Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Dipermainkan


__ADS_3

"Udah, jangan gini terus! Muka kamu jelek kalo ngambek," ejek Viona menepuk-nepuk pipi suaminya.


Wajah Marshal memang tidak enak dipandang jika sedang cemberut. Dia kesal karena keinginannya tidak diindahkan oleh Viona.


"Gak boleh. Di bawah banyak orang. Aku gak mau, ya, kita malah nanti diomongin yang enggak-enggak." Itu terus alasan Viona untuk menghentikan aksi suaminya. Padahal Marshal sudah tidak tahan. Setidaknya dia ingin membuat tanda merah di tubuh istrinya, tapi Viona tetap tidak mengizinkan.


"Nanti aja, jangan sekarang!"


"Aku maunya sekarang, Sayang."


"Kan, bisa kalo nanti aja. Kamu-"


"Gak bisa! Aku pengen sekarang."


"Tapi, aku gak mau."


"Harus mau!"


"Chal, ih!" Viona malah mendorong kasar tubuh suaminya.


Sampai sekarang Marshal kesal mendapat penolakan. Dia berjalan malas keluar dari kamar mendahului Viona yang hanya bisa menggelengkan kepala.


"Kamu marah-marah terus. Gak capek apa?" Viona menyamai langkah suaminya. Marshal hanya melihatnya sekilas dan fokus melihat anak tangga yang kini dia turuni. "Chal, masa yang ulang tahun wajahnya gak bahagia gitu. Padahal aku udah nyaipin segalanya buat rayain ulang tahun kamu, lho."


Marshal tidak menghiraukannya dan malah bergabung pada kerumunan keluarga. Wisnu melambaikan tangan padanya, Marshal segera menghampiri dengan malas. Di sana kedua keluarga sudah berkumpul mengelilingi kue dan tumpeng besar yang disiapkan khusus untuknya. Marshal bahagia, tentu saja. Dia hanya kesal pada istrinya saat ini. Sejak kemarin, Viona sudah terlalu banyak membuat hati dan pikirannya berkecamuk. Belum lagi tadi puncaknya. Marshal sampai darah tinggi mengetahui istrinya yang berkhianat dengan Rio.


"Nih, hadiah dari papa." Wisnu menyerahkan map berwarna hitam yang terlihat berkilau dengan tulisan berwarna gold. Marshal pasti sudah bisa menduga apa isinya. "Hanya sedikit, tapi papa harap bisa kamu manfaatkan dengan baik."


Senyuman terukir di bibir Marshal. Dia melirik istrinya yang nampak penasaran dengan map pemberian dari Wisnu. Viona semakin merapat untuk mengintip apa yang Wisnu berikan. "Cepat buka!" Jadi Viona yang tidak sabaran untuk melihatnya.


Tiga puluh lima prosen saham di perusahaan property terbesar milik Wisnu diberikan kepada Marshal.


Suami Viona tersebut langsung menganga lebar dengan bahagia. "Serius, Pa?" Dia tidak percaya Wisnu akan memberikannya saham sebanyak itu. Perusahaan Wisnu bukanlah perusahaan kecil, namun sudah meluas sampai ke mancanegara. "Benaran buat aku?"


Wisnu mengangguk sambil menepuk pundak putra satu-satunya. "Sekarang segini dulu. Nanti kalau papa udah gak ada, semuanya juga pasti papa berikan sama kamu."


Marshal langsung memberengut. "Jangan bilang gitu, Pa!" Dia tidak suka jika Wisnu sudah membawa-bawa kematian.


Wisnu malah terkekeh pelan. "Papa harap kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang papa berikan, meskipun sedikit."


Menurut Wisnu sedikit, padahal saham sebanyak itu sangatlah berharga dan tidak bisa dicapai dengan mudah.


"Makasih, Pa." Marshal memeluk hangat tubuh ayahnya, menyalurkan rasa bahagia. Mereka bertepuk tangan bersama tidak mempedulikan seorang gadis yang merajuk di samping Rahma.


"Semua diberikan kepada kak Chal, dan aku tidak dianggap anaknya," sindir Michelle penuh penekanan disertai delikkan jengah.

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengarnya. Marshal menghampiri Michelle, menepuk kepalanya gemas. "Kamu juga anaknya papa, pasti kena cipratan. Tapi, sedikit. Kan, kamu anak gadis. Mana mungkin bisa jadi pemimpin."


"Jangan asal bicara, ya! Aku mau sekolah ke Eropa ngambil jurusan yang sama kayak papa dulu. Jangan kira wanita gak bisa ngurus perusahaan, ya! Aku pasti bisa mengalahkan perusahaan Kakak! Lihat saja nanti!"


