
Dua hari setelah Marshal mengatakan keputusan sepihaknya, mereka sudah mulai menyiapkan berbagai macam persiapan untuk acara pernikahan. Marshal juga sudah memberitahukan berita mengejutkan ini pada keluarganya. Jelas, keluarga Marshal sangat terkejut mendengar putra mereka akan menikah secara mendadak dan tanpa alasan yang kuat. Belum lagi, Marshal tidak pernah mengenalkan calon istrinya pada mereka, sehingga mereka ragu untuk memberikan restu, terutama kedua orangtuanya.
Rio terheran melihat Viona yang sudah ada di lobi kantor milik Marshal. Lantas dia pun menghampirinya. "Nona? Kenapa Nona di sini?"
Viona yang baru saja akan menanyakan ruangan Marshal pada resepsionis, meengurungkan dirinya untuk bertanya. Menoleh pada Rio dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. "Saya ingin menemui tuan Marshal."
Rio menautkan alis dengan heran. Seingatnya, Marshal tidak pernah mengatakan apapun mengenai Viona hari ini. Dia juga tidak tahu jika Marshal ada jadwal bertemu dengan calon istrinya.
"Nona, apa ada urusan penting?"
Viona berjalan menuju ruang tunggu di dekat meja resepsionis. Dia duduk di sofa diikuti oleh Rio yang masih terheran dengan kedatangannya.
"Di mana tuan Marshal? Saya akan bertemu dengannya?" ucap Viona jutek sembari menyilangkan kakinya. Tadinya dia ingin menampilkan sikap ramah pada Rio, namun jika dipikir kembali, sikap asisten calon suaminya itu sepertinya rada-rada ikut menyebalkan seperti tuannya.
"Apa Nona ada urusan penting? Kenapa tumben sekali Nona kemari?" tanya Rio kembali membuat Viona semakin kesal.
Kali pertama bagi Viona datang ke gedung perusahaan yang megah tersebut. Viona berdecak memandangi Rio yang berdiri di dekatnya.
"Saya datanf untuk menemuinya. Dia yang menyuruh saya kemari, Tuan."
Rio mengernyitkan dahi. "Tuan yang meminta Nona kemari?"
Viona mengangguk dengan yakin. "Eh, bukan. Tuan Marshal hanya meminta saya untuk menemuinya saja hari ini, bukan meminta saya datang ke sini. Tapi, karena saya tidak tahu dia ingin bertemu di mana, jadi saya datang saja ke kantornya," ralat Viona.
Rio mengangguk paham dan mengajak Viona untuk ke ruangan Marshal.
"Tuan ada di dalam, Nona" ujar Rio saat berada tepat di depan pintu ruangan Marshal.
Tanpa bicara, Viona langsung mengetuk pintunya. Setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ruangan yang mempersilakannya untuk masuk, Viona langsung bergegas. Matanya membuka sempurna melihat ke dalam ruangan Marshal. Dia terkejut melihat calon suaminya sedang bersama wanita yang duduk di pangkuannya.
Marshal dan wanita itu menoleh kearah pintu. Sama halnya dengan Viona, Marshal juga kaget melihat kedatangannya. Dia segera menurunkan wanita yang ada di pangkuannya. Wanita itu mendengus tidak suka. Memandangi Viona dengan penuh selidik. Dari atas sampai bawah diperhatikannya membuat Viona sedikit risih.
Viona berdecak pelan. Ternyata calon suaminya sedang asyik bersama dengan wanita. Apa dia sudah mengganggu? Biarkan saja. Bukankah Marshal sendiri yang memintanya untuk bertemu hari ini?
Marshal melirik Viona yang masih mematung di ambang pintu. Di sampingnya Rio berdiri dengan malu. Dia lupa jika Marshal sedang bersama wanita dan malah mengizinkan Viona masuk begitu saja.
"Pulanglah! Aku ada urusan dengannya," ujar Marshal pada wanita itu. Wanita cantik dan seksi itu hanya mengangguk. Mencium pipi Marshal, kemudian pergi dari ruangan tersebut.
Viona yang melihatnya merasa risih sendiri. Berdecih pelan. Ternyata Marshal suka bersama wanita murahan.
"Kemari!" suruh Marshal pada Viona yang masih terdiam.
