
Jika pusing dengan ceritanya, kalian bisa baca ulang dari bab trouble sebelumnya, dari Bab 183 yang sudah Zhao perbaiki. Terima kasih. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.😊
_________________________________________
"Dulu kita juga berdiri di sana, Sayang. Kita pasangan pengantin yang sangat cocok seperti mereka."
"Iya. Tapi, aku terpaksa berdiri di sana waktu itu. Awalnya aku memang terpaksa nikah sama kamu."
Marshal langsung cemberut melihat istrinya tertawa. Rasanya tidak enak mengingat Viona yang terpaksa menikah dengannya.
Sekarang mereka ada di pesta pernikahan Vino. Acara digelar begitu meriah. Banyak tamu yang hadir ikut merasakan sukacita yang teramat besar. Begitupun dengan Marshal dan Viona. Senyuman tidak pernah luntur dari wajah mereka berdua. Bahkan selama acara berlangsung, Viona tidak pernah lepas untuk merangkul lengan suaminya. Seolah dia memang tidak mau berjauhan dengan Marshal.
"Kak Vino udah nikah. Udah punya tanggungannya sendiri. Aku tuh sebenarnya sedih, Chal." Viona menyandarkan kepala di bahu Marshal. "Dia pasti lebih memerhatikan istrinya daripada aku. Udah gak ada yang jagain aku lagi. Kak Vino pasti lebih peduli sama keluarganya."
Marshal menoleh cepat. Dia tersenyum hangat sambil mengusap wajah Viona. "Ada aku yang bisa jagain kamu. Ada aku yang akan selalu peduli sama kamu. Kenapa kamu harus bersedih? Bahkan seumur hidup aku akan ada di sisi kamu. Apa yang akan kamu takutkan?"
Kepala Viona terangkat. Tatapannya terkunci pada mata yang memancarkan sekeriusan. Viona tersenyum, mengangguk pelan. Ada Marshal yang akan menggantikan sosok Heru dan Vino. Ada Marshal yang bisa menjadi penopang hidupnya. Seharusnya dia memang tidak bersedih. Karena Marshal pasti bisa menjadi pelindung, sekaligus tempatnya untuk bersandar sampai tua nanti.
Aku sayang kamu, Chal.
***
"Eits, jangan salah!" Vino mengacungkan telunjuk ke depan muka Marshal. "Malam ini pembukaan. Sebentar lagi gue pasti nyusul. Tenang aja. Pokoknya gue yakin, anak kita bakal seumuran."
Mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
Acara baru saja selesai. Marshal dan Vino berada di taman belakang gedung, tempat resepsi pernikahan diadakan. Mereka hanya duduk berdua, sedangkan yang lain sibuk di dalam. Vino yang merasa lelah, mengikuti rangkaian demi rangkaian acara, hingga menyalami ribuan tamu undangan. Dia mengajak Marshal untuk mau menemaninya di taman belakang. Sekadar mengistirahatkan diri sambil menikmati angin malam, ditemani segelas minuman dingin, mengobrol ringan dengan sahabat yang kini telah menjadi keluarga.
"Ngomong-ngomong, Adek gue belum ada tanda-tanda isi, gitu?" Vino meneguk minumannya. Dia masih berpakaian lengkap ala pengantin pria. Belum sempat berganti pakaian karena merasa masih lelah. "Kalian nikah udah ada jarak, lho. Harusnya udah jadi 'kan itu kecebong."
Marshal tertawa pelan, menggelengkan kepala mendengarnya. "Belum dikasih aja kayaknya."
Vino mengangguk-anggukan kepala. "Kayaknya kecebong lu masih berenang melewati samudera. Masih berkekeling, makanya belum sampai pelabuhan."
Marshal terkekeh. Bagaimana bisa sampai pelabuhan, jika jalan lintasannya terhalang oleh pil kontrasepsi?
"Gue doain, semoga kita cepet punya anak ya, Mars. Gue udah pengen punya anak soalnya. Gak tahu kenapa, gue tuh ngebet banget pengen gendong anak sendiri, njir. Kayaknya lucu kalo di rumah rewel sama tangisan bayi, ya, kan?" Vino tertawa membayangkannya. "Nanti gue dipanggil 'ayah'. Aduh, gak kebayang bahagianya kayak gimana."
Mendengar Vino yang sibuk dengan bayangannya, diam-diam Marshal pun membayangkan apa yang Vino ucapkan.
