Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Tidak marah


__ADS_3

"Amanda" gumamnya saat melihat layar ponsel.


  Viona yang melihat hal itu justru menaikkan alisnya. Menatap Marshal penuh. Dia tak tertidur lagi karena dia juga penasaran dengan yang menelpon itu.


  Kekasih tuan menelpon? Ada apa dia menelpon tuan? Apa dia rindu pada tuan Marshal?


Viona mengubah posisinya menjadi duduk disamping Marshal.


Hah, jam dua.. gumamnya melihat jam yang ada dikamar Marshal.


"Iya, Halo!" Marshal mengangkat teleponnya.


.......


"Maaf, tuan. Saya keluar. Kekamar saya dulu" izinnya saat Marshal sedang bertelponan bersama kekasihnya.


Males banget kalau dia harus menguping orang yang sedang berpacaran. Lebih baik dia pergi saja 'pikirnya.


  Marshal melirik pada Viona, mengangguk mengizinkan.


Viona pun pergi ke kamarnya untuk sholat dzuhur yang tertinggal. Setelahnya, Viona turun kelantai bawah.


"Rio!" dia menghampiri Rio yang sedang duduk santai dimeja bar dekat dapur.


Rio menoleh dengan mulut mengunyah biskuit. "Nona.." Dia langsung berdiri dan menunduk didepan Viona.


"Apaan sih kamu, Yo. Duduk aja kali" Viona menepuk pundak Rio.


Rio jadi merasa canggung. Dia tersenyum kikuk dan kembali duduk.


Viona duduk disamping Rio. "Kamu makan apaan sih, Yo?" Dia melirik toples ditangan Rio.


"Ini, Nona" Rio menunjukkan isi toplesnya pada Viona. "Oh.." Viona hanya ber'oh' ria.


"Nona mau?" Viona menggeleng


"Tuan, kemana?"


"Diatas. Masih dikamarnya. Tadi sih lagi teleponan sama pacarnya"


Uhuk uhuukk.. Rio tersedak. Dengan segera Viona memberikan air *minum padanya.


Tuan menelpon kekasihnya? Didepan istrinya sendiri*?..


"Teleponan dengan Nona Amanda?" Viona mengangguk yakin membuat Rio menganga.


Tapi kenapa Nona tidak marah? Padahal suaminya berkomunikasi dengan kekasihnya.


"Nona,"


"Iya" Viona menautkan alis menatap Rio.


"Nona tidak apa-apa?"

__ADS_1


Viona mengernyit. "Hah?.."


"Nona, tidak apa-apa jika tuan bertelponan dengan kekasihnya?" Pertanyaan Rio membuat Viona tertawa. "Haha.. kamu ini ngomong apa sih, Yo. Aku kan sudah bilang. Aku gak akan ikut campur urusan tuan. Jika tuan masih berhubungan dengan pacarnya, aku gak akan marah. Toh, itu juga hubungan mereka. Urusan mereka. Bukan urusanku"


Rio menghela napas. Geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan ucapan Viona.


Ternyata Nona benar-benar rela jika tuan punya pacar?... huh! Kenapa Nona tidak melarangnya saja. Aku jadi kasihan pada Nona... ah dasar tuan nya saja yang tak tahu diri. Sudah jelas dia punya istri. Masih saja berpacaran dengan Nona Amanda.


"Nona" Viona kembali melirik Rio. "Apa nona rela tuan berpacaran? Harusnya Nona melarang tuan berpacaran. Tuankan suami Nona"


"Sudahlah, Rio. Jangan membahas soal tuan dibelakangnya! Nanti dia mendengarkan obrolan kita" ujarnya. "Aku tidak mau mencampuri urusan tuan. Karena tuan juga tidak membolehkan aku ikut campur dalam urusannya. Jadi aku tidak punya hak untuk melarangnya"


Sekali lagi Rio hanya menghembuskan napasnya kasar. Dia juga tak punya hak untuk ikut campur urusan Marshal.


__________


"Makanlah sedikit! Kamu dari tadi belum makan apa-apa"


"Aku tidak mau makan, Ma!" Tolak Sendi pada Fatma, ibunya.


  Sudah dua hari Sendi dirawat dirumah sakit. Sendi baru sadarkan diri pagi ini. Setelah tak sadarkan diri semenjak menghadiri acara pernikahan kemarin.


