Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Seharian itu Marshal menjadi benalu. Ke mana istrinya pergi, dia selalu mengikuti. Viona sampai menggeram marah padanya, namun dia tidak peduli dan malah semakin susah diperingatkan.


Kabar Viona kembali pada Marshal, sudah sampai ke telinga keluarga Viona. Tadi siang, Marshal menghubungi mertuanya langsung lewat telepon. Dia belum bisa menemui mereka karena tidak mungkin dia meninggalkan Rahma yang sedang sakit sendirian. Rencananya, besok dia akan menemui mertuanya dan mengatakan semuanya supaya masalah benar-benar bisa terselesaikan.


Malam menjelang, Marshal kembali mengikuti istrinya menuju kamar Rahma, membawakan makan malam untuk ibunya. Viona sudah memperingatkannya untuk tidak mengikuti, namun Marshal tetap bersikeras ingin ikut dengan alasan ingin melihat keadaan ibunya. Viona akhirnya mengizinkan dengan terpaksa. Dia tidak mungkin melarang seorang anak untuk menjenguk ibunya. Viona masih punya hati, dia mengerti jika Marshal juga khawatir dengan kondisi ibunya. Jadi, mau tidak mau dia membiarkan Marshal untuk mengikutinya.


"Ma ...," Viona masuk ke dalam membawa nampan. Marshal di belakangnya membawa sewadah buah-buahan untuk ibunya. "makan dulu, setelah itu minum obatnya lagi, ya."


Rahma tersenyum senang melihat kedatangan mereka. Dia meminta Viona untuk duduk di ranjang tepat di sampingnya yang kini sudah bersandar di kepala tempat tidur, sedangkan Marshal duduk di meja yang tadi siang Viona gunakan untuk duduk selama menemani ibu mertuanya.


Siang tadi, saat Rahma baru bangun tidur, menantu dan anaknya datang ke kamar. Mereka juga sudah mengatakan jika hubungan keduanya tidak akan jadi berpisah. Tentu saja Rahma bahagia mendengarnya, karena itu yang dia harapkan. Dia sangat berterima kasih pada Viona karena masih mau menerima Marshal kembali.


"Mama kira kamu sudah pergi ngapelin si model itu," sindir Rahma melirik sinis pada putranya.


Marshal mendengus kasar. Menyimpan buah-buahan yang dibawanya di atas nakas. Dia ragu jika Rahma sudah memaafkannya. Dia hanya bisa diam dan memasang senyuman semanis mungkin. Banyak bicara atau melawan, sama saja dengan membangunkan macan yang sedang terbaring lemah. Rahma pasti tidak akan henti-henti menyindir, bahkan memakinya.


"Mama senang kamu mau kembali sama putra mama. Tapi, mama menyayangkan nasibmu, Sayang." Rahma mengusap lengan menantunya dengan lembut. Melirik Marshal lewat ekor matanya. "Perempuan cantik dan baik seperti kamu, tidak pantas diduakan. Hanya orang buta yang menduakan kamu, Sayang. Kamu tidak pantas disia-siakan demi wanita yang sama sekali tidak punya kebaikan seperti kamu."


Marshal melirik sejenak pada ibunya, kemudian membuang muka pada buah-buahan di atas nakas. Tangannya terulur untuk mengambil jeruk. "Iya, aku buta, Ma. Aku juga bodoh. Mantu Mama emang sempurna, aku juga tahu," gumamnya, mulai mengupas kulit jeruk.


"Terus kenapa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" kecam Rahma tajam memandang Marshal. "Sudah tahu mantu mama sempurna, kamu masih saja mencari yang lain."


Dengan santainya, Marshal malah memakan jeruk yang telah dikupasnya. Memandang Rahma sejenak dan kembali melihat jeruk di tangannya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Rahma. Bingung harus menjawabnya seperti apa. Jika dia bilang mencintai Amanda, bisa-bisa ibunya langsung meninggal saat itu juga karena pasti langsung darah tinggi atau bahkan terkena serangan jantung.


"Sudah, Ma. Sekarang makan dulu, ya," bujuk Viona mengalihkan pandangan Rahma dari anaknya. Viona merasa hawa semakin mencekam, karena Rahma terus memandangi Marshal dengan sorotan membunuhnya.


Viona jadi heran, kenapa Rahma masih saja menginginkannya tetap menjadi istri Marshal, tapi Rahma sendiri belum mau memaafkan anaknya? Ibu mertuanya tersebut cukup membingungkan. Dia meminta Viona untuk memaafkan Marshal, tapi dia sendiri masih saja mencercar anaknya dan selalu membahas masalah itu.


"Awasi dia, Viona! Dia akan semakin gila jika kamu acuhkan. Anak ini selalu bandel jika diingatkan."


Viona langsung menyodorkan sesendok nasi dengan sayur pada mertuanya. Menyumpal mulut Rahma akan menghentikannya untuk kembali mengoceh. Viona sudah tidak mau membahas masalah itu lagi, karena dia rasa masalah tersebut tidak penting baginya. Itu urusan Marshal dengan Amanda, Viona tidak mau terlalu jauh menghakimi hubungan suaminya.


