat tajam saat Viona juga melihat padanya. Dadanya kembali berdenyut nyeri, melihat Viona yang terlihat begitu mesra dengan suaminya. Bahkan Viona mengusap rahang suaminya dan langsung dibalas kecupan ringan dari Marshal di pipi wanita tersebut.
Mereka sudah sedekat itu?
Perasaan sakit terus menghantam dadanya. Pikiran Sendi tidak bisa fokus, terus tertuju pada Viona yang saat ini terlihat tertawa bersama suaminya. Entah apa yang mereka tertawakan, tetapi hal itu cukup membuat rasa sesaknya semakin meningkat. Tanpa sadar, sedari tadi pembawa acara sudah memanggil namanya. Sendi tersentak saat Fatma, ibunya mencubit lengannya hingga ia tersadar, melihat pada ibunya seperti orang linglung.
Fatma memberikan sorotan tajamnya, memperingatkan pada Sendi untuk fokus. Dia tahu arah mana yang putranya perhatikan sejak tadi, membuatnya tidak suka. Mereka memang mengundang Marshal karena dia termasuk rekan bisnis terbaik Arga Mahendra. Dan Fatma juga senang jika Viona datang. Dengan begitu, Viona pasti melihat bagaimana batasan bagi dirinya dan Sendi telah dibuat.
"Wah, sepertinya teman laki-laki kita sudah mulai gugup, ya," ucap pembawa acara langsung disambut gelak tawa para hadirin.
Sendi hanya tersenyum canggung menanggapinya. Rasa sakit melihat Viona yang bahagia bersama suaminya membuahkan emosi tersendiri bagi Sendi, sehingga dia yakin untuk menuruti keinginan orangtuanya. Sendi menyematkan cincin pertunangan pada jari manis pasangannya dengan dendam yang tersimpan. Jika Viona bisa bahagia, kenapa dia tidak bisa? Sendi harus menunjukkan hal yang sama supaya Viona tidak lagi berpikir jika dia mengharapkannya. Meskipun kenyataannya memang benar, tetapi Sendi sudah cukup merasa patah hati. Dia akan memperlihatkan pada Viona, jika dia juga bisa mencampakkan cintanya dengan orang lain.
***
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Viona menggeleng dan menyandarkan kepalanya di dada Marshal. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Marshal masih khawatir dengan keadaan istrinya, tetapi Viona terlihat biasa saja, hanya dia sedikit banyak terdiam. Berbeda dengan saat masih pesta, Viona bahkan meminta Marshal untuk menciumnya beberapa kali. Hal tersebut cukup membuat Marshal semakin heran. Marshal sempat berpikir, istrinya melakukan hal itu hanya untuk ditunjukkan pada laki-laki itu. Tapi, melihat istrinya yang masih tenang, Marshal malah tidak yakin dengan pemikirannya sendiri.
"Aku lelah dan sangat mengantuk. Kalo tidur sekarang, boleh, kan? Nanti jika sudah sampai, bangunkan aku!"
Marshal mengangguk dan mengusap-usap kepala Viona yang menyandar di dadanya. Untung saja mereka membawa Rio, sehingga Marshal tidak harus menyetir dan bisa memanjakkan istrinya.
Sesuai dengan ucapannya, Viona tertidur pulas sampai mobil mereka sudah memasuki area halaman rumah pun, ia masih anteng dalam lelapnya. Marshal sampai tidak tega untuk membangunkan. Dia menggendong istrinya dengan pelan supaya Viona tidak terbangun. Namun, istrinya tetap saja membuka mata merasa terusik dan tubuhnya terasa melayang.
"Chal, turunin!"
"Tanggung, Sayang, sebentar lagi juga sampai." Marshal menaiki tangga dengan masih menggendong istrinya. Bebannya memang lumayan terasa, tetapi bukan itu yang Marshal perhatikan. Dia terus tersenyum setelah Viona menurut dan malah melingkarkan tangan di leher suaminya dengan erat dan kepalanya yang menyandar di pundak.
"Aku tidak mau ganti baju, lelah," gumam Viona saat Marshal menidurkannya di ranjang.
__ADS_1
Mata Viona kembali tertutup rapat membuat Marshal tidak kuasa mengulum senyum. Dia suka Viona yang manja. "Mau aku gantikan?"
Seketika mata tersebut membulat dan Viona langsung bangun terduduk. Dia beranjak keluar kamar, namun Marshal menahannya.
"Diam di sini! Biar aku yang bawa baju gantinya."
Viona ingin menolak, tetapi Marshal tidak mengizinkannya untuk bicara lagi, sehingga ia diam menuruti perkataan suaminya dan kembali duduk di ranjang dengan sesekali menguap menahan kantuknya.
Tidak lama kemudian, Marshal masuk ke dalam kamar dengan pakaian Viona yang dia bawa di tangan untuk istrinya tidur. Viona tertegun melihat pakaian yang Marshal pilih untuknya.
