
"Aku pikir kita sama-sama memperbaikinya, namun ternyata aku salah. Hanya aku yang berusaha memperbaiki hubungan kita."
Tangan Marshal berhenti mengompres luka di pipi istrinya. Dia melihat Viona tidak mengerti atas apa yang Viona ucapkan barusan.
"Aku sudah rela melepaskannya demi pernikahan kita sampai aku menyaksikannya menjemput kehidupan yang baru. Tapi, kamu?" Viona melihat Marshal sedikit kecewa. "Jika hanya sebuah janji untuk melepaskan, kenapa kamu melakukannya untukku? Dia melakukan ini karena berpikir aku merebutmu darinya."
Setelah lama terdiam, Marshal menyimpan kompresan di atas nakas. Dia beralih pada Viona yang kini sedang melihatnya dengan serius. "Maksudmu Amanda?"
Viona hanya diam. Memangnya siapa lagi yang dia maksudkan? Tidak dijawab pun, Marshal pasti tahu siapa yang Viona siratkan.
"Baik, aku akui, aku belum mengakhirnya. Tapi, setelah kejadian saat di pesta papa waktu itu, aku belum pernah sekali pun bertemu dengannya lagi. Dia berusaha untuk menemuiku, tapi aku menghindarinya. Aku minta maaf atas semua yang telah kuperbuat."
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Viona terlihat begitu tajam melihat mata suaminya.
Helaan napas Marshal terdengar gusar. Dia membawa tangan Viona dan menggenggamnya erat. "Sulit. Aku tidak tahu harus dengan cara apa melepaskannya. Aku tidak tega melihat dia terluka. Aku tidak bisa melepaskan dia begitu saja. Aku minta maaf, Ra!"
Marshal mengangkat tangan Viona, meremasnya kuat dan menempalkan tangan tersebut di dahinya. Marshal menunduk dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa dia kendalikan.
Viona menarik tangannya dari genggaman Marshal secara perlahan. "Kamu memang sangat mencintainya. Seharusnya kamu tidak mempertahankan aku, maka dia tidak akan seperti sekarang. Kamu salah, jika malah berpura-pura mencintaiku hanya untuk pernikahan kita. Padahal hatimu masih tertuju padanya."
"Bukan, Sayang, bukan seperti itu." Marshal menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia meraih kembali tangan Viona dan menggenggamnya erat. "Justru aku sangat mencintaimu, makanya aku mempertahanmu. Sebaliknya, aku terlalu berpura-pura mencintai Amanda selama ini, padahal yang sebenarnya bukan begitu."
Viona memandang Marshal tidak mengerti. "Jangan mempermainkan aku seperti ini, Chal! Di saat aku sudah melepaskan semuanya dan mencoba membuka hati, kamu malah berkata omong kosong yang bahkan aku tahu, kamu hanya berusaha mempertahankan aku tanpa sebab yang jelas. Namun, hatimu tetap tidak rela melepaskan dia. Aku punya harga diri. Jika hanya aku yang berusaha memperbaiki, untuk apa pernikahan ini kita jalani lagi? Untuk apa?"
__ADS_1
Marshal terdiam cukup lama. Pandangannya terlihat bimbang melihat Viona yang sudah terlihat frustasi. "Beri aku waktu, Ra! Aku butuh waktu untuk mengikhlaskan dia. Aku tidak bisa sekuat kamu, setegas kamu, di saat melupakan laki-laki itu. Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya."
Viona hanya membuang muka. Dia sudah jengah dengan drama pernikahannya ini. Cukup sudah dia dipermainkan oleh takdir, jangan dipermainkan juga oleh kenyataan yang kini malah datang terasa memuakkan.
"Amanda punya riwayat depresi berat."
Pandangan Viona kembali pada suaminya. Terdengar nada sedih yang mendalam dari cara bicara suaminya. Wajah Marshal terlihat begitu sendu. Mata mereka beradu dan saling menyelami dalam diam.
"Keluarga Amanda meninggal secara bersamaan karena pembantaian yang terjadi sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat itu hanya tersisa dia dan kakaknya. Namun, kakak juga ikut menyusul mereka setelah menemani keterpurukan Amanda sampai dia bertemu denganku. Kakaknya denganku berteman baik sejak aku berada di Eropa saat sekolah. Dia menitipkan Amanda padaku. Setelah aku bersedia menjaganya, kakak Amanda mati terbunuh oleh seorang psikopat yang tidak lain adalah pamannya sendiri."
