Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Berkunjung


__ADS_3

"Nanti sore Rio akan menjemputmu, kita akan ke rumah Mama," ucapan Marshal sebelum berangkat bekerja masih terngiang dalam ingatan.


Saat ini Viona sudah siap dengan menggunakan dressnya yang berwarna dongker dengan garis toska juga dihiasi tali pita pada pinggangnya. Dia menunggu kedatangan Rio diruang tengah. Katanya Rio sebentar lagi akan tiba.


Tidak berapa lama kemudian, Rio tiba menghampiri. Senyumannya mengembang, manis, "Nona sudah siap?"


"Ah iya," Viona berdiri, "ayo berangkat!" dia berjalan keluar rumah diikuti Rio dibelakangnya.


"Tuan-nya kemana?" tanya Viona sebelum masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Rio, untuknya.


"Tuan sedang dikantor, nanti kita akan menjemputnya sekalian." Viona hanya mengangguk lalu masuk kedalam mobil.


Rio membungkuk hormat, kemudian dia masuk juga kedalam mobil duduk dibalik kemudi setelah menutup pintu mobilnya.


Selama perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Rio fokus menyetir, dan Viona fokus pada ponselnya.


Akhir-akhir ini dia jarang sekali memegang ponsel, karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di rumah sampai lupa hanya sekadar untuk bertukar kabar dengan keluarga atau kedua sahabatanya.


Untung saja tadi Frans menghubunginya. Jadi rasa rindu Viona sedikit terobati terhadap temannya yang Playboy tiada tara itu.


"Nona tunggu dulu disini! Saya akan memanggilkan tuan dahulu," ucap Rio saat mobil telah terparkir didepan Kantor Marshal yang megah ini.


"Hmm..." Viona hanya bergumam sembari mengangguk.


Rio keluar dari mobil dan masuk kedalam Kantor melewati pintu utama yang berbahan kaca tebal dengan ukuran yang super duper lebar.


Kantor Marshal sangatlah megah. Terlihat sangat kokoh dan juga berkelas dengan desain bangunan yang modern disertai bagian eksteriornya yang ditata rapih sedemian rupa, tetapi tetap menunjukkan nilai perusahaan formalitasnya. Semua kemewahan itu menunjukkan bahwa gedung yang menjulang tinggi ini bukanlah gedung perusahaan biasa.


Hanya butuh sekitar sepuluh menitan Marshal sudah masuk kedalan mobil dan duduk disamping Viona.


Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Selama perjalanan hanya tercipta keheningan. Marshal sibuk pada ponselnya, Rio fokus menyetir, dan Viona sibuk dengan pikirannya.


Entah apa yang Viona pikirkan. Tapi yang ia rasakan, saat bersama Marshal dia selalu merasa canggung bahkan gugup. Mungkin Viona belum cukup terbiasa berada didekatnya. Marshal masih terasa asing baginya meskipun mereka tinggal serumah bahkan sudah tidur bersama.


Kini Viona banyak berubah setelah menikah dengan Marshal. Bukan Viona yang supel, ramah dan banyak bicara lagi, melainkan menjadi Viona yang pendiam, penurut, bahkan tidak banyak tingkah.


Kadang Viona juga bingung harus bersikap seperti apa dihadapan Marshal. Terlebih Marshal selalu terlihat punya kuasa didepannya. Mau tidak mau Viona harus menenggelamkan sifat aslinya yang pemberontak karena segan terhadap Marshal yang sudah membantu keluarganya.


"Tunggu dulu!" Marshal mencekal tangan Viona saat ia hendak turun dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Rio.


Mereka sudah berada didepan rumah keluarga Marshal. Viona yang tadinya ingin turun, dia urungkan niatnya dan kembali berbalik pada Marshal dengan mengernyit bingung.


"Kita harus bicara dulu!" Viona kembali memposisikan duduknya seperti semula dan menunggu hal apa yang akan Marshal katakan.


"Nanti jika didepan keluargaku, kamu jangan memanggilku tuan, ya!"


