
"Emang kenapa gitu, Ma?" tanya Viona dengan penasaran. Membenahkan duduk di sofa menghadap Rahma.
Setelah makan siang, mereka kembali ke ruangan keluarga untuk berbincang kecil sambil menonton televisi. Rahma sedang malas bekerja. Dia hanya memantau butik dari laporan pekerjanya. Seharian ini dia menemani Viona di rumah. Ibu mertuanya itu sangat gemar menonton sinetron di televisi untuk mengisi waktu luang. Untungnya, saluran ikan terbang kembali menayangkan sinetron kesukaan Rahma.
Entah kenapa, tapi Viona merasa kurang suka dengan sinetron yang ada di saluran tersebut. Setiap hari, entah berapa kali ftv itu ditayangkan dengan judul berbeda namun alur cerita yang hampir sama. Seorang istri yang tersiksa. Suaminya selingkuh dan memilih wanita lain. Hidupnya sengsara, kemudian setelah dia berjaya, suaminya pasti akan menyesal telah menyia-nyiakannya.
Dan di akhir cerita, tokoh antagonis pasti mendapat karma dan si tokoh utamanya bahagia. Euuh, klise, sih, sebenarnya.
Rahma mengalihkan pandangan pada Viona. Wajahnya menampilkan raut berbeda. Antara kesal dan entah apa. Viona hanya penasaran menantikan ceritanya, kenapa keluarga Marshal bisa begitu membenci Amanda?
"Dia itu, ya ...," Rahma mulai bercerita. "orangnya gak mama suka banget. Pertama kali ketemu aja, ketus banget. Gak enak mama liatnya. Pas datang, masuk rumah boro-boro ngucapin salam sambil cium tangan mama kayak kamu waktu pertama kali datang. Dia hanya senyum yang kayak gak ikhlas gitu. Terpaksa mama suruh dia masuk aja. Eh, dianya malah nyelonong duluan. Langsung duduk di sofa ruang tamu sambil nyilangin kaki. Gak sopan banget, kan?"
Viona masih diam mendengarkan. Rahma berbicara sangat menggebu-gebu. Sepertinya Rahma sangat tidak suka dengan sikap Amanda tersebut.
"Awalnya mama biasa aja. Ya, bisa memaklumi itulah. Mungkin karena kita baru kenal juga. Tapi, pas mama bilang sama papa," Rahma melanjutkan ceritanya. Viona semakin tertarik untuk menyimak. "papa malah nyeletuk, 'kalo baru pertama kali aja udah bersikap seperti itu, bagaimana nanti kedepannya?' Iya, juga. Mama jadi merenung lagi. Dan ternyata papa bener. Kaleng Kong Guan itu, lama-lama malah ngelunjak. Sama sekali gak pernah bersikap hormat sama mama. Kalo ketemu ngehindar terus."
Rahma berhenti sejenak. Setelah iklan di televisi selesai dan kembali menampilkan sinetron kesukaannya, pandangan Rahma kembali menatap televisi sejenak. Viona ikut melihat sebentar. Batinnya mencak-mencak tidak jelas. Karena sinetron itu menceritakan seorang istri yang dengan rela membiarkan suaminya selingkuh di depan matanya sendiri. Suaminya itu tidak tahu diri dan malah menyuruh istrinya untuk tidak ikut campur dalam urusannya dengan sang kekasih.
Ingin rasanya Viona terbahak sekarang juga. Jika dipikir kembali, cerita itu hampir sama dengannya. Tapi bedanya, di dalam cerita itu sang istri menderita dan begitu tersiksa melihat kelakuan suaminya. Dia harus menangis setiap hari menerima perlakuan buruk dari suaminya. Bahkan suaminya, jika pulang hanya meminta uang pada istrinya untuk membawa kekasihnya berbelanja. Ck, suami macam apa itu? Kerja tidak mau, tetapi malah selingkuh dengan menghabiskan uang istrinya.
Untung saja Viona tidak merasakan hal demikian. Biarpun kisahnya hampir sama, tapi dia tidak merasa tersiksa karena dia tidak memakai cinta. Dan lagi, suaminya tidak pernah bersikap kasar. Marshal baik. Hanya saja kelakuannya sedikir keluar jalur.
