Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bukan begitu, Sayang.


__ADS_3

"Aku harus pulang, Yo. Nyonyaku sepertinya sedang marah. Jadi, tolong kamu urus masalah di sini, ya!" ucap Marshal pada Rio yang sedang mengintruksikan pekerja resort untuk membersihkan kerusakan.


"Tuan pulang sendiri?"


Marshal mengangguk cepat. "Aku tidak apa. Kamu urus saja di sini! Jika ada apa-apa hubungi aku!"


Terpaksa Marshal pulang setelah mendapat pesan tidak enak dari istrinya tadi siang. Dia tidak fokus mengurus masalah, jika bayang-bayang Viona terus menghantui. Marshal tidak tahu pasti kenapa istrinya sampai marah seperti itu dan malah bilang supaya Marshal tidak menemuinya lagi. Perasaannya kalut membaca pesan Viona. Dia harus segera pulang untuk menemuinya sebelum istrinya marah lebih parah lagi.


***


Marshal masuk ke dalam rumah membawa banyak paper bag dan satu buket bunga besar. Dia melihat sekeliling yang nampak sudah sepi. Hari sudah malam, semua orang pasti sudah beristirahat. Padahal baru pukul delapan lebih dia sampai di rumah.


Karena tidak menemukan istrinya di lantai bawah, Marshal langsung menaiki tangga dengan cepat menuju kamarnya. Dia sudah harap-harap cemas bertemu Viona. Marshal harap Viona tidak menyambut buruk kedatangannya. Marshal tidak mau Viona marah berkepanjangan, karena istrinya pasti banyak terdiam jika dia sedang dalam mood yang tidak baik.


"Sayang?" Susah payah Marshal membuka dan menutup pintu kamar. Barang bawaannya cukup merepotkan. Dia tersenyum pada Viona yang terlihat baru akan masuk ke dalam kamar mandi. "Aku pulang."


Marshal menelan ludah kasar melihat tatapan dingin Viona. Istrinya tidak menanggapi apa-apa dan masuk begitu saja ke dalam kamar mandi. Buru-buru Marshal menyimpan barang bawaan beserta buket bunga di atas ranjang. Dia berjalan cepat, mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"Sayang?" Tidak ada sahutan dari dalam. Hanya terdengar suara air yang sampai di telinganya. Marshal memutuskan untuk menunggu. Dia berdiri gelisah di depan pintu yang tidak kunjung terbuka. "Sayang, kamu sedang apa? Kenapa lama?" Dari dalam kamar mandi tidak terdengar suara apapun lagi. Hening. Marshal jadi bertanya-tanya, apa yang istrinya lakukan?


Sudah memanggilnya beberapa kali, Viona tidak kunjung menyahuti. Marshal memilih untuk kembali ke dekat ranjang. Kakinya pegal juga, jika dia terus berdiri di sana. Belum lagi tubuhnya yang terasa lelah, setelah mengurus masalah darurat di resort-nya dan menempuh perjalanan yang lumayan membuatnya pusing, meskipun sebentar. Marshal menunggu istrinya keluar dengan perasaan gelisah. Viona pasti masih marah padanya sampai kedatangan Marshal tidak disambutnya sedikit pun.


Hampir dua jam dia menunggu, akhirnya Viona keluar. Marshal langsung berdiri dan menghampiri istrinya yang masih mengenakan bathrobe putih di tubuhnya. Dia mengikuti langkah Viona, masuk ke ruang wardrobe.


"Sayang ...." Marshal memeluk tubuh Viona dari belakang saat istrinya tengah memilih pakaian. Dia memberengut sedih karena Viona mencoba melepaskan pelukannya. "Kamu marah? Apa aku buat salah?"


Viona tidak menyahuti dan malah memberikan tatapan tajam padanya. Dengan acuh, Viona memilih pakaian, tidak menghiraukan Marshal yang tidak pundung untuk mengajaknya bicara.


