
Tidak ada yang menyenangkan lagi. Setiap pagi dia selalu merasa kesal dan kesal. Marshal selalu memaksanya untuk tidur bersama dan saat bangun Viona tidak bebas menentukan waktu untuk turun dari ranjang.
Selalu harus menunggu Marshal merasa cukup dengan tidurnya. Hal itu selalu berhasil membuat mood Viona hancur. Tapi, sebisa mungkin dia melupakannya karena tidak mau sepanjang hari dia merasa kesal pada makhluk berwujud suaminya itu.
"Tuan, lihat handphone saya, tidak?" tanya Viona sedikit berteriak pada Marshal yang akan masuk kamar mandi, sedangkan Viona berada di dekat ranjang.
Marshal menoleh pada Viona. Keringat sisa olahraga paginya masih bercucuran. Dia mengernyit dengan bingung. "Kenapa bertanya padaku?"
Viona membuang napasnya dengan kasar. Lagi-lagi dia harus penuh kesabaran saat menghadapi Marshal. "Handphone saya Tuan yang ambil saat ada tamu itu, lho. Saat ada om Arga sama Sen-"
"Aku ingat. Tidak perlu dijelaskan seperti itu!" potong Marshal dengan kesal. Dia tidak mau mendengar nama Sendi. Gerah rasanya jika dia mendengar nama itu di sebut dengan mulut istrinya sendiri.
Viona berbinar. Dia sudah lelah mencari ponselnya diseluruh sudut kamarnya, tapi tidak ketemu. Saat dia mengingatnya kembali. Terakhir yang membawa-ah, bukan, tapi merampas ponselnya adalah Marshal. Dan langsung dimasukkan ke dalam saku celananya waktu itu. Karena Marshal geram saat Viona tidak mau menatapnya dan lebih fokus pada ponsel.
"Di mana, Tuan? Saya memerlukannya." Viona mengulurkan tangannya ke arah Marshal yang jaraknya lumayan jauh.
Marshal hanya terdiam melihat Viona. Dia juga lupa menyimpannya di mana. Sudah dua hari berlalu, kenapa Viona baru menanyakannya? "Kamu cari saja di semua sudut kamar! Pasti ketemu. Aku lupa menyimpannya," ucap Marshal sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Viona menganga. Tangannya yang tadi terulur, mengepal dengan kesal. "Dia bilang lupa menyimpannya? Jangan-jangan handphone-ku di buang sama dia. Bagaimana dia bisa lupa menyimpan?" gumam Viona.
....
"Ada, tidak?" tanya Marshal yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Viona yang sedang membuka tutup laci nakas, berbalik ke arah Marshal. Hatinya mencibir dengan keras. Kenapa Marshal hanya memakai handuk yang dililitkan seperti itu? Viona lebih suka Marshal keluar kamar mandi memakai bathrobe. Kenapa? Karena mata Viona tidak akan terlalu tercemari dengan melihat dada bidang suaminya dan otot-otot yang begitu kentara.
"Tidak ada. Tuan menyimpannya di mana? Saya sudah cek di seluruh kamar, tapi tidak ketemu." Viona sampai harus menahan napas saat Marshal malah tersenyum dengan tangan yang mengacak rambut basahnya.
So Sexi..
Tapi, Viona bukan tipe wanita gila. Dia hanya terpesona sesaat. Ya, hanya wanita normal. Dan sialnya, hal itu selalu dia rasakan setiap hari.
"Kamu tidak becus mencarinya." Marshal berlalu ke ruang wardrobe begitu saja.
Viona kembali menggeram marah. Dia tidak terima dibilang tidak becus. Padahal dia sudah benar-benar mencarinya di semua laci dan sudut kamar Marshal. Tapi, ponselnya tetap tidak dapat dia temukan.
"Kemari!" teriak Marshal dari ruang wardrobe.
Dengan kesal Viona menghampiri. Dia semakin kesal saat masuk, Marshal sedang mengangkat satu tangan ke atas dan ditangannya terdapat ponsel Viona.
"Ini apa? Kamu memang tidak becus mencarinya," ejek Marshal tersenyum miring.
Viona mendengus dan langsung merebut ponselnya dari tangan Marshal. "Tuan tidak bilang jika handphone-nya ada di sini."
Marshal malah tertawa semakin mengejek membuat Viona semakin kesal. "Bukannya tadi aku sudah bilang? Cari di semua sudut kamar! Kamu memang tidak becus mencarinya."
