Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kekejaman Marshal


__ADS_3

"Mari kita tunggu sebentar lagi. Nyonya Marshal pasti datang. Aku tahu dia sangat peduli dengan suaminya." Wanita bertopi hitam itu menyeringai pada kedua anak buahnya. Dia sudah bersiap siaga di belakang gedung yang terlihat sepi. Bahkan jalanan malam tarasa senyap, tidak ada yang lewat. "Aku tidak sabar untuk menggorok lehernya. Dia harus mati. Aku benci padanya."


Tekadnya sudah bulat. Memasang perangkap, merencanakan sebuah pembunuhan sadis yang telah dia impikan selama ini, sebentar lagi mimpi itu akan segera terwujud.


"Marshal mencintai Amanda. Aku tidak bisa mendapat penolakan. Dia hanya milikku, bukan miliknya." Gigi menggertak kuat, tangan mengepal erat, dengan tatapan tajam penuh ambisi. Di sini, malam ini akan menjadi bukti bahwa tangannya yang suci menodai istri dari kekasih yang berani meninggalkannya. Viona harus mati di tangannya! Dia tidak akan pernah bisa hidup tenang, jika Marshal memilih hidup bersama Viona. Marshal sudah dia habisi lewat penembak jitu suruhannya, kini tinggal Viona. Dia hanya ingin Viona merenggakmng nyawa dalam genggamannya. Sekarang!


Tapi, dua jam telah berlalu dan orang yang ditunggu belum juga terlihat datang. Dia mulai jengah dan was-was sendiri. Dia yakin, Viona pasti datang ke sana. Dia sangat peduli terhadap Marshal, pasti akan segera datang, setelah tahu jika suaminya mengalami kecelakaan. Viona hanya wanita kecil yang bodoh, tidak akan sebanding dengannya yang jauh lebih dewasa, cerdas dan berambisi kuat dalam segala hal. Dia yakin, Viona pasti bis dibodohi oleh berita palsu yang telah dia buat.


"Nona, ada kabar buruk. Orang suruhan kita gagal. Mereka tertangkap oleh anak buah Marshal."


"Sialan!" Amanda mengepalkan tangannya kuat. Bagaimana bisa penembak jitu yang dia bayar bisa tertangkap? Dia mengambil orang yang handal, tidak mungkin gagal menjalankan misi.


***


"Di mana Amanda sekarang?" gertak Marshal menatap tajam dua orang yang kini bersimpuh di hadapannya. Mereka adalah orang suruhan Amanda yang tadi berniat menembakkan peluru pada tubuhnya. "Jawab!"


Dua pemuda yang sudah takluk dan bertekuk lutut itu kini menunduk. Mereka berhasil ditangkap dan sudah dilumpuhkan dengan peluru panas di bagian kaki mereka.

__ADS_1


"Tidak mau menjawab?! Mau mati?" ancam Rio dengan tegas. Enam orang mengelilingi orang bayaran Amanda di sebuah lapangan luas, tidak jauh dari restoran tempat mereka tadi melancarkan aksinya. "Cepat jawab!"


Mereka tetap bungkam. Menunduk lemah dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Sebelah kaki terkena tembakan, dan seluruh tubuh sudah dihajar oleh anak buah Rio. Kasihan sekali Amanda. Sepertinya dia telah salah memilih orang sewaan. Jika mereka penembak handal, mereka tidak mungkin bisa bertekuk lutut karena anak buah Rio yang jauh lebih hebat dan tangkas.


"Seret mereka ke kantor polisi sekarang! Dan cari Amanda secepatnya!" titah Marshal yang mulai geram. Dua pemuda itu tidak kunjung buka suara. "Seret atau langsung bunuh mereka sekarang juga!"


"Ti-tidak,Tuan. Jangan!" Salah satu pemuda itu akhirnya bicara. Dia mendongak penuh ketakutan melihat Marshal dan Rio bergantian. Wajahnya yang sudah babak belur, terlihat takut sambil meringis. "Saya mohon jangan!"


Marshal hanya terdiam memandanginya. Apa mereka memohon untuk tidak dibunuh? Cih! Orang-orang sok suci ini ternyata takut mati juga.


"Tidak, Tuan!" Satu lainnya berangsur maju dengan kaki yang terseret di lantai. Dia meringis sambil menangis mendekati Marshal yang berjalan menjauh akan pergi. Dia bersimpuh dan menggapai kaki Marshal, emnangis sejadi-jadinya, memohon supaya Marshal tidak membunuh mereka.


"Cepat tangani mereka!" Marshal melirik Rio dan anak buahnya yang hanya terdiam menonton drama itu. "Bunuh mereka berdua!" tegas Marshal menggema.


Satu pemuda lagi ikut beringsut mendekat. Dia juga melakukan hal yang sama dengan temannya saat dua orang suruhan Rio mendekat dan siap menghajar mereka kembali sesuai perintah Marshal. Mereka terus meraung memohon ampun, tapi Marshal hanya terdiam memandang ke arah lain. Dia tidak bisa beranjak sedikit pun, karena kakinya dipegang oleh kedua penembak bayaran tersebut.


"Rio!"

__ADS_1


Orang yang dipanggil langsung mengangkat tangan, memerintahkan anak buahnya untuk melakukan perintah. Mereka yang paham dengan tatapan Rio, segera menggusur dua pemuda itu untuk terlepas dari kaki Marshal. Dua orang itu terus meraung, memohon ampun, tapi mereka tetap saja menyeretnya menuju ujung lapangan.


"Tuan, saya mohon ampuni saya. Ampuni kamu, Tuan. Kasihanilah kami!" Mereka diseret dengan kasar, tidak hentinya meraung dan mengatakan penyesalan.


Rio mendekat pada Marshal. Dia mengulum senyum melihat dua pemuda yang sudah putus asa penuh rasa takut. "Entah dari mana nona Amanda menemukan mereka. Payah."


Tidak kuasa Marshal menahan kekehan. Di saat seperti ini saja Rio masih sempat-sempatnya meledek orang. Dia akui ucapan Rio memang tidak melenceng. Tapi, tetap saja usaha Amanda untuk mencelakainya hampir berhasil.


"Lanjutkan perintah, Yo. Aku harus pulang. Kasihan istriku di rumah." Marshal menepuk pundak Rio, berjalan menuju mobil dengan dua pengawal mengapitnya.


Rio menganggukkan kepala patuh, memerintahkan anak buahnya. Dia mengurusi dua itu sebentar sebelum menyusul Marshal menuju mobil. "Mereka berterima kasih dan mengatakan kejujuran tentang nona Amanda." Dia terkekeh dengan seringaian terhias di wajahnya.


Marshal ikut terkekeh. "Sampaikan ucapan terima kasih kembaliku, pada mereka. Dan segera temukan Amanda di tempat persembunyiannya. Aku tidak akan ikut. Aku lelah."


"Baik, Tuan."


Marshal tidak akan pernah sekejam yang dikira. Dia masih punya hati nurani yang bersih. Tidak mungkin dia sadis membunuh orang begitu saja, walaupun orang tersebut sudah berniat membunuhnya. Titahnya tadi hanya untuk menggertak supaya mereka mengatakan kebenaran tentang Amanda. Dan apa yang dia inginkan sudah bisa dia dapat. Marshal tidak membunuh mereka, dia hanya memberikan mereka pada pihak yang berwajib. Biarkan masalah ini berpendar di jalan hukum.

__ADS_1


__ADS_2