Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Maaf


__ADS_3

"Yuk, makan siang! Aku sudah tidak sabar untuk mencicipi bekal buatan istriku," ucap Marshal pada Rio.


Mereka keluar dari dalam lift. Baru turun dari rooftop setelah menyelesaikan sholat dzuhur-nya.


"Babe..."


Baru Marshal akan masuk ke ruangannya, suara panggilan yang sudah tidak asing di dengarnya, memanggil begitu nyaring. Marshal berbalik badan. Amanda dengan senyuman sumbringahnya sedang berjalan mendekat.


"Aku kangen." Amanda memeluk Marshal dengan erat. Beberapa hari tidak bertemu membuatnya merasakan kerinduan yang begitu mendalam.


"Ya, aku juga." Marshal membalas pelukan Amanda tidak kalah erat. "Tumben ke sini? Ada apa?"


Amanda melerai pelukannya. "Kamu sudah makan siang?" tanya Amanda penuh perhatian.


Marshal menggeleng dan tersenyum. "Baru mau makan."


"Makan di luar, kan? Bareng aku ya. Udah lama kita gak makan siang bareng," ajak Amanda dengan manja.


Marshal terdiam. Di dalam ruangannya ada masakan Viona yang sudah menantinya untuk dicicipi. Tapi, dia tidak bisa menolak ajakan Amanda. Dia harus bagaimana sekarang?


"Ayo, aku sudah lapar!" Amanda menarik tangan Marshal yang masih terbengong.


Marshal melirik pada Rio meminta bantuan. Rio malah mengangkat bahu dengan acuh dan masuk ke dalam ruangannya sendiri yang ada di depan ruangan Marshal.


"Ayo, ih! Aku sudah lapar." Amanda sudah tidak sabaran. Menarik-narik tangan Marshal yang belum mau beranjak.


"Manda, lain waktu saja, ya. Ak-"


"Gak bisa. Aku maunya sekarang. Kita jarang makan siang bareng. Udah, ayo!"


"Tapi …."


Amanda tidak menghiraukan penolakan Marshal. Dia tetap menarik Marshal dengan kuat menuju lift dan langsung menekan tombol menuju lobi. Waktu mereka sudah tidak banyak semenjak Marshal menikah.


Amanda tidak bisa terus-terusan bersabar memaklumi waktunya dengan Marshal yang semakin terkikis. Selain mereka yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Marshal juga sekarang lebih banyak di rumah dengan istrinya. Amanda tidak suka hal itu terjadi. Dia tidak mau waktu Marshal terbagi pada wanita lain.


Dengan penuh rasa bersalah Marshal terpaksa menuruti keinginan Amanda. Dia tidak mungkin bisa menolak permintaan Amanda yang sedang manja seperti ini. Tapi, bagaimana dengan masakan Viona yang sudah disiapkan sejak pagi khusus untuknya itu? Marshal ingin memakannya. Tapi, dia pasti kenyang hanya makan siang dengan Amanda.


Mungkin, nanti aku makan saat selesai dengan Amanda. Aku tidak boleh makan banyak supaya bisa memakan masakan istriku, batin Marshal.


Di dalam ruangannya, Rio menggerutu tidak jelas sambil makan sendirian. Masakan Viona yang disiapkan untuknya, memiliki porsi sama dengan Marshal. Dan ini terlalu banyak menurut Rio jika harus dimakan sendirian. Tapi, tak apa. Masakan Viona terasa sangat nikmat.


"Bodh sekali tuan memilih makan siang di luar. Suami macam apa itu? Tidak menghargai usaha istri sama sekali. Kasihan Nona sudah repot-repot menyiapkannya. Eh, dia malah makan siang sama pacarnya. Dasar aneh!" gerutunya lagi.


Rio tidak habis pikir dengan kelakuan Marshal. Sudah punya istri yang sempurna seperti Viona saja, dia masih tetap mempertahankan Amanda yang bahkan tidak ada apa-apanya. Hanya bermodalkan manja saja, untuk apa?

__ADS_1


"Bod*h!" makinya lagi untuk Marshal.


***


"Lho, Rio, tuan mana?" tanya Viona dengan heran melihat Rio yang masuk ke dalam rumah sendirian.


"Tuan tidak pulang bersama saya, Nona. Tadi setelah makan siang, langsung menemui koleganya. Mungkin, sekarang belum selesai," jelas Rio.