__ADS_1
"Bukan saya tidak becus. Tuan tidak menjelaskannya secara spesifik. Harusnya tuan bilang saja kalau handphone-nya ada di sini. Jadi, saya tidak perlu repot mengobrak-abrik kamar seperti tadi. Tuan tinggal bilang saja, apa susahnya?"
Marshal mendecak serta menutup telinganya. Memandang Viona dengan jengah. "Sstt, kamu cerewet sekarang. Aku pusing mendengarkan ocehanmu. Lebih baik kamu siapkan baju untukku. Sudah siang, aku harus pergi bekerja."
"Tuan 'kan punya tangan. Ambil sendiri! Saya mau keluar saja." Viona melangkahkan kakinya keluar ruangan itu. Tapi, baru tiga langkah beranjak, dia terhuyung kebelakang karena tangannya ditarik oleh Marshal.
"Mau kemana, hm? Sudah lupa pada tugasmu? Berani sekali kamu melawanku." Cekalan Marshal semakin erat. Dia memandang Viona dengan marah. "Aku sudah bilang, boleh menjadi dirimu sendiri bukan berarti kamu bisa membantahku!"
Viona menelan ludahnya dengan kasar melihat sorotan tajam Marshal. "Baik, baik. Maaf, Tuan." Viona segera menyiapkan baju saat Marshal sudah melepaskan tangannya. Tidak bisa berkutik saat Marshal sudah memperlihatkan kilatan tajamnya. Viona hanya bisa patuh dan patuh.
Dia juga heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia begitu berani menetang Marshal, barusan. Seharusnya dia menurut saja dan mengabaikan sikap Marshal yang menyebalkan telah menyembunyikan ponselnya. Bukan malah melawan dan bahkan malah mengatakan kalimat yang kasar pada suaminya.
"Kamu tidak suka aku peringatkan lagi seperti tadi?" tanya Marshal pada Viona yang nampak diam saja tetap fokus membantunya berpakaian setelah dia mengomelinya.
Viona tidak menjawab. Fokus memakaikan dasi pada Marshal. Dia menunduk tidak berani menatap wajah Marshal. Takut bersikap buruk lagi dan dimarahi suaminya seperti tadi.
Marshal membuang napasnya kasar melihat sikap Viona yang kembali banyak terdiam. Dia tidak suka jika Viona seperti ini. Tapi, dia juga kesal saat Viona membantahnya dan bahkan malah menyuruh dia mengambil baju sendiri dengan dalih Marshal punya tangan sendiri.
Memang benar, tapi menyiapkan bajunya termasuk kewajiban Viona. Dan Marshal hanya ingin Viona menurut saja bukan malah melawan seperti tadi.
"Kamu kesal padaku?" Viona mendongak. Menatap Marshal dengan datar. "Aku juga kesal padamu," ucap Marshal sembari mengelus wajah Viona.
Viona mendecak dan langsung mengalihkan pandangannya pada dasi yang belum selesai dia pasang.
"Maaf. Aku salah tidak memberitahu kalau handphone-mu ada di dalam lemari. Tadi aku lupa menyimpannya dan baru ingat saat sudah masuk kamar mandi."
"Tapi kamu salah, jika kamu melawan ucapanku. Aku suka kamu lebih terbuka padaku. Tapi, sikapmu yang tidak sopan barusan, aku tidak suka," ucap Marshal lagi dengan lembut. Viona hanya diam membisu. Dia tidak berniat bicara lagi dengan Marshal saat ini. Harinya sudah hancur dengan mood yang buruk.
Marshal menunduk, memperhatikan wajah Viona yang datar sedang fokus memasang dasi dan kancing yang terlepas. Tanpa aba-aba Marshal mencium bibir Viona sekilas.
Viona melotot melihat Marshal dengan tajam. "Tuan!" bentaknya dengan kesal.
Dengan tanpa dosanya Marshal malah mengalihkan pandangan ke samping. Menghindari tatapan kesal istrinya. "Habisnya kamu diam saja," ucapnya dengan pelan.
Viona mendecak sebal. Menarik dasi Marshal hingga suaminya memekik kaget. "Apa? Sakit?" ejek Viona dengan enteng.
Marshal yang tadinya ingin marah, malah tertawa dan melonggarkan dasinya. "Kamu balas dendam?"
Cih! Viona membuang muka. Marshal semakin ingin menggodanya. Dia memeluk Viona dengan erat dan mencium wajah Viona bertubi-tubi sampai Viona berteriak dengan geram. "Tuan! Lepaskan!"