Viona menutup mulut dengan syok. Dia tidak tahi jika hidup Amanda semenakutkan itu. Dia sampai berkaca-kaca, tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi Amanda menerima semua yang sudah terjadi dalam hidupnya.
"Setelah mendengarnya, apa kamu akan tega meninggalkan dia sendiri? Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"
"Beri aku waktu sampai aku bisa menemukan penjaga yang baik untuknya."
Bibir Viona terasa kelu untuk berucap. Dia menggeleng-gelengkan kepala di saat otaknya malah memikirkan pembantaian yang terjadi terhadap keluarga Amanda.
"Tidak ada alasan lain untuk aku mempertahankannya, Ra. Hanya karena itu. Selama ini aku sudah menyalahartikan rasa kasian menjadi cinta. Padahal kenyataannya, aku hanya ingin melindungi dia. Aku hanya ingin menjaganya. Itulah alasanku lebih ingin menikahimu daripada memperjuangkan restu untuk menikahi Amanda. Karena cintaku yang sesungguhnya itu kamu, bukan dia."
Viona tertegun. Tidak terasa air matanya menetes tidak terkendali. Ada rasa sedih, kasihan dan rasa haru dia rasakan saat ini.
"Aku akui, aku memang pernah mencintainya, tapi itu dulu, sebelum aku melihatmu lagi. Setelah aku bertemu denganmu lagi, hatiku kembali pada pemilik yang sebelumnya. Aku pernah bilang, kamu cinta pertamaku. Aku sangat sulit melupakanmu, itu memang benar adanya." Marshal kembali mengambil kompresan. Mengusapkannya pada wajah istrinya dengan lembut. "Aku memang menyayanginya. Tapi, jika dipikir ulang, rasa sayangku pada Amanda tidak lebih dari ingin melindunginya saja."
__ADS_1
"Lalu, apa yang kamu rencakan dengan memindahkan kontrak kerjanya ke Milan?"
Marshal tersenyum tipis, menyimpan kompresan kembali. "Kamu tahu dari mana aku memindahkannya ke Milan? Apa Amanda yang bilang?"
Viona mengangguk. Dia membuka mulut saat Marshal menyuapkan anggur yang sempat Erni siapkan untuknya tadi saat Marshal masuk membawa kompresan.
"Aku sengaja menghindarinya. Aku ingin melepasnya secara perlahan sampai dia terbiasa dan bisa menerima jika suatu saat aku benar-benar melepaskannya."
"Kapan hal itu terjadi?"
Mulut Viona penuh, Marshal terus memasukkan anggur sampai pipinya mengembung dengan mulut yang manyun. Marshal malah terkekeh geli, istrinya terlihat begitu lucu.
"Aku tidak tahu. Tapi, aku janji akan melakukannya. Apa kamu mau memberikan aku waktu sampai Amanda menemukan laki-laki yang baik untuk menjaganya?"
Setelah semua makanan tertelan dengan baik, Viona kembali bersuara, "Dia tidak akan menemukan laki-laki lain, jika masih terikat sama kamu."
Putra dari Wisnu tersebut menganggukkan kepala. "Iya, makanya aku memindahkan dia keluar negeri. Aku tahu, pekerjaannya sebagai model adalah priotas bagi Amanda. Dia pasti betah berada di sana. Aku harap, dia bisa dekat dengan laki-laki lain jika jauh denganku."
Viona menolak suapan buah dari suaminya. Dia meminta minun dan Marshal memberikannya. "Apa itu tidak terlalu berlebihan? Kamu membuangnya secara perlahan?"
Kekehan Marshal membuat Viona sebal dan mencebikkan bibirnya. Marshal melihatnya gemas, tidak kuasa, dia mencuri ciuman dari bibir istrinya. "Ucapan kamu terlalu kasar, Sayang. Aku bukan membuangnya, hanya memberikan dia kesempatan untuk dekat dengan pria lain."
"Sama saja. Setelah dia punya yang lain, kamu akan melepaskannya, bukan? Kamu membiarkan dia yang mencari. Dengan begitu kamu bisa memutuskan dia dengan alasan seolah-olah dia selingkuh." Viona mendengus kesal, Marshal mencubit hidungnya dengan gemas dan mencium pipinya yang memar sampai Viona meringis menahan sakit.
__ADS_1
Marshal meminta maaf sambil terkekeh dan mengusap lembut bekas kecupannya di bagian yang luka. "Istriku terlalu pintar sampai bisa menebak tepat sasaran. Maaf, aku menutupinya darimu."