Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Cinta Pertama


__ADS_3

"Sayang?"


Viona hanya diam saja, berdiri di depan kolam ikan. Marshal sudah beberapa kali mencoba mengajaknya bicara. Tapi, Viona tetap saja menghindar dan tidak mau buka suara.


Setelah urusan Marshal dan Vino selesai, mengenai masalah perusahaan, Viona tidak banyak bicara dan malah mengatakan jika dia kesal terhadap kakaknya. Marshal terus mengikuti ke mana pun Viona pergi. Dia tidak suka dengan sikap diam istrinya.


"Apa kamu juga marah padaku?" Viona hanya melihatnya sekilas dan kembali melihat ke arah kolam. "Sayang?"


"Diamlah! Aku sedang mencari ingatanku yang hilang," ucap Viona pelan. Dahinya beberapa kali mengkerut.


Marshal jadi kasihan melihatnya. Dia menggeser tubuh, memeluk Viona dari belakang. Melihat ikan-ikan mahalnya yang berenang dan saling bergerombol di bawah air terjun buatan. "Kamu ingat pemuda yang ingin menjadi seorang arsitek?"


Viona melirik ke samping dan malah mendapat satu kecupan di pelipis dari suaminya.. "Apa ada hubungannya?"


Marshal mengangguk, menumpukkan dagu pada pundak istrinya. "Dia teman kakakmu. Sejak sekolah menengah, dia dan kakakmu berkenalan dan akhirnya menjadi teman. Lebih tepatnya sahabat."


"Maksud 'dia' itu kamu?" Terasa kepala Marshal yang berada di pundaknya mengangguk pelan. "Berarti kamu dan kak Vino memang dekat, ya? Kamu sering ke rumah aku karena kedekatan kalian?"


"Kamu sudah ingat?"


"Belum, hanya menebak." Viona mengusap tangan Marshal yang masih memeluknya. Dia melirik ke samping, saat kepala Marshal terangkat dari pundaknya, Viona tersenyum manis.


Cup!


Marshal mematung seketika. Barusan Viona mengecup pipinya? Sulit dipercaya.


Kesadaran Marshal kembali saat usapan lembut menyapa rahangnya. Dia menunduk untuk memandangi wajah Viona yang masih terlihat mengukir senyuman.


"Bisakah kamu menjelaskan semuanya? Aku sulit mengingatnya, Chal," ucap Viona dengan nada manja.

__ADS_1


Marshal tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. Pantas saja Viona bersikap manis, ternyata ada maunya.


Mengalirlah semua cerita masa lalu. Viona menanyakan banyak hal padanya karena mungkin dia tidak percaya. Marshal tetap sabar dan terus meladeni pertanyaan itu dengan bahagia sampai Viona benar-benar paham.


"Aku ingat sekarang." Viona menjentikkan jarinya.


Mereka kini duduk di kursi yang mengahadap ke arah kolam. Hujan sebentar lagi turun, dan Marshal tidak mau istrinya terkena air hujan, jadi mereka duduk di tempat yang teduh.


"Kamu teman kakak yang suka bawa motor ke rumah. Waktu itu bensin motor kamu habis, terus kalian nyedot bensinnya dari motor pak guru saat akan pulang sekolah. Iya, kan? Sampai kalian dihukum untuk beliin pak guru bakso sama gerobak-gerobaknya." Viona tertawa renyah di ujung cerita. "Terus pas pulang, kamu sama kak Vino jalan kaki. Karena uang habis dan motornya dipake sama pak guru."


Marshal mencebik. "Kamu ingat yang itu? Berarti sudah ingat semuanya?"


"Iya, sedikit. Kamu yang suka minjam kolor kakak kalo abis berenang, kan?" Viona tertawa, merangkul lengan suaminya dengan gemas. "Ya ampun, Chal ... wajah kamu kalo kena air habis berenang, suka bersinar. Tampan seka-eh?" Viona langsung menghentikkan ocehannya.


Marshal mencolek dagunya dengan gemas. "Jadi, aku tampan jika habis berenang?" godanya menaik turunkan alis.


"Itu dulu." Viona menyembunyikan wajah di dada suaminya.


"Kenapa aku tidak tahu tentang ini ...?" Viona mengangkat wajahnya, memandangi Marshal masih penuh penasaran. "Apa yang kamu maksud cinta pertama ... dari sejak saat itu?"


