
"Ngapain kamu di sini?"
Viona baru saja keluar dari kamar mandi langsung terkejut melihat Marshal yang sedang berbaring di ranjang miliknya.
Marshal hanya tersenyum, membenahkan bantal menyangga kepala dengan nyaman sambil memainkan ponselnya.
Diilihatnya pintu kamar dengan mata tajam, Viona kembali melirik suaminya. Kenapa Marshal bisa masuk, padahal tadi Viona sudah mengunci pintunya dengan benar?
Dengan masih mengenakan bathrobe, Viona berjalan menuju ranjang. Dia melipat tangan di dada, kesal melihat suaminya yang berbaring dengan sebelah kaki di tumpukan di kaki kiri yang tertekuk. "Siapa yang menyuruhmu masuk? Aku tadi sudah mengunci pintu, kamu masuk lewat lama?"
Marshal melirik Viona sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya. "Ini rumahku, hanya mencari satu kunci cadangan tidak begitu sulit."
Viona mencibir, semakin sebal melihat suaminya. Marshal memang berkuasa, tapi tidak harus masuk sembarangan ke kamarnya juga. Kamar itu termasuk privasi Viona, jika sudah dikunci, Viona menyatakan tidak ingin diganggu. Namun, suaminya dengan santai masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Mau ke mana?" Marshal segera bangun melihat Viona yang berbalik badan. Istrinya hanya melirik sekilas dan berjalan menuju tempat ganti. "Menurutku, mending tidak usah pakai baju, Sayang. Seperti itu juga oke."
Viona berbalik dan menatap tajam pada suaminya. Akhir-akhir ini tingkat kemesuman suaminya semakin meningkat. Dia harus waspada jika dekat dengannya.
Marshal bangun dan menghampiri istrinya yang sedang mengambil baju ganti. Dipeluknya tubuh Viona dari belakang, dia menghirup aroma bebungaan dan terapi dari kulit istrinya. Sangat menenangkan. Viona meronta tidak mau dan mencoba melepaskan suaminya, tetapi Marshal malah semakin menggila dengan tingkahnya.
"Chal, aku ambil baju dulu."
"Tidak usah diganti, sudah pakai ini saja, tidak apa."
Viona tetap tidak mau menuruti saran suaminya. Setelah Marshal melepaskan tubuhnya, Viona bisa bernapas lega. Namun, tidak bertahan lama karena rasa kesalnya datang kembali saat Marshal tidak mau keluar dari ruang ganti.
"Hanya aku yang melihatnya, tidak apa buka saja! Aku ingin melihat istriku berganti pakaian," ucap Marshal disertai seringaian jahil.
Viona kembali mengusirnya, namun dia tetap tidak menuruti, malah berdiri dan bersandar pada tembok dengan tangan melipat di depan dada. Tatapannya tidak pernah lepas sedetik pun dari istrinya. Marshal sangat suka menggoda Viona seperti itu.
"Keluar, gak?" Viona sudah mengangkat tangan siap memukul suaminya. Marshal malah melunjak dengan wajah yang mendekat, sengaja disodorkan untuk menerima pukulannya. "Chal, ih!"
"Memangnya kenapa, Sayang? Dilihat suami sendiri tidak ada salahnya, kan? Aku saja tidak apa-apa berganti pakaian di depanmu. Telanjang pun aku mau, tapi kamu yang selalu melarang."
"Itu beda," bantah Viona yang mulai bersemu malu. Jika mengingat hal itu dia sebenarnya merasa sangat tidak nyaman. Apalagi jika bentuk tubuh suaminya yang kekar berkelebat dalam benak, Viona pasti sulit mengendalikan pikirannya. "aku masih punya urat malu, tidak seperti kamu."
"Tidak perlu malu. Memperlihatkan kemolekan tubuh pada suami itu termasuk ibadah, Sayang." Melihat Viona sudah mengepalkan tangan, Marshal pura-pura meringis. "Baiklah, aku keluar."
Helaan napasnya terdengar sangat jelas jika dia merasa lega. Viona berganti pakaian dengan cepat sebelum Marshal kembali mengganggunya.
***
"Jangan ditutupi!" Marshal melarang Viona yang terus saja menutupi lehernya dengan tangan saat Marshal ingin melihatnya. "Masih perih?"
__ADS_1
Viona menggeleng dengan malu di kala Marshal mengusap tanda merahnya. Begitu jelas terlihat sampai Viona kesal jika melihatnya saat berhadapan dengan cermin.
"Mulai sekarang, aku akan sering-sering memberikan tanda seperti ini supaya orang lain tahu, kamu ada yang punya."
