
"Chal ...."
"Kamu kuat, Sayang! Kamu pasti bisa!"
"Sakit ...."
"Ayo, Nyonya, dorong yang kuat!"
"Mama ...!" Viona mengejan kuat, meremas tangan Marshal dengan sangat erat. Kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan dengan keringat yang sudah membasahi pelipis dan keningnya, bahkan hampir seluruh tubuh sudah basah.
"Kamu bisa. Kamu kuat, Sayang." Marshal memberikan dukungan penuh, menemani istrinya untuk melahirkan.
Butuh waktu hingga delapan jam setelah pemberian obat prostaglandin yang dimasukkan ke dalam jalan lahir guna merangsang kelancaran proses keluarnya si bayi. Dan sekarang adalah waktunya. Sudah hampir tiga puluh menit mereka berada di sana, menyaksikan betapa dahsyatnya perjuangan seorang ibu ketika berusaha mengeluarkan anaknya. Marshal tak henti-hentinya melapalkan doa di telinga Viona, memberikannya kecupan, tidak peduli bahu dan tangannya terasa sakit dipakai sebagai pegangan, ketika Viona mengejan.
"Ayo, Nyonya, sedikit lagi! Atur napasnya, ya. Tarik napas ... keluarkan ... ya, begitu terus. Ayo, bayinya akan segera keluar!"
"Chal, Argh ...." Viona mengejan lagi lebih kuat, meremas bahu Marshal dengan sebelah tangan lain saling bergenggaman dengan suaminya. Tangan Viona terasa berkeringat, urat-uratnya terlihat menunjukkan betapa kerasnya dia mengeluarkan tenaga.
"Jangan nangis, Sayang! Kamu kuat!"
Marshal bisa berkata seperti itu, padahal dia juga sudah berkeringat, matanya memanas tidak kuasa ingin menangis melihat istrinya terus kesakitan.
"Aku pernah bilang, wajah kamu jelek kalau nangis. Jadi, jangan nangis, ya. Jangan nangis, Sayang. Kamu bisa. Si Dedek bisa keluar dengan selamat."
"Chal ...."
Air mata Viona malah meluruh kembali, ketika Marshal mengusap wajahnya. Tangan Marshal juga bergerak untuk mengusap rambut yang menempel di kening. Pegangan Viona beralih pada tangan Marshal, semakin kuat dan mulas di perutnya terasa semakin hebat. Bayi di dalam rahim terasa berputar, meremas dan terus mendesak ingin keluar. Sekuat tenaga dia mengejan, melawan rasa sakit dengan pikiran yang sudah tidak karuan. Dia hanya ingin segera mengakhiri semuanya sekarang.
"Sakit, Chal ... Aargh ...."
__ADS_1
Marshal memberikan kecupan dan bisikan doa, semakin erat memberikan dorongan tenaga supaya istrinya bisa menghadapi ini semua dengan cepat. Dia kasihan pada Viona. Tidak tega, jika saja bukan karena kelahiran anak mereka. Marshal bahkan rela untuk menggantikan posisi istrinya saat ini. Pikirannya kacau. Yang dia ingat hanya sosok Rahma dan Lina di kepalanya. Begitu hebat perjuangan mereka ketika saat itu. Dan Marshal baru tahu, ternyata perjuangan seorang ibu ketika melahirkan sangat luar biasa dahsyatnya, hingga semua tenaga yang dia transfer terhadap Viona, rasanya tidak akan cukup untuk memforsir itu semua.
"Ayo, Nyonya, kepalanya sudah terlihat." Dokter berseru girang, menunduk di antara kedua kaki Viona. "Sedikit lagi. Ayo, dorong yang kuat!"
Lantas, Viona pun semakin kuat mengejan lagi. Menarik napas dalam, membuangnya dengan cepat, lalu melakukan dorongan lagi terhadap mulas di dalam perutnya.
"Aaargh ...!"
"Alhamdulillah ...."
Semua orang menangis, mengucap syukur berbarengan ketika suara bayi menggema dari ruangan persalinan. Bahkan Rahma dan Lina sejak tadi tidak pernah lepas untuk berpelukan, saling memberikan semangat menanti kelahiran cucu mereka.
Suasana tegang, mulai terasa menjadi ringan. Mereka menangis penuh haru. Dua keluarga itu saling memberikan selamat satu sama lain sambil menunggu seseorang keluar untuk memberikan kabar gembira.
***
"Ayah tangguh!"
Istrinya sedang ditangani oleh dokter, dipindahkan ke ruang rawat. Marshal disuruh untuk istirahat sejenak, sedangkan Viona ditemani oleh Rahma dan Lina, wanita yang sudah berpengalaman untuk menemani Viona mengurus semua perkara pasca melahirkan.