"Kenapa yang ini?" Viona memberengut kesal memandangi baju tidur yang diberikan suaminya. "Kan, ada yang lebih panjang, aku tidak suka memakai ini, jika tidur pasti menyingkap."
"Tapi, aku maunya kamu pakai yang itu."
"Chal!"
"Itu seksi, Sayang. Aku mau kamu pakai itu, sekarang."
Viona melotot tajam pada suaminya. Dia tidak mau memakai baju tidur itu karena panjangnya yang hanya setengah paha dan tanpa lengan. Kenapa juga Marshal malah mengambil baju tersebut, padahal Viona tidak suka memakainya.
"Ya, sudah, tidak usah memakai baju saja! Itu lebih baik, dan aku akan sangat suka."
Viona mengambil bantal dan melemparkannya pada Marshal. Suaminya itu malah tertawa mengejek membuat Viona semakin sebal melihatnya. "Aku gak mau pakai itu! Ambilkan yang lain!"
Marshal menggeleng tegas, kemudian menggendong Viona dengan cepat. Istrinya berontak dengan kaget, Marshal tidak peduli dan malah memasukkan istrinya ke dalam kamar mandi.
"Cepat pakai itu!" Marshal menunjuk baju yang dipegang oleh istrinya. "Aku ingin kamu memakainya, Sayang. Sekali saja kamu menyenangkan suami apa susahnya, sih. Cepat pakai, aku tunggu di luar."
Viona mendengus kesal melihat pintu yang tertutup. Dia berdecak melihat baju yang dia pegang saat ini. Lagian, kenapa Marshal bisa menemukan baju itu? Seingat Viona, baju-baju seperti itu dia simpan di bagian yang sulit ditemukan karena Viona jarang memakainya. Tapi, Marshal malah memilihkan baju tersebut untuknya.
***
Dengan mulut menganga, Marshal membola melihat tubuh istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terpukau melihat kemolekan yang istrinya punya. Baju tidur berenda tanpa lengan dan panjang setengah paha tersebut terlihat begitu indah membentuk tubuh istrinya. Meskipun masih terlihat longgar, tapi tubuh Viona masih bisa terlihat indah bentukkannya.
__ADS_1
"Jangan melihatku seperti itu!" Viona merasa risih dengan pandangan suaminya. Dia berjalan dengan cepat menuju ranjang, tempat di mana suaminya kini terdiam. Cepat Viona menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia tidak nyaman memakai pakaian itu, apalagi Marshal terus saja memandanginya tidak mau berkedip.
"Aku ingin kamu saat ini, boleh, kan?"
Viona melotot tajam dengan takut pada Marshal. Suaminya langsung kurang ajar dengan mulutnya yang suka menyebalkan tersebut.
"Jangan macam-macam!" Viona menahan kepala Marshal yang sudah mendekat ke arahnya. "Kamu bilang akan menunggu aku siap. Jangan seperti ini!"
Marshal sudah bersemangat untuk memangsa istrinya, menjauh segera dengan kesal. "Ck, aku ingin kamu sekarang, Sayang. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini."
Viona menarik selimut sampai menutupi tubuh sampai lehernya. Marshal sungguh menakutkan jika sudah seperti itu. "Aku sudah bilang, aku tidak mau memakai baju ini. Tapi, kamu memaksa. Sekarang kamu menyalahkan aku atau berpikir aku yang menggoda, huh?"
"Kamu menggodaku!"
Marshal menggeram, tidak bisa lagi menahan diri. Dia menyerang bibir istrinya tidak sabaran. Viona meronta dan mendorongnya sekuat tenaga. Dia sangat takut pada suaminya.
"Sayang," suara Marshal terdengar parau, Viona semakin kuat melawan sampai suaminya menggeram kesal melepaskan diri.
Viona menarik selimut sampai membungkus tubuhnya seorang diri. "Kamu cari selimut lain! Aku tidak mau terjadi apa-apa, jika bajuku menyingkap."
Melihat kepala Viona tenggelam dalam selimut tebal tersebut, Marshal merasa kecewa. "Kamu menghentikan nafsu suamimu lagi?!"
"Menjauh, aku ingin tidur!"
"Aku mau kamu, Sayang."
"Tidak, jangan sekarang!" Viona semakin erat memegangi selimut supaya Marshal tidak bisa menyingkapnya. Dia sangat tidak siap jika harus melayani suaminya sekarang.
"Sayang?"
"Tidak, Chal. Aku tidak mau. Aku belum siap. Jangan sekarang!"
Marshal menyugar rambutnya dengan frustasi. Dia memang menginginkan istrinya, tetapi dia juga tidak bisa memaksa Viona sesuka yang dia mau. Mungkin sama dengan Viona, mereka ingin melakukannya di saat mereka sudah sama-sama siap dan bersedia melakukannya tanpa ada rasa terpaksa.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksa." Marshal mencium kening istrinya lama sebelum dia tertidur pulas.