Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Latihan Melahirkan


__ADS_3

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Marshal telah bersiap, tinggal menunggu Viona yang sedang menata rambut menjadi sebuah cepolan asal yang malah membuat auranya semakin menarik. Senyuman Marshal tidak pernah luntur, karena hari ini adalah jadwal istrinya untuk periksa kehamilan.


Sengaja Marshal mengosongkan jadwal kerjanya, hanya demi menemani sang istri. Usia kandungannya telah menginjak empat bulan. Tinggal lima bulan lagi, Marshal akan segera punya jagoan kecilnya.


"Sudah?"


Viona menganggukkan kepala dengan antusias, merangkul lengan Marshal, mengajaknya untuk segera pergi. Marshal sangat bersyukur, di usia kehamilan keempatnya ini, Viona sudah jarang bertingkah berlebihan ketika dekat dengannya. Bahkan sudah jarang terjadi adegan Viona mengusir Marshal atau mual tiba-tiba hanya melihatnya. Meskipun kadang terjadi, Marshal sudah mulai terbiasa dengan hal itu.


"Pulang dari dokter, aku mau ke rumah mama. Boleh?"


"Iya."


Viona terlihat sama bahagia dengannya. Marshal selalu mengawasi apa pun yang istrinya lakukan dan banyak hal yang perlu dia perhatikan. Selagi keinginan Viona tidak membahayakan janin dan dirinya sendiri, maka Marshal tidak akan melarangnya. Terkecuali, ada hal yang membuat Marshal marah, baru dia akan menolak keinginan istrinya.


Mereka pergi periksa diantar oleh Rio. Viona akhir-akhir ini malah terlampau manja pada Marshal, bukan hanya karena efek mual yang sudah berkurang, tapi juga karena tingkat kecemburuan Viona terhadap suaminya yang malah meningkat. Seringkali Viona melarangnya berjauhan, karena Viona tidak yakin Marshal bisa menjaga pandangan dari wanita lain di luaran sana. Dia sangat ketakutan.


"Hati-hati, Sayang!" Marshal menuntun Viona turun dari dalam mobil, ketika tempat tujuan sudah di depan mata.


"Aku gak apa-apa, Chal. Jangan berlebihan!"


Marshal mendengus. Dia hanya takut, Viona turun dari mobil tidak fokus, terjatuh atau sekadar hanya terkilir karena jalan yang berupa batuan kecil. Marshal banyak takutnya, terlalu ingin memastikan istrinya aman. Tapi, Viona selalu saja tidak suka dengan perhatiannya.


"Pagi, Nyonya, Tuan!" sapa seorang perawat, menyambut kedatangan mereka.


Marshal dan Viona dianggap sebagai pasien terhormat, karena dokter kandungan yang menangani Viona sejak awal, dia bekerja di rumah sakit milik Wisnu.


Mereka menyahuti sapaan perawat tadi dengan ramah, sebelum dipersilakan untuk menunggu dan masuk ke ruangan praktik dokter Merlinda.


"Kamu kenapa, hm?" Marshal mengusap pelipis Viona yang sedikit berkeringat. Istrinya sekarang malah terlihat lelah, padahal sebelumnya dia tidak kenapa-kenapa. "Pusing lagi?"


Viona mengangguk pelan, menyandarkan kepala di bahu Marshal sambil menunggu dokter Merlinda yang katanya sedang menangani pasien lain, terlebih dahulu.

__ADS_1


Dengan sabar, Marshal mengusap-usap lembut kepala istrinya. Sesekali memberikan kecupan di pelipis Viona, berharap pusingnya segera hilang. Viona sering seperti ini, kadang juga disertai mual. Tapi, mualnya sudah mulai berkurang. Namun, Viona kerap kali mengeluhkan rasa lelah yang selalu meningkat, walaupun dia hanya naik-turun tangga atau sekadar main ke taman belakang.


Saat dokter telah datang, Viona segera dilakukan pemeriksaan, berbaring di ranjang praktik dan dokter mulai melakukan tugasnya.


Kondisi janin yang ada di perut Viona sangat baik dan sehat. Detak jantungnya normal dan bentuk fisiknya yang sudah hampir sempurna. Bahkan, yang lebih membuat senyuman mereka mengembang, ketika melihat sang bayi terlihat tengah mengemut jempolnya. Viona sampai terkekeh, melirik Marshal yang malah berkaca-kaca.


"Anak kita sudah bertingkah, Sayang," bisik Marshal, tidak kuasa menahan bahagia.


Dokter mengatakan, di usia kehamilannya saat ini alat kelamin sang bayi sudah mulai terbentuk. Namun, saat dokter mengarahkannya untuk mengetahui, gambar di monitor malah terlihat kurang jelas dan si bayi yang bergerak, kakinya menutupi bagian kelaminnya.