Masih terbayang bagaimana hebatnya seorang Viona berjuang. Marshal duduk di ruang tunggu, menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah. Dia tidak ingin menangis sebenarnya, tapi air mata terus mendesak untuk keluar hingga dia tidak kuat untuk menahannya lagi. Semua perasaan campur aduk. Haru dan bahagia sudah tentu dia rasakan begitu hebat di dalam dada. Marshal juga tidak menampik, dia kasihan melihat Viona ketika terus kesakitan. Dia bangga punya istri seperti Viona yang sudah berhasil membawa anak mereka lahir ke dunia.
"Kamu ayah yang hebat. Viona juga hebat. Kelak, papa yakin, kalian bisa menjadi orangtua yang teladan."
Telapak tangan Marshal semakin menutupi wajahnya, tidak ingin orang lain melihat bagaimana air matanya kini meluruh membasahi muka. Wisnu mengusap punggungnya, memberikan dorongan energi yang sudah hampir terkuras habis Marshal berikan pada istrinya.
Rasanya tidak sabar untuk melihat anaknya lagi. Marshal baru sekali melihatnya ketika bayi itu baru keluar dan dokter menunjukkannya sebentar saat ditempelkan di dada Viona, masih berlumuran darah. Tidak lama. Karena setelah itu perawat membawa bayi mereka untuk dibersihkan dan Viona juga diurus untuk dipindahkan ke ruang rawat.
Kepala Marshal terangkat. Telapak tangannya mengusap basah di wajah. Mungkin untuk pertama kalinya dia berani mengeluarkan air mata di hadapan orang lain, selain Rio dan istrinya. Sebenarnya dia malu, tetapi cairan bening itu tidak bisa ditahan terus mewakili rasa bahagia yang sudah tidak terbendung lagi.
__ADS_1
"Tuan Marshal bisa masuk. Nyonya terus menanyakan suaminya."
Marshal langsung berdiri ketika seorang perawat datang menghampirinya. Dia melihat dulu keluarga lain sejenak, mendapat izin untuk segera beranjak. Di sana terdapat keluarganya dan juga keluarga Viona, tidak terkecuali sampai dengan Vino dan istrinya, juga Michella yang bahkan masih memakai seragam sekolah. Sepertinya dia buru-buru datang ke sana.
"Sayang ...."
Melihat Viona tersenyum di atas ranjang perawatan dengan wajah lelah yang begitu kentara, Marshal ingin menangis lagi. Tapi, tidak. Marshal bisa menahannya kali ini. Dia menghampiri Viona dengan langkah lemah, senyuman terasa berat untuk disuguhkan.
Wanita kuat yang sudah berjuang berjam-jam di ruang persalinan, mengejam dengan mengerahkan seluruh tenaga, kini dia sudah terlihat lebih baik setelah sempat tidak sadarkan diri karena tenaga sudah habis terkuras untuk mengeluarkan si Dedek.
"Aku lapar," rengek Viona, terlihat lemas.
Marshal sigap, melirik meja yang memang sudah tersedia makanan dan obat yang disiapkan oleh perawat. Lina dan Rahma sudah pamit keluar, membiarkan mereka berdua dulu. Atau mungkin mereka tengah mencari sesuatu untuk keperluan Viona dan anaknya.
Bayi mereka tidak ada di sana, masih ditangani oleh perawat. Mungkin saja dua ibu yang sudah menjadi nenek itu melihat cucu mereka, makanya membiarkan Marshal yang mengurus Viona kali ini.
"Apa masih sakit?" Marshal memperhatikan seluruh tubuh Viona yang terbaring. Dia cemas, mengingat betapa menyakitkannya proses melahirkan tadi.
"Sedikit ngilu, di bawah," Viona meringis pelan. "Tapi gak sakit lagi, kok." Dia tersenyum manis membuat Marshal tidak kuasa untuk memberikan kecupan hangat di keningnya.
Marshal menyuapi Viona dengan pelan, tidak henti mengucapkan terima kasih dan memuji kehebatan istrinya ketika berperang di ruang persalinan. Betapa kuatnya seorang nyonya Marshal. Dia wanita tangguh yang sekarang sudah menjadi seorang ibu.
"Udah." Viona menggelengkan kepala, ketika Marshal menyodorkan suapan lagi. Sudah hampir satu piring masuk ke dalam perutnya, sisa beberapa suapan lagi. Energi Viona memang habis, jadinya dia lahap untuk makan. Tapi, sekarang sudah merasa kenyang.
"Makan lagi, Sayang. Biar pemulihan tenaganya cepat. Masa Mama lemas. Nanti kamu kan mau gendong baby."
Viona terkekeh, mengusap tangan Marshal yang sejak tadi dia genggam. Senyumannya mengembang dan mau menerima suapan lagi dari suaminya.
"Makan yang banyak, ya, Mama."
__ADS_1
"Iya, Papa."