"Lalu saya harus manggil apa?"


"Panggil apa saja boleh, asalkan jangan panggil tuan!" Marshal terlihat berpikir sejenak sebelum dia berbicara, "kalo bisa panggilan yang romantis." Viona membelalak mendengarnya.


Panggilan yang romantis? Yang benar saja, Viona tidak mau mengucapkannya.


"Hmm... lebih ke panggilan seperti pasangan lain maksudnya," ucap Marshal seolah tahu jika Viona rada bingung, karena Viona masih terdiam dengan pikirannya.


"Jika dipanggil 'Mas'?" Marshal menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku bukan keturunan jawa. Jangan memanggilku 'Mas'!"


"Mas Marshal... huh, kedengarannya sungguh aneh. Tidak, aku tidak suka," Marshal menggelengkan kepalanya, dia merasa merinding memikirkan jika Viona memanggilnya Mas.


"Lalu panggil apa?"

__ADS_1


"Panggil namaku saja!"


"Tapi tidak sopan."


"Tidak apa, dari pada kamu bingung mau memanggilku seperti apa. Lebih baik kamu panggil namaku saja." Viona terdiam. Ada sebersit keraguan dalam dirinya jika memanggil nama langsung seperti itu.


"Bagaimana, kamu akan memanggilku apa? Atau setuju untuk memanggil namaku saja?"


"Tuan maunya saya panggil apa? Jika memanggil nama langsung saya tidak mau, nanti dibilang tidak sopan." Marshal berpikir kembali, panggilan seperti apa yang cocok untuknya?


"Bagaimana kalau kamu memanggilku Sa... yang, mungkin. Bukankah itu panggilan yang romantis, pasangan lain biasanya memanggil seperti itu," ucap Marshal dengan menggoda membuat Viona melotot. Jelas dia tidak mau memanggil seperti itu.


"Bagaimana jika saya panggil 'kakak' saja?" saran Viona ragu. Dia juga tidak tahu Marshal akan menyukainya atau tidak. Tapi setidaknya dia cari aman. Dari pada harus memanggil Marshal dengan sebutan yang menggelikan.


"Tapi aku bukan kakakmu, aku suamimu. Masa aku dipanggil kakak."


"Tapi usia tuan lebih tua dari saya. Jadi menurut saya itu lebih logis." Marshal menatap Viona tajam, dia tersinggung meskipun ucapan Viona memang benar. "Jangan bawa-bawa usia!"


"Bukan, bukan begitu maksud saya. Tapi memang benar 'kan, tuan lebih dewasa dari saya. Jadi jika dipanggil kakak pun masih pantas dan itu lebih baik menurut saya."


Marshal terdiam kembali, menimbang-nimbang saran dari Viona. "Hm, baiklah. Panggil aku kakak." Viona tersenyum, itu artinya dia tidak harus memanggil Marshal dengan embel-embel sebutan sayang.


"Kakak tercinta," lanjut Marshal dengan alis naik turun.


Senyum Viona surut seketika. Dia jadi kesal dan langsung turun dari mobil meninggalkan Marshal yang terkekeh sendirian.


Dengan segera Marshal menyusul langkah Viona dan menggenggam tangannya saat mereka sudah berjalan beriringan. "Jaga sikapmu didepan keluargaku, ya! Kita harus terlihat harmonis seperti pasangan lain!" Viona mengangguk saja. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Membantahpun tak guna, karena Marshal tidak bisa dibantah selain dituruti.


"Assalamu'alaikum... kami datang," ucap Marshal saat memencet bel beberapa kali didepan pintu.


Baiklah, sandiwara akan segera dimulai. Dan Viona muak dengan apa yang akan dijalaninya ini. Dia tidak mau bersandiwara didepan keluarga Marshal. Apalagi jika harus terlihat harmonis bersama suaminya.


"Sini!" Marshal menarik tangan Viona hingga dia menubruk tubuh kekarnya. "Ingat, harus terlihat harmonis-" Marshal melingkarkan tangannya dipinggang Viona, ".. dan juga harus terlihat romantis!" bisik Marshal ditelinga Viona kemudian dia mencium pipi Viona membuat sang empunya melotot dengan tajam.


Kenapa dia malah menciumku? Menyebalkan! Selalu saja mengambil kesempatan.


Viona mematung dengan kesal. Marshal selalu seenaknya dan tanpa dosanya malah tersenyum menggoda. Kemudian dia menggenggam kembali tangan Viona.


"Panggil Chal saja! Itu lebih enak didengar daripada aku harus dipanggil kakak olehmu," ucap Marshal pelan.


Viona mendongak menatap padanya, "Jadi harus panggil Chal?" Marshal mengangguk, namun Viona masih ragu. Karena seingatnya, panggilan Chal hanya khusus untuk keluarga Marshal saja. Viona ingin berbicara lagi, tapi suara melengking menghentikan mulutnya yang sudah terbuka untuk berucap mendadak mengatup dan mereka melihat pada arah asal suara.


"Aaa... mantu Mama udah dateng!!" Jerit Rahma dengan histeris membuat semua orang yang sedang berada diruang tengah menoleh kearah pintu. Dimana sepasang pengantin baru berdiri disana dengan tangan saling menggandeng.


"Kamu apa kabar?" Rahma langsung memeluk Viona erat hingga menantunya kesulitan bernapas. "Kabar saya baik, nyonya."


"Kamu memanggilku nyonya?" Pelukan terlepas begitu saja. Rahma memberengut karena Viona masih memanggilnya nyonya, padahal dia sudah menjadi menantunya.


"Eh?" Viona jadi salah tingkah, namun dia tersenyum canggung pada Rahma yang sedang merajuk, "Aku baik-baik saja, Ma," ulangnya, "bagaimana kabar Mama?"


Rahma kembali tersenyum karena Viona sudah merubah panggilannya. "Mama juga baik," ucapnya senang. Viona hanya terkekeh melihat perubahan Rahma.


Dasar ibu-ibu...


"Seneng banget Mama bisa ketemu kamu."


"Iya, Ma. Viona juga," Viona hanya bisa tersenyum canggung. Bingung harus bagaimana menyikapinya.


Disana ternyata sudah banyak anggota keluarga lain. Paman, Bibi, dan para ponakan Marshal juga ada disana. Viona kira Rahma memintanya datang hanya untuk bertemu saja, tapi ternyata tidak. Disana ada acara keluarga. Eh, bukan. Lebih tepatnya kumpul keluarga.

__ADS_1


"Ekhem," deheman keras dari Marshal menghentikan kehangatan mertua dan menantu yang sedang berlangsung. Mereka melirik kearah Marshal berbarengan.


"Anaknya siapa yang disambut siapa," sindir Marshal, jengah.


Merasa tidak dianggap karena Rahma tidak menyapanya. Marshal merasa teracuhkan karena ibunya lebih antusias dengan kedatangan Viona daripada Marshal, anaknya sendiri. Sungguh Marshal merasa tersisihkan. Bahkan dilirik saja tidak oleh Rahma, apalagi disapa. Ibu macam apa itu?


"Eh, Chal... kamu apa kabar?" Rahma langsung beralih pandang pada Marshal walaupun sapaannya terdengar dipaksakan.


Basi. Marshal sudah terlanjur jengah. Percuma walaupun Rahma menyapanya seperti itu juga, Marshal sudah kesal karena tidak dianggap.


"Kamu baik-baik saja 'kan, Nak?" Rahma mengulurkan tangan hendak mengusap wajah puteranya, namun Marshal malah menepisnya, "Urus saja menantu kesayangan Mama itu!" Marshal berlalu begitu saja melewati Rahma yang terkejut dengan sikapnya.


Namun detik kemudian Rahma terkekeh lucu melihat aksi protes sang putera yang ternyata cemburu jika perhatian Ibunya berpaling.


Melihat sikap Marshal, Viona jadi tidak enak hati. Dia menatap punggung Marshal dengan bingung.


"Sudah, biarkan saja dia. Ayok temui mereka!" ajak Rahma dengan lembut. Viona mengangguk dan tersenyum, melupakan sikap Marshal yang kekanakan.


Marshal dan Viona menyapa semua anggota keluarga. Semua orang bersikap baik pada Viona, begitu juga Viona yang terlihat sopan juga ramah pada mereka. Bahkan disela-sela obrolan mereka, Viona tidak henti-hentinya mengumbar senyum.


"Kapan kalian pergi bulan madu? Mau pergi bulan madu kemana?"


Marshal dan Viona saling pandang dengan wajah terkejut saat mendengar pertanyaan dari Bibi Niken yang membuat keduanya terpaku.


Bulan madu? Mereka tidak pernah membicarakan soal itu. Bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka tentang hal yang menurut sebagian orang wajib dilakukan oleh pengantin baru. Tapi mereka jadi bingung saat Bibi Niken menanyakan hal itu.


"Iya, kalian mau pergi bulan madu kemana?" kini mulut Rahma yang bersuara.


Viona menatap Marshal, meminta bantuan untuk menjawab. Dia bingung harus menjawab apa karena pertanyaan Rahma tadi tertuju padanya terlihat dari sorotan mata Rahma yang melihat kearahnya.


Viona heran melihat ekspresi Marshal yang biasa saja. Berbeda dengan dirinya yang bingung setengah mati. Dan Marshal dengan entengnya malah berucap, "Aku belum mikirin bulan madu, Ma."


Tentu saja ucapan Marshal membuat semua orang ricuh. Desas desus mulai seliweran. Pertanyaan-pertanyaan heboh membuat keduanya semakin kebingungan. Apa ucapan Marshal ada yang salah?


"Apa? Belum mikirin bulan madu? Kenapa?"


"Lho, kenapa belum dipikirin? Harusnya bulan madu itu udah direncanain.."


"Kalian 'kan pengantin baru, harusnya udah pergi bulan madu.."


"Kalian gak niat pergi bulan madu apa gimana? Kenapa gak dipikirin..."


"Kalian harus segera rencanakaan bulan madu, masa pengantin baru gak bulan madu. Heran banget 'kan. Lagian bagaimana bisa kalian melupakan bulan madu.. bla bla bla.." dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menjurus menghakimi itu. Ingin sekali Marshal menutup usia sangking bingungnya menjawab ocehan mereka yang membuat kepala pening.


"Jadi kapan kamu akan bawa mantu Mama bulan madu?" desak Rahma membuat Marshal harus menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Gak tahu, Ma. Aku belum rencanain bulan madu. Kerjaan aku masih banyak, belum nemu waktu yang kosong. Nanti deh, kalo kerjaan aku agak senggang, aku ajak mantu kesayangan Mama ini bulan madu. Ya sayang, nanti kita bulan madu, oke!" Marshal merangkul pundak Viona dengan pandangan menggodanya.


Viona yang merasa risih, hanya bisa tersenyum menimpali.


"Makanya Bro, jangan terlalu sibuk ngurusin kerjaan! Pengantin baru itu harusnya selowing aja. Nikmatin indehoy-indehoy dikamar. Bukan malah kerjaan mulu yang urusin, istri lu tuh manjain..." ini lagi si Julian yang ikut bersuara.


Julian anaknya bibi Niken-adik dari Rahma. Mengingat umurnya yang baru 18 tahun, Marshal terkekeh geli anak ingusan udah ngomongin indehoy, Marshal saja yang sudah menikah belum pernah merasakannya.


"Kalo ngomong... kayak udah ngalamain indehoy aja lo," Marshal menoyor jidat Julian. Semua orang tertawa melihatnya.


"Gua bocah-bocah gini juga tahu kalo masalah indehoy. Gua gak sepolos yang lu kira ya..." ucap Julian angkuh sembari mengusap jidatnya.


"Dasar bocah mesum!" Marshal kembali menoyor Julian sampai Julian meringis namun mereka tertawa dengan puas.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2