"Hmm...," Marshal meraih kepala Viona untuk bersandar di dadanya. Memeluk pundaknya dari samping sambil menikmati hawa dingin. Hujan baru saja berhenti beberapa jam yang lalu, namun sepertinya sudah ingin turun kembali menemani sore mereka. "cinta tidak pernah memandang usia maupun waktu, Sayang. Aku mencintaimu sejak dulu. Memang terasa konyol, tapi itulah yang aku rasakan. Aku bahkan sulit melupakanmu sampai aku pergi ke London untuk meneruskan kuliah. Hari-hariku selalu dihiasi oleh bayanganmu. Aku sulit mengalihkannya. Sampai aku bertemu dengan wanita bernama Evelyn di sana. Kami hanya sebatas teman satu sekolah, tapi lama-lama kami dekat dan berpacaran. Tapi, tidak bertahan lama. Lagi-lagi kamu datang di pikiranku. Aku tidak bisa mencintai wanita lain lagi.


Kemudian, aku berusaha melupakanmu lewat teman perempuanku yang lain. Kami akhirnya berpacaran dan aku bisa melupakanmu. Tapi, pacarku itu malah berselingkuh dan kami putus. Mulai sejak saat itu, aku tidak lagi memikirkanmu sampai aku bertemu dengan Amanda. Kami berpacaran sudah tiga tahun lebih tanpa bayang-bayangmu di pikiranku. Tapi, sesuatu yang tidak tertuga justru hadir kembali. Aku berkunjung menemui Vino, tidak sengaja mengajak ayahmu untuk bermitra. Aku yang sering ke rumahmu untuk urusan bisnis, jadi melihatmu kembali. Kamu memang tidak pernah melirikku, tapi aku selalu memantaumu. Setelah sekian lama, aku bisa melihat senyuman yang aku suka. Aku tidak pernah mengira, jika pemberi senyuman itu adalah orang yang sama. Tapi, setelah ayahmu mempernalkan, cinta itu hadir kembali membuat jantungku rasanya ingin melompat dan terbang ke atas langit."


Viona mendongak melihat wajah suaminya yang sedang bercerita. Marshal menunduk membuat pandangan mereka bertemu. Satu kecupan di bibir Viona dapatkan. Dia tidak menolaknya dan malah memasang senyuman yang manis.


"Senyuman seperti inilah yang tertanam di hatiku, Sayang," ucap Marshal tulus dengan seulas senyum mengembang. "Senyumanmu berbahaya. Jangan sampai kamu tersenyum pada laki-laki lain! Aku takut mereka langsung jatuh cinta pada pandangan pertama."


Viona terkekeh saat Marshal mencubit pipinya gemas. "Jadi, aku cinta pertama, hm?" Viona menaik turunkan alisnya menggoda. Marshal kembali mendekatkan wajahnya, Viona segera memundurkan kepalanya. "Jangan mencium terus!"

__ADS_1


Marshal tidak peduli dan malah mencium leher istrinya. Viona melotot tajam, memukul dada suaminya pelan, Marshal malah terkekeh. "Aku sudah terjebak oleh cinta pertama, Sayang. Ternyata benar kata orang, cinta pertama sulit dilupakan. Aku meraskaannya juga."


"Aku juga meraskannya."


"Benarkah?" Marshal terlihat antusias. "Berarti aku juga cinta pertamamu?"


Viona tersenyum pahit dan menggeleng. "Sayangnya bukan."


Senyuman Marshal luntur seketika. "Lalu maksudmu apa?"


"Maksud aku," Viona bersandar kembali di dada suaminya. Rintik hujan mulai turun sampai ke permukaan air kolam. "aku juga merasakan cinta pertama. Dan apa yang kamu katakan memang benar, cinta pertama sulit dilupakan."


"Memangnya siapa cinta pertamamu?" Marshal mengusap kepala Viona setelah mengecup puncaknya.


Viona ragu untuk menjawab. Dia takut Marshal malah emosi. Diusapnya dada Marshal pelan. Viona menggambar bentuk abstrak di dada suaminya. "Dia cinta pertamaku."


"Dia siapa?" Marshal mulai tidak sabar, karena penasaran.


Viona justru memberikan pelukan hangat padanya sampai Marshal tersenyum. Hari ini Viona terasa berbeda membuat hubungan mereka lebih dekat dan hangat.


"Sendi," lirih Viona di dada suaminya.


Marshal terdiam menatap kosong ke arah kolam. Air hujan yang turun mulai deras. Hawa dingin menyapa kulit sampai ke ulu hati. Kini terasa sesak dadanya.


Melihat Marshal yang hanya terdiam, Viona semakin erat memeluk tubuh suaminya. Biasanya Marshal akan emosi jika dia menyebut nama Sendi.


"Jangan marah, Chal! Aku hanya berkata jujur."


Tidak bisa. Marshal cukup tertegun mendengarnya. "Sulit melupakan" kata tersebut yang membuat Marshal tidak suka dan merasa tidak nyaman di hatinya.

__ADS_1


Seperti meminum kopi hitam dicampur gula. Manis yang diakhiri rasa pahit tertinggal di tenggorokkan. Itulah isi bab ini. Sehat dan bahagia selalu, untuk kalian semua. Rezeki kalian selalu melimpah😇😊😊😘😘


__ADS_2