
Langkah kaki perempuan itu semakin mendekat ke arah Viona yang nampak waspada dan semakin kebingungan. Wanita anggun yang terus saja menampilkan senyuman, justru membuat Viona semakin penasaran dan was-was.
"Nyonya sudah sadar ternyata." Wanita itu semakin dekat dan menyimpan nampan berisi makanan di atas nakas.
Viona memperhatikannya dalam diam, masih tidak bisa menebak, kenapa ada wanita itu di sana. Vennay yang dia tahu adalah manager Amanda. Tidak mungkin jika keberadaan Viona di kamar itu adalah ulahnya, kan? Amanda sudah di penjara, tidak mungkin berani macam-macam lagi padanya.
"Sudah petang, lebih baik Nyonya segera makan."
"Aku ada di mana?" Alih-alih menuruti perkataan wanita itu, Viona justru sedikit menggeser tubuh dengan berani mendekat pada Vennay. "Kenapa Anda di sini?"
Vennay kembali tersenyum. Dia menundukkan kepala sejenak, terlihat sangat sungkan terhadap Viona. "Lebih baik Nyonya segera makan. Saya permisi dulu."
"Tunggu!" Viona berdiri. Dia meringis sambil memegang kepalanya yang malah berdenyut nyeri. "Jangan pergi dulu!" Viona menahan tangan Vennay yang hendak beranjak pergi. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
Vennay malah terlihat khawatir, menuntun Viona untuk kembali duduk di tepi ranjang. "Lebih baik Nyonya istirahat dengan baik dan segera makan. Biar nanti saya jelaskan semuanya. Sekarang Nyonya tidak perlu banyak bertanya dulu. Takutnya Nyonya nanti malah sakit."
Pandangan Viona terlihat semakin bingung. Tidak ada tanda-tanda kejahatan dari diri Vennay. Wanita itu lembut memperlakukannya. Tapi, Viona harus tetap waspada. Siapa yang tahu jika Vennay ternyata punya siasat buruk terhadapnya.
"Beristirahatlah, Nyonya! Jika perlu sesuatu, Nyonya bisa memanggil seseorang yang siap siaga di depan pintu kamar."
Viona melirik ke arah pintu mendengar ucapan Vennay. Berarti di depan pintu ada orang yang menjaganya. Sebenarnya dia ini diculik atau bagaimana? Kenapa sampai diawasi seperti saat ini? Yang jelas harus semakin waspada. Kejahatan sedang mengintainya.
"Saya permisi, Nyonya."
Tidak ada yang bisa Viona lakukan lagi untuk menahan Vennay tetap berada di sana dan menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya. Dia membiarkan Vennay keluar dari kamar, masih terus waspada mengawasi sekitar.
Kepalanya terasa sangat sakit sekali, Viona mencoba merebahkan tubuh dan menyanggakan bantal untuk mengurangi rasa sakitnya. Dia tidak boleh tertidur, harus tetap siaga. Tapi, denyutan di kepala tidak bisa terelakan. Dia juga pusing dan pandangannya juga tidak sempurna, kembali memburam.
Viona memejamkan mata erat sambil mengernyit. Rasanya sakit sekali. Pusing dan dia sedikit merasa mual. Mungkin dengan memaksakan diri untuk tidur akan lebih baik. Setidaknya bisa mengurangi rasa sakit. Dia tidak bisa tertidur terlalu nyenyak supaya jika kejahatan datang, dia tidak boleh lengah dan harus siap untuk melawan.
Mungkin dia akan menutup mata sejenak dan memikirkan cara untuk mengetahui apa yang terjadi supaya cepat terbebas dari sana.
***
Dekapan yang hangat dan nyaman. Viona menyurukan wajah ke dada bidang yang ada di hadapannya. Sepasang tangan memeluknya erat dan memberikan rasa tentram dalam jiwa yang sejak tadi merasa tidak tenang. Rasanya dia tidak ingin terbangun lagi. Posisi ini sangat nyaman untuknya. Dia sangat merindukan dekapan ini, setelah beberapa hari tidak bisa dia dapatkan.
"Chal ...."
"Iya, Sayang?"
Apakah ini mimpi? Perlahan Viona menggeliat untuk terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara Marshal dan dekapan ini ... dekapan ini adalah dekapan yang sangat dia tahu rasanya.