"Terus tuan pulangnya sama siapa, kalo kamu udah pulang?" tanya Viona mengikuti langkah Rio menuju dapur.


Rio menyimpan dua kantung Lunch box di atas meja bar. "Mungkin Nona tidak tahu, di kantor ada mobil khusus untuk tuan bawa-bawa sendiri jika ada urusan mendadak. Jadi tuan tidak perlu saya jemput, dia bisa pulang sendiri," ujar Rio santai. Dia duduk di samping meja bar setelah mengambil segelas air putih.


Apa yang Rio katakan memang benar. Tadi saat Marshal sedang makan siang bersama Amanda, Marshal tidak langsung kembali ke kantor karena waktu pertemuan dengan koleganya di luar, sudah mepet. Marshal memilih pergi sendiri untuk menemui koleganya setelah mengantarkan Amanda pulang. Jadi, Rio tidak perlu repot menemani Marshal dan diizinkan pulang duluan. Sedangkan, Marshal sampai sekarang mungkin belum selesai dengan urusannya, makanya dia belum sampai rumah.


"Lho, tuan tidak makan siang?"


Rio yang sedang santai minum, langsung tersedak mendengar ucapan Viona. Dia melihat Viona dengan gugup saat majikannya itu membuka satu persatu kantung Lunch box yang tadi Rio simpan dia atas meja bar, di depannya.


"Kenapa punya tuan masih utuh?" tanya Viona pada Rio yang masih termangu.


Dia harus bilang apa pada Viona? Apa Rio harus mengatakan yang sebenarnya? Tapi Rio tidak berani membahasnya. Dia takut Viona marah. Entah itu marah pada Marshal yang malah memilih makan siang dengan Amanda, atau marah pada Rio yang tidak mencegahnya. Rio bingung menjelaskannya.


"Rio?"


Viona mendesah kecewa. Padahal dia sudah menyiapkannya dengan ikhlas. Tapi, hasilnya tidak memuaskan. "Lain kali, kamu paksa tuan untuk makan siang. Jangan sampai tuan melewatkan jam makan siang lagi!"


Rio mengangguk saja biar cepat. Dia sangat bingung menghadapi Viona sekarang. Kenyataannya Marshal memang makan siang. Hanya saja bukan makan masakan istrinya.


"Nona mau ngapain?" tanya Rio heran melihat Viona yang sedang berdiri di depan kitchen sink. Dia sudah melipat lengan bajunya.


"Mau nyuci ini," sahut Viona. Dia menunjuk peralatan bekas bekal Rio dan Marshal.


Mata Rio langsung melotot. Dia turun dari kursinya dan menghampiri Viona. "Tidak usah, Nona. Biar pekerja lain saja yang melakukannya. Sudah cukup! Nona tidak boleh melakukan pekerjaan seperti ini lagi!"


Viona menatap Rio dengan bingung. Kenapa Rio jadi menceramahinya? "Memangnya kenapa, sih, Rio? Aku hanya membersihkannya."


Rio menggeleng dengan cepat. "Tidak!" tegasnya. "Nona tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi! Untuk apa punya pekerja banyak kalau tetap Nona yang mengerjakannya?"


Viona malah tertawa melihat kemarahan Rio. Dia menepuk pundak Rio dengan gemas. "Gak usah lebay! Tuan juga membolehkan aku melakukannya, kenapa kamu yang protes?"


Rio mendecak dengan kesal. Punya majikan seperti Marshal juga tidak berperasaan. Bisa-bisa dia membiarkan istrinya melakukan hal seperti itu. Di mana perhatiannya? "Sudah, Nona! Jangan diteruskan! Erni! Cepat kemari!"


Viona yang tadinya sudah membasahi tangan, langsung berbalik kembali pada Rio. Dia mendengus kesal. Rio sama menyebalkan seperti Marshal ternyata.


"Suruh pekerja lain membersihkan itu! Biar Nona tidak membersihkannya sendiri," ucap Rio pada Erni yang baru saja menghampiri.

__ADS_1


Erni mengangguk. Melaksanakan perintah Rio. Sedangkan Viona, tatapannya sengit memandangi Rio yang tanpa dosanya malah tersenyum. "Sebaiknya Nona bersantai. Itu bukan perjaan Nona."