Setelah Marshal menjentikkan jarinya, Viona pun mendekat, sedangkan Rio keluar dan menutup pintu ruangannya.
Tanpa disuruh, Viona langsung mendudukkan diri pada kursi yang berada di depan Marshal.
"Ngapain kamu ke sini?"
__ADS_1
Viona mendelik jengah. Selain menyebalkan dan suka mengatur, Marshal juga seorang yang pelupa. Dia berdecak memandangi Marshal. "Apa Tuan lupa, bukannya Tuan menelpon saya lewat papa kemarin? Tuan meminta saya untuk menemui Tuan hari ini, makanya saya datang ke sini."
Marshal berpikir sejenak. Mungkin mengingat kembali apa yang Viona bicarakan. Dia menganggukkan kepala setelah mengingatnya. "Kenapa kemari? Kita bisa bertemu di luar."
Viona jadi kesal. Dia datang ke sana karena Marshal tidak mengatakan akan bertemu di mana, tetapi sekarang calon suaminya itu malah menyalahkannya. Apa karena Viona sudah mengganggunya yang tengah bersama wanita tadi, makanya Marshal tidak suka Viona datang ke kantornya?
"Jika Tuan memberitahu di mana tempat untuk bertemu, saya tidak mungkin datang ke sini." Marshal hanya menatap datar sambil terdiam. "Apa saya mengganggu, Tuan?"
"Tidak" sahut Marshal dengan santai kemudian meneguk minuman yang ada di atas mejanya.
"Tapi, sepertinya saya mengganggu Tuan sama wanita tadi yang sedang-"
"Tidak. Sudah kubilang tidak. Tadi kami hanya mengobrol," sangkalnya cepat pada Viona yang ingin menyindirnya. Viona hanya iya-iya saja, padahal dia yakin jika tadi mereka bukan hanya sekadar mengobrol biasa.
"Ada apa Tuan meminta bertemu?"
"Kita akan ke butik hari ini. Fitting baju."
"Pernikahannya beneran tetap dimajuin?" tanya Viona masih tidak percaya.
"Iyalah. Kamu pikir aku becanda dengan ucapanku? Kita tetap menikah minggu depan. Tepatnya 5 hari lagi," tegas Marshal penuh penekanan.
Wajah Viona langsung muram. Dia masih belum siap jika harus menikah. Apalagi ini, dia akan menikah 5 hari lagi? Sungguh menyedihkan!
Mau membantah juga percuma. Marshal tidak bisa dibantah. Dia hanya bisa pasrah sekarang. Dalam waktu 5 hari lagi, dia akan melepas status gadisnya.
"Hm?" Marshal berdiri dari duduknya. Membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Saya meminta keadilan, boleh?" Marshal langsung menoleh pada Viona. Alisnya bertaut, tidak mengerti.
"Tuan tidak menginjinkan saya dekat dengan pria mana pun, sedangkan Tuan ... Itu tidak adil bagi saya, Tuan."
Marshal menyunggingkan senyuman devilnya. "Itu urusanku. Kamu tidak boleh ikut campur urusanku!"
"Jika begitu, Tuan juga tidak berhak mengatur hidup saya. Kita urus urusan kita sendiri tanpa mencampuri yang lain."
"Mana bisa seperti itu. Kamu harus menuruti apa kataku! Tidak boleh membantahku! Urusanku bukan urusanmu. Tapi urusanmu, hidupmu, dan semuanya bisa jadi urusanku. Aku berhak mengaturnya sesukaku. Kamu tidak boleh membantahku!"
Bukan Viona namanya, jika dia tidak menyambar ucapan orang lain yang tidak sesuai dengan keinginannya. Viona tipe orang keras kepala juga sebenarnya. Jika keadilan tidak menuntut padanya, dia pasti akan menuntut keadilan itu sebisa mungkin.
"Tapi, Tuan, seharusnya Anda me-"
"Kamu mau membantahku?"
Nyali Viona menciut seketika melihat tatapan tajam dari calon suaminya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain diam dan menuruti semua perkataan Marshal. Sungguh, kebebasannya sudah tercekat sekarang, bahkan untuk mengeluarkan pendapat pun tidak dibolehkan. Marshal sungguh tidak bisa dibantah.
