Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Guling Bernyawa


__ADS_3

Setelah mengantarkan Amanda pulang, Marshal langsung pulang juga kerumahnya.


"Kemana dia? Apa dia sudah tidur?" Marshal melirik pintu kamar Viona sekilas. Dan yah, Marshal kira memang Viona mungkin sudah tidur. Karena ini sudah hampir pukul sepuluh malam.


Marshal memilih acuh saja. Dia langsung masuk kekamar. Membersihkan diri sendiri karena Viona tak ada. Menunaikan sholat isya yang tertinggal.


Saat merebahkan diri diatas ranjang king sizenya. Marshal termenung. Dia tak bisa tidur. Entah kenapa dia teringat Viona.


Tanpa pikir panjang, dia keluar menuju kamar Viona.


"Tidak dikunci" Marshal membuka pintu kamar Viona perlahan. Pintunya memang tak terkunci, jadi dia dapat dengan mudah langsung masuk.


Dia sudah tidur..


  Dilihatnya lampu kamar Viona memang sudah redup. Viona sedang terlelap dengan damai. Marshal menghampirinya. Berdiri disamping ranjang Viona memandanginya yang sedang tertidur pulas, dengan cahaya temaram.


Apa harus dibangunkan?..


Dia terus memandangi Viona. Sebenarnya Marshal juga tak tega jika harus membangunkannya. Tidur Viona terlihat pulas. Dan terlihat sekali Viona sudah nyaman dengan posisi tidurnya.


"Viona!" Panggil Marshal lembut sembari memegang bahu Viona.


Viona menggeliat. Dan membuka matanya perlahan.


Ternyata tidak susah membangunkannya.


Saat kesadaran Viona sudah terkumpul. Viona membuka matanya lebar-lebar. Saat dia melihat wajah Marshal didepannya, dia terkejut. Dan langsung mendudukan diri. "Tu-tuan" Viona yang terkejut, mengucek-ngucek matanya. Siapa tahu yang dia lihat bukan Marshal. Pikirnya.


"Tu-tuan sudah pulang?" Dia melirik jam yang ada diatas nakas.


22:17 waktu yang tertera di jam tersebut.


"Apa tuan butuh sesuatu?" Marshal malah diam. Memandangi Viona yang terlihat masih terkejut dengan kehadirannya.


"Tuan.."


"Ah, iya" Marshal langsung menarik tangan Viona hingga Viona terkesiap. Dia terkejut.


"Ke kamarku!" Viona menuruti walau masih bingung. Langkahnya terhuyung. Gontai, mengikuti langkah Marshal yang masih menarik tangannya.


Mereka masuk kekamar Marshal. Viona masih terheran. Dia hanya bisa diam dalam kebingungan.


Untuk apa tuan membawaku? Apa dia membutuhkan sesuatu? Viona melirik Marshal dengan heran.


Apa dia mau mandi?.. Viona meneliti pakaian Marshal. Dan dia sudah memakai piyama tidur. Dia pasti sudah mandi. Lalu untuk apa Marshal membawa Viona kekamarnya?


"Tidur disini!" Marshal menarik Viona untuk naik keranjangnya. Oh, ternyata Marshal butuh teman tidur.


Viona kembali was-was. Entah kenapa setiap Marshal membawanya keatas ranjang, dia selalu takut. Selalu cemas. Selalu merasa tidak nyaman.


"Tidur disini,tuan?"


Marshal mengangguk. "Hm. Tidur disini denganku!"


Mata Viona membulat. Dia ingin menolak. Menggeleng kepala. "Tapi.." ucapan Viona terhenti karena Marshal langsung membaringkan Viona dan memeluknya. Viona kembali kaget dengan perlakuan Marshal.


Dan ternyata Marshal bukan hanya butuh teman tidur, tapi dia juga butuh kehangatan. Marshal memang butuh guling bernyawa.


Viona yang hanya bisa diam, menatap Marshal yang sudah terbaring disampingnya dengan tangan yang melingkar dipinggang Viona.


"Tidurlah! Aku tak akan berbuat apa-apa" Ucap Marshal lembut meyakinkan. Marshal tahu jika Viona ketakutan. Jadi dia mencoba membuat Viona nyaman dipelukannya. Namun Viona tetap was-was.


  Kenapa dia selalu tidur seperti ini?.. aku tidak mau tidur dengannya.. oh, God. Tolonglah aku! Lepaskan aku dari dia!


Setelah terdengar deru napas teratur dari Marshal, Viona meliriknya. Dan ternyata Marshal sudah terlelap. Matanya terpejam. Dengan masih memeluk Viona.

__ADS_1


Viona menggeliat. Dia ingin terlepas dari Marshal. Dan pindah tidur kekamarnya. Tapi, Marshal merasakan pergerakan Viona. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Viona harus menghela napas dalam-dalam. Dia harus mencari cara untuk terlepas dari Marshal.


