
Akhirnya Viona menuruti keinginan Marshal setelah tadi terjadi pemaksaan dari Marshal karena Viona yang kekeh ingin tidur disofa.
"Tidurlah!" Marshal mengusap kepala Viona dengan lembut, kemudian dia berbaring disampingnya, "ingat, aku suamimu!"
Entah makna apa yang tersirat dari ucapannya tersebut. Viona hanya diam saja digeluti dengan rasa kesal. Dia tidak peduli Marshal bilang apapun yang penting Viona sudah menuruti perintah Marshal untuk tidur bersamanya. Ya, walaupun terpaksa.
"Masih ingat ucapan Mama?"
"Hah?" Viona melirik kesamping. Marshal sedang menatap langit-langit kamar sembari tidur terlentang.
Apa barusan dia menyinggung ucapan Nyonya Rahma? batin Viona.
"Menurutmu bagaimana?" Marshal kini menyamping, menghadap Viona yang langsung memalingkan pandangannya. "apa kamu setuju?"
"Setuju apanya, Tuan?" tanya Viona yang tetap memilih melihat kearah lain.
"Aku yakin kamu mengerti ucapanku," Marshal menarik selimut untuk menutupi tubuh Viona hingga keatas perutnya. Viona hanya meliriknya sesekali. Namun tidak dapat dipungkiri, jika perlakuan Marshal tersebut membuatnya semakin tidak karuan. Ada rasa cemas, kesal, juga hangat yang melebur menjadi satu saat menerima perlakuan manisnya.
Viona membeku saat Marshal sedikit bangun untuk menatap wajahnya, kemudian dia tersenyum dan berkata, "Kamu manis jika kamu menurut," ucapnya pelan terdengar seperti bisikan.
Disaat Viona masih terdiam, Marshal memanfaatkan kesempatan itu untuk berbaring lebih menempel pada Viona dan memeluknya dari samping.
Viona yang terkejut spontan menoleh dan menyingkirkan tangan Marshal yang melingkar diperutnya. Namun, Marshal malah semakin erat dan membenamkan kepalanya diceruk leher Viona.
Perasaan kesal kini mendominasi dalam diri Viona. Jika sudah seperti ini, dia tidak bisa bergerak dan ini membuatnya bingung untuk melepaskan diri. Bukan apa-apa, tapi Viona hanya tidak mau jika kebiasaan diperlakukan seperti itu, lama kelamaan dia malah menikmatinya. Memang tidak bisa dipungkiri, jika pelukan Marshal memanglah nyaman, tapi Viona tidak mau hal itu menjadi candu baginya.
"Tuan, apakah bisa tidak seperti ini? Ini sangat tidak nyaman," Viona menggeliatkan tubuhnya mencoba melepaskan pelukan Marshal. Namun bukannya terlepas, yang dia dapatkan malah ciuman dipipi membuatnya terdiam.
"Aku tidak bisa melepaskanmu. Seperti ini lebih baik, ini nyaman," ucap Marshal tersenyum didekat leher Viona.
Bulu kuduk Viona meremang saat merasakan hembusan napas Marshal tepat dibagian samping lehernya. Viona menggeser kepalanya supaya kepala Marshal sedikit menjauh, tapi dengan cepatnya Marshal menahan kepala Viona dengan tangannya, "Diamlah!" ucapnya.
Viona akhirnya pasrah. Dia diam membiarkan Marshal melakukan apapun sesuai keinginan hatinya.
"Bagaimana menurutmu?" Marshal melanjutkan bertanya saat tahu jika Viona tidak akan berontak untuk melepaskan diri lagi.
"Bagaimana apa, Tuan?" Viona beberapa kali menahan napasnya, sangking dia gugup berdekatan dengan Marshal yang kini semakin menempel padanya.
"Tentang ucapan Mama." Viona menelan ludahnya dengan kasar. Teringat kembali keinginan Rahma untuk segera diberi cucu.
Apa dia ingin melakukannya? Dia ingin segera punya anak? Tapi aku tidak siap untuk melakukan itu. Bahkan aku berharap tidak akan pernah terjadi hal itu diantara aku dan dia. Aku tidak mau punya anak dengannya, batin Viona.
"Apa kita akan memulainya malam ini?"
Deg, Viona melotot seketika. Tubuhnya menegang mendengar ucapan Marshal. Apa Marshal barusan mengajaknya untuk melakukan itu? Dia merinding sendiri membayangkan jika benar Marshal menginginkannya.
"Kamu diam saja. Jadi bagaimana? Kita akan memulainya kapan?" Marshal menjauhkan wajahnya dari ceruk Viona dan mendongak menatap wajah Viona yang kini terlihat pucat. "kamu diam bukan berarti kamu tidak mau, kan? Tadi kamu bilang sama Mama kalau kamu akan secepatnya memberikan cucu, itu berarti kamu-"
"Tidak, Tuan," potong Viona. Dia melihat Marshal yang sedang menantapnya, "tadi saya hanya asal bicara. Tidak benaran,"
__ADS_1
Marshal langsung terduduk. Menatap Viona tajam, "Jadi ucapanmu tadi..."
"Bohong," sambar Viona cepat, "ucapan saya bohong. Tuan sendiri 'kan yang mengajak saya bersandiwara, jadi saya mengatakan hal itu. Jika bukan sandiwara, mana mungkin saya mengatakan hal itu, Tuan."
Marshal menghela napas kasar, menatap Viona dengan kecewa. Dia sudah berharap bahkan menganggap ucapan Viona adalah benar. Makanya, dia berani membicarakan hal itu sekarang, berharapa Viona memang sudah siap untuk menjadi istri seutuhnya bagi Marshal. Tapi nyatanya, Marshal kecewa sendiri. Dia terjebak dengan sandiwara yang bahkan dialah yang memulainya.
Viona menatap heran pada Marshal yang kembali berbaring disampingnya dengan posisi membelakangi tanpa ada seucap kata lagi yang keluar dari mulutnya. Marshal terlihat marah padanya. Meskipun Viona juga tidak tahu kenapa Marshal bisa berubah seperti itu. Tapi Viona mengira, mungkin ucapannya ada yang salah barusan.
"Tuan, maaf saya-"
"Sudah lupakan! Cepat tidur! Ini sudah malam," ucap Marshal dengan ketus.
Viona menatap punggung Marshal dengan heran. Kenapa Marshal jadi berubah ketus? Jika benar ucapan Viona ada yang salah, kenapa Marshal bisa terlihat semarah itu?
Salahnya disebelah mana, coba? Aku hanya berkata jujur barusan, batin Viona.
Marshal memejamkan matanya dengan kuat. Tangannya mengepal dibalik selimut. Kesal pada diri sendiri, juga kecewa pada Viona. Kenapa dia bisa berharap sejauh itu pada Viona. Tadinya, dia sudah berharap bisa memiliki Viona seutuhnya dan segera memiliki anak.
Semua harapannya dihempaskan begitu saja saat Viona berkata jika semua yang dia ucapkan didepan keluarganya tadi adalah sandiwara. Sandiwara. Marshal kecewa. Dia sudah menganggap ucapan Viona benar adanya dan mereka akan menjadi pasangan seutuhnya.
"Arghhh..." Marshal benar-benar kesal.
Viona terkejut, menatap punggung Marshal dengan bingung saat mnedengar Marshal mengerang.
Apa dia benar-benar marah padaku?
"Tuan..."
****
"Aku yakin, aku masih bisa memilikimu, Viona," Sendi menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan senyuman yang terpancar dengan manis.
Besok dia sudah bisa pulang. Tidak sabar rasanya, dia ingin segera menemui Viona untuk mengobati rasa rindunya. Setelah tahu jika Viona menikah dengan terpaksa, Sendi yakin jika Viona tidak akan mencintai Marshal dan tetap masih mencintainya.
Dengan begitu, Sendi masih punya kesempatan untuk memiliki Viona. Tidak masalah jika sudah menikah, yang terpenting Viona masih mencintainya, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Yang Sendi pikirkan, jika pernikahan Viona tidak akan berjalan lama karena Sendi yakin, jika pernikahan yang dilandasi karena keterpaksaan tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya pernikahan. Apalah pernikahan tanpa cinta, sudah dipastikan pernikahannya akan berantakan. Jadi, Viona akan tetap menjadi miliknya.
"Tunggulah aku,Viona. Aku akan tetap mencintaimu," Sendi menutup matanya sembari tersenyum penuh harap.
Tidak sabar ingin segera melihat wajah sang pujaan hati yang nahasnya kini sudah berstatus istri orang lain. Tapi tak apa, senbentar lagi Viona akan kembali lagi padanya.
*****
Marshal selalu membuatnya mendecak kesal saat bangun tidur. Lagi dan lagi Viona kesusahan bergerak karena pelukan Marshal yang kelewat erat. Dia menggeliat guna terbebas, tapi tetap saja tidak bisa. "Tuan..."
"Hmm..."
Viona terkejut saat Marshal menyahut. Dia melirik kesamping, Marshal terlihat masih terpejam. "Apa dia sudah bangun? Tapi masih merem," batinnya heran.
__ADS_1
Diliriknya dengan teliti wajah Marshal. Viona bingung, apa barusan Marshal hanya mengingau atau memang sadar mendengar panggilannya. "Tuan sudah bangun?"
"Hmm..."
Viona mendengus. Ternyata Marshal memang sudah bangun karena dia menyahut lagi. "Tapi kenapa dia malah memeluku erat, bukannya bangun?" batin Viona kesal. Dia menggeser tangan Marshal yang ada diperutnya, tapi Marshal malah semakin mengeratkannya.
"Tuan, saya ingin bangun."
"Diam dulu!" Akhirnya Viona kembali terdiam. Membantah Marshal sama saja dengan percuma. Viona tidak bisa lagi melepaskan diri selain Marshal yang melepaskannya.
"Nanti aku yang imamin, ya!"
"Hah?" Viona melirik Marshal dengan bingung. "Imamin apa?"
"Nanti sholat subuh aku yang imamin." Jantung Viona berdebar seketika. Marshal akan menjadi imam sholatnya? Sulit dipercaya. Dia akan diimami oleh suaminya? Ada perasaan senang juga... entahlah. Selama ini mereka memang tidak pernah sholat berjamaah, sholat masing-masing. Dan Viona tidak pernah berpikir akan diimani oleh Marshal yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Viona bernapas lega, menghirup udara sebanyak-banyaknya saat Marshal melepaskan pelukannya, "Ambil wudhu!" ucap Marshal, kemudian dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi meninggalkan Viona yang masih terbengong ditempat.
Dia akan diimami oleh Marshal?
"Belum bangun juga, cepat ambil wudhu! Nanti subuhnya keburu habis."
Viona terkejut. Dia melirik kearah kamar mandi. Disana ada Marshal yang baru saja keluar. Wajahnya sudah basah karena air wudhu, sedangkan Viona masih terbaring diatas tempat tidur.
Malu setengah mati, Viona langsung turun dari ranjang. Segera mengambil air wudhu.
"Nih, pake! Ini punua Michelle," Marshal menyerahkan mukena berwarna putih dengan renda warna pink pada Viona.
Viona terpaku saat Marshal menggelar dua sajadah. Satu didepan dan satu lagi ditempatkan dibelakang samping kanan sajadah untuk imam.
Dia akan diimami Marshal?
Dengan gugup Viona memakai mukenanya. Dia masih tidak percaya jika dia akan diimami oleh pria yang sekarang berstatus suaminya.
Semua wanita mungkin sangat senang jika diimami oleh pasangannya. Karena suami adalah imam dalam keluarga. Dan itu juga yang diimpikan semua wanita begitu pun Viona, berharap bisa punya suami yang mampu menjadi imam dalam segala hal.
Viona berdiri diatas sajadah yang digelar dibelakang. Pertama kalinya dia sholat berjamaah bersama Marshal. Pertama kali juga dia terkagum-kagum saat mendengar suara Marshal yang kelewat merdu saat membacakan surat-surat pendek. Baru Viona sadari jika Marshal ternyata sosok yang religius.
Setelah selesai menunaikan sholat dan berdoa, Marshal membalik tubuhnya kebelakang, menghadap Viona. Dia bersila kemudian mengulurkan tangannya pada Viona.
Viona menatap bingung tangan dan wajah Marshal bergantian. Untuk apa dia mengulurkan tangannya?
Karena tidak mendapat respon juga, Marshal meraih tangan Viona hingga istrinya baru tersadar. Dia segera mencium punggung telapak tangan Marshal.
Dadanya bergemuruh kembali saat Marshal mencium keningnya hingga kehangatan langsung menjalar. Perasaannya jadi tidak karuan. Viona menunduk dengan gugup. Dia tidak menyangka jika Marshal bisa memperlakukan istrinya dengan manis.
Marshal tersenyum bahagia. Satu persatu kewajibannya sebagai seorang suami sudah dia jalani. Dan semoga untuk kedepannya, dia bisa memenuhi semua kewajibannya pada Viona.
Marshal juga tidak menyangka jika dirinya bisa menjadi imam untuk Viona hari ini yang merupakan kali pertama dia mengimami seorang wanita. Dan betapa behagianya saat yang ia imami adalah Viona, yang kini sudah menjadi istrinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.....