Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Sabar, Chal ...


__ADS_3

Meskipun ada rasa takut dan keraguan, Marshal tetap memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Rahma. Dia ingin pamit untuk pergi ke luar, ada janji temu dengan kliennya. Takut Viona nanti mencarinya, jika dia tidak pamit. Tapi, mungkinkah Viona akan mencarinya? Marshal ragu, jika mengingat Viona yang selalu mengusirnya untuk menjauh.


"Hai, Sayang." Marshal masuk ke dalam, mendapati Viona yang tengah duduk di sofa, kaki berselonjor dan ponsel di tangannya. Melirik ke arah ranjang, Rahma tertidur pulas. "Sedang apa? Kamu sudah makan?"


Viona hanya diam saja, melihat ke arahnya dengan tatapan yang datar. Kemudian, ponsel menjadi pusat perhatiannya.


Sabar, Chal ....


Marshal mendekat pada Viona. Bernapas lega karena Viona tidak langsung mendorongnya untuk pergi dan membentak, mengatakan jika dia benci melihat wajahnya.


Huh, sakit sekali rasanya. Hati berdenyut nyeri ketika Viona berkata seperti itu. Baru sekarang Marshal merasakan jika dia tidak bangga punya wajah tampan. Istrinya saja benci melihat wajahnya yang setampan itu. Jika Viona sudah mengatakan hal yang menyakitkan mengenai wajahnya, kepercayadirian Marshal turun seketika. Dia langsung merasa menjadi laki-laki paling jelek di dunia. Iya, rasanya sedahsyat itu di benci oleh istrinya. Sungguh!


"Aku mau ke luar, sebentar. Ada kerjaan yang harus diurusi. Kamu tidak apa aku tinggalkan?" Dadanya berdebar saat memberanikan tangan untuk mengusap kepala Viona. Takut Viona menepisnya lagi dan langsung melotot tajam. Tapi, tidak terjadi. Marshal mengucap syukur dalam hati. Untung saja kebencian Viona selalu datang tiba-tiba, tidak setiap saat. Jika saja kebencian itu muncul setiap saat, pasti Marshal akan mati. Sepanjang waktu dan sepanjang hari dia tidak akan bisa bertemu dengan istrinya.


Seperti itu memang lebih baik. Marshal masih bisa bertemu, meskipun kadang mendapat usiran mendadak.


"Kamu di sini sendiri dulu, tidak apa? Tadi aku sudah menelepon Michelle. Dia akan ke sini, setelah pulang les tari. Jadi, tidak apa 'kan aku tinggal?"


Viona melirik lagi pada Marshal. Tatapannya tetap saja datar. Apa tidak bisakah Viona tersenyum sedikit saja terhadap suaminya? Marshal sungguh snagat ingin melihat bibir merah muda itu tersenyum kali ini. Gemas sekali rasanya melihat bibir itu. Marshal jadi ingin menerkamnya sekarang juga, jika tidak ingin dengan emosi istrinya.


"Kenapa malah nanya begitu?"


Marshal mengernyit, tidak paham dengan ucapan istrinya. Dia bertanya karena dia memastikan jika Viona memang mengizinkannya untuk pergi. Dia ingin pamit, takut Viona tidak mau ditinggal sendirian.


"Pergilah! Jangan bertanya lagi! Dari tadi juga aku tetap sendiri. Mau kamu pergi ke luar atau ke mana pun, aku di sini tetap saja sendiri."


Benar juga.


Marshal merutuki ucapannya yang salah. Dia mengusap lagi kepala Viona dan mendapat tepisan lembut. Nahkan, mulai lagi.

__ADS_1


"Ya, sudah, aku pergi, ya. Kamu baik-baik di sini. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku!" Marshal menunduk, berniat memberikan kecupan sebelum dia pergi. Tapi, urung. Dia tidak mau digampar istrinya hanya karena mencium sembarangan. Maka dia pun memandang Viona sejenak. "Kiss?"


Tubuhnya menegang seketika, terpaku karena respon Viona. Marshal kira akan mendapat bentakan atau bahkan tatapan tajam dari istrinya saat dia mengkode untuk ciuman. Tidak dapat diduga, ternyata Viona malah memberikan kecupan singkat di pipinya.


Senyuman Marshal terbit seketika. Dia kembali berdiri tegap dan mengusap kepala istrinya lagi, singkat. "Aku pergi, ya. Banyak-banyak makan! Kalau masih mual-mual, panggil dokter. Banyak dokter kandungan di sini yang bisa membantu kamu. Nanti ka-"


"Bawel! Udah sana pergi!"


Nahkan, mulai lagi ....


***


"Katanya, orang hamil suka banyak maunya, Yo. Wanita hamil pasti merepotkan dengan perkara yang disebut ngidam. Tapi, nyonya tidak seperti itu," tutur Marshal, pada Rio yang kini tengah menyetir di belakang kemudi.


"Saya rasa nyonya juga tengah ngidam, Tuan."


Tubuh Marshal condong ke depan. "Apa memang? Dia tidak pernah meminta apa-apa padaku. Nyonya tidak pernah punya keinginan apa pun. Menurutmu, memangnya nyonya ngidam apa?"