"Seperti bayi kita malu, Dok," ujar Marshal, terkekeh, membuat mereka tertawa.


"Iya. Mungkin di pertemuan selanjutnya, kita bisa memastikan ini lebih lanjut lagi, Tuan." Dokter tersebut menjelaskan banyak hal.


Viona dan Marshal selalu menyimak dengan baik hingga mereka paham dan mulai mengerti dengan keadaan kandungan Viona.


Proses pemeriksaan berjalan dengan sangat baik. Rasa haru Marshal tidak pernah hilang, sampai di dalam mobil dia melihat gambar janin istrinya yang telah dicetak, dia selalu terharu dan tidak percaya dengan hal itu.


Viona hanya tersenyum manis, ketika Marshal mengusap perutnya. Dia juga sama bahagia dan tidak percaya, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


"Dia harus tetap sehat. Dia jagoan kita. Semoga nanti akan menjadi anak yang berbakti dan banyak kemampuannya yang berguna."


Viona mengamininya. Dia terkekeh geli karena Marshal tidak mau menghentikan tangannya untuk mengusap bagian yang sekarang mulai mengembung. Marshal sedikit menunduk ke arah perut istrinya, membuat Rio yang penasaran pun jadi melirik lewat kaca spion.


"Dedek, jangan nakal, ya, di dalam. Jangan buat mama kesusahan! Jangan juga usir papa lagi! Kamu anak baik. Cepat tumbuh sehat, ya," ucap Marshal di depan perut istrinya.


Viona memekik pelan karena ada pergerakan di dalam perut. Dia dan Marshal saling tatap, lalu tertawa karena tahu si Dedek merespon dengan baik.


"Si Dedek sudah mulai aktif, ya, Sayang."


Viona tertawa, memegang tangan Marshal yang masih asyik mengusap, bahkan kini ingin menyelusup ke dalam baju. Jika saja Viona tidak melarang, karena ada Rio di sana.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju rumah Pratama, Marshal tak henti untuk mengajak bayinya berbicara. Bayinya seringkali merespon, sehingga malah membuat Marshal semakin semangat untuk mengajaknya berinteraksi. Membayangkan bagaimana anaknya nanti bisa diajak bermain, Marshal sangat menantikan hari itu tiba. Dia harus lebih giat lagi bekerja supaya nanti saat si Dedek sudah hadir, dia akan menjaga asetnya dengan baik.


"Bagaimana pemeriksaannya?"


Baru juga Viona turun dari mobil, Lina sudah menyambut dengan antusias. Viona dan Marshal menyalaminya terlebih dahulu dan diajak masuk ke dalam, mendapat sambutan lagi dari Heru yang ternyata sedang tidak pergi ke kantor.


"Ya, Allah ... cucu mama! Lihat, Pa, mama seneng banget! Ini cucu kita!" Lina berseru senang ketika diperlihatkan gambar hasil USG anak mereka. Bahkan Heru tidak mau berkedip melihatnya dan melihat Viona bergantian. "Mama sekarang bakal jadi Oma!"


Viona sampai tertawa melihat reaksi heboh ibunya. Jika saja Rahma ada di sana, dua ibu itu pasti sudah koprol sangking bahagianya


"Panggilan apa yang cocok untuk Papa? Nanti cucu kita bakal manggil apa? Opa? Kakek? Abah? Atau apa?"


Viona semakin terbahak. Lina terlalu mementingkan panggilan. Padahal anaknya masih di dalam perut. "Haduh, huh!" Viona terlalu kencang terbahak sampai perutnya berkontraksi dan sedikit mulas.


Marshal dengan sigap membantunya untuk duduk dengan nyaman dan Lina berlari ke dapur, mengambil air minum.


Heru melihatnya cemas, takut terjadi sesuatu, tetapi anaknya malah terkekeh geli melihat reaksi mereka yang berlebihan.


"Aku pengen pipis, Chal." Viona meringis pelan.


Marshal langsung berjongkok di hadapannya, menengadahkan kedua tangan membuka lebar ************ istrinya. "Yok, jangan di tahan, Sayang!"


Viona melongo. Apa Marshal mengira dia ingin buang air kecil di tangannya?


Dasar gila!


"Ke kamar mandi!" Viona hampir terjengkang, kaget karena Marshal memgangkat tubuhnya secara tiba-tiba. Dia digendong menuju kamar mandi dengan cepat, seolah Viona akan melahirkan.


"Biasa saja, aku cuma mau pipis!"


"Diam dan tetap berpegangan!" Marshal menarik tangan Viona supaya melingkar erat di lehernya. "Anggap saja, ini latihan kontraksi ketika mau melahirkan."

__ADS_1


Holaaa ... Kalian apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu, ya. Apa sudah bosan dengan cerita MarsVio?


__ADS_2