________________


  *Kedua mempelai pengantin yang terlihat berbahagia sedang menyalami para tamu undangan. Wajah mereka terlihat berseri dengan setelan gaun dan jas pernikahan yang berwarna senada.


Sendi diajak oleh Ayahnya, Tuan Arga Mahendra. Untuk menghadiri acara pernikahan dari rekan bisnis Ayahnya itu. Sendi tak menolak. Dia menyetujui ajakan dari ayahnya karena Sendi juga sedang tak sibuk. Jadilah dia disini sekarang. Di acara pernikahan yang super megah. Dengan dokorasi super Wah nan glamour memanjakan mata semua orang yang menghadiri acaranya.


Saat Sendi menyalami kedua mempelai. Mata Sendi membelalak seketika. Di begitu terkejut mengetahui mempelai wanitanya.


Viona dan Marshal menoleh pada orang yang memanggil nama Viona itu.


Sungguh begitu terkejutnya Viona, melihat Sendi yang hadir dipernikahannya dengan Marshal. Bagaimana bisa, Sendi ada disini?


Kenapa dia disini?..


Viona melirik Sendi dan tuan Arga bergantian. Dia terkejut. Benar-benar terkejut dengan kedatangan Sendi.


Berbeda dengan Marshal yang malah memasang tampang datar melihat Sendi. Namun dia hanya tersenyum melihat Arga.


"Sendi.." Viona tak habis pikir dengan kedatangan Sendi. Dia tak mengundang Sendi, tapi kenapa Sendi hadir? Dari mana Sendi tahu Viona menikah?


Marshal tak heran dengan kedatangan Sendi. Karena Sendi datang bersama dengan Arga, rekan bisnisnya. Yang tak lain adalah ayah dari Sendi. Jadi pantas saja jika Sendi hadir. Mungkin diajak tuan Arga. Pikirnya.


"Ini kamu kan, Vi?" Sendi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini.


Viona hanya mampu diam. Kedatangan Sendi sungguh membuat perasaannya semakin tidak enak. Rasa bersalah kembali hadir dalam diri Viona.


"Kamu menikah?" Mata Sendi mulai berkaca-kaca. "Dengan dia?" Sendi melirik Marshal yang masih memasang wajah datar.


"Kamu tidak bicara padaku, Vi?" Viona menggeleng lemah menatap Sendi dengan muram. "Kamu sungguh menikah?"


"Sen.." Viona mencoba memegang tangan Sendi. Namun Sendi menepisnya. "Kenapa tiba-tiba?"

__ADS_1


"Sen, aku bisa menjelaskannya" sekali lagi Viona mencoba meraih tangan Sendi. Namun reaksi Sendi sama, dia langsung menepisnya. Dia menggeleng lemah. Tak percaya jika Viona akan seperti ini.


Kenapa kamu mengkhianatiku?


Hati Sendi benar-benar hancur. Gadis yang menjadi pujaan hatinya, kini tengah bersanding bersama pria lain dipelaminan.


"Aku tak menyangka denganmu, Vi" Sendi terus menggeleng kepala. Dia sungguh tak bisa mencerna semua yang telah dilihatnya.


"Sen, maafkan aku" Viona semakin mendekat pada Sendi. Namun Sendi malah mundur menjauh.


Mata Sendi kosong melihat Viona. Hatinya begitu terpukul melihat semua ini. Entah kesalahan apa yang Sendi lakukan pada Viona, hingga Viona berani meninggalkannya dan menikah dengan pria lain tanpa memberitahu Sendi terlebih dahulu.


"Terima kasih untuk semua rasa yang pernah kamu torehkan" Sendi berlalu keluar aula gedung. Dia sangat sakit hati melihat semua ini. Perjuangannya untuk Viona yang terjalin sejak SMA, kini pupus hanya karena mengetahui Viona yang tak berterus terang padanya.


  Viona melihat kepergian Sendi dengan muram. Pikirannya kacau. Dia tak menyangka jika Sendi akan datang dipernikahannya.


Arga mulai merasa cangung. Dan dia memilih untuk segera menyusul Sendi.


"Selamat atas pernikahannya, Semoga bahagia selalu" Arga menyalami Marshal dengan canggung. "Maaf, saya pamit menyusul Sendi dulu" Marshal mengangguk. Tersenyum mempersilahkan. Dan tuan Arga berlalu menyusul Sendi.


