
"Ada apa Sen?" tanya Frans dengan tenang.
Viona memandangi Sendi dari dalam mobil. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya diam dengan berbagai pikiran hinggap dikepalanya.
"Boleh aku bicara dengan Viona?" tanya Sendi dengan ragu pada Frans yang memandanginya dengan teliti.
"Mau ngomongin apaan?"
"Ada beberapa hal yang harus kita obrolkan." Sendi terus memandangi Viona yang juga sedang melihat padanya dari pintu mobil yang terbuka. "boleh 'kan aku bicara dengan Viona?"
"Gue, sih, terserah Viona," Frans melirik Viona yang masih terdiam. "dia mau ya, gue izinin."
Sendi melihat Viona penuh harap, meminta jawaban. Tapi Viona lama terdiam. Mengubah posisi duduknya menghadap ke depan supaya tidak bertatapan dengan Sendi.
"Gimana?" tanya Frans pada Sendi, "menurut lo dia mau atau nggak?"
Sendi menghela napas dalam. Sedih karena Viona ternyata tidak mau bicara dengannya. Bahkan lebih memilih mengalihkan pandangan.
Melihat Sendi yang terdiam dengan muram, Frans hanya mengedikkan bahu dan kembali masuk ke dalam mobil. Menutup pintunya pelan tanpa menghiraukan Sendi yang terus menatap pada Viona dari kaca jendela yang tertutup.
Frans harus menghembuskan napasnya kasar melihat sikap Viona. "Lo tuh, kalo mau ya, tinggal bilang! Jangan nyiksa diri kayak gini, deh!" ucapnya dengan kesal. Dia tahu betul sikap Viona luar dalam karena mereka tumbuh bersama sedari bayi.
Viona menoleh ke arah Sendi yang ternyata masih berdiri di sana. "Aku mau bicara dulu sama dia."
"Nah, kan! Dari tadi, kek. Kan, gak usah drama nolak segala." Frans menurunkan kaca dan tersenyum pada Sendi. "Gue izinin, tapi sebentar aja, ya! Dia harus dianter pulang, suami dia udah nunggu, soalnya," ucap Frans berbohong. Dia beralasan dengan membawa suami Viona supaya Sendi tidak terlalu lama mengajaknya bicara.
Sendi hanya terdiam tidak mengerti mendengar ucapan Frans. Apa Viona mau bicara dengannya? Kenapa Frans bicara seperti itu barusan? Tapi tadi Viona menolaknya.
Semua kebingungannya terjawab saat Viona turun dari mobil, memandangi Sendi dari jarak yang lumayan jauh, dia mengangguk. "Hanya sebentar," ucap Viona dengan pelan.
Sendi mengangguk dengan cepat. Segera menghampiri Viona dan menggenggam tangannya. Tapi, dengan segera Viona menarik kembali tangannya.
"Maaf." Sendi merasa tidak enak karena Viona menolak digandengnya. "Kita bicara di kafe depan, ya!" Viona hanya mengangguk menyetujui serta mengikuti langkah Sendi menuju kafe yang ada di depan kampus. Jaraknya sangat dekat, bahkan bisa ditempuh dengan hanya beberapa menit saja jika berjalan kaki.
Embusan napas Frans terdengar seperti semburan. Dia menggelengkan kepala melihat mereka pergi begitu saja. Frans sangat tahu kisah mereka berdua yang sudah diketahuinya dari zaman SMA. Dan sampai sekarang dia juga masih melihat ada cinta di antara keduanya. Namun sayang, Viona sudah menikah duluan sehingga Sendi harus merasakan sakit yang tidak akan ada obatnya sampai kapan pun. Kecuali jika Viona menjadi janda. Tapi itu tidak mungkin. Dan Frans berharap tidak pernah terjadi. Dia tidak mau Viona mengalami kegagalan berumah tangga. Cukup sekali saja menikah seumur hidup. Ya, semoga saja.
***
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, meskipun kamu pernah bilang sebaliknya," ucap Sendi, "tapi apa yang aku lihat darimu, aku tahu ... kamu masih sangat mencintaiku."
Viona hanya terdiam. Mengalihkan pandangan pada pengunjung lain. Di pojokan kafe ada keluarga kecil yang juga sedang makan siang. Terlihat sangat harmonis. Ayah, ibu dan dua anak laki-lakinya yang kembar, masih balita. Terlihat sangat bahagia. Dengan sabar sang ibu menyuapi anak kembarnya bergantian. Saat anak yang satunya disuapi, si ayah langsung melahap sendok yang disodorkan oleh si ibu. Terlihat anak itu merajuk pada ayahnya. Dengan lucu, dia memukul pelan dada ayahnya membuat si ayah tertawa dengan renyah.