Viona menggeram. Satu-satunya orang yang bisa diajak bercanda di rumah itu, ternyata bisa membuatnya kesal juga. "Tuan saja mengizinkan aku melakukan apapun yang aku mau, termasuk mencuci peralatan kotor. Kenapa kamu malah melarangku?"


"Itu karena tuan tidak berpikir dengan baik. Seharusnya dia lebih memperhatikan istrinya," ucap Rio cuek dan meninggalkan Viona begitu saja.


Buang napas kasar. Viona sungguh tidak percaya jika sifat Rio seperti itu. Dia tahunya Rio itu pendiam dan penurut. Ternyata Rio sama halnya dengan Viona yang suka mencibir. Bahkan Rio mengatai tuannya sendiri. Viona kira Rio hanya patuh dan tunduk dengan ucapan Marshal, tidak berani banyak bicara.


***


"Maaf."


Langkah Viona terhenti. Dia kembali menghadap Marshal yang masih berdiri di depan kamar mandi. Dia baru pulang kerja dan bilang ingin segera mandi. Dengan telatennya Viona menyiapkan segala sesuatu untuk Marshal. Tapi, saat dia sudah menjauh dari kamar mandi, Marshal malah mengatakan kata "maaf" membuat Viona tidak mengerti dengan maksudnya.


"Maaf untuk apa, Tuan?" tanya Viona dengan bingung. Dari tadi mereka tidak banyak berbicara. Kenapa Marshal meminta maaf?


Niat untuk masuk kamar mandi, Marshal urungkan. Dia mendekat pada Viona. "Untuk makan siang yang kamu siapkan," ucapnya penuh rasa bersalah.


Viona hanya memandangnya datar. Sudah merasa tidak masalah jika makanannya kembali lagi dengan keadaan utuh. Hanya dia kesal dan marah jika Marshal melupakan jam makan siangnya.


"Maaf, aku tidak memakannya." Marshal menunduk, menatap manik mata Viona dengan sendu. Dia sangat merasa bersalah telah mengabaikan masakan istrinya. Padahal Viona sudah repot menyiapkannya.


Jika saja tadi dia tidak langsung berangkat menemui koleganya, Marshal pasti akan sempatkan untuk memakannya walau sedikit. Tapi waktunya sudah mepet dan dia juga harus mengantarkan Amanda pulang.


"Tidak apa, Tuan. Lain kali jangan melupakan jam makan siang lagi!"


Marshal termangu. Apa Viona mengira dia melupakan jam makan siang? Apa Rio tidak mengatakannya?


"Aku minta maaf. Tapi, aku tadi makan siang," ucap Marshal dengan lirih.


Viona mengernyit. Dia heran dengan ucapan Marshal. "Tuan makan siang?" Marshal mengangguk dengan pelan. "Tapi, kenapa makanan yang-"


"Itulah, makanya aku minta maaf." Marshal menangkup wajah Viona dengan kedua tangannya. Pandangannya teramat menyesal. "Aku tadi makan siang di luar."


Viona memandang Marshal dengam lekat. Pikirnya Marshal memang tidak suka dia siapkan makan siang makanya memilih makan di luar. "Jika Tuan tidak suka saya siapkan bekal, Tuan bilang saja. Besok saya tidak akan menyiapkannya jik-"


"Bukan. Bukan begitu." Marshal menggeleng dengan cepat. "Aku minta maaf. Aku suka kamu menyiapkan makan siang untukku. Tapi, tadi," Marshal terdiam memandangi Viona yang menantikan kelanjutan kalimatnya. Dia takut istrinya malah kecewa padanya. "Amanda mengajak aku makan siang di luar. Aku tidak bisa menolaknya."


Viona terdiam. Dia tidak marah. "Oh, pantas saja masakannya tidak ada yang memakan. Saya kira Tuan tidak suka masakan saya."


Marshal tercengang melihat reaksi Viona yang tenang. Dia kira Viona akan marah atau kecewa padanya. Tapi kenapa terlihat biasa saja? "Kamu tidak marah?"


Viona terkikik. Melepaskan tangan Marshal dari wajahnya. "Untuk apa saya marah? Malahan bagus jika Tuan makan siang bersama Nona Amanda. Berarti Tuan dan Nona Amanda tetap berhubungan baik, kan?"


"Ha?" Marshal ternganga mendengar ucapan Viona.

__ADS_1


__ADS_2