"O, ya?" Marshal memandang Michelle, menantang.


Adiknya memang selalu tidak mau kalah, berbeda dengan kakaknya. Miranda berpemikiran dewasa, bahkan tidak mau mengelola perusahaan Wisnu sedikit pun. Dia lebih suka mendukung suaminya berjuang daripada dia yang berkarir. Jadi, Wisnu hanya punya harapan terhadap Marshal. Selain Marshal yang memang merupakan putra satu-satunya, Marshal juga memang sudah mempunyai nama besar dengan perusahaannya sendiri. Marshal sudah menunjukkan kehebatannya di luar campur tangan Wisnu selaku ayahnya.


***


"Selamat ulang tahun, Sayang!" Viona memberikan kecupan mesra di pipi Marshal, setelah dia mendapat suapan kue pertama dari suaminya.


Marshal tersenyum bahagia, membalas kecupan di kening istrinya. Kedua keluarga itu bersorak sorai menikmati pesta yang digelar seadanya tanpa persiapan yang sungguhan. Hanya acara makan malam bersama, menikmati kue ulang tahun dan nasi tumpeng yang sudah disiapkan untuk Marshal.


Kediaman Pratama terasa sangat ramai dan hangat. Heru memandangi menantunya, tersenyum. Dia tidak pernah mengira pernikahan Marshal dan Viona akan berjalan sejauh dan sehangat ini. Awal yang pahit penuh kebohongan menjadi latar belakang pernikahan mereka, tapi sekarang Viona dan Marshal terlihat sangat bahagia.


Byuurr!


Viona tertawa keras melihat Marshal yang didorong oleh Vino sampai tercebur ke dalam kolam. Padahal hari sudah malam, tapi mereka masih saja asyik mengejai Marshal.


"Tenggelamin aja, Kak! Marshal suka menyebalkan, bunuh dia ke dasar kolam!" Tawa Viona membuat semua orang mendekat ke arahnya. Mereka ikut tertawa melihat ekpresi terkejut campur kesal Marshal pada kakaknya Viona sekaligus sahabatnya.


Marshal tidak terima jika hanya dia yang diceburkan. Dia bergerak ke tepi kolam di mana Vino sedang berdiri di sana sambil terus mengejeknya. Dengan cepat Marshal menarik kaki Vino sampai dia limbung dan terjungkal ke kolam.


Byuur!


"Huuu ...." Viona berdiri di samping Michelle dan ibu mertuanya menyoraki Marshal dan Vino. Dia kembali tertawa melihat Vino yang mau naik dari kolam namun malah terpeleset sehingga kembali tercebur.


"Lu, sih, malah narik celana gue," omel Vino pada Marshal yang malah memberikan cengiran.


Setelah berdebat kecil, Vino dan Marshal naik dari kolam. Mereka menyeringai saling tatapan, berjalan ke arah Viona berada.


"Apa?" Viona sudah was-was melihat dua laki-laki itu mendekat padanya dengan alis yang naik turun. "Aaa ... mama ...!" Viona langsung berteriak histeris dikala tubuhnya digotong oleh Marshal dan Vino. "Turunin! Aku mau diapain! Aaa ... mama ...! Turunin!"


Vino dan Marshal malah tertawa, terus membawa tubuh Viona ke dekat kolam.


"Ah, Chal, jangan ...! Kakak ...!" Viona memegang apa saja yang ada di dekatnya. Tubuhnya diayunkan pelan dan,


Byuurr!


Tubuh Viona dilemparkan ke kolam oleh dua laki-laki itu. Mereka tertawa kembali melihat kepanikan Viona yang kini sudah basah kuyup.


"Aaa ...!" Viona berteriak menahan kesal. Dia memukul-mukul air kolam bertenaga.


"Enak, ya, dingin." Marshal terkekeh geli di pinggir kolam. "Aw! Sakit, Sayang." Dia mengaduh karena Viona mencubit tangannya dengan keras saat istrinya itu berjalan menuju tepian.

__ADS_1


"Bantuin, ih!" Viona mengulurkan tangan pada Marshal. Dia ingin naik, namun Marshal tidak mau dan malah ingin menjauh. "Chal! Cepatan bantuin, dingin!"


Melihat wajah kesal istrinya, Marshal berhenti tertawa dan menuruti apa mau istrinya. Namun, saat dia menarik tangan Viona untuk membantunya naik, tangannya malah ditarik oleh Viona sehingga dia tercebur kembali.


