
Melihat Marshal yang terdiam, tidak mau menatapnya, Viona merasa heran. Dia menambahkan lauk ke dalam piring milik suaminya.
"Kenapa?" tanya Viona kembali duduk, tidak henti memperhatikan Marshal yang masih saja bungkam. "Ada yang salah di antara kita? Apa kamu marah karena aku lama makan malam?" Nafsu makan Viona semakin berkurang. Marshal mendiamkannya dan malah menatapnya tidak terbaca. "Tuan Marshal?"
Terdengar dengusan kasar dari Marshal, Viona semakin heran melihatnya. Sebenarnya Marshal kenapa?
"Aku sudah berubah, demi istriku. Tapi, dia tidak kunjung berubah untukku. Apa aku harus tetap biasa saja?" Marshal berkata, kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya.
Viona terdiam sejenak untuk mencerna kembali ucapan suaminya. "Kenapa? Apa aku berbuat salah?"
"Lupakan laki-laki itu, masukkan aku ke hatimu!"
Hening beberapa saat menghiasi ruang makan yang hanya terisi oleh mereka berdua.
Viona menyentuh lengan Marshal, mengusapnya pelan. "Karena tadi?" Melihat Marshal yang masih diam, Viona menghela napas. "Maaf, aku tidak bermaksud melawan. Habisnya kamu-"
"Kita sepakat memperbaiki hubungan. Aku ingin kamu menjalaninya dengan benar. Tapi, kamu masih saja menemui dia."
Viona menghela napas kembali. Ada yang salah di sini. Marshal merajuk karena sikapnya yang tadi. Apa Viona terlalu berlebihan? Kenapa Marshal sampai mendiamkannya seperti ini, biasanya dia hanya mengomel dengan sikap egoisnya. Tapi, kali ini terlihat lain.
Kembali menyentuh lengan Marshal. Menatap suaminya dengan lekat. "Memangnya kamu mau memulai semuanya kembali? Memulai kehidupan yang seharusnya?"
"Kenapa tidak? Bukankah kita sudah sepakat? Kamu yang mengatakannya, kenapa kamu masih saja meragukan aku? Apa aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu?"
Apakah ini saatnya? Senyuman Viona terukir indah, meski ragu. Karena posisinya duduk bersebelahan, sehingga memudahkannya untuk memeluk Marshal. "Aku mau memulai semuanya. Memulai kehidupan sama kamu. Aku mau menjalani pernikahan kita dengan baik."
Mulanya Marshal terdiam, lambat laun senyuman terpatri di bibirnya dan membalas pelukan Viona. "Lupakan dia! Aku hanya ingin kamu melihatku."
Viona mengangguk pelan. "Jika itu yang kamu mau, bantu aku melakukannya. Aku sulit mengalihkan perasaan, tapi jika sudah sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan. Kamu suamiku, Chal. Seharusnya aku melakukan ini sejak kita menikah, bukan sekarang. Aku telat melakukannya."
Ya, jika saja dia memulainya sejak dulu, maka rasa sakit dari Sendi tidak akan pernah dia rasakan. Mungkin dia akan bahagia bersama suaminya, tanpa melihat derita yang lain. Seharusnya dia menyadarinya dari awal. Yang menikah dengannya adalah Marshal. Yang menjadi suaminya adalah Marshal. Seharusnya, yang dia pikirkan juga hanya Marshal.
"Aku mencintaimu, Zahra."
Viona melepas pelukan dengan terkejut. Melihat Marshal yang malah tersenyum dan mencium bibirnya, dia terpaku. Apa yang Marshal katakan barusan? Apa Viona salah dengar?
"Aku mencintaimu, Zahra sayang, Istriku." Viona masih mematung, tidak percaya memandangi suaminya.
Senyuman Marshal semakin lebar dan mendekat ke arah istrinya. "I love you," ucapnya dibisikkan tepat di telinga.
Viona tertegun dengan bibir terkatup rapat. Perlahan melihat mata suaminya dengan dalam. Tidak ada keraguan, tidak ada sorot candaan di dalamnya. "Chal?"