Viona bergidig ngeri mendengarnya. "Jangan, aku gak mau! Nanti orang berpikirnya aku gadis nakal."
Marshal berdecak, mengusap surai hitam yang masih lembab milik istrinya. "Kenapa keramas, ini sudah malam? Jika masuk angin bagaimana?"
Viona hanya memalingkan wajah dan segera berbenah, menarik selimut menutupi tubuhnya. Marshal membuka selimut dari tubuh istrinya dengan kasar. Pandangannya sangat tajam sampai Viona melihatnya heran.
"Pindah ke kamar kita! Jangan tidur di kamar ini lagi!"
Viona berusaha menahan rasa kesal. Dia sudah mengantuk, tetapi suaminya malah menganggu. "Ingat, ya, dulu kamu yang bilang kita pisah kamar! Sekarang kamu maksa buat pindah ke kamar itu. Aku gak mau, ah."
Geraman Marshal terdengar jelas. Ditatapnya Viona dengan lekat, Marshal mulai melunakkan raut wajahnya. "Aku sudah bilang, bukan mauku berpisah kamar. Aku tetap ingin kita sekamar. Lupakan hal itu! Ceritanya sudah berbeda sekarang. Lagian, setiap malam kita tidur bersama kamu tidak apa-apa, kan? Sudahlah, lebih baik pindah saja ke kamar kita."
"Iya, besok. Sekarang aku mengantuk dan sangat lelah. Aku malas keluar lagi, ingin tidur."
Melihat istrinya yang sudah membenahkan posisi, Marshal segera bergerak menggendongnya sampai Viona tersentak kaget dan meronta minta diturunkan. Marshal tidak peduli, karena dia hanya ingin mereka tidur di kamarnya.
"Diam, Sayang! Bukankah kamu lelah, makanya aku menggendongmu biar tetap bisa pindah, dan kamu tidak ada alasan lagi."
Viona terpaksa mengalungkan tangannya di leher Marshal takut terjatuh. Mereka menuju kamar utama, Viona hanya pasrah menerima perlakuan suaminya. Sebenarnya manis, tapi entah kenapa Viona selalu kesal karena Marshal selalu menyelipkan pemaksaan dalam setiap tindakannya.
"Tidak masalah, Sayang. Yang penting, kamu tetap bersamaku, itu sudah cukup. Kesal tidak kesal, kamu tetap tidak bisa keluar dari kamar. Aku sudah menguncinya dengan rapi."
Lagi-lagi pasrah. Marshal memeluknya, Viona tetap diam. Dia bersandar di dada suaminya, tangan Marshal merangkul pundaknya. Mereka berbaring dalam hening dan mencoba untuk memejamkan mata.
"Ternyata bersikap manis seharin dengan pura-pura sangat melelahkan," gumam Viona sambil menggerakkan ujung telunjuk di dada suaminya. Menggambar bentuk abstrak membuat Marshal nyaman, merasa dibelai.
Mata yang sudah terpejam hampir saja terlelap itu kini mengerjap. Dia menunduk melihat kepala istrinya yang masih berada di atas dada. Pandangannya tajam penuh kecewa. "Jadi, perlakuanmu hari ini hanya bersandiwara, begitu?"
Viona mendongak, melihat pada suaminya yang malah membuang muka. Tangannya terulur untuk mengelus rahang suaminya. "Tadinya, iya. Tapi, ya ...," Viona terdiam cukup lama membuat Marshal melihat padanya. "tidak jadi, deh. Aku lupa mau bicara apa."
Marshal mendengus, semakin erat memeluk istrinya dan kembali memejamkan mata. "Aku suka kamu yang seperti hari ini," gumamnya, "aku mencintaimu, Sayang. Selamat malam!"
"Selamat malam, suamiku! Cup!" Viona mencium rahang suaminya sekilas membuat bibir Marshal melengkung membentuk senyuman dan semakin erat memberikan pelukan dengan mata yang sudah lengket tidak bisa membuka lagi.
"Jangan menggodaku! Aku sudah mengantuk, Sayang."
Viona kembali membenamkan kepala di dada suaminya. "Siapa yang menggoda, aku hanya memberikan bonus karena kamu sudah membawaku jalan-jalan dan membuat aku senang."
"Jika begitu, aku akan membawamu jalan-jalan setiap hari supaya mendapat bonus tiada henti." Viona hanya terkekeh dan mulai menyambut alam mimpi, bersama suami ... yang belum dia cintai.
