Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Sabar


__ADS_3

"Masih ada delapan bulan lagi, Yo. Apakah aku masih hidup, saat anakku lahir nanti?"


"Tuan harus sabar. Nyonya seperti itu karena sedang mengandung. Demi anak Tuan juga. Bersabarlah!"


Marshal hanya mengangguk lesu, membuka kembali file yang tengah periksa. Cuaca pagi hari di kantor terasa membosankan. Dia tidak semangat bekerja, karena pikirannya terus teringat dengan Viona yang ditinggal di rumah. Dia juga takut istrinya melakukan aktivitas yang berat, karena tahu sendiri jika Viona orangnya tidak bisa diam. Apa-apa pasti ingin dikerjakan dengan tangannya sendiri.


"Anggaran proyek yang Bali, sepertinya akan sedikit meleset, Tuan."


"Kenapa?" Marshal memandang pada Rio yang tengah membuka map biru, duduk di hadapannya. "Tuan salah menghitung dana. Akhir-akhir ini fokus Tuan terbagi-bagi. Dan ini," Rio memperlihatkan catatan di kertas yang terdapat dalam map biru tersebut. "Tuan malah menuliskan nama nyonya di tempat tanda tangan."


Marshal meringis, menepus jidat dengan kencang. Dia kura fokus sebulan terakhir ini. Semuanya kacau dan sekarang juga sebenarnya belum dikatakan sudah membaik, walaupun mendapat kabar bahagia berkali-kali. Dia malah dipusingkan dengan kelakuan istrinya.


"Saya harus membuat data ulang atau bagaimana, Tuan?"


"Buat ulang! Nanti aku perbaiki kesalahannya."


Rio mengangguk, menutup map dan memisahkannya untuk dikerjakan kembali. "Lebih baik Tuan istirahat saja di rumah, jika kurang sehat. Tuan tidak fokus berada di sini."


"Jika di rumah, sebenarnya bukan hanya pekerjaan yang tidak bisa kukendalikan, tapi juga tingkah nyonya. Kamu tahu sendiri dia bagaimana sekarang. Kamu mau membuat kepalaku tambah pusing?" Marshal duduk bersandar, memijat kening yang terasa pening.


Rio memperhatikan setiap gerak-geriknya, merasa kasihan. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kehamilan nyonya membuat semua orang merasa aneh dengan setiap tingkah dan perilakunya.


Marshal meneggakkan duduk untuk melihat ponsel yang baru saja berdering. Dia segera menggeser panel hijau, melihat panggilan masuk dari istrinya.


"Lagi ngapain?"


"Aku sedang bekerja, Sayang. Kenapa? Apa butuh sesuatu? Kamu mual lagi? Atau kenapa? Tumben menelepon jam segini."


"Aku cuma lupa ngingetin, jangan lirik wanita lain!"


"Iya, Sayang, iya." Marshal hanya bisa menyahuti dengan pelan. Setiap dia tidak berada di rumah, Viona pasti mengatakan itu.


"Jangan iya-iya aja. Ingat!"


"Iya, Sayang. Aku ingat."


Kemudian, dari seberang tidak lagi terdengar suara istrinya. Marshal sampai menjauhkan ponsel sejenak dari telinga, melihat layarnya memastikan jika panggilan belum terputus. Dan memang masih tersambung.


"Sayang? Kamu sedang apa?" Dia takut Viona meninggalkan pesan karena dia harus pergi ke kamar mandi karena mual. "Sayang?"


"Aku di sini, Chal."


"Sedang apa? Kenapa hanya diam?"


Viona diam lagi. Marshal sampai harus mengecek ponsel kembali, memastikan panggilan yang masih berlangsung.


"Apa kamu bisa pulang sekarang?"


"Hm? Memangnya kenapa? Kamu butuh sesuatu? Kenapa aku harus pulang? Ini masih pagi, Sayang."

__ADS_1


"Kamu pulang aja, ya. Aku pengen kamu di rumah aja."


"Kamu minta aku temani?"


"Bukan. Aku gak mau kamu kerja."


Marshal tertohok mendengar ucapan istrinya. "Jika aku tidak bekerja, lalu semua urusan ini bagaimana? Siapa yang akan menggarapnya? Perusahaan aku pasti terbengkalai, Sayang." Marshal terkejut mendengar suara isakan dari seberang sana. Dia jadi panik dan khawatir istrinya kenapa-kenapa.