Dengan mata yang masih enggan untuk membuka, Viona menengadah. Senyuman Marshal langsung tertangkap oleh manik matanya yang sayu. Tangan Viona terulur untuk mengusap rahang tegas suaminya. "Ini kamu?"
Marshal hanya memberikan senyuman, meraih tangan Viona untuk berhenti mengusap wajahnya. Dia kembali memeluk erat tubuh Viona dan bergumam entah apa, Viona tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Dia masih mengantuk.
__ADS_1
"Kepalaku sakit," lirih Viona, semakin membenamkan kepala di dada yang terasa nyaman dan wangi.
"Tidurlah!"
Kecupan-kecupan ringan mendarat di puncak kepalanya. Viona tersenyum samar merasakan elusan lembut di titik sakit yang sejak tadi mengganggunya. Hingga kantuk kembali menyerang, Viona malah kembali terlelap. Dia tidak punya cukup tenaga untuk melihat Marshal dan menanyakan banyak hal. Pusing membuatnya malah lupa dengan amarah dan rasa bingung. Dia kembali larut dalam kenyamanan dekapan yang sangat membuatnya tidak ingin untuk membuka mata kembali.
Hingga pagi menjelang, cahaya mentari pagi membuatnya harus membuka mata dengan terpaksa. Viona menggeliat, memegang kepala yang sudah terasa lebih baik. Semalam dia tidur sangat nyenyak sekali dalam dekap-di mana Marshal?
Viona melirik tubuhnya yang berbalut selimut, bahkan pakaiannya sudah berganti menjadi piyama tidur. Siapa yang menggantinya? Apa Marshal yang melakukannya semalam? Kenapa Viona tidak menyadari hal itu, sangking nyenyaknya tidur.
Menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, Viona merasa sedikit pegal di tengkuknya. Lalu, ke mana Marshal sekarang? Viona tidak melihat ada tanda-tanda laki-laki itu berada di sana.
Memperhatikan keadaan sekitar, Viona terkejut mendapati seseorang yang ada di dalam sana juga.
"Siapa kamu?" Viona langsung menarik selimut menutupi tubuhnya dengan baik, menatap tajam pada laki-laki yang tengah duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Dia tidak mengenalinya.
Laki-laki itu tersenyum misterius dan terus memandanginya dengan tatapan lapar.
"S-siapa kamu? Kenapa ada di sini?" Viona sudah cemas karena ada laki-laki lain yang satu ruangan dengannya, terlebih dia baru saja bangun tidur. "Bisakah Anda keluar, Tuan!" Dia sungguh ketakutan melihat laki-laki itu yang malah menyeringai, seram.
"Chal!" Viona melirik sekitar, tidak mendapati suaminya. "Marshal!" Dia ketakutan saat ini. Di mana suaminya? Bukankah semalam ada Marshal di sana, memeluknya dan memberikan kecupan hangat sampai Viona terlelap. "Chal!" Tetap saja tidak ada sahutan.
Laki-laki itu berdiri. Viona mengeratkan selimut menutup tubuhnya dengan baik. Dia memang tidak memakai pakaian seksi di balik selimut, hanya piyama panjang. Tapi, dia ketakutan saat ini entah untuk hal apa saja. Perasaannya campur aduk, dia tidak bisa berpikir banyak selain memanggil-manggil nama Marshal yang tidak kunjung muncul.
"Ternyata kamu bangun tidur terlihat sangat manis, Baby."
"Marshal!" Sekali lagi Viona berteriak kencang, berharap Marshal segera muncul dari balik pintu. Tapi, tidak ada. Malah laki-laki itu semakin mendekat padanya. Viona semakin ketakutan. Tangannya sudah mengepal erat di balik selimut, dia harus waspada.
"Kamu memanggil siapa, Baby? Tidak ada orang lain, selain kita di sini."
Viona menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Berteriak kencang supaya laki-laki itu tidak semakin mendekatinya dan menjauh.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam, Sayang. Hanya ingin sedikit bermain denganmu."
Mata Viona membulat sempurna, perasaan takut semakin mendominasi dirinya. "Menjauh dan pergilah dariku!" Sekuat tenaga dia berkata untuk tegas, meskipun sudah gemetar. "Jangan dekati aku!"
"Kamu mengusirku?" Laki-laki misterius itu malah terkekeh geli, menunjuk dirinya sendiri. "Kamu yakin? Bukankah semalam kamu memeluk tubuhku? Kita tidur berdua selama semalaman, Sayang."