__ADS_1
Marshal mengangguk-anggukan kepala dengan cepat. Memeluk tubuh istrinya yang masih setengah sadar. "Temani aku menghabiskan sisa hidupku ini. Aku tahu, aku terlambat menyadarinya. Tapi, aku sudah yakin, seyakin-yakinnya jika aku memang mencintaimu. Bukan obsesi lagi, Sayang. Tapi, Cinta. Aku mencintaimu, sangat!"
Viona hanya bisa diam dalam dekapan suaminya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Viona belum mencintai suaminya, namun Marshal sudah menyatakan cinta padanya. Apakah dia harus bahagia atau bersedih? Viona justru merasa bersalah.
"Chal, aku-"
Marshal melerai pelukan, mengusap wajah istrinya dan tersenyum kembali. "Aku tahu," ucapnya, "kita akan memulainya dari awal, bukan? Masih ada kesempatan untuk mendatangkannya, Sayang. Kamu mau, kan, terima cintaku?"
Viona mengatupkan kedua bibirnya ke dalam. Tidak tahu harus berkata seperti apa. Sudah sering dia mendapat pernyataan cinta dari laki-laki dan selalu dia tolak. Namun, untuk kali ini, Viona tidak tahu harus mengatakan apa. Dia memang tidak mencintai Marshal, namun tidak mungkin menolak cinta dari suaminya. Karena Viona sudah memutuskan untuk bertahan dan memulainya kembali.
Marshal memandanginya tidak sabaran. Menggamit kedua tangan Viona dan menciumnya berkali-kali. "Aku mencintaimu, Sayang. Terima aku menjadi suami yang baik untukmu. Jadikan aku laki-laki yang bersyukur atas anugrah Tuhan yang sudah menikahkan kita. Aku mau hidup bersama kamu, selamanya."
Ucapan Marshal terasa sangat tulus. Viona tidak bisa menutupi, jika dirinya memang terharu. Tidak percaya jika di balik sikap egoisnya, Marshal bisa mengatakan kalimat romantis. "Kamu melamarku di meja makan?" gurau Viona disertai kekehan.
Marshal ikut tertawa kecil, mencium kembali tangan Viona. "Aku belum pernah melamarmu. Waktu itu, hanya lewat ayahmu. Apakah sekarang bisa dikatakan sebuah lamaran?"
Viona kembali tertawa, menarik tangan dari gamitan suaminya. "Lamarannya tidak romantis." Viona mengalihkan padangan dan mengambil sendoknya kembali.
Marshal tersenyum, memiringkan kepala disangga oleh kepalan tangan di atas meja. "Mau dibuatkan lamaran yang spesial? Kita tunangan?"
Tawa Viona pecah seketika. Menyimpan kembali sendok dan melihat pada suaminya. "Mana ada tunangan setelah menikah?"
"Ada," Marshal menegakkan duduknya. "kita bisa mengadakan tunangan kapan pun kita mau. Kalo perlu, kita nikah kembali, bagaimana?"
"Untuk memulainya kembali. Kamu ingin memulainya dari awal, kan? Kalo gitu, kita adakan pernikahan lagi."
Viona terus tertawa, menggelengkan kepala mendengar usulan konyol suaminya.
Ini yang kamu sarankan, Frans. Aku akan memulai kembali semuanya dan melupakan Sendi, ucap Viona dalam hati.
***
"Selamat pagi, Sayang!"
Viona baru saja membuka mata dan menggeliat, langsung bangun dan duduk dengan kaget melihat wajah Marshal berada di depannya. Senyuman manis tersuguh di pagi hari yang begitu dingin. Cuaca di luar sepertinya sedang hujan.
"Chal?" Viona menutup mulut, menguap. "Ngapain kamu di kamar aku?"
"Menyambut pagi indah, Sayang." Marshal mencium kening istrinya. Mengusap pipi Viona dengan gemas. "Apakah tidurmu nyenyak?"