"Aku gak mau kamu ketemu sama wanita lain, Chal!"


Lagi, Marshal terbelalak kaget mendengarnya. Viona menangis hanya karena hal itu? "Sayang ...."


"Pulang sekarang!"


Tidak ada bantahan, selain harus menurut. Marshal tidak mau istrinya sampai menangis lagi. Dia akan segera pulang supaya Viona tidak menuduhnya yang tidak-tidak.


Tapi, ketika sampai di rumah, Marshal hanya bisa diam di luar kamar. Viona mengusirnya, tidak mengizinkan masuk karena dia benci melihat wajahnya. Viona juga merasa mual lagi melihat kehadirannya yang kata Viona, terlihat sangat tampan dengan tersenyum tipis saat baru datang.


Hhh! Sebenarnya istrinya kenapa? Marshal pusing sendiri menghadapinya. Viona yang meminta dia untuk pulang dan sekarang dia dibuang.


Apa maunya sang nyonya sebenarnya? Dia hanya menyiksa Marshal, mempermainkannya dan membuat Marshal hampir mati habis kesabaran.


"Sabar, Tuan!"


Marshal melirik pada Rio dengan wajah memelas. Dia mengangguk, memang seharusnya dia bisa bersabar menghadapi istrinya.


"Sayang, aku kembali ke kantor lagi, ya? Kamu tidak mau melihatku di sini, kan? Aku lebih baik bekerja," ucap Marshal, bersandar pada pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


Marshal membuang napas kasar, terlihat muram. Nasibnya sungguh menyedihkan. Dia melirik Rio yang ikut prihatin. "Tidak apa, Yo. Aku baik-baik saja. Dia istriku. Nyonya sedang mengandung anakku," ujar Marshal, selalu teringat dengan kalimat penyemangat yang Rio katakan padanya, ketika hal seperti itu tiba.


Marshal mengetuk pintu kamar, tidak ada suara apa pun dari dalam. Dia melonggokkan kepala untuk melihat ke dalam kamar, ternyata Viona tengah memegang gelas, duduk di tepi ranjang. Pandangan mereka bertemu. Marshal sampai menelan ludah melihat tatapan istrinya yang tidak biasa.


"Aku pergi ke kantor lagi, ya?"


"Ganti pakaian kalau gitu! Baru boleh pergi lagi."


Alis Marshal terangkat, tidak mengerti dengan hal apa lagi yang diinginkan istrinya.


"Kamu terlihat menyebalkan seperti itu. Aku malah makin benci. Jasnya kelihatan pas di badan kamu. Sana ganti!"


Rahang Marshal turun seketika. Dia melongo memandangi istrinya yang terlihat tidak merasa bermasalah dengan apa yang dia ucapkan barusan.


Ya, Tuhan ... ampunilah!


***


"Kandungan kamu gimana, Viona? Apa masih suka mual?" tanya Rahma, pada Viona yang duduk di samping ranjangnya.


"Wah, malah semakin memburuk, Ma," sambar Marshal, sambil menggeleng pelan.

__ADS_1


"Maksudnya memburuk? Kondisi kamu gimana, Viona? Kamu jarang makan, ya? Kenapa jadi memburuk?" Rahma memegang tangan Viona, terlihat sangat cemas. "Jangan lupa makan! Kamu sekarang berbadan dua. Cucu mama juga butuh nutrisi."


"Iya, Ma." Viona tersenyum manis pada mertuanya yang semakin terlihat lebih baik.


Jam makan siang, Viona meminta untuk menjenguk Rahma ke rumah sakit. Marshal hanya menuruti kemauannya, tidak banyak bicara, bahkan menjauhkaj diri dari istrinya.


Dia dalam mobil saat di perjalanan menuju rumah sakit, Marshal bahkan duduk di jok depan, bersebelahan dengan Rio dan Viona di belakang sendirian. Viona sempat bertanya, tapi Marshal hanya mengatakan, jika dia tidak mau membuat Viona muak dan menurunkannya di tengah jalan.


Memalukan. Marshal tidak akan memancing kemuakan Viona terhadap dirinya. Meskipun kadang-kadang sifat Viona melunak dan terlihat biasa saja, tapi Marshal tetap saja berjaga-jaga. Perasaan Viona mudah berubah kapan saja. Seperti bom yang akan meledak tanpa tahu dengan pengaturan waktu. Mengerikan!


