Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Perdebatan


__ADS_3

Arghh! Kenapa sangat sulit untuk dia mengalihkan pikiran dari perdebatan yang terjadi antara dia dan istrinya?


Banyak kertas dokumen yang menumpuk di depan mata, tapi tidak satu pun yang dia sentuh untuk ditandatangani atau sekadar diperiksa. Dia tidak bisa fokus pada pekerjaan untuk saat ini. Kepalanya dipenuhi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Viona. Semua argumen yang dilontarkan istrinya terus berseliweran dalam memori.


Sungguh, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Viona yang dengan berani menentangnya dengan berbagai kalimat yang membuat Marshal harus menggeram menahan emosi.


Entah dari mana kepercayadirian Viona muncul untuk mengatakan hal sangat mengejutkan itu. Apa yang dipikirkan oleh istrinya sampai dia berkata ingin menjalin hubungan dengan laki-laki lain? Marshal sungguh tidak menyangka Viona akan mengatakan hal seperti itu. Apa Viona berniat balas dendam atau memang hanya meminta keadilan seperti yang dia katakan?


Saat Viona mengatakan syarat yang mengejutkan itu, jelas Marshal menolaknya dengan tegas. Tapi, dengan penolakan itu, kalimat demi kalimat yang Viona utarakan semakin membuatnya tidak tahan untuk membungkam mulut istrinya dengan perasaaan yang sangat campur aduk.


Di saat Marshal mengatakan, "Tidak! Kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan laki-laki lain!"


Dengan beraninya Viona malah berkacak pinggang dengan sorotan mata yang menantang. "Kenapa?" tukasnya dengan nada tinggi, "bukankah Tuan juga menjalin hubungan dengan nona Amanda? Selama ini dan sampai kapan pun saya tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Saya menerimanya dan bahkan menutupinya dari orang lain. Jadi, apa salahnya jik-"


"Salah!" Marshal mulai emosi, "kamu salah jika membawa urusanku demi keinginanmu."


"O, ya?" Viona maju dua langkah. Harus sedikit mendongak untuk membalas tatapan suaminya. "Salahnya di mana? Tuan bisa berpacaran dengan nona Amanda, kenapa saya tidak?"


"Itu urusanku," tukas Marshal, "masalahnya berbeda. Bukankah aku pernah bilang jika kamu tidak boleh mencampuri urusanku?"


Viona terdiam memandangi wajah Marshal yang semakin tersulut dengan sikap beraninya. "Egois," gumamnya.


Marshal maju selangkah mengikis jarak di antara mereka. Dia melingkarkan satu tangannya di pinggang Viona dengan pandangan terus tertuju pada manik indah istrinya. "Apa kamu mau balas dendam padaku? Atau ...," Jari telunjuknya mengangkat dagu Viona. "kamu cemburu pada Amanda sehingga kamu mau melakukan hal yang sama untuk membuatku marah?" Jika benar, maka Marshal akan merasa sangat bahagia.


Dengan cepat Viona mendorong tubuh Marshal supaya menjauh darinya. Dia tersenyum miring mendengar ucapan Marshal. "Cemburu?" Dia tertawa. "untuk apa saya cemburu? Saya hanya meminta keadilan. Bukan berarti saya cemburu atau balas dendam."


"Jika kamu tidak cemburu, kenapa kamu mempermasalahkan hubunganku dengan Amanda, sekarang?"


"Saya bukan mempermasalahkan, hanya meminta keadilan, Tuan. Itu saja. Tuan terlalu kegeeran jika beranggapan saya cemburu. Rasa cinta saja tidak ada, untuk apa saya cemburu?" Tatapan Viona semakin menantang. Dia sudah tidak peduli lagi dengan aturan Marshal yang tidak boleh meninggikan suara atau membantahnya. Dia hanya menginginkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Keadilan.


Marshal terdiam dengan emosi yang lagi-lagi ... entah kenapa selalu tertahan untuk diluapkan. Dia hanya bisa mengepalkan tangan di samping paha. Dadanya naik turun menahan emosi.


Tapi, Viona tidak peduli dengan kemarahan suaminya. Dia sudah lupa pada kesopanannya dan hanya mengandalkan keberanian supaya tidak terus-terusan tertindas oleh suaminya sendiri. Jadi istri penurut memang perlu, tapi jika keadilan tidak berpihak padanya, Viona tidak bisa jika hanya diam saja di saat dia sendiri bahkan tertekan dan tidak bisa mendapat kebebasan.


Keberanian Viona masih tinggi. "Saya hanya menuntut keadilan yang akan sangat menguntungkan. Pernikahan ini hanya permainan, tidak ada salahnya jika kita punya hubungan dengan pasangan yang kita inginkan, bukan? Tuan bisa tetap berhubungan dengan nona Amanda tanpa terusik dan saya akan bahagia dengan Sendi."


