
Nahkan, mulai lagi.
Marshal hanya meringis dan keluar dari kamar tempat ibunya di rawat. Viona mengusirnya lagi. Katanya, dia selalu mual melihat wajah Marshal. Dia kesal dan tidak mau melihat wajah suaminya lagi. Rahma mengatakan bisa jadi karena efek kehamilannya. Tapi, Marshal tidak percaya akan hal itu. Tidak mungkin efek kehamilan sampai tega mengusir suami sendiri. Viona sangat kejam setelah mengandung. Bahkan Marshal hampir darah tinggi dibuatnya yang selalu saja sensitif dan tidak terduga dengan tingkahnya.
Apa semua wanita hamil seperti itu?
Padahal Marshal masih merindukan istrinya. Dia ingin sekali tidur sambil memeluk Viona semalaman, tapi istrinya terlihat tidak mau. Bahkan tiga hari setelah mereka rujuk, tidak pernah sekalipun Marshal bisa tidur dekat dengannya. Viona selalu menghindar dan bahkan tidak mau bertemu dengannya di malam hari.
Aneh memang. Karena Viona mengusirnya tidak setiap saat, hanya di waktu-waktu tertentu, yang tidak bisa diperkirakan seperti barusan.
Sebelum Viona mengusirnya, Marshal tengah asyik memakan buah apel yang dia potong untuk Viona, tadinya. Tapi, Viona tidak mau memakan dan terpaksa Marshal yang memakannya. Dia memakan buah apel itu di depan Viona yang tengah mengajak Rahma untuk mengobrol. Di tengah enaknya rasa apel yang manis dan ada sedikit masam, Marshal tersentak kaget saat Viona melemparkan dompet padanya.
Marshal bangun dan bertanya dengan bingung. Tanpa diduga, Viona langsung membentaknya untuk keluar dan menjauh. Rahma bahkan nampak kaget dengan sikap Viona dan terlihat bingung dengan perubahan sikapnya. Tadi manis, sekarang kejam.
"Wajah kamu nyebelin, Chal! Aku benci!" tutur Viona, ketika Marshal bertanya alasannya, kenapa mengusir Marshal tiba-tiba.
Rahma bahkan terbengong sendiri di tempatnya berbaring, melihat Viona yang marah pada suaminya dan terus saja meminta Marshal untuk menjauh.
Viona suka kadang-kadang begitu. Selalu tidak bisa ditebak bagaimana mood-nya saat ini dan tingkahnya sedetik kemudian.
Marshal jadi termenung di kantin rumah sakit di temani oleh Rio. Dia berpikir sendiri sambil menopang dagu. Bisa jadi, Viona semakin benci padanya setelah Chal junior itu hadir. Bawaan orok, kalau kata orang mengatakan. Tapi, masa iya sampai seperti itu? Kejam sekali jika nyonya hamil.
"Tuan kenapa?" Rio memperhatikan wajah murung suaminya. Marshal meminta ditemani di kantin, tapi tidak sama sekali memakan apa pun, bahkan makanan dan minuman yang sudah dia pesan, tidak dicicipi sedikit pun.
"Baru beberapa hari yang lalu nyonya kembali. Tapi, sekarang dia malah seperti itu, Yo. Setiap aku mendekat, kadang dia bahkan benci dan tidak mau aku berada di hadapannya."
__ADS_1
Rio memandanginya prihatin. Turut bersedih atas tingkah nyonya yang sekarang malah semakin berbeda. Marshal terlihat frustrasi karena hal itu, apalagi setiap Viona mengusirnya, Marshal yang memang merasa rindu dengan sang nyonya, selalu saja menahan diri untuk tidak mendekat.
"Kira-kira, akan bertahan berapa lama sikap nyonya seperti itu, Yo?"
Rio terdiam, memutar bola mata untuk berpikir. Kemudian melihat lagi pada Marshal, dia menggeleng. "Tidak tahu, Tuan. Coba kita tanyakan pada dokter kandungan atau ahli dalam hal seperti ini. Pada laki-laki yang pernah mengalami masa-masa istrinya, mungkin."
Marshal jadi terdiam. Melihat ke arah lain. Arah pintu masuk terdapat dokter tampan yang terlihat masih muda. Dia tahu dokter itu, seorang staf rumah sakit milik Wisnu. Secercah cahaya terang muncul dalam benaknya, dia mengangkat tangan, melambai pada laki-laki berjas putih tersebut.
"Dokter Rizwan!" panggilnya, langsung tepat sasaran.
Orang yang dipanggil menoleh padanya. Jarak mereka sedikut jauh, dia perlu menyipitkan mata untuk memastikan siapa yang memanggil namanya barusan. Setelah dia mengenali sosok itu, dia tersenyum dan melangkahkan kaki ke arah tersebut.
"Tuan Marshal. Apa kabar?"
"Baik. Anda sendiri bagaimana?" Marshal berdiri sejenak untuk bersalaman dan kembali duduk, setelah mempersilakan dokter Rizwan untuk duduk juga di samping Rio.
Marshal tersenyum hangat. "Terima kasih." Dia memanggil pekerja kantin untuk membuatkan pesanan untuk dokter Rizwan, lalu mereka berbincang ringan. Hanya seputar kabar dan keadaan rumah sakit tersebut.
Rio yang sejak tadi hanya mendengarkan perbincangan mereka, dia mulai kesal. Dia tahu apa tujuan Marshal memanggil dokter tampan itu untuk mendekat. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk membahas masalah kehamilan nyonya. Tapi, sepertinya Marshal melupakan hal itu. Haruskah dia memengingatkannya?
Maka, Rio pun melirik pada Marshal, menyiratkan sebuah makna lewat tatapan. Marshal tidak mengerti dan malah memandanginya disertai dahi yang mengernyit dalam.
"Jika boleh tahu, memangnya dokter ini pakar di spesialis bagian apa, ya?" Rio harus mengkodenya sekarang. Marshal berada duduk di seberangnya, sehingga dia tidak bisa membisikan sesuatu di saat Marshal tidak bisa menangkap makna dari sorotan matanya.
Dokter Rizwan menghadap pada Rio, tersenyum sebelum memberikan jawaban, "Saya spesialis jantung. Bekerja lantai yang paling atas, terkhusus kamar dek 8."
__ADS_1
Kepala Rio mengangguk-angguk, melirik lagi pada Marshal yang masih saja tidak menangkap paham dari maksudnya. Marshal hanya memandangi Rio dengan tatapan menerka, apa yang akan Rio lakukan dan apa yang hendak Rio katakan padanya.
"Saya kira spesialis kandungan." Rio tertawa hambar, melirik lagi pada Marshal. Dia menghela napas kasar melihat Marshal baru paham, memberikan senyuman yang terlihat geli sendiri dengan kebodohannya.
Dokter Rizwan ikut tertawa mendnegar gurauan dari asisten suami Viona. "Tidaklah, