
"Memangnya akan pergi kapan?" tanya Marshal di sela kunyahan makan malam mereka.
"Lusa kita berangkat." Vino menjawabnya dengan santai, melirik Marshal sejenak dan kembali menyantap makanannya.
Sedangkan Viona, terlihat tidak paham dengan pembahasan mereka. Menghentikan kunyahan dan segera menelannya kasar. Dia memandangi semua orang yang ada di meja makan, terlihat bingung dan penasaran. Apa hanya dirinya yang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan? Karena Rena juga terlihat biasa saja, tidak nampak bingung sepertinya.
"Pergi ke mana, Kak?" Memandang Vino dan Marshal bergantian, Viona menunggu jawaban. Tapi, kedua laki-laki itu hanya memandanginya. Dan Vino hanya melirik sejenak, memberikan cengiran, lalu kembali ke makanan. Apa maksudnya itu? "Chal?" Viona memasang raut sendu. Berharap Marshal bisa menghilangkan rasa penasarannya dengan cepat.
"Vino akan pergi ke Maldives, Sayang."
Viona mendelik. "Kalian akan bulan madu?" Dia terkejut sendiri dengan pertanyaanya. Pengantin baru itu keduanya tersenyum penuh arti. Viona ikut tersenyum juga, merasa bahagia mendengar kabar ini. "Berapa hari pergi ke sana?"
"Hanya satu minggu, Dek. Vino banyak kerjaan di sini. Kita tidak punya banyak waktu untuk liburan," jelas Rena. Wajahnya berseri-seri, terlihat sekali jika dia senang akan berbulan madu ke tempat romantis junjungan para pasangan. Pasti sangat menyenangkan pengantin baru itu pergi ke sana.
"Cie ... yang mau bulan madu." Kebetulan posisi duduk Viona berada di samping Rena. Dengan usil dia menyenggol lengan kakak iparnya, menggoda. Rena terlihat menunduk, malu-malu, namun tersenyum. "Aku titip ponakan yang gemes, ya. Pulang dari sana, semoga ada kabar bahagia."
"Pasti!" Vino menimpali dengan semangat. "Doakan saja semoga cepat jadi, ya."
Viona mengangguk antusias. Meng-Aamiini permintaan kakaknya.
"Harusnya juga kita yang nagih sama kamu lho, Dek." Rena menyimpan sendok makan di atas piring. Duduk menghadap miring pada adik iparnya. "Gimana? Udah ada kabar bahagia belum?" Dia mengusap perut Viona, membuat sang empunya kegelian sambil nyengir lebar. Makanan masih ada di mulutnya, Viona mengunyah cepat untuk menimpali perkataan Rena. "Kalian menikah lebih dulu, harusnya kan ...."
"Belum, Kak. Sabar. Gak usah terburu-buru. Kalo kalian mau duluan, duluan aja, gak apa-apa, kok. Aku belakangan aja, hehe ...."
__ADS_1
Viona tidak peduli dengan ekspresi yang langsung tidak enak dilihat di wajah Marshal. Pembahasan anak selalu sensitif baginya. Dan mendengar jawaban dari Viona barusan, Marshal tidak terima. Dia tidak mau kalah dari Vino. Harusnya memang dia yang mempunyai anak duluan, bukan kakak iparnya yang baru saja menikah.
***
"Selalu saja begitu, kalau sudah membahas anak. Chal, please ... kita udah bahas ini berkali-kali."
Marshal tidak mendengarkan, memilih untuk segera tidur. Menarik selimut menutupi sebagian tubuh dan segera memejamkan mata, berharap mood-nya bisa kembali pulih dari sebelumnya. Karena semenjak pulang dari rumah Vino, dia merasa berkecamuk dan tidak mau banyak bicara dengan Viona.
"Kamu marah?" Viona memeluk tubuh Marshal dari belakang, menggesekkan ujung hidung di punggungnya. "Chal ...." Pelukan Viona semakin erat. Dia bisa mendengar embusan napas tenang dan debaran itu. Marshal belum tidur, dia tahu. Tapi, suaminya memang selalu begitu jika sudah kesal padanya. Apalagi masalah anak ini selalu saja sensitif dan berakhir dengan pertikaian tiada ujung.