Marshal meninggalkan Viona sendiri di ruang ganti, setelah istrinya mengintruksi untuk dia pergi lewat tatapan mata tajamnya. Dia pun keluar, berniat mengambil buket bunga yang dia simpan di atas ranjang. Diperhatikannya semua barang bawaan, Marshal menghela napas dalam. Semoga Viona suka dengan barang bawaannya. Sengaja dia membeli banyak barang dan buket bunga, berharap bisa menyenangkan hati Viona dan tidak marah lagi padanya.

__ADS_1


Marshal memasang senyuman secerah mungkin. Dia mendekat pada Viona membawa buket bunga. "Untukmu." Dia memberikan buket besar itu pada istrinya. Tapi, istrinya tidak menghiraukan, hanya memberikan tatapan datar padanya.


"Bunga yang cantik, tidak kalah cantik dari Zahra." Tubuh Marshal turun. Dia bersimpuh di depan istrinya sambil sesekali mencium aroma bunga. "Istriku tercinta, kamu mau menerimanya?" Dia menyodorkan bunga itu dengan manis. Senyumannya merekah seperti orang yang sedang menyatakan cinta. "Aku sayang kamu, Sayangku, Cintaku, Istriku yang yang cantik."


Viona malah mendelik. Kedua tangannya melipat di depan dada. Dia tidak tertarik untuk mengambil bunga pemberian Marshal karena rasa kesalnya masih besar.


Tidak menyerah sampai di sana. Marshal berdiri masih memasang senyuman manisnya, meskipun dadanya sudah berdebar tidak karuan, takut Viona akan terus bersikap dingin dan tidak mau memaafkannya.


Marshal meraih tengkuk istrinya, menarik kepala Viona untuk mendekat. Tapi, istrinya malah berontak dan mendorong tubuhnya untuk menjauh. Marshal tidak peduli. Dia kembali mendekati Viona. Secepat mungkin dia berhasil mencium bibir istrinya, meskipun sedikit meleset karena Viona yang tidak mau.


"Kemari!" Marshal menarik paksa tangan istrinya ke dekat ranjang. "Aku membawakan banyak barang untuk kamu." Dia menunjukkan semua paper bag yang dibawanya.


Marshal mengernyit, heran sekaligus takut melihat reaksi istrinya yang malah terlihat semakin garang. Tatapan Viona kelewat tajam sampai Marshal kesusahan menelan ludah.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak suka dengan hadiahnya?" Marshal sudah was-was melihat tangan istrinya mengepal. Dia tetap memaksakan bibirnya untuk tersenyum manis dan menggapai tangan istrinya. Marshal memberikan buket bunga ke tangan Viona. "Aku sayang ka-aduh!"


Seolah tidak puas, Viona melemparkan buketnya sampai teronggok ke lantai dengan mengenaskan. Kakinya terayun menendang tulang kering Marshal sampai suaminya terpekik kaget menahan sakit.


"Kamu pikir aku wanita apaan, ha? Aku punya harga diri, Chal! Sembarangan kamu nyogok aku pake barang-barang seperti ini, setelah kamu mendapatkan tubuhku! Kamu brengsek! Aku kesal! Kesal!" Viona memukul-mukul Marshal penuh kekesalan. Dia mengeluarkan semua yang dia tahan seharian. Memaki suaminya bahkan mengatakan kata-kata kasar yang dia tujukan untuk Marshal.


"Aduh! Iya, Sayang, maaf. Aduh! Bukan, Sayang. Bukan begitu. Aku gak-aduh, Sayang, stop!" Marshal menutupi tubuhnya dengan satu tangan, menahan siksaan Viona. Dia berlari menaiki ranjang, Viona mengikutinya masih memberikan siksaan.


"Sayang-aduh! Cukup!" Marshal sampai mengguling dan terjatuh dari ranjang. Viona malah menindih tubuhnya dan kembali memaki dengan siksaan yang membuat Marshal kewalahan.