"Jika aku mengajakmu menjalin kasih, apa kamu mau?"
Viona kembali memandangi Sendi. Tercengang mendengar ajakannya. "Aku sudah menikah, Sen."
"Ya, aku tahu," Sendi mengangguk-anggukan kepalanya, "tapi hatimu tidak tertuju padanya, melainkan masih padaku."
__ADS_1
Viona kembali diam. Apa yang Sendi katakan memang benar. Tapi, dia tidak mungkin menjalin hubungan jika masih berada dalam sebuah pernikahan.
Sendi tersenyum dengan senang. Boleh saja waktu itu dia merasa patah hati saat Viona mengatakan sudah tidak mencintainya. Tapi kani, jika Viona kembali mengatakan hal itu, jelas Sendi tidak akan percaya. Viona yang sekarang, masihlah menjadi Viona yang dia kenal. Viona yang selalu dia harapkan dan dia mimpikan setiap malam.
"Jika kamu bersedia, kita bisa menjalin hubungan secara diam. Suamimu tidak akan mengetahuinya."
Viona menggeleng dengan cepat. Ucapan Sendi terlalu konyol. "Tidak, Sen. Kita tidak punya hubungan selama ini. Dan seharusnya memang tidak pernah punya hubungan sampai kapan pun."
Sendi menatap Viona dengan lekat. Meraih tangannya dan digenggam dengan erat. Tidak ada lagi penolakan dari Viona. "Makanya, aku mau kita punya hubungan. Aku tidak apa jika hanya dijadikan selingkuhan."
Viona tercengang mendengar ucapan Sendi yang semakin melantur. Dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman Sendi. "Tidak, aku tidak mau," tolaknya, "statusku sudah berbeda, Sen. Semuanya sudah berubah. Kita tidak bisa bersama. Aku sudah menikah. Tolong mengertilah!"
"Aku mengerti," Sendi menatap Viona dengan sangat serius. "sangat-sangat mengerti. Makanya aku mengajakmu untuk kembali. Karena aku tahu, pernikahanmu tidak menjanjikan kebahagiaan. Bagaimana mau bahagia, jika cinta saja tidak ada?"
***
Marshal turun dari mobil dengan malas saat Rio membukakan pintu untuknya. Dia menyempatkan diri untuk menjemput Viona di kampusnya karena dia mau memperbaiki kembali hubungannya dengan Viona supaya tidak terasa semakin dingin.
Namun, setelah lama menunggu, Viona tidak kunjung terlihat. Tidak mungkin jika Viona sudah pulang, karena sebelum menjemput, Marshal menanyakannya dulu pada pekerja rumah. Dan mereka bilang jika Viona belum pulang.
"Kenapa tidak ditelepon saja, Tuan?" Rio mensejajarkan langkah Marshal masuk ke dalam. Entah siapa yang akan mereka temukan. Tapi, mereka berharap bisa cepat bertemu Viona dan mengajaknya pulang, karena Marshal tahu, Viona akan bertemu dengan dosen pembimbingnya hanya sampai jam makan siang karena Viona mengatakannya semalam.
"Panggilan dariku tidak diangkat olehnya."
Rio diam kembali. Lirik kanan kiri mencari majikan cantiknya itu. Begitu luas dan banyak orang di kampus itu, dia tidak yakin bisa menemukan Viona dengan cepat. Tapi, saat melewati parkiran, matanya menangkap sosok makhluk tampan yang sedang dikerumuni banyak wanita.
Marshal mengikuti arah pandang Rio. Tanpa banyak bicara, dia langsung mendekat pada sosok yang tadi Rio tunjuk. Dia berdehem dengan keras sehingga kerumunan wanita itu terbelah. Memberikan celah untuk Marshal bisa berpandangan dengan laki-laki yang menjadi pusat perhatian. Nampak terkejut melihat kehadirannya.
"Kamu ..." Marshal menunjuk laki-laki itu dengan tajam. Tapi dia ragu untuk berucap karena tidak tahu dia siapa namanya.
"Namanya Frans, Tuan," bisik Rio dari samping.
"Frans, apa kamu tahu Viona di mana?" tanya Marshal dengan ramah.
Frans berjalan mendekat, menghindari kerumunan wanita yang sangat menggilainya itu. Perasaannya mulai tidak enak saat Marshal menanyakan sahabat yang sedang berkencan itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Frans dengan sopan.
"Aku mencari Viona. Apa kamu tahu dia di mana?"
Frans membisu. Dia bingung. Apa yang harus dia katakan pada Marshal? Jika dia berkata jujur, mungkin Marshal akan marah karena Frans sudah mendengar cerita dari Viona jika Marshal sangat tidak menyukai Sendi.