"Tapi pernikahan kita bukan permainan, Viona!" bentak Marshal tepat di depan wajah istrinya.


Viona mengerjap. Sedikit terkejut mendapat bentakan di depan muka seperti itu. "Tuan sendiri yang memulai permainan. Jika Tuan tidak mempermainkan pernikahan, Tuan tidak akan berhubungan dengan Amanda. Seharusnya Tuan juga sadar diri. Seorang suami itu tidak baik jika berhubungan dengan wanita lain di saat dia sudah menikah. Jangan salahkan saya, jika saya menuntut hal yang sama!"

__ADS_1


Marshal ingin menimpalinya, tapi dia urungkan. Dia tidak mungkin menjelaskan semuanya sekarang. Viona tidak akan mengerti dengan apa yang Marshal rasakan.


"Tuan egois, jika Tuan terus membatasi kebebasan saya padahal Tuan sendiri menjalin hubungan dengan wanita lain."


"Itukan-"


Viona segera mengacungkan telunjuk di depan bibir Marshal. "Sst, kali ini saya tidak bisa diam. Tidak peduli Tuan marah karena sikap kurang ajar saya." Dia tersenyum. "Ayolah, Tuan! Kita jalani permainan yang Tuan buat ini dengan baik. Pernikahan akan tetap berjalan dan kita tetap bisa bahagia dengan pasangan masing-masing."


Batin Viona terus memaki dirinya sendiri. Dia pun tidak paham dengan apa yang dia katakan barusan. Tapi dia bersorak girang dalam hati saat Marshal hanya terdiam dengan tangan mengepal kuat. Bisa dia lihat keringat di pelipis suaminya mulai bermunculan. Emosi yang tertahan membuat Marshal cukup tersiksa. Dan Viona sendiri pun heran, kenapa Marshal tidak membentaknya lagi?


Tapi tidak bertahan lama, Marshal kembali bicara dengan sangat marah sehingga perdebatan terus berlangsung hingga malam menjelang dan mereka harus tidur benar-benar pisah kamar. Sampai Marshal tidak bisa tidur semalaman karena emosi yang awalnya dia tahan tidak kunjung mereda dan tidak bisa dia luapkan semuanya pada Viona.


Bukan hanya sampai malam, tapi sampai pagi tadi, sebelum Marshal berangkat bekerja, mereka kembali mendebatkan hal yang sama.


Marshal membuang napasnya dengan kasar. Kenapa pikirannya tidak bisa melupakan masalah itu?


"Fokus! Kerjaan numpuk, fokus-fokus!"


Marshal kembali memandangi dokumen di atas meja kerjanya. Dia harus melupakan dulu masalahnya dengan Viona karena saat ini banyak hal yang harus dia urusi. Biarlah otaknya mereda dulu dari perdebatan yang memusingkan itu. Dia sudah lelah memikirkannya.


***


"Honey, apa kamu sibuk?"


Amanda berjalan mendekat pada Marshal dengan senyuman andalan terulir jelas di bibirnya. "Aku kangen banget sama kamu." Tanpa permisi, dia menggeser kursi duduk Marshal. Kemudian, dia duduk di pangkuan kekasihnya. Namun, Marshal mendorongnya pelan supaya Amanda kembali berdiri.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Marshal dengan lembut.


Amanda tidak senang mendapat penolakan. Dengan wajah cemberut menyandar pada meja kerja suami Viona. "Aku ganggu kamu, ya? Kamu tidak suka aku datang?"


Marshal menggeleng. Mengusap tangan Amanda dengan pelan. "Tidak. Justru kamu mengejutkan aku."


"Kamu tidak senang?"


"Aku sangat senang. Hanya saja, lain kali jika datang, ketuk pintu dulu! Jangan main masuk saja seperti tadi, kebiasaan. Bagaimana jika di ruanganku sedang ada klien? Kamu bisa dibilang tidak sopan nanti."


Amanda mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Dia sangat tidak suka jika diceramahi oleh Marshal. "Oke, aku minta maaf," ucapnya dengan terpaksa. "Abisnya aku kangen banget sama kamu. Kita jarang ketemu, teleponan juga kadang-kadang." keluhnya dengan manja.


Marshal hanya tersenyum. Memang waktunya semakin terkikis untuk bertemu dengan Amanda. Keduanya sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi sekarang Marshal harus mengurusi istrinya juga. Karier Amanda sebagai seorang model yang sedang naik daun, juga mengharuskannya untuk menjalani pemotretan sana sini setiap hari. Jadi, waktu mereka untuk bersenang-senang hanya terbatas.

__ADS_1


Kebetulan hari ini Amanda tidak ada jadwal pemotretan. Dia menyempatkan untuk menemui Marshal di kantornya. Tidak memberitahu dulu memang karena dia ingin membuat kejutan. Tapi, Marshal seperti tidak senang dengan kedatangannya. Meskipun Marshal bilang kedatangan Amanda membuatnya terkejut dan merasa senang, tetapi raut wajah Marshal tidak memperlihatkan hal demikian.


