Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Rencana Berhasil


__ADS_3

Wisnu memang kelewat keterlaluan. Marshal tidak habis pikir dengan rencana ayahnya. Sekarang leher Rio diobati oleh dokter dan Marshal terus meminta maaf padanya.


"Besok aku akan membawamu ke rumah sakit ternama. Aku jamin, lukamu tidak akan serius. Tidak akan membekas juga. Aku akan pastikan kamu mendapatkan perawatan yang bagus," ucap Wisnu pada Rio setelah dokter yang mengobatinya pergi.


Rio ingin marah, tapi tidak bisa. Wisnu benar-benar mempermainkan nyawanya. Bagaimana jika tadi Marshal sungguh membunuhnya? Rio tidak mau masa lajangnya berakhir mengenaskan. Dia belum menikah, jangan mati dulu!


"Aku hampir gila karenamu," keluh Marshal pada istrinya. "Kamu keterlaluan!"


Viona malah mencebikkan bibirnya dengan lucu. Dia menjauhkan diri dari suaminya dan beralih pada orang-orang yang sedang menyiapkan segalanya untuk merayakan ulang tahun Marshal. Viona berjalan cepat melihat Vino yang nampak sedang menyiapkan tatanan tumpeng yang tinggi menjulang di samping kue ulang tahun yang sangat besar di ruangan besar samping kolam renang.


"Kak!" Viona memeluk Vino dengan manja dibalas kecupan ringan di kepalanya. Viona tersenyum senang, semakin manja ditubuh kakaknya. "Marshal sudah merebutnya. Aku kalah ternyata," lanjutnya dengan nada lirih, nampak malu-malu.


Aktivitas Vino jadi terhambat. Dia menghentikan kegiatannya dan beralih menatap pada Viona. Dia pun tidak menyangka Viona akan menyayangi suaminya secepat ini. Vino juga kaget saat Viona mengungkapkan perasaannya di hadapan semua keluarga. Sejak awal menikah, Viona selalu menangguhkan, dia tidak yakin bisa mencintai suaminya. Tapi, takdir memang selalu memberikan jawaban lain tanpa sepengetahuan kita.


"Berbahagialah, Dek! Kakak yakin, kalian bisa bersama. Dan,"-Vino mencubit gemas hidung adiknya-"cepatlah buatkan kakak ponakan!"


Wajah Viona bersemu merah. Dia membenamkan wajahnya malu-malu saat ditanya seperti itu. "Harusnya Kakak duluan aja!" elaknya tersipu malu.


Vino terkekeh sambil mengusap kepala Viona. "Sabar, bentar lagi Kakak pasti nyusul." Dia menikah dua minggu lagi. Mungkinkah anak mereka nantinya akan berumur sama? Alangkah bahagianya jika mereka punya anak berbarengan.


"Sayang?"


Viona melepaskan diri dari Vino saat mendengar suara Marshal. Suaminya terlihat muram, entah kenapa. Viona mendekatinya penuh heran. "Hm?"


"Aku-"


"Bro, bisa kita bicara sebentar?" Vino sudah lebih dulu mengajak Marshal. Viona melihatnya acuh memperhatikan Marshal yang diajak ke arah kolam. Viona hanya bisa melihatnya sekilas dan membantu yang lain mempersiapkan pesta dadakan.


"Kak?"


Viona melirik pada suara gaib yang barusan memanggil. Dia melihat sekeliling, tapi tidak ada yang nampak baru saja memanggilnya. Viona tersentak kaget saat kakinya ada yang menyentuh. Dia menunduk melihat pada kakinya. Betapa terkejutnya saat dia melihat Michelle ada di bawah meja yang di atasnya sudah di taruh kue besar untuk Marshal. "Kamu ngapain?"


"Hehe ...." Michelle malah nyengir kuda, mengulurkan tangan pada Viona untuk membantunya berdiri. "Aku ngambil ini." Dia menunjukkan sendok kecil pada kakak iparnya.

__ADS_1


Viona menggelengkan kepala pelan. Michelle ada-ada saja.


"Rencana kita berhasil 'kan, ya?"


"Hm ...." Viona hanya bergumam menanggapi. Rencana mereka memang berhasil, tapi nyawa Rio hampir saja melayang.


"Btw, akting Kakak bagus banget, lho."


Viona terkekeh mendengar pujian Michelle. "Sangking bagusnya, aku hampir saja jadi janda."


Tawa Michelle pecah seketika. "Elah, ketimbang ditalak gitu doang takut," ejeknya.


Viona langsung memberikan tatapan tajam padanya. "Aku takut tauk. Gimana kalo dia benaran talak aku? Kamu tuh, ya."


"Yey, yang udah cinta mah beda, ya. Siapa yang waktu itu minta cerai? Eh, kenapa sekarang malah takut ditalak? Kakak aneh!" Michelle terbahak melihat ekspresi sebal kakak iparnya. Viona mendengus, mengalihkan pandangan dengan cepat ke arah lain.