"Diamlah! Jangan coba-coba kabur!" Ucap Marshal tiba-tiba.


Viona langsung meliriknya. Dengan terkejut.


Dia belum tidur?


"Tutup matamu! Dan tidurlah!" Ucap Marshal lagi dengan mata yang terpejam dan tangannya masih melingkar dipinggang Viona.


Viona masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih berjuang pada keinginnya yang ingin terlepas dari Marshal. Dia akan menunggu Marshal hingga benar-benar terlelap. Dan baru bisa lepas dari Marshal. Niatnya.


Setelah beberapa lama menunggu, Marshal sudah terlihat terlelap. Pelukannya melonggar.


Viona tak menyia-nyiakan kesempatan, dia melepaskan pelukan Marshal. Menyingkirkan tangan Marshal dari pinggangnya dengan hati-hati. Dan, bisa terlepas.


Akhirnya..


Hatinya bersorak ria, karena dia bisa terbebas setelah berjuang keras.


Dia menggeliat. Melirik Marshal sejenak. Takut Marshal terbangun. Namun, tidak. Marshal masih tepejam.


Huh! Aku ingin tidur dikamarku saja.


Viona langsung turun dari ranjang dengan perlahan. Dia segera berla... "ah" Tangan Viona ditarik oleh Marshal hingga dia terbaring kembali diranjang.


Viona terkejut. Dia melihat Marshal dengan begitu kaget.


Ternyata dia belum tidur.


Marshal dengan segera mengungkung tubuh Viona dibawahnya. Dia menatap tajam pada Viona, membuat Viona jadi ketakukan.


"Mau kemana, hah?" Viona jadi gelagapan sendiri. Dia tak menyangka rencananya untuk menghindar, gagal.


"Aku kan sudah bilang, jangan coba-coba kabur!"


"Maaf, tuan. Saya mau ke kamar man-mandi" elaknya gelagapan. Entah ide darimana, Viona malah mengatakan itu. Dia berbohong dan mungkin Marshal tak akan percaya dengan alasannya.


"Kamu mau mencoba membohongiku? Atau mengakaliku?" Tanya Marshal membuat perasaan Viona semakin mencekam. Viona menggeleng keras kepalanya mencoba meyakinkan Marshal. Namun Marshal tetap tak mau melepaskannya.


  Viona tak mampu menjawab. Dia hanya menggigit bibir bawahnya. Dia sungguh gerogi. Takut. Dan juga bingung. Perasaannya tak jelas saat ini. Dia ingin segera terbebas dari Marshal. Namun Marshal sepertinya enggan untuk melepaskan Viona.


"Aku hanya memintamu tidur, apa susahnya?"


Susah tuan. Karena aku tak mau tidur denganmu lagi.


"Kenapa malah menghindar dariku?" Viona hanya diam. Matanya masih setia terpejam. Tubuhnya gemetar takut. Perasaannya campur aduk kaya sayur Lodeh, yang terdapat berbagai macam sayuran.


Viona melirik kesamping. Terlihat punggung kekar pria dibalik piyama yang dipakainya.


  Semalam Viona tidur bersama Marshal lagi. Dia sebenarnya tak mau tidur dengan Marshal. Dia ingin pindah. Bahkan sempat berpikir untuk mengakali Marshal dan kabur dari kamar ini.


Viona terus melirik punggung Marshal yang tengah tertidur memunggunginya.


Viona terpaksa menuruti perintah Marshal untuk tidur dengannya semalam. Karena Viona tak bisa menolak lagi. Setelah Marshal mengungkungnya dan memberikan isyarat supaya menurut, Viona tak lagi berontak atau berusaha mengakali Marshal untuk pindah tidur lagi. Dia pasrah. Dia takut dengan tatapan Marshal. Jadilah dia disini sekarang. Tidur seranjang dengan Marshal.


04:24, waktu yang tertunjuk dari jam yang ada di kamar Marshal.


Bangunin gak ya?


Meskipun ragu, Viona akan memberanikan diri untuk membangunkan Marshal. Ini sudah subuh dan jika tidak dibangunkan, takutnya nanti Marshal ngomel seperti hari kemarin saat Viona berusaha bangun tanpa membangunkannya.


"Tuan!" Panggilnya lembut. Menatap punggung Marshal.


"Tuan!" Tak ada reaksi apaapun, Marshal tetap pulas.

__ADS_1


Apa kurang keras ya?


Marshal belum terbangun. Mungkin Marshal tidak mendengar panggilan Viona karena Viona memanggilnya begitu lembut. Bagaimana bisa bangun, yang ada Marshal mungkin malah semakin terlelap mendengar suara lembut Viona.