"Kamu tahu?" Viona menoleh pada Rahma. Ibu mertuanya itu kembali berucap walaupun pandangan matanya masih pada layar televisi. "Amanda pernah menghabiskan uang Marshal hampir dua miliar dalam sehari untuk belanja keperluannya."
Viona membelalak tidak percaya. Uang sebanyak itu untuk digunakan untuk apa? Amanda boros juga ternyata. "Beneran, Ma?"
Rahma mengangguk yakin. Melirik Viona sebentar dan kembali pada layar. "Marshal udah kepengaruhan banyak sama dia. Entah sudah berapa ratusan miliar luruh buat wanita itu. Hampir setiap hari, kalo enggak, setiap minggu Marshal belanjain kekasihnya. Tentu saja banyak biaya yang dia keluarkan. Mama sama papa udah tegur berkali-kali. Walaupun memakai uangnya sendiri, tapi, tetap aja. Mama gak rela dia hamburin uang gitu aja."
Viona manggut-manggut. Tidak heran jika Marshal melakukan hal itu untuk Amanda. Suaminya itu sangat mencintai Amanda. Apapun pasti dia lakukan demi kekasihnya.
Setelah mendengar cerita itu, rasa penasaran Viona belum sirna. Lantas ia pun bertanya, "Hanya karena itu mama gak suka sama dia?"
__ADS_1
"Bukan. Kalo masalah uang aja, mama pasti gak sebenci itu sama dia. Yang bikin mama muak itu, mama pernah nge-gep dia keluar hotel sambil ciuman sama om-om. Kayaknya bos dia di agensinya, gitu. Mama udah bilang sama Chal. Tapi, dia gak percaya juga."
Viona melongo. Apa ucapan Rahma ini benar? Kenapa dia tidak percaya? Lalu jika Marshal tahu, kenapa dia masih bertahan dengan Amanda? Atau mungkin ucapan Rahma hanya salah paham? Viona tidak bisa menebak mana kebenarannya. Tapi, dia terus penasaran mendengar kebencian Rahma terhadap Amanda.
Hari itu mereka habiskan untuk berbincang. Mulai dari kebencian Rahma terhadap kekasih Marshal sampai hal yang membuat Viona kuat saat mengetahui suaminya selingkuh.
Tentu saja Viona kikuk saat ditanya seperti itu. Bingung harus menjawab apa. Yang bisa dia lakukan hanya menunduk dan bilang, "Aku tidak bisa mengeluarkan semua perasaanku, Ma. Semuanya terlalu tiba-tiba sampai aku sendiri bingung untuk meluapkannya. Aku diam karena tidak ingin terlarut dalam masalah."
Rahma mengangguk paham. Memeluk Viona serta mengusap punggungnya lembut. Memberikan semangat pada menantunya. Viona menahan senyuman. Ada setitik rasa bersalah saat dia berada dalam pelukan Rahma. Setelah mengenal Marshal, dia jadi banyak bersandiwara. Bahkan mertuanya sendiri dia bohongi. Semoga Rahma bisa memaafkannya, jika semuanya sudah benar-benar terbuka.
***
Entah sudah berapa lama ponsel yang tergeletak itu berdering. Marshal tetap mendiamkannya.
Sejak kemarin malam, panggilan dari Amanda selalu dia abaikan. Pikirannya sedang kacau. Banyak masalah yang harus dia selesaikan dengan cepat. Wisnu memberinya waktu tiga hari untuk menyelesaikan semuanya. Dan hari ini tugas terbesarnya adalah membersihkan nama Wisnu dan perusahaannya.
Empat jam berlalu setelah dia pergi dari kantor Wisnu. Marshal kini termenung di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan dekat pantai. Rio menemaninya dengan diam di balik kemudi.
Tapi, entah kenapa, dia tidak bisa menikmatinya. Rio sudah berkali-kali menyuruhnya untuk turun dari mobil, tetapi Marshal tidak mau dan memilih melihat pantai dari dalam. Meskipun pandangan matanya tetap terlihat tidak memandang arah depan. Kosong. Marshal tidak memandangi sekitaran. Dia sibuk menyelami pikiran yang sedang dilanda kegelisahan.
"Tuan, jika tidak mau diangkat, lebih baik matikan saja handphone-nya." Rio sudah geram mendengar dering ponsel yang memuakkan itu. Berkali-kali tidak ada hentinya memenuhi indera pendengaran.