Tiba-tiba saja sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang. Dari aroma parfumnya, Viona sudah menduga itu siapa. Dia hanya diam, sambil memperhatikan orang lain mempersiapkan pesta. Di ujung ruangan terdapat Rahma dan Lina yang sedang berbincang ria, sedangkan para suaminya berada di ruang tengah.


"Udah selesai sama kak Vino?" Kepala Marshal yang bertumpu di pundaknya terasa mengangguk pelan.


"Sayang?"


"Makasih."


"Untuk?"


"Untuk semuanya." Marshal melepas pelukan. Diputarnya tubuh Viona supaya mereka berhadapan. "Untuk kejutan dan ... ungkapan perasaannya."


Viona menunduk malu membuat Marshal terkekeh gemas. "Lihat aku!" Marshal mengangkat dagu istrinya, dia tersenyum penuh kemenangan. Betapa bahagianya saat cinta bersambut. Tapi- "Kamu sayang sama aku ... hanya sayang?"


Viona menggigit bibir. Dia terdiam memandangi Marshal, kemudian mengedikkan bahunya pelan.


Senyuman Marshal luntur seketika. Ditatapnya Viona sedikit kecewa, Marshal menghela napas dalam. "Aku sudah terlalu banyak berharap. Harusnya aku lebih-" Dia terpaku saat Viona mengusap rahangnya dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu jawabannya. Gak perlu dipertanyakan lagi. Kita jalani saja, ya!"


"Tapi, aku tidak yakin dengan pemikiranku."


"Berarti kamu tidak percaya sama istri sendiri. Percayalah, Chal, aku tidak pernah bergurau masalah perasaan. Memang sulit aku mengalihkannya. Tapi, sedikit demi sedikit aku yakin, aku pasti bisa beralih sepenuhnya. Kamu suami aku. Tidak mungkin aku berpaling lagi sama yang lain."


Senyuman Marshal kembali merekah. Dia mencium kening istrinya hangat dan memberikan pelukan erat. "Terima kasih. Jangan pernah tinggalkan aku, Sayang!" Viona mengangguk pelan dalam dekapannya.


"Ekhem!"


Pelukan mesra mereka terlepas dengan kaget. Terlihat Michelle yang bersidekap dada melihat kesal ke arah mereka. "Aku dari tadi di sini, lho," ucapnya sedikit disertai ledekan.


Viona dan Marshal tertawa pelan. Mereka mengabaikan protesan Michelle dan malah saling memberikan kecupan di pipi bergantian.


"Mama ... Kak Chal sama kakak ipar mesum di depan anak kecil ...!" teriak Michelle membuat perhatian orang-orang yang sedang sibuk, kini tertuju pada mereka.


"Dasar anak kecil!" Marshal mengacak rambut Michelle dengan gemas. Mereka semua tertawa melihat raut kesal Michelle yang terlihat sangat lucu.


"Eh, ke mana?" Viona kaget tiba-tiba ditarik paksa oleh suaminya.


"Ikut sebentar!" Marshal membawa istrinya ke arah kolam renang. Sampai di sana, dia celingukan melirik sekitar. "Gak jadi. Jangan di sini!" Marshal menarik lagi tangan istrinya keluar dari sana setelah dia melihat ada Vino, Rio dan pekerja rumah Heru yang sedang menyiapkan meja, entah untuk apa.


"Ke mana?" Viona mengikuti langkah suaminya dengan bingung. Marshal malah mengajaknya ke lantai atas dan masuk ke kamar milik istrinya. "Ngapain ke sini?" Viona sudah harap-harap cemas melihat seringaian licik terbit di bibir suaminya. "Chal?" Viona mundur dengan takut karena Marshal mulai terlihat misterius.


"Di bawah banyak orang. Padahal aku udah gak tahan ...." Marshal menyeringai, melangkah semakin dekat pada istrinya.


"Mau ap-mmph!" Viona tidak bisa menghindar saat Marshal yang cepat menyambar bibirnya. "Chal! Amhh ...." Pangutan suaminya begitu liar dan menuntut. Viona sulit mengimbanginya. Dia mengalungkan kedua tangan di leher suaminya saat pinggangnya dipeluk oleh Marshal, semakin mengikis jarak di antara mereka.


"Chal, ahh, sabar!" Viona berusaha menghindar saat ciuman Marshal turun ke leher. "Chal, mhh ... jangan dibuat, ahh ... merahhh ...."


Marshal tidak peduli dan semakin liar dengan kesenangannya.


_

__ADS_1


Nahloh, Chal! Sabar dikit, dong! Sabar dikit para readers. Cinta baru saja bersambut wkwk😁😁


__ADS_2