Viona mengangguk, kembali merebahkan tubuh. "Kamu gak kerja, kenapa belum siap-siap?" Matanya kembali terpejam. Merasakan hawa pagi yang dingin membuatnya malas untuk beranjak, lebih baik bergelung selimut.
__ADS_1
"Sekarang tanggal merah, Sayang. Aku libur."
"Oh." Viona menarik selimut sampai ke leher. Memejamkan mata kembali untuk segera meneruskan tidurnya.
Namun, gangguan datang dari suaminya. Marshal menyibak selimut yang dikenakan istrinya dan ikut berbaring sambil memeluk tubuh Viona. "Kamu tidak mau bangun, ini sudah pagi, Sayang."
"Kamu juga malah ikut tidur. Ngapain?"
Marshal tidak menjawab dan malah membenamkan wajahnya di leher Viona. Memeluknya erat tidak mau lepas sampai istrinya menggeliat tidak nyaman.
"Tadinya, aku mau jogging bersama Rio. Tapi, di luar hujan, lebih baik mengganggu istriku."
Viona hanya diam saja merasakan hangatnya selimut tebal yang membungkus tubuh dan juga ... pelukan suaminya.
Jika dirasakan, pelukan Marshal memang hangat dan nyaman. Selama ini Viona tidak bisa merasakannya karena belum menerimanya. Tapi setelah mencoba menerima, ternyata pernikahan yang hangat tidak buruk juga untuknya.
Setelah semalam, Marshal menyatakan cintanya, hubungan mereka memang membaik. Viona bertekad kuat untuk memperbaiki pernikahan bersama dengan suaminya. Biarkan saja yang lain. Sendi juga perlu fokus pada pernikahannya. Dia hanya berharap, apa yang dia pilih bisa jadi yang terbaik dan membawa kebahagiaan.
"Sayang?"
"Hm?"
"Hampir tiga bulan kita menikah. Sampai saat ini, kita tidak pernah melakukan itu ...."
"Itu apa?"
"Pembuatan cucu untuk Mama," bisik Marshal lirih membangunkan bulu kuduk istrinya. "Apa bisa dimulai sekarang?"
Tubuh Viona menegang mendengar ajakan suaminya. Dia meremas tangan Marshal yang melingkar di perutnya. "Aku belum siap," cicitnya tertelan.
Marshal justru terkekeh, semakin erat memeluk tubuh istrinya. "Aku tidak akan memaksa. Tapi, kita harus melakukannya, Sayang."
"Harus?" Viona membola melihat ke samping pada suaminya yang malah tersenyum geli.
"Istriku tidak polos. Kamu tidak perlu terkejut seperti itu."
"Tapi, aku ...."
"Aku tahu, Sayang. Aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu kamu siap. Tapi, jangan lama-lama, ya!"
Ditelannya ludah susah payah. Kepala Viona langsung dipenuhi hal tersebut membuatnya harus menggeleng guna menghilangkannya. Siap tidak siap, hal itu pasti terjadi padanya. Entah kapan, Viona hanya perlu menyiapkan diri sebisa yang dia mampu. Selama ini dia tidak pernah memikirkan hal tersebut sama sekali. Dia bahkan tidak mau disentuh oleh suaminya. Namun, sekarang keadaannya berbeda. Viona tidak mungkin bisa menghindar karena itu sudah menjadi kewajibannya. Apalagi dia sudah memutuskan untuk memperbaiki pernikahan. Sudah tentu hal tersebut harus dia lakukan.
__ADS_1
Inikah yang kalian inginkan? Haha, maafkanlah Author. Jika uwu-nya kurang dapet. Sabar, masih permulaaan. Zhao gak pandai bikin yang uwu, pandainya bikin yang rumit dan ribetttt... Untuk ke depannya, akan semakin uwu. Tapi, ingatkan author supaya bisa mengontrol pikiran Marshal. Suaminya Viona akan punya otak geser jika sudah seperti ini.😂😂
Salam hangat. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu😊😘😘