***
__ADS_1
Siang ini, mereka pergi ke butik milik ternama untuk menyesuaikan baju yang akan dipakai nanti di acara pernikahan. Viona menuruti saja semua perkataan Marshal. Dia tidak mau membantah lagi, karena percuma jika akhirnya dia juga yang kalah.
Viona duduk sendiri di ruang tunggu sambil melihat Marshal sedang mencoba berbagai jas dibantu oleh pegawai butik. Viona sudah selesai mencoba gaunnya yang kata Marshal, sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Dia jadi heran, kenapa Marshal sudah menyiapkan baju pengantin mereka, padahal pernikahan mereka dadakan? Tapi, dia tidak ambil pusing. Viona hanya perlu menuruti semua perintah Marshal dan melaksanakan pernikahan. Selain urusan itu, Viona rasa Marshal tidak akan pernah membiarkannya bersuara.
"Hei, Viona!"
Seseorang menepuk bahu Viona. Putri Heru Pratama tersebut berbalik badan dengan kaget. Senyuman terbit di bibirnya dan langsung berdiri. "Eh, Bayu. Ngapain kamu di sini?"
"Hehe ... biasa, nganter mama," ucap Bayu cengengesan. Viona sampai tersenyum geli melihatnya. Bayu adalah salah satu temannya. Mereka kenal sejak zaman sekolah menengah dulu.
"Tumben, mau nganter. Biasanya juga banyak alesan kalo disuruh sama mama kamu." Gelak tawa terdengar dari mereka berdua. Viona yang memang sudah mengenal dekat siapa Bayu, dia paham bagaimana sifat temannya tersebut.
Laki-laki yang sedang mencoba jas dibantu pegawai butik itu menoleh saat suara tawa renyah terdengar sampai telinganya. Matanya memicing melihat Viona dari jarak yang agak terbatas.
"Di mana mama kamu, Bay?" tanya Viona melirik kiri kanan Bayu.
Temannya itu menarik tangan seorang ibu paruh baya yang sedang berbicara dengan pelayan butik. Ibu itu mendumel kesal pada anaknya, namun senyuman ramah merekah setelahnya.
"Ma, ini Viona," ucap Bayu memperkenalkan.
Senyuman ibu Bayu semakin lebar, berbinar. "Oh, ini yang namanya Viona? Cantik yah. Bener kata Bayu, kamu itu cantik."
Wajah Viona langsung blushing menerima pujian seperti itu. Dia tersenyum malu-malu menyapa ibunya Bayu.
Marshal mendekati Viona tanpa berucap. Dia hanya diam sembari melirik pada mereka yang terlihat berbahagia.
"Pantas saja Bayu begitu suka padamu, Viona. Dia begitu tergila-gila sama kamu. Ternyata kamu sangat cantik."
Viona tertegun mendengar ucapan ibunya Bayu. Berdeda dengan wajah anak si ibu yang kini terlihat malu.
"Ma ...." Bayu memperingatkan dengan lirih.
"Apa, Bay? Memang benar 'kan kamu sangat mencintainya. Bukannya kamu menyukai Viona?"
Viona kembali tertegun. Dia tidak tahu jika Bayu mempunyai perasaan padanya. Selama ini mereka hanya menjadi teman biasa, tidak pernah berlebihan. Namun, tidak disangkanya jika Bayu ternyata punya perasaan terpendam.
Marshal yang baru saja mendekat, membulatkan matanya tajam melihat Viona. Apa lagi ini? Kenapa begitu banyak laki-laki yang menyukai Viona?
"Jika Viona yang jadi pacar kamu, Mama setuju Bay."
"Ma ...."
"Maaf, Nyonya. Tapi, Viona calon istri saya." Marshal langsung melingkarkan tangannya di pinggang Viona. Berucap dengan penuh penekanan. Dia tidak suka miliknya diharapkan orang lain.
Bayu dan mamanya langsung terdiam. Terkejut dengan kedatangan Marshal yang tiba-tiba. Sama halnya dengan Viona. Dia menatap Marshal dengan tajam. Selain kaget, dia juga kesal karena Marshal berani melingkarkan tangan di pinggangnya.
Ibunya Bayu tersenyum kikuk. "Owalah, Bay, ternyata Viona sudah ada yang punya." sergahnya dengan malu, meledek Bayu. Anaknya itu hanya diam memandangi Viona tidak percaya atas apa yang barusan di dengarnya.
__ADS_1