"Aku ngantuk, Sayang."
Viona memberengut karena Marshal tidak mau berlama-lama dipeluk. Biasanya dia yang senang memeluk Viona, tapi kali ini sepertinya Marshal sedang dalam keadaan buruk.
Viona menarik selimut dengan sedikit kasar, berharap Marshal terganggu dan akan berubah pikiran. Tapi, nihil. Marshal masih tidak peduli dan masih berada dalam kekesalannya. Viona mendengus. Paling besok pagi dia juga pasti sudah lebih baik, mending sekarang segera tidur karena hari sudah larut malam.
Tiba-tiba Marshal berbalik badan. Sebuah tangan melingkar di perutnya membuat Viona segera membalik badan. Dia terkesiap saat wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Marshal. Sebuah kecupan menyapa hidung dan turun ke bibir. Viona tidak siap, kaget dan terlalu tiba-tiba. Dia hanya terdiam saat Marshal menyurukan wajah di lehernya. Viona sedikit merinding dan berakhir dengan ringisan kecil. Marshal membuat tanda merah di bagian samping, di bawah telinga.
"Tidur, sudah malam." Pelukan Marshal semakin erat dan mulai memejamkan mata, sedangkan Viona masih termangu menatap wajah suaminya. Senyuman terbit seketika, bersyukur, ternyata kesal Marshal tidak berlangsung lama.
***
Cup!
__ADS_1
"Selamat pagi, Sayang." Viona tersenyum manis, setelah memberikan kecupan yang tiba-tiba di pipi suaminya yang baru saja membuka mata. Marshal tertidur kembali setelah subuh. Terlihat menggemaskan dengan ekspresi terkejutnya mendapat sambutan pagi yang manis. "Bangun, sudah jam setengah tujuh, lho. Kamu harus berangkat kerja."
Marshal masih terlihat linglung, memijat keningnya pelan. Tidak biasanya dia akan tidur kembali di pagi hari. Setelah subuh, biasanya dia akan menyibukkan diri dengan alat besi di ruang olahraga. Tapi, hari ini dia tidak melakukan rutinitas itu. Kantuk menyerangnya dan berakhir dengan bangun yang kesiangan.
"Mau mandi sekarang, Tuan? Atau mau tidur lagi, tidak akan berangkat bekerja?"
Marshal terkekeh mendapati wajah Viona yang begitu dekat di depan matanya. Sambutan yang tidak biasa. "Aku mau morning kiss, Sayang." Tawanya keluar karena gamparan kecil dari tangan istrinya. Viona terlihat menggemaskan dengan ekspresi yang disengaja untuk terlihat sebal.
"Eits, mau ke mana?" Marshal menarik tangan Viona yang hendak beranjak.
"Mau nyiapin keperluan kamulah, Chal."
"Kiss dulu." Bibir Marshal monyong ke depan. Meminta keinginannya untuk segera dipenuhi, tapi Viona malah diam saja. "Sayang ...."
Viona membuang muka, pura-pura muak dengan tingkah suaminya. Apalagi melihat wajah memelas Marshal yang seolah tidak diberikan ciuman selama berabad-abad.
"Oh, kamu ingin aku seperti semalam, ya? Apa kamu mau aku marah lagi?"
Segera Viona memandanginya. Dia mendekat dengan terpaksa dan menampilkan senyuman yang dibuat untuk terlihat semanis mungkin.
Marshal tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memenuhi keinginannya. Meskipun Viona nampak terkejut, dia tidak peduli dan melancarkan serangan dengan sangat baik. Viona tidak menolak, mungkin karena tidak mau membuat suaminya kesal seperti semalam.
Dia hanya menurut dan bahkan bisa lebih aktif dari biasanya. Viona semakin buas. Keahliannya dalam hal satu ini meningkat pesat. Sekarang dia lebih lihai untuk mengimbangi serangan yang Marshal berikan. Tidak sia-sia Marshal menggempurnya dan mengajarkan dia berciuman setiap hari. Viona cepat belajar menjadi seorang istri yang pandai melayani suami. Marshal senang mendapatinya.
__ADS_1