***
Sendi kembali menggenggam tangan Viona. Mengusap-usapnya pelan dengan jempol tangan. "Aku yakin, kita bisa menjalin hubungan, Vi. Semuanya akan baik-baik saja. Aku bisa menunggumu sampai kamu bisa mengajukan perceraian padanya."
Viona hanya terdiam serta menunduk, melihat tangannya yang digenggam oleh Sendi. Terasa nyaman. Tapi pikirannya tidak bisa merujuk pada hal pasti. Semuanya terasa berkecamuk.
__ADS_1
Lama mereka terdiam. Viona sibuk dengan pikirannya sendiri membuat jantung Sendi semakin berdebar menantikan jawaban. Saat Viona mengangkat wajah, Sendi tersenyum padanya yang dibalas dengan senyuman canggung dari Viona. Antara sadar dan tidak, tetapi senyuman keduanya terlihat memiliki arti yang sangat lekat.
"Oh, jadi begini kelakuanmu!"
Mereka menoleh ke arah samping saat mendengar suara laki-laki menggema. Viona merasa heran saat tatapan Frans tertuju pada mereka. Ada apa dengan Frans? Kenapa dia terlihat marah?
"Frans? Ada apa?" Viona sedikit terkejut dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Sendi.
"Lo lama banget, sih, gue nunggu sampe akaran," omel Frans dengan kesal. Menarik tangan Viona supaya berdiri.
"Apaan, sih, Frans?" Viona menghentakkan tangannya kasar. "Apa kamu memasang timer untuk aku bicara dengan Sendi? Kenapa datang tiba-tiba?"
"Iya, waktu kalian udah habis. Ayo, pulang!" Frans menarik tangan Viona dengan cepat tanpa menghiraukan Sendi yang begitu terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba dan sekarang Sendi merasa kesal. Dia tidak rela jika Viona harus pergi begitu saja karena ajakannya belum mendapatkan jawaban yang pasti.
"Tuh, lihat!" Frans mengarahkan Viona pada sebuah mobil yang terparkir di depan kafe.
Viona tebelalak dengan kaget. "Tuan?"
Marshal bersidekap dada dengan santainya menyandarkan pinggang pada mobil bagian depan, memandangi istrinya yang terlihat sangat terkejut.
"Kenapa gak bilang dia ada di sini?" bisik Viona dengan geram pada Frans.
"Tau, ah. Gue gak ikut-ikutan. Mending gue pulang." Frans pergi begitu saja setelah mengedikkan bahu. Meninggalkan Viona yang masih termangu.
Marshal memandangi istrinya dengan tajam tanpa mau bersuara membuat Viona jadi berdebar. Apa Marshal tahu dia bersama Sendi? Dia berharap tidak. Tapi kenapa Marshal tahu dia ada di sana?
Viona bingung pada Marshal yang terus melihatnya. Apa Marshal marah? Kenapa dia tidak bicara atau memanggilnya? Apa Marshal menunggu Viona yang mendekat? Tapi, Viona tidak berani mendekat.
Rio geleng-gelengkan kepala dari dalam mobil, duduk di belakang kemudi. Di depannya ada drama dengan judul 'Hati bicara di saat tubuh berkarat', karena kedua majikannya itu hanya terdiam saling pandang. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara maupun bergerak. Keduanya saling mengunci pandangan dalam diam.
Setelah lama terdiam, Marshal memutus pandangan lebih dulu. Dia langsung balik badan dan membuka pintu mobil.
Viona langsung berlari mendekat dan menahan Marshal yang hendak masuk. "Tuan ...."
Marshal memandang Viona datar. Kemudian menggeser tubuhnya. "Masuk!"
Viona memandangi Marshal dengan lekat. Apa Marshal marah padanya? Pertanyaan itu terus berputar di dalam otaknya. Dia tidak tahu apa yang sedang Marshal pikirkan. Tapi, Viona takut jika Marshal marah padanya.
"Apa? Cepat masuk!" titah Marshal lagi. Viona mengangguk. Memang lebih baik dia segera menuruti perintah suaminya supaya perasaannya tidak semakin kacau.
"Viona!"
Deg. Viona yang baru akan masuk, langsung memandang ke depan saat suara Sendi memanggilnya.
Marshal langsung menggeram. Melirik Viona dengan tajam. "Masih mau bicara dengannya?"
Dengan takut, Viona melihat pada Marshal dengan perasaan yang tidak karuan. Nada bicara Marshal tidak enak di dengar membuat Viona sedikit heran. Apa Marshal tahu Viona bersama dengan Sendi? Pertanyaan itu kembali hinggap dalam benak.
__ADS_1