Arga kahawatir pada puteranya. Dia tahu, puteranya pasti sangat syok saat ini.


Sebelumnya Arga juga tak tahu dengan calon istri dari Marshal. Mengingat pernikahannya yang mendadak, jadi para rekan bisnisnya tak banyak yang tahu mengenai calon istri Marshal. Mereka hanya menghadiri acara. Dan baru tahu wanita Marshal setelah menghadiri pernikahan saja. Jika Arga tahu wanitanya Marshal adalah Viona, mungkin dia tidak akan mengajak Sendi untuk hadir.


  Viona memang tak memberitahu Sendi tentang pernikahannya. Karena Viona juga bingung, bagaimana cara menjelaskannya pada Sendi. Dan dia berniat akan menjelaskan semuanya pada Sendi setelah acara pernikahannya selesai. Tapi kini, hal tak terduga terjadi. Sendi hadir dipesta pernikahannya. Dan Viona bingung juga terkejut dengan kedatangannya. Bagaimana dia menjelaskannya pada Sendi supaya Sendi tak kecewa padanya?


  Viona bingung harus bagaimana sekarang. Dia melihat kepergian Sendi dengan sendu. Viona tahu, Sendi pasti kecewa padanya. Sendi pasti syok mengetahuinya. Dan Viona juga tahu, jika Sendi saat ini begitu marah padanya. Begitu terpukul melihat kenyataan yang memang menyakitkan untuknya.


Kenapa semuanya jadi begini?


Sama halnya dengan tuan Arga. Dia begitu terkejut mengetahui Viona adalah mempelai wanitanya. Arga tahu, jika Sendi dan Viona dekat. Karena Sendi sering menceritakan semuanya tentang Viona. Dia juga sering membawa Viona berkunjung kerumah Arga.


  Dia juga sudah mengenal Viona lama. Karena Sendi dan Viona sudah dekat sejak SMA. Arga sungguh tak menyangka jika puteranya akan bernasib semalang ini. Jika saja dia tidak mengajak Sendi untuk menghadiri pernikahan ini, mungkin Sendi tak akan tahu yang sebenarnya. Dan tak akan sekacau ini*.


_________________


"Ayolah makan, Nak! Dari pagi kamu tidak mau makan" Fatma terus membujuk Sendi untuk mau makan. Tapi hasilnya tetap nihil. Sendi tak mau makan.


"Jangan seperti ini terus, Sen! Mama jadi bingung harus bagaimana?" Fatma sudah frustasi menghadapi Sendi.


Fatma mengerti, Sendi memang sedang patah hati. Tapi dia tak mau Sendi berlarut-larut dalam kesedihannya.


"Ma" Sendi melirik pada Fatma. Wajahnya lesu, pucat pasi. Tangannya masih dipasang selang infus. "Apa salah aku sama Viona, sampai dia mengkhianatiku?"


Fatma menghela napas. Menyimpan mangkuk bubur diatas meja.


"Sendi, Viona pasti punya alasan melakukan semua ini. Mama yakin, Viona tidak berniat mengkhianati kamu" Fatma mengusap-usap kepala Sendi dengan posisi Sendi yang masih terbaring lemah. "Jangan dipikirkan terus! Sayangi kesehatanmu! Mama tidak mau kamu seperti ini terus. Mama ikut sedih jika kamu begini"


"Tapi, Ma. Sendi benar-benar tak percaya jika Viona menikah. Kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa harus dengan pria lain? Kenapa bukan aku yang menikah dengannya?" Mata Sendi kembali berkaca-kaca. Rasa sakit hatinya benar-benar tak dapat terobati. Luka yang Viona torehkan sungguh membuatnya tersiksa. Kenyataan Viona menikah telah menombak hatinya terlalu dalam.


Kenyataan pedih itu sangat kuat menyambar relung hatinya. Dia belum bisa mengikhlaskan Viona. Cintanya pada Viona begitu besar dan sudah terukir sangat lama. Jadi tidak mudah untuk menghilangkan perasaannya begitu saja pada Viona.


  Yang paling membuat Sendi sakit hati adalah, Sendi jadi tahu alasan Viona menolak bertaaruf dengannya saat itu. Jadi alasan Viona tak mau bertaaruf dengan Sendi karena Viona akan menikah dengan Marshal. Tebak Sendi. 

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2