***
"Wlee, habisnya kamu gak mau berbagi. Padahal abang kan cuma pinjam. Kamu gak kasih. Wlee, udah nangis aja sana. Nangis." Sang kakak meledeknya habis-habisan dengan lidah terjulur ke depan membuat sang adik semakin menjerit dengan tangisannya.
"Mama, abang jahat!" Adik itu berlari cepat melihat ibunya yang baru keluar dari dapur. "Mama, abang rebut mainan adek," adunya pada sang ibu. Dia menangis lagi sambil menunjuk-nunjuk abangnya yang masih terlihat meledek.
"Yampun, kenapa lagi ini? Adek kenapa nangis?" Sang ibu memangku anaknya. Diusapnya air mata penuh kasih sayang. Adek itu mengutarakan semuanya dengan manja khas anak kecil. Dia mengadukan kelakuan kakaknya yang sekarang malah anteng dengan mainan hasil rebutan.
"Abang, sini!" panggil ibu pada anak laki-laki yang lebih besar, sedang asyik bermain.
Anak itu cemberut menghampiri ibunya. Dia menatap adiknya yang masih dipangku dengan tajam. Dia tahu, adiknya pasti mengadu dan sekarang ibu pasti mengomelinya.
__ADS_1
"Mainan adek mana? Kata adek, abang rebut mainnya, ya? Gak boleh begitu abang. Abang kan punya mainan sendiri. Gak boleh rebut-rebut mainan adek lagi, ya. Abang paham, kan?"
Alih-alih mendengarkan dengan baik, abang malah mencebikkan bibir. Wajahnya memereh, bibirnya kini gemetar menatap ibu. "Huaaaaaa ... Papa!" Dia menangis kencang membuat sang ibu kelabakan. Anak itu menangis memanggil-manggil papanya yang entah berada di mana.
Si ibu sibuk menenangkan dua anak yang menangis. Tidak henti-henti dia mengusap air mata dari anak satu dan satunya lagi. Tapi, mereka tidak kunjung menghentikan tangisannya.
Tidak lama kemudian, papa datang menghampiri. "Ada apa ini?" tanyanya bingung melihat sang istri yang sibuk menenangkan kedua anak lelakinya.
"Papa!" Abang berlari, segera berhambur ke tubuh papanya. Dia menangis, mengadukan apa yang terjadi.
"Itu salah abang. Harusnya abang gak boleh begitu. Abang 'kan punya mainan sendiri. Itu punya-"
"Chal!"
"Eh? Iya?" Marshal terperanjat kaget dari duduknya.
Di hadapanya kini terdapat wajah cantik yang terlihat kesal. Kedua tangan wanita itu bertolak di bagian pinggang. "Dipanggilin dari tadi juga. Ngelamun terus!"
Marshal menggaruk kepala linglung. Sang ibu yang sibuk menenangkan dua bocah laki-laki itu kini ada di hadapannya. Bukan bocah yang merebut mainan adiknya yang diomeli, tapi suaminya.
"Aku dari tadi manggil-manggil kamu. Kamu tuh ngelamunin apa, sih? Sampe gak denger gitu. Aku mau pulang, udah malam. Ayo!"
Marshal hanya diam saat Viona menarik tangannya untuk berdiri. Ternyata mereka masih berada di gedung, setelah tadi Marshal berbincang di taman belakang bersama Vino. Siapa sangka perbincangan itu malah membuat Marshal mengkhayal sembari menunggu istrinya selesai membantu pengantin wanita berganti pakaian.
"Kenapa?" Viona melihat Marshal aneh. Sejak keluar dari gedung sampai masuk ke dalam mobil, Marshal hanya terdiam memandanginya. "Apa ada yang aneh sama aku?" Viona mengambil ponsel, bercermin di sana. Dirasa tidak ada yang aneh dari wajahnya, Viona melihat lagi pada Marshal.
__ADS_1
Marshal malah menampilkan senyuman membuatnya semakin tidak mengerti. "Kamu kenapa, sih?"
Marshal menggeleng, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Samar dia tersenyum kala pikirannya kembali membayangkan hal tadi. Akan sangat menyenangkan jika mereka mempunyai dua putra kembar yang sangat aktif dan menggemaskan. Viona akan kerepotan dengan tingkah mereka, sedangkan Marshal akan menontonnya sambil meminum secangkir kopu di pagi hari.