Viona tertawa senang telah berhasil mengerjai Marshal. Dia berenang cepat menjauh dari suaminya yang sudah terlihat akan mengamuk. "Gak mau!" Pergerakan Viona kalah cepat karena Marshal berhasil menyusulnya. Dia dipeluk oleh Marshal dan diseret menuju tepi kolam. Di sana Viona melotot tajam. Semua orang melihat mereka dengan penuh kehangatan sambil menggoda-goda kemesraan mereka yang kini terlihat berdebat kecil.


"Chelle, mau lihat drakor kiss scene secara langsung, gak?" tanya Marshal pada adiknya yang langsung bertepuk tangan sambil menganggukkan kepala antusias.


"Gila kamu!" Viona melotot tajam memukul dada suaminya. Mereka sedang jadi pusat perhatian semua orang. Belum lagi posisi Viona kini terhimpit tubuh Marshal di tepi kolam. Dia sudah ketakutan setengah mati. Marshal tidak tahu malu. "Gak mau!" Viona menggeleng cepat saat Marshal sudah siap akan menyambarnya.


Suasana malam, berada di dalam kolam renang sangat mendukung untuk mereka melakukannya. Tapi, bukan itu. Di sana banyak orang. Bisa hilang wajah Viona kalau sampai Marshal berani melakukannya.


"Gak mau, ih!" Viona mendorong pelan dada suaminya untuk menjauh.


"Gak apa-apa, Dek. Kalian udah nikah ini." Vino ikut menyahuti diikuti godaan-godaan dari keluarga yang lain.


Hilang sudah wajah Viona. Wajahnya sudah memerah di bawah suasana malam. Semua perhatian tertuju pada mereka. Viona sangat-sangat malu dan ingin tenggelam sekarang juga.


"Ayo, dong, mama udah nungguin dari tadi!" Rahma ikut-ikutan memanasi.


Marshal menyeringai. "Sebentar aja," bisiknya semakin mendekatkan wajah pada Viona.


Dia melawan pun tidak bisa. Marshal terlalu kuat sampai Viona tidak bisa mendorongnya menjauh. Posisinya sangat menguntungkan bagi Marshal, karena Viona tidak bisa bergeser sedikit pun. Dia terhimpit tubuh Marshal dan pinggiran kolam.


Tiba-tiba suasana terasa sepi. Ocehan-ocehan keluarga yang sejak tadi menggoda kini tidak terdengar lagi saat Viona sudah berdebar, menutup matanya dengan cemas. Bisa dia rasakan wajah Marshal semakin dekat sampai embusan napasnya terasa menerpa wajah. Kedua tangan Viona menahan dada Marshal. Satu tangan dia gunakan untuk meremas pakaian basah yang sangat melekat di tubuh suaminya.


Viona sangat-sangat pasrah dengan jantung yang bergemuruh hebat. Marshal memang sudah gila jika dia sampai berani melakukannya di depan semua orang. Dia jadi takut sendiri menanti hal apa yang akan suaminya lakukan.


"Kamu ngebet banget, Sayang. Gak sabar pengen dicium, hm?"


Viona membuka mata dengan cepat mendengar ledekan serta tawa Marshal yang tiba-tiba menggema. Wajahnya semakin memerah. Dia memukul dada Marshal dengan keras. "Chal!" Ternyata Marshal hanya mempermainkannya.


Sekarang suasana kembali ramai dengan tawa semua orang. Viona ingin tenggelam! Bunuh saja dia! Marshal benar-benar kejam. Dia jadi malu karena ternyata apa yang dia takutkan tidak terjadi. Marshal tidak menciumnya. Padahal dia sudah siap menutup mata.


Argh! Wajah basah Viona semakin bersemu merah. Dia memukul-mukul Marshal dengan kesal. Suaminya malah tertawa puas sudah menggodanya.


"Udah-udah! Terusin nanti aja di kamar! Sekarang nikmatin dulu ini tumpengnya, papa lapar," ucap Wisnu dengan wajah memelas sambil mengusap perutnya membuat orang-orang terkekeh.


Viona harus berterima kasih pada mertuanya. Berkat Wisnu, kini semua orang malah fokus pada makanan.


"Jangan senang dulu! Setelah nasi tumpeng habis, baru kamu yang aku makan."


"Chal!" Viona memberengut kesal melihat suaminya yang malah tertawa kencang.


Huhuyy ... makan Viona-nya kapan, nih? Next episode atau next-next-next episode aja?

__ADS_1


Semoga rezeki kalian semakin melimpah, Readers tersayang😘


__ADS_2