Syok. Viona menggeleng keras. Tidak mungkin. Semalam dia tidur bersama suaminya. "Marshal!" Dia yakin Marshal ada di sana. Viona tidak percaya dengan ucapan laki-laki itu. Tubuh yang semalam mendekapnya hanya Marshal. Viona sangat yakin. Dia tahu postur tubuh dan wangi suaminya. Tidak mungkin salah orang.
"Jangan menyebut nama laki-laki lain di hadapanku, Baby! Kau milikku." Mata laki-laki itu berkilat marah.
Tangan Viona semakin kuat mengepal di balik selimut. Siap siaga ingin melayangkan sumpalan yang menakutkan tersebut.
"VENNAY!" Nama itu Viona teriakan dengan sangat kencang. Hanya orang itu yang terakhir kali Viona ingat. Perempuan itu sempat menemuinya saat Viona berada dalam kesadaran penuh. Tidak mungkin salah melihat orang. Tapi, beberapa kali dia memanggil, pintu yang diliriknya tidak kunjung menampakkan sesosok siapa pun.
__ADS_1
"Jangan membuang tenaga untuk yang tidak perlu, Baby! Aku ada di sini. Tidak bisakah kita menikmati permainan selanjutnya?" Lagi, laki-laki itu menyeringai.
Viona menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak tatapan lapar dari laki-laki itu. Dia ingin menangis menahan takut. Di mana Marshal? Bukankah semalam dia menemuinya? Sekarang dia ke mana? Viona butuh Marshal, sangat.
"Jangan mendekat!"
Laki-laki itu tidak mendengarkan ucapan Viona dan malah semakin mendekati ranjang. Tatapannya yang liar, seolah ingin menelan Viona hidup-hidup. Tidak. Viona sangat ketakutan saat ini. Dia terus merapalkan doa dalam hati supaya Marshal segera datang menolongnya. Atau Vennay. Atau siapa pun itu, yang penting dia selamat dari kejahatan.
"Ternyata kamu sangat cantik, Sayang. Apa aku boleh menyentuh wajahmu?"
Viona memundurkan wajah, saat tangan laki-laki misterius itu terulur ingin meraihnya.
Laki-laki itu tertawa kencang melihat respon Viona. "Tidak perlu takut, Baby. Aku tidak akan macam-macam padamu."
Kepala Viona menggeleng-geleng cepat, seakan ingin merontokkan setiap helai rambutnya. Dengan napas yang sudah tidak beraturan dan debar jantung yang menggila, Viona menyibak selimut cepat. Dia menepis tangan laki-laki yang sudah terulur kembali ingin meraih wajahnya.
Dengan amarah dan rasa takut yang membuncah, Viona memelintir tangan laki-laki itu.
"Kamu galak sekali, Baby. Lepaskan aku!"
Viona malah semakin berani memelintir tangan itu. Tapi, sedetik kemudian posisi berubah. Viona kelepasan tangan itu dan dia meringsut mundur ketakutan melihat tatapan berkilat dari orang yang menyeramkan tersebut.
"Ternyata kamu wanita yang berani, ya ...."
Viona beringsut mundur, turun dari ranjang. Tangannya masih setia untuk mengepal di samping paha, memperhatikan laki-laki itu terus mendekatinya.
"Aku hanya ingin mengajakmu bermain, kenapa kamu malah melawan, hm?"
Tatapan Viona nanar. Dia terus mundur hingga menyentuh dinding dan laki-laki itu menyeringai kejam. Sial, Viona tidak bisa menghindar lagi.
"Jangan melawan lagi, Baby!"
Viona memalingkan wajahnya dengan cepat saat tangan itu terulur menyentuh pipinya.
"Kamu cantik sek-argh!" Laki-laki itu memekik kaget karena sebelah kakinya diinjak oleh Viona.
Bugh!
Memanfaatkan kelengahannya yang masih mengusap kaki yang sakit, Viona melayangkan tinjuan keras di rahang laki-laki itu sampai terpekik kembali dan terjatuh ke lantai.
Lalu, apa yang terjadi setelah ini?
Tunggu kelanjutannya, Readers Sayang! Mhehe ....
Salam hangat dari Zhao😘
__ADS_1
...Mau dilanjut malam ini? Atau besok aja?...