Terpaksa Marshal melawan. Dia menahan kedua tangan Viona erat karena istrinya terus berontak. Marshal yang berada di bawah, terlentang di lantai dengan tubuh Viona yang menindihnya cukup membuatnya kesusahan untuk mengendalikan Viona. Dia memeluk erat pinggang istrinya. Setelah perlawan Viona terhenti, Marshal bisa bangun untuk duduk, sehingga Viona kini berada di pangkuannya.


Marshal sangat kaget melihat mata istrinya yang berkaca-kaca. Dia memeluknya erat, mengusap punggung istrinya. Viona hanya diam, tapi tangannya meremas lengan Marshal kuat sampai suaminya merasa perih di bagian itu.


"Kamu kenapa, sih? Aku salah apa sama kamu?" Marshal memang tidak tahu faktor pendorong istrinya mengamuk. Dia tidak merasa melakukan kesalahan, tapi Viona terlihat sangat marah padanya. "Kenapa, hm?"

__ADS_1


Viona mencebikkan bibir, melempar tatapan tidak enak lagi.


"Sayang, kamu kenapa?" Apa hanya Marshal yang merasa sikap Viona sekarang seperti anak kecil? Tidak seperti biasanya. Melihat perubahan seperti ini, orang yang pertama harus dia salahkan adalah Vino. Viona terlalu dimanjakan oleh kakaknya. Seharian kemarin mereka bersama membuat sikap Viona jadi kekanakan seperti ini. "Katakan, aku salah apa sama kamu!"


"Aku gak suka ditinggal. Tapi, kamu pergi gak bilang-bilang sama aku. Terus datang-datang kamu nyogok aku pake barang-barang itu. Kamu pikir aku cewek murahan? Aku punya harga diri, Chal. Aku gak suka kamu rendahin aku gitu aja."


Marshal terdiam untuk mencerna ucapan istrinya dengan baik. Dia tidak mengerti kenapa Viona malah mengatakan hal seperti itu.


Diusapnya kepala Viona sebentar, Marshal memberikan kecupan hangat di keningnya. "Aku minta maaf karena ninggalin kamu. Bukan gak bilang, aku 'kan udah minta izin untuk pergi ada urusan darurat. Kamu juga ngizinin aku, Sayang. Kenapa sekarang kamu nyalahin aku?"


Viona mengangkat alis memandang suaminya. "Kapan kamu minta izin? Kamu pergi gitu aja, gak bilang apapun," ujarnya masih bernada kesal.


Marshal membuang napas kasar. Istrinya amnesia atau pura-pura lupa?


"Tadi subuh, aku bangunin kamu buat minta izin. Coba inget-inget lagi!"


Viona yang masih kesal pun mencoba untuk mengingatnya. Dia terdiam masih duduk di pangkuan suaminya.


"Subuh tadi kamu gak mau diganggu, katanya lelah." Marshal memancing ingatan istrinya supaya dia tidak terus dianggap salah. Viona mungkin melupakannya karena dia masih mengantuk. Antara sadar atau tidak, Viona memang mengizinkannya untuk pergi. Tapi, sekarang istrinya malah marah berpikir Marshal yang tega meninggalkannya.


"Sayang, aku gak mungkin tega sama kamu. Aku-"


"Tapi, kamu ninggalin aku!"


Marshal menghela napas lagi. Dia membenahkan duduk dan menarik pinggang Viona supaya lebih nyaman duduk di pangkuannya. Marshal tidak mengerti, kenapa wajah istrinya muram dengan bibir yang mengerucut lucu, seperti ingin menangis. "Kamu marah karena itu? Sayang, aku gak gitu. Bukan aku ninggalin kamu karena mau enaknya aja. Aku 'kan ada urusan darurat."


"Kamu lebih mentingin kerjaan daripada aku!"


"Bukan begitu, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2