Selama Rahma makan, suasana kamar terasa hening. Marshal diam sambil memakan jeruk dan Viona dengan telaten menyuapi mertuanya.


"Sekali lagi kamu duakan mantu mama, kamu pasti uhuk ... uhuk ..."

__ADS_1


Dengan cepat Viona memberikan minum pada mertuanya. Marshal ikut panik dan menepuk tengkuk ibunya. Rahma masih tersedak. Emosinya keluar saat dia bahkan masih mengunyah.


"Mama, sih," Marshal mengusap punggung ibunya dengan cemas. Namun, dia juga kesal karena Rahma terus aja mengoceh padanya. "makan dulu sampai habis! Nanti ngomelnya diterusin lagi."


"Jangan di marahin, mama lagi sakit," ucap Viona memperingatkan suaminya.


Marshal memandangi Viona tidak suka. Dia hanya tidak mau ibunya sampai tersedak lagi. "Sayang, salah mama yang bicara terus sambil makan."


"Ya, tidak usah disalahkan seperti itu juga. Kamu yang salah. Kalo mama gak emosi sama kamu, mama pasti gak kayak gini."


Marshal memilih untuk kembali diam. Sekarang Viona ikut menyalahkannya. Dia tidak ada yang mendukung, jadi lebih baik bungkam daripada berucap pasti tidak akan pernah dianggap benar. Viona bahkan sudah merubah gaya bahasanya. Dia pasti kesal sungguhan pada suaminya.


"Minum lagi, Ma?" Viona kembali menyodorkan gelas, namun Rahma menggeleng dan tersenyum. "Makan lagi, ya. Harus habis, setelah ini minum obat."


Viona kembali menyuapi ibu mertuanya dengan penuh perhatian. Sebenarnya, Rahma juga bisa makan sendiri, namun Viona yang menawarkan diri untuk menyuapinya.


Dalam diamnya, Marshal tersenyum. Viona memang baik. Dengan penuh kesabaran dia mau menjaga Rahma. Memang pantas jika Rahma tidak mau kehilangan menantunya. Viona memang menantu idaman yang tidak ada duanya. Sangat berbeda sekali dengan Amanda. Jika boleh membandingkan, sikap Viona jauh lebih baik daripada Amanda.


Istrinya bisa segalanya. Memasak, menjaga rumah, mengurus suaminya, mengurus dan memperhatikan keluarga suaminya dan banyak hal lagi yang menjadi keunggulan Viona. Rahma benar, Viona memang sempurna. Sangat jauh berbeda dari Amanda yang Marshal tahu, tidak banyak bisa melakukan apa-apa. Amanda tipikal wanita manja yang hanya peduli pada penampilan dan popularitas. Tapi, dia mencintai Amanda, meskipun banyak kekurangannya.


Selesai membantu Rahma makan dan meminum obat, mereka tidak langsung keluar dari kamar. Ibu Marshal tersebut masih ingin ditemani karena suaminya belum juga pulang, padahal malam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Mereka menamani Rahma sambil mengobrol ringan. Banyak hal yang mereka bicarakan, namun kebanyakan adalah menghakimi kesalahan Marshal.


Suami Viona tersebut sampai menekuk wajahnya dengan kesal. Viona saja tidak pernah mempermasalahkan hubungannya dengan Amanda, tapi ibunya terus saja mengatainya. Bahkan Rahma bilang jika dia sebenarnya menyesal telah melahirkan anak yang bodoh. Jelas Marshal sakit hati saat Rahma bilang seperti itu. Dia memang salah, tapi tidak terima jika Rahma menyesal telah melahirkannya.


"Huamp... " Marshal menguap lebar. Matanya sudah sayu mendengarkan ocehan Rahma yang tiada hentinya. "Ra, tidur, yuk! Aku ngantuk," ucap Marshal pada istrinya.


Viona hanya memandanginya datar. Tidak mempedulikan Marshal dan kembali asyik berbincang dengan ibu mertuanya. Terpaksa Marshal yang mengalah. Dia beranjak dan naik ke atas ranjang. Rahma dan Viona memandangnya tidak paham. Dengan santainya Marshal berbaring, mepet tepi ranjang supaya bisa menempatkan kepalanya di atas paha Viona yang masih duduk di atas ranjang, di samping ibu mertuanya.


Istrinya mendengus kesal, namun Marshal tidak peduli. Dia memandang Viona sejenak dan membenarkan posisi kepalanya lebih nyaman menjadikan paha Viona sebagai bantalan.


"Aku ngantuk," ucap Marshal dengan lirih. Viona memandangnya tidak suka, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena di sana ada mertuanya. "Teruskan saja mengobrolnya, jika sudah beres, bangunkan aku!" Perlahan matanya terpejam.


Viona hanya menghela napas dan membuangnya secara perlahan. Membiarkan Marshal bersikap sesukanya di depan Rahma. Viona tidak mungkin memegang kendali di depan mertuanya sendiri. Dia malu jika melakukan hal itu.