"Sialan!" Marshal ikut tertawa saat tawa Rio menggema, mengejeknya. "Mana ada ngidam yang seperti itu."


Marshal menggelengkan kepala sambil tertawa, membayangkan jika sebentar lagi dia akan direpotkan dengan ngidam istrinya. Viona akan menginginkan ini-itu dalam waktu singkat dan mendesak. Dia juga akan meminta hal-hal yang mustahil untuk didapatkan dan konyol untuk dilakukan. Sekiranya seperti itu pengalaman dari dokter Rizwa, ketika istrinya tengah hamil.


Rasanya Marshal tidak sabar menantikan hal itu. Tidak sabar ingin direpotkan dengan istrinya yang banyak mau dan menjengkal dengan tingkahnya. Sekarang usia kandungan Viona baru satu bulan. Maka, terdapat sisa delapan bulan kagi untuk Marshal  memuaskan diri dan menahan darah tinggi untuk menghadapi tingkah istrinya.


Apakah Viona akan terus mengusirnya sampai usia kandungan sembilan bulan? Marshal bergidig ngeri, jika saja hal itu benar terjadi. Dia bisa mati muda hanya karena usiran istrinya.


Rio melirik ke arah spion mendengar sang majikan tertawa sendiri. Khawatir Marshal gila menahan jengkel, Rio menghidupkan musik dengan cukup keras membuat Marshal langsung berhenti dengan lamunannya dan langsung menatap tajam.


"Seorang manusia yang darah tinggi, banyak pikiran dan sering menahan banyak kejengkelan, sangat berpotensi mengidap penyakit kejiwaan, Tuan. Saya takut itu terjadi."

__ADS_1


Marshal melirinya tajam. "Siapa yang kamu maksud, Rio?"


"Hehe ...," Rio memberikan cengiran lebar. "Siapa lagi, jika bukan suaminya nyonya Viona."


Marshal langsung memberikan tatapan berjiwa pembunuh melihat padanya. Rio tidak mempedulikan hal itu, toh dia tidak dapat melihatnya dan fokus menatap ke depan, arah jalanan.


***


"Nanti, jika dia lahir, nama apa yang kalian berikan untuknya?" tanya Michelle mengusap perut Viona dengan lembut dan senyuman mengembang di wajahnya.


Viona tertawa mendengar hal itu. "Dia bahkan masih sekecil.kacang hijau, Chelle. Belum berwujud sempurna. Lagian, aku gak tahu apakah dia perempuan atau laki-laki. Belum berpikir untuk sebuah nama yang pas untuknya nanti."


Michelle ikut tertawa mendengar penjelasan kakak iparnya. Viona benar. Memang terlalu dini untuk membahas hal itu.


Hari sudah sore, bahkan hampir petang, tapi Marshal belum juga kembali. Rahma baru meminum obat dibantu Michelle dan Viona yang menjaga sejak tadi. Rahma nampak semakin membaik. Wajahnya selalu tersenyum dan bahagia ketika membahas masalah perut Viona.


"Mama dulu saat hamil Marshal, pasti minta dibelikan gula-gula warna merah sama papa. Mama suka dengan makanan itu. Tapi, bukan buat dimakan, cuma mama minta sama papa, terus mama buang ke kolam ikan."


Viona dan Michelle tertawa mendengar ceritanya.


"Kenapa dibuang, Ma? Sayang banget, lho itu. Andai aku duluan yang lahir, pasti aku pungutin, terus aku kekepin di kamar. Lumayan buat diemut, kan," ucap Michelle, semakin keras membuat tawa mereka keluar.


"Ya, orang hamil emang seaneh itu. Mama seneng aja kalau melakukannya. Apalagi kalau lagi kesal sama papa. Lemparinnya pasti pake tenaga."


"Wow, pasti pake tenaga dalam, ya, Ma." Michelle menimpalinya lagi. Dia beralih pada Viona yang masih tertawa, membayangkan cerita lucu tersebut. "Kalau Kakak sekarang ngidam apa? Ngidamnya aneh juga, gak? Kayak mama tadi gitu, misalnya."


Viona menggelengkan kepala cepat, sambil tersenyum. Dia memang tidak merasakan ingin sesuatu atau bagaimana selayaknya seorang wanita yang sedang ngidam.


"Belum," sambar Rahma, "kita lihat saja nanti! Kita lihat bagaimana Chal kesusahan sama ngidam anak pertamanya. Pasti seru tuh. Lihat Marshal diusir aja, mama udah puas banget rasanya. Apalagi kalau nanti kamu ngidam minta yang macam-macam. Pasti gelar Marshal rontok seketika, karena sudah tidak punya harga diri."

__ADS_1


Mereka kembali tertawa.


Viona mengusap perutnya, berpikir. Bagaimana nanti ngidamnya? Apa akan seseru cerita wanita lain kebanyakan? Dia harap ngidamnya tidak berlebihan dan sampai membuat banyak orang kesusahan. Melihat Marshal yang muram setiap dia mengusirnya, sebenarnya Viona tidak tega. Tapi, dia mual jika melihat wajahnya lama-lama. Sampai dia selalu merasa benci terhadap suaminya sendiri.


__ADS_2