Viona mengubah posisi jadi terduduk. Menghela napas beberapa kali. "Tuan. Bangun!" Dia memberanikan diri untuk menyentuh bahu Marshal.


"Tuan, ini sudah subuh!"


"Enghh.." Marshal malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


Viona menghela napas kasar. Sepertinya Marshal belum mau bangun. Tapi jika tidak dibangunkan, nanti Marshal mungkin akan protes pada Viona.


"Tuan, sudah subuh!" Viona menaikkan sedikit nada suaranya.


"Lima menit lagi" sahut Marshal dari balik selimut.


Viona kembali menghela napas kasar. Dia menyerah. Dan memilih untuk segera pergi ke kamarnya. Percuma membuang waktu membangunkan Marshal. Dia belum mau bangun. Tapi saat Viona baru menurunkan satu kakinya dari ranjang, Marshal membuka selimut yang menutupi kepalanya. Dia berbalik badan menghadap Viona yang baru akan turun dari ranjang.


"Mau kemana?" Suara serak Marshal mengejutkan Viona hingga dia berbalik, "saya akan ke kamar saya dulu, tuan" sahutnya lirih.


"Aku belum menyuruhmu pergi" ucap Marshal malas. Matanya masih setia terpejam. "Jangan dulu keluar!"


Viona menghela napas dalam.


Mau apalagi dia? Ini sudah subuh. Aku mau keluar.


Marshal menepuk-nepuk bagian ranjang disisinya. Mengisyaratkan Viona supaya mendekat. Dan kembali tidur dengannya.


Dengan segera Viona menaikkan kembali kakinya. Meskipun tidak mau, dia kembali berbaring disamping Marshal dengan perasaan yang teramat kesal.


Jika bukan tuan Marshal, sudah ku siram pakai air comberan untuk membangunkannya.


Dia memunggungi Marshal. Viona tak ingin menatapnya. Perasaan kesal dan juga canggung begitu mendominasi dalam dirinya. Dia hanya bisa diam dengan mata yang enggan untuk terpejam lagi.


  Pikiran Viona menggerutu tak jelas. Viona ingin keluar dan menjauh dari Marshal. Keadaan seperti ini sungguh tak nyaman.


Sesuai perkataannya, Marshal terbangun setelah lima menit kemudian. Ah, tidak. Di jam tertera pukul 04: 32. Berarti Marshal bangun delapan menit kemudian.


Dia turun dari ranjang tanpa bicara. Viona hanya melihat punggung Marshal menuju kamar mandi dalam diam. Dia terduduk ditepi ranjang.


"Jika kamu ingin ke kamarmu, pergilah! Aku mengijinkan" ucap Marshal sebelum akhirnya dia tak terlihat lagi dibalik pintu kamar mandi.


Tanpa pikir panjang, Viona sesegera mungkin keluar dari kamar Marshal. Dia pergi kamarnya sendiri.


.....


"Pagi, Nona!" Sapa Rio pada Viona yang baru turun dari tangga.


"Pagi juga" Viona tersenyum membalas.


"Permisi, Nona" Viona mengernyit. Menatap nampan kecil yang ada ditangan Rio. Ada segelas susu putih diatas nampan itu. "Kamu mau bawa kemana susunya?" Tanya Viona menghentikan langkah Rio yang hendak beranjak menuju ruangan lain.


"Ini susu untuk tuan" sahut Rio kembali berbalik.


Viona kembali mengernyit. "Untuk tuan?" Tanya Viona. "Kenapa dibawa kesana? Bukannya tuan ada diatas, di kamarnya?" Tanya Viona heran. Ini masih pagi. Bahkan masih pukul 5. Viona pikir, Marshal sudah pasti masih dikamarnya jam segini. Lantas kenapa Rio malah membawa susu itu ke ruangan yang ada dilantai bawah, lebih tepatnya area belakang. Bukannya itu susu untuk Marshal? Harusnya diantarkan ke kamarnya'kan? Tempat Marshal berada.


"Tuan sedang diruangan Gym, Nona. Setelah sholat subuh, Tuan biasanya langsung olahraga sebelum berangkat bekerja" Viona manggut-manggut memahami.


Jadi Tuan suka olahraga dipagi hari.. Pantas badannya sangat bagus.


"Yasudah. Antarkan pada Tuan! Kok malah diam disini, katanya mau antarkan susunya pada tuan?" Rio menatap aneh pada Viona. Bukannya tadi Viona yang bertanya dan menghentikan langkah Rio, lantas kenapa sekarang Viona malah menyalahkannya karena belum juga pergi, malah terdiam.


"Baiklah, Nona. Saya permisi" Rio berlalu dengan batin sedikit menggerutu. Sedangkan Viona pergi menuju dapur.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2