Dia berbalik untuk melihat Marshal di kursi penumpang. Tangannya terulur menggapai ponsel milik majikannya yang tergeletak di kursi. Di samping tubuh Marshal yang menyandar dengan gundah.
Saat Rio sudah mengambilnya tanpa dipersilakan, Marshal menahan tangannya untuk mematikan ponsel tersebut.
"Aku harus bicara dengan Amanda," ucap Marshal menahan tangan Rio.
"Oh ... ya, sudah." Rio memberikan ponsel itu pada Marshal dan dia kembali fokus menatap ke depan.
Terdengar semburan napas kasar dari arah belakang. Marshal sedang menyiapkan diri untuk menerima panggilan dari kekasihnya. Ri harap, Marshal akan membicarakan masalah ini dengan Amanda dan langsung mengakhiri hubungannya. Agar semua masalah bisa cepat selesai dan Marshal jadi tenang. Tidak tega juga melihat Marshal menderita seperti itu. Bahkan ayahnya sendiri sudah menyiksanya.
__ADS_1
Tapi, itu setimpal dengan kelakuannya, sih, batin Rio menyangkal rasa kasihannya.
Lama Rio menunggu suara Marshal menyapa Amanda, tetapi suara majikannya tidak terdengar juga. Dia melirik Marshal dari kaca spion. Wajah Marshal mengarah ke samping. Melirik ke luar jendela.
Dia tidak jadi menerima panggilannya? Tapi kenapa suara memuakkan itu tidak lagi terdengar? Pertanyaan itu memenuhi benak Rio.
Asisten yang penurut namun sering memaki di belakang itu, kini berbalik badan. Melihat ponsel Marshal masih di dalam genggaman majikannya. Suara deringnya sudah tidak terdengar lagi. Apa Marshal mematikannya?
"Apa yang harus aku bicarakan pada Amanda, Yo?"
Ternyata Marshal menyadari jika Rio memperhatikannya. Tanpa menoleh dia bicara. Rio hanya mendengus pelan dan kembali memposisikan duduk mengahadap depan.
"Mengakhiri hubungan, memangnya apalagi yang harus kalian selesaikan?"
Marshal menoleh tajam. "Aku tidak bisa memutuskannya untuk saat ini. Perasaanku masih berat untuk melepaskan dia."
Dugh ...
Rio membenturkan dahinya pada bundaran setir dengan kasar. Tiba-tiba tangannya gatal. Ingin rasanya dia mencekik Marshal sekarang juga. Kenapa dia harus berada dalam posisi yang menyebalkan seperti ini? Bisa-bisa dia darah tinggi menghadapi sikap majikannya.
"Yo?"
Hela napas panjang sebelum bangun. Rio menetralkan kembali emosi yang sudah sampai ubun-ubun. Tidak mungkin juga dia membunuh Marshal di sana dan membuangnya ke pantai begitu saja.
Bukan takut dipenjara atau takut dosa. Dia hanya tidak mau jika nantinya mayat Marshal mengambang di atas lautan. Terombang-ambing oleh ombak. Tidak lucu kalau sampai jasad majikannya menari bersama lumba-lumba, kan?
"Menurut saya, Tuan akhiri saja hubungan Tuan dengan nona Amanda. Sumber masalah ini terjadi karena itu. Semua masalah akan bisa diatasi jika Tuan menjauh darinya. Dengan begitu, maka semua masalah akan bisa diselesaikan. Tuan dan nyonya besar akan memaafkan Anda. Nyonya Viona kembali pada Tuan dan," Susah payah Rio menetralkan intonasinya supaya tidak memaki. "masalah image perusahaan akan teratasi jika Tuan melakukan konferensi pers dan menyatakan jika Tuan sudah bertaubat. Maka, semua orang mungkin akan memaafkan Tuan dan kembali menaruh kepercayaan."
Marshal terdiam mencerna ucapan Rio. Asistennya itu memang kadang menyebalkan dan selalu meledeknya. Tapi, jika sedang dalam mode serius, Rio selalu bisa memberikan pendapat yang masuk akal dan tidak jarang berhasil membuahkan suatu solusi.
Tapi, apa dia bisa memutuskan hubungannya dengan Amanda? Rasanya masih berat untuk melakukannya.
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote and Comment!😘😘