Tidak lama kemudian, terdengar deru napas teratur dari hidung Marshal. Dia pasti merasa sedang dibacakan dongeng karena obrolan ibu dan istrinya. Rahma sampai terkekeh melihat kelakuan anaknya. Marshal begitu manja terhadap Viona, tapi kenapa dia masih saja berhubungan dengan Amanda? Rahma yakin, Marshal sebenarnya mencintai Viona, namun dia masih terikat dengan Amanda dengan alasan yang tidak dia sadari.

__ADS_1


Melihat dari tingkah laku Marshal terhadap istrinya, Rahma semakin tahu, jika Amanda yang menyebabkan Marshal seperti itu. Putranya pasti telah dibodohi oleh Amanda sama seperti dulu. Marshal tidak mungkin mau menjalin hubungan dengan wanita lain, karena dia terlihat sangat menyayangi istrinya. Dan Rahma jadi berpikir, jika semua ini terjadi karena Amanda. Pasti dia penyebab dari semuanya.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Rahma dan Viona melihat ke arah pintu. Wisnu masuk dengan ekspresi kaget melihat pada anaknya yang masih tertidur dengan bantalan paha Viona.


"Kenapa dia di sini?" Wisnu mendekat seraya memperhatikan anaknya yang masih terlelap.


Viona dan Rahma saling pandang. Mereka harus menjelaskannya, namun masih ragu tentang siapa yang akan angkat suara. Dan akhirnya Rahma yang buka suara untuk mewakili Viona. Dia menjelaskan semuanya pada Wisnu. Raut wajah ayah Marshal sangat sulit diartikan. Tidak ada senyuman maupun kemarahan. Mereka bingung menyimpulkan reaksinya.


"Kamu yakin mau kembali sama Marshal?" tanya Wisnu pada Viona yang memandangnya bingung. "Kesalahan Marshal tidak kecil, lho, Nak."


Viona menunduk sejenak. Dia juga sebenarnya tidak mau kembali, tapi keadaan memaksanya untuk tidak egois. Dia menganggukkan kepala pelan pada Wisnu. Ayah mertuanya membuang napas dengan gusar serta memandanginya tidak percaya.


Marshal menggeliat, merasa terganggu dengan suara mereka. Perlahan dia membuka mata dan betapa terkejutnya dia, saat pandangannya menampilkan sosok Wisnu. Dia langsung bangun sambil mengucek matanya. "Papa?"


Wisnu menatapnya datar. Dia tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaannya saat ini. Terlalu bingung dan tidak percaya dengan keputusan Viona yang berubah secepat ini. Semua orangtua juga pasti tidak mau pernikahan anaknya berakhir di tengah jalan. Namun, dia tahu kesalahan Marshal di mana dan seharusnya mendapat hukuman apa. Tapi, keputusan Viona sama sekali tidak terduga. Viona terlalu baik jika kembali menerima Marshal begitu saja.


"Kenapa pulangnya malam begini, Pa?" tanya Rahma memecang kecanggungan. Hawa tidak enak antara ayah dan anak tersebut begitu terasa. Wisnu bisa saja kembali menghajar Marshal, jika emosinya kembali tersulut. Karena Rahma tahu betul, jika Wisnu belum benar-benar memaafkan putranya.


Menghela napas sejenak. Wisnu melepaskan jas kerja yang masih melekat di badannya. "Tadi ke rumah sakit dulu, makanya pulang malam."


"Siapa yang sakit?" tanya Rahma dengan kaget. Setahunya, tidak ada kerabat yang sedang dirawat di rumah sakit. Lantas untuk apa Wisnu pergi ke sana?


"Anak rekan papa dirawat sudah lima hari. Kecelakaan setelah datang dari pesta kita tempo hari." Wisnu menyimpan jas yang baru dilepaskannya di atas sofa dan duduk di sana.


Semua yang mendengar nampak terkejut. "Emang siapa?"


"Anaknya Arga, kecelakaan masuk jurang."


Deg. Marshal melirik ke samping. Viona sudah terdiam dengan tubuh yang kaku. Pandangannya kosong secara tiba-tiba. Marshal jadi cemas. Viona pasti tahu siapa yang dimaksud oleh Wisnu. Satu-satunya rekan bisnis yang bernama Arga hanyalah ayahnya Sendi. Viona pasti syok mendengar kabar mengejutkan ini. Perlahan Marshal mengusap tangan istrinya. Viona tersadar, memandanginya dengan tatapan terluka.


Viona mengerjap mengembalikan kesadaran untuk tetap bersikap biasa saja meskipun dia sangat terkejut. Perasaannya jadi tidak karuan. "Aku pamit ke kamar dulu, ya, Ma, Pa." Dengan cepat dia keluar dari kamar.


Marshal menyusul langkah istrinya, namun tertahan dengan ucapan Wisnu, "Chal, papa ingin bicara sebentar. "


Gundah. Marshal memandang kepergian istrinya dan melirik Wisnu. Dia bingung harus mendahulukan yang mana. Marshal ingin menyusul Viona, namun dia juga tidak bisa mengacuhkan ayahnya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2