"Honey, jalan-jalan, yuk!"


Amanda dengan sikap manjanya selalu membuat Marshal tersenyum. Tapi, dia menggeleng dan menunjuk tumpukan dokumen di atas mejanya. "Maaf, kerjaan lagi banyak," tolaknya dengan lembut.


Amanda mendengus dan memalingkan pandangannya. Kesal rasanya. Dia sudah menyempatkan waktu untuk menemui Marshal di tengah kesibukannya. Tapi yang dia dapatkan hanya penolakan. Sia-sia dia datang. Jika tahu akan begini, mungkin lebih baik dia hangout bersama teman-temannya.


Marshal harus menghela napas saat melihat Amanda merajuk. Dia paling tidak bisa melihat kekasihnya seperti itu. "Jangan marah! Lain waktu aku pasti ngajak kamu jalan-jalan. Untuk sekarang tidak dulu, ya. Aku banyak kerjaan."


Amanda tidak mau melihat Marshal dan tetap memilih memandang arah lain. Dia kesal dan marah pada kekasihnya.


"Manda ...." Marshal berdiri, meraih tangan Amanda. "Jangan kayak gini! Aku 'kan-"


"APA?!" Amanda melirik Marshal dengan tajam. Menghempaskan tangan Marshal dari tangannya. Kemudian, dia berdiri dengan cepat. "Kamu tuh sekarang berubah, tau, gak? Semenjak kamu menikah, kamu tuh gak pernah bisa mengertiin aku lagi. Selalu aku yang harus mengalah. Selalu aku yang harus nyamperin kamu ke sini kalo aku ingin bertemu."


"Manda, aku banyak kerjaan."


"Kerjaan sebanyak apa?" sambar Amanda, "dari dulu kerjaan kamu selalu banyak. Tapi, kamu gak pernah nolak keinginan aku kayak gini. Kenapa kamu berubah? Apa karena wanita itu kamu jadi beda? Iya?"


"MANDA, STOP!" Amanda langsung terdiam. Dia sangat terkejut mendengar bentakan Marshal. "Bisa tidak, kamu tidak membawa Viona dalam urusan kita? Semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Aku memang sedang banyak kerjaan. Mengertilah sedikit! Selama ini aku selalu menuruti semua keinginan kamu. Aku mohon, kali ini saja, kamu mengerti dengan kesibukanku!"


Amanda terdiam dengan mata yang sudah memanas. Dia memandangi Marshal dengan sangat kecewa. "Lihat! Kamu bahkan membentak aku demi membela dia." Air matanya luruh dengan perlahan. "Kenapa? Apa salah aku sampai kamu semarah itu saat aku menyalahkan wanita itu? Apa kamu mencintai dia?" Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sangat berharap jika Marshal tidak akan mencintai Viona.


Marshal menggeleng dengan cepat. Dia tidak bisa melihat wanita menangis seperti itu. Diraihnya tangan Amanda untuk dia genggam. "Maaf. Aku tidak bermaksud begitu," Marshal membawa Amanda ke dalam dekapannya. "aku hanya sedang banyak pikiran. Maafkan aku! Aku bukan membela dia, hanya tidak ingin dia terlibat dalam hubungan kita." Dia mengusap lembut punggung Amanda yang terguncang.


Tangis Amanda mulai mereda meskipun dia masih tersedu-sedu. Dia sangat kecewa dan tidak percaya jika Marshal barusan membentaknya. Selama tiga tahun mereka berhubungan, tidak pernah sekalipun Marshal membentaknya seperti barusan. Kalau pun Marshal marah, hal itu hanya karena perasaan cemburu atau karena Amanda yang suka lalai menjaga kesehatan. Bukan karena keinginan Amanda yang manja seperti barusan.


"Maaf," ucap Marshal lagi sambil terus mengusap punggung Amanda yang masih dia peluk.


Ponsel Marshal dia atas meja berbunyi dan berkedip dua kali di tengah kehangatan pelukan mereka. Marshal melepaskan pelukan untuk melihatnya. Dia mengernyit saat layar ponselnya menampilkan pesan dari Rio.


Marshal melirik pintu ruangannya yang masih tertutup. Untuk apa Rio mengiriminya pesan di jam seperti ini? Padahal ruangan Rio ada di depan ruangannya. Jika ada hal yang ingin disampaikan, dia bisa langsung masuk seperti biasa.


Dengan penasaran, Marshal membuka isi pesannya. Dia terbelalak saat membaca isinya,


Keadaan darurat! Tuan Wisnu dan nyonya Rahma sudah di lobby akan menemui Anda.


______________________________

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Vote and Comment!


Sehat dan bahagia selalu guys😊😘😘


__ADS_2