Marshal tidak peduli. Dia terus saja menggoda istrinya sampai dia berhenti saat Viona sudah mengangkat satu kakinya siap menginjak. "Habisnya kamu diam saja jika ditanya. Kamu sariwan? Kenapa tidak menjawab jika aku ajak bicara?"
Viona menggeram. Mengangkat sebelah tangan siap memukul. "Tuan, argh,"
Menyebalkan, lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Dia berlalu begitu saja. Meninggalkan Marshal yang kembali memanggilnya. Viona tidak peduli. Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun. Jika berlama-lama dengan Marshal, takutnya dia tidak bisa menahan diri. Lebih baik Viona menyiapkan sarapan bersama pekerja lain. Ya, itu lebih baik untuk mood-nya dari pada harus bersama Marshal yang semakin hari semakin menyebalkan.
***
Viona menatap Marshal dengan bingung. Kenapa Marshal tidak pergi juga? Padahal dia sudah mencium punggung tangannya mengizinkan Marshal berangkat bekerja. Tapi, suaminya itu masih saja berdiri di depannya, kasihan Rio sudah menunggu siap berangkat ke kantor.
"Apa ada yang ketinggalan, Tuan?" tanya Viona dengan bingung.
Marshal malah tersenyum. Mengusap wajah Viona dengan lembut. "Apa kamu melupakan sesuatu?" ucapnya setengah berbisik.
Viona mengernyit dalam. Dia merasa tidak melupakan apapun. Mencium tangan Marshal sudah, lalu apa yang Viona lupakan? Rutinitas barunya hanya itu.
Membuang napasnya kasar. Marshal memandang istrinya dengan kesal. "Bekalnya mana?"
Viona baru ingat. Ternyata Marshal benar-benar menagih sesuai ucapannya. Viona juga kenapa bisa lupa? Padahal dia sudah menyiapkannya. "Sebentar saya ambil dulu, Tuan."
Setelah lama menunggu, akhirnya Viona muncul juga. Dia membawa dua kantung Lunch box di tangannya. Satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna hitam. Marshal terkejut melihatnya. "Kamu mau aku memakan dua bekal sekaligus?"
Viona malah tekikik melihat reaksi Marshal. Dia geleng-geleng kepala. "Ini punya Tuan." Viona menyerahkan kantung berwarna hitam.
Marshal mengernyit serta menunjuk satu kantungnya lagi. "Lalu itu untuk siapa?"
"Rio," ucap Viona dengan santai. Marshal malah menatapnya tajam. Kenapa Rio juga disiapkan makan siang? Dia tidak suka perhatian Viona diberikan pada Rio seperti itu.
Berbeda dengan Rio yang mendengar hal itu. Wajahnya langsung berbinar. Dia teramat sangat senang menerima sikap perhatian majikannya juga.
"Nih, Rio. Ambil!"
Baru Rio akan mengambilnya dari tangan Viona. Dia urungkan niatnya saat tangan Viona dicekal oleh Marshal. Memang suami Viona itu tidak mengatakan apa-apa. Tapi, Rio mengerti jika Marshal tidak suka jika Rio juga disiapkan bekal.
"Tuan seperti anak kecil. Rio juga manusia. Tidak ada salahnya jika sama-sama diperhatikan," bisik Viona pelan ditelinga Marshal. Takut Rio mendengarnya. Viona tidak menyangka jika Marshal akan merasa iri pada asistennya sendiri. Padahal Marshal pun juga Viona siapkan bekal. Lucu sekali. Seperti anak kecil.
Viona tidak menghiraukan ketidaksukaan Marshal. Dia tetap memberikan kantung itu pada Rio. Viona juga merebut kantung di tangan Marshal dan memberikannya juga pada Rio. "Biar Rio yang membawakannya, Tuan," ucap Viona saat Marshal menatapnya tajam.
Mungkin Marshal mengira jatahnya juga diberikan pada Rio. Padahal Viona hanya meminta Rio yang membawanya.
"Yasudah, aku berangkat dulu."
Viona mengangguk dan tersenyum. Dia mundur dua langkah saat Marshal sudah siap akan mencium keningnya. "Sudah siang, Tuan. Segeralah berangkat!"
Marshal tidak menghiraukan penolakan Viona. Dia mendekat dan segera mendekap tubuh Viona hingga istrinya tidak bisa menghindar lagi.
Cup
Cup
__ADS_1
Marshal berlalu begitu saja setelah berhasil mencium kening dan pipi istrinya.
Wajah Viona sudah merona. Dia malu. Bagaimana jika para pekerja lain melihatnya.