__ADS_1
***
"Pagi, Rio!" sapa Viona pada asisten suaminya yang sedang membersihkan kolam ikan dibantu oleh para pekerja lainnya. Sekarang hari libur, jadi semua orang berada di rumah.
"Pagi juga, Nyonya!" Rio tersenyum dan menganggukan kepala.
Viona terkekeh geli melihatnya. Rio yang biasanya terlihat berpenampilan rapi seperti Marshal, kini hanya mengenakan celana pendek berwarna biru dengan kaos oblong berwarna putih. Tubuhnya sudah basah, karena dari tadi memindahkan ikan dari kolam.
Bangun tidur tadi, Viona hanya bergurau pada suaminya jika dia ingin kolam di halaman belakang dirubah menjadi lebih besar dan indah. Tidak disangkanya, gurauan yang Viona lontarkan justru malah dikabulkan oleh Marshal saat itu juga. Marshal langsung menyuruh orang merenovasinya sesuai perkataan istrinya. Viona sudah mengatakan jika dia tidak berkata serius, namun Marshal tetap saja melakukannya, sehingga saat ini mereka sedang memindahkan semua ikan-ikan mahal dari kolam tersebut.
Kolam yang sekarang terlihat sangat bagus dan amat cantik dengan ujung kolam terdapat sebuah air terjun buatan. Entah akan dibuat seperti apa lagi oleh suaminya, Viona hanya bisa menunggu hasil akhirnya selesai. Kata Marshal, tampilan kolam itu nantinya akan terlihat sangat berbeda.
"Ke mana?" Viona melihat Rio heran. Asisten suaminya itu berjalan melewatinya dengan pakaian yang basah dan terlihat kotor di bagian atasnya bekas tadi saat Rio memindahkan wadah tanaman yang berada di pinggiran kolam.
"Berganti baju, Nyonya. Setelah ini saya harus menjemput orang yang akan merenovasinya."
Viona mengangguk paham dan Rio berlalu pergi. Marshal sedang berada di ruangan kerjanya, sehingga Viona hanya sendiri memantau pekerjaan mereka. Dia ingin ikut membantu, tapi Marshal sudah mengingatkan kepada semua pekerja untuk tidak membiarkan Viona iku campur. Terpaksa dia hanya bisa melihat dengan sesekali berbicara pada para pekerjanya.
Saat Viona akan pergi ke ruangan suaminya, dia berpapasan kembali dengan Rio yang sudah terlihat rapi. "Kamu mandi lagi?"
Alis Rio terangkat, mengangguk dengan pelan, lalu tersenyum. "Jika tidak mandi, pasti bau amis. Biarpun ikan mahal yang saya sentuh, tetap saja mereka sama seperti ikan lainnya."
"Iya juga, sih. Katanya udah mandi, tapi kok, masih tetap begitu?"
"Begitu apanya, Nyonya?" Rio mengernyit saat Viona melirik penampilannya dari atas sampai bawah.
"Begitu tampan." Viona terkekeh geli melihat Rio yang langsung terdiam. Asisten Marshal tersebut terlihat salah tingkah saat Viona memberikan senyuman yang menggoda. "Kamu memang tampan, Yo. Aku tidak akan berbohong. Tidak usah sungkan!" Dia kembali tertawa lagi dengan renyah membuat wajah Rio sedikit memerah.
"Ekhem!"
Tawa Viona enyah seketika. Dia melirik ke arah asal suara. Di pintu ruangan kerja suaminya, sosok lain sudah bersidekap dada dengan tatapan tajamnya.
"Kalian sedang apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya berpapasan." Viona mendekat pada Marshal. Dia heran melihat suaminya yang malah kembali masuk ke dalam ruangan saat dia ingin merangkul tangannya. Viona mengikuti Marshal masuk dan menutup pintu ruangan kerja suaminya. "Kolamnya kira-kira bakal selesai kapan?"
Tidak mendapat respon membuat Viona semakin heran. Marshal malah sibuk dengan laptopnya, tidak mau meliriknya sedikit pun. Dia memilih tidak peduli dan beranjak menuju jendela besar. Dari sana dia bisa melihat taman dan kolam yang sedang direnovasi. Para pekerja rumah yang membantu, masih sibuk membereskannya.
"Rio tampan, ya."
Viona berbalik badan dengan cepat. Marshal masih fokus dengan laptopnya. Senyuman geli muncul di bibir Viona. Melihat sikap suaminya, Viona merasa jika itu hal yang lucu.
"Rio memang tampan, tapi tidak ada yang lebih tampan dari suamiku," ucap Viona penuh penekanan, langsung memalingkan wajah saat Marshal melihat padanya.
__ADS_1