Saat ini saja, Marshal hanya diam, bersandar pada tembok di belakang Viona dengan posisi berdiri. Kedua tangan dia masukkan ke dalam saku, memperhatikan istrinya yang menyuapi Rahma makan siang.


Nyonya Atma terlihat sangat senang didatangi oleh mereka, terutama menantunya yang kini tengah mengandung cucunya. Calon cucu kesayangan, bersanding dengan Zean. Rahma sudah tidak sabar menunggu kehadiran cucunya. Marshal hanya memutar bola mata mendengar hal itu. Dia juga tidak sabar menanti, tapi- ayolah ... istrinya baru hamil satu bulan.


"Chal."


"Iya, Sayang?" Marshal melangkah maju, membungkukkan badan untuk mensejajarkan tubuh dengan Viona yang sedang duduk.


"Kamu boleh kembali kerja. Aku mau di sini nemenin mama."


Marshal justru terdiam, tidak berniat pergi sama sekali dan malah menegakkan tubuh kembali. "Aku akan temani kalian di sini, Sayang."


"Tapi, kamu katanya banyak kerjaan di kantor. Kamu boleh pergi."


"Tidak, Sayang. Aku akan tetap di sini."


"Ya, sudah ...." Viona terdiam, kembali menyuapi mertuanya. "Tapi, jangan dekat-dekat terus, ya! Aku gak mau dekat kamu."


Refleks, Marshal mundur dan mulai melangkah untuk menjauh. Rahma sampai terkiki melihatnya. Marshal tidak mempedulikan hal itu, yang harus dia lakukan hanya segera menjauh supaya Viona tidak bereaksi lagi.


"Kamu di sini juga buat apa, Chal. Hanya melihat Viona, tidak bisa mendekat atau apa pun yang bisa terlihat seperti manusia. Benar kata Viona, mending kamu kembali berkerja daripada hanya menjadi patuh di sini," ejek Rahma, terkekeh geli melihat ekspresi anaknya ketika mundur teratur.


"Iya, Chal. Mending kamu ke kantor lagi aja."


"Aku akan di sini, Sayang. Atau kamu mau aku mencuci mata di luar? Aku ak-"


Mata Viona berpendar marah. Marshal langsung bungkam, tidak mau mengusik ketenangan sang singa betina. Lebih baik diam untuk sekarang. Tidak bergerak, tidak mengeluarkan suara dan hanya membisu memperhatikan mereka yang berbincang mengenai masalah wanita dan kehamilan Viona.


Benar kata Rahma, Marshal berada di sana hanya menjadi patuh semata. Lama-lama dia bosan juga memperhatikan mereka yang terlihat tidak peduli dengan kehadirannya. Marshal melihat jam di pergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul dua. Jika dia kembali bekerja, akan terasa melelahkan di jam seperti itu dan tanggung, karena tidak akan banyak perkerjaan yang bisa dia kerjakan. Keburu kesorean dan jam pulang kerja karyawan akan tiba, lalu dia pulang kembali. Terlalu singkat.


Maka Marshal lebih memilih untuk menghubungi Rio, mengajaknya untuk pergi ke rumah Wisnu, melihat keadaan ayahnya. Wisnu pasti sedang istirahat saat ini. Setidaknya Marshal punya teman untuk berbincang dan bisa menanyakan banyak hal dengan ayahnya. Dia juga butuh pelajaran baru dari Wisnu. Ayahnya sudah sangat berpengalaman dalam berbagai bidang. Bisa Marshal manfaatkan sebagai guru untuk langkah masa depannya kelak. Termasuk dalam hal rumah tangga.


"Sayang. Aku pergi, ya. Aku mau lihat papa. Nanti aku ke sini lagi, jemput kamu."


Viona hanya mengangguk dan membiarkan suaminya pergi, setelah berpamitan juga pada Rahma.


"Jaga pandangan, Sayang!" tegas Viona, saat Marshal akan memegang handle pintu, sudah berniat untuk keluar kamar.


Marshal membalik badan sejenak, tersenyum. Tangannya terangkat dengan hormat. "Siap, Nyonya! Aku tidak akan nakal. Tenang saja." Dia tertawa dan langsung keluar dari ruang rwat tersebut, melihat ekspresi Viona yang berubah garang melihat senyuman tampannya.

__ADS_1


Aneh. Setelah hamil, kenapa Viona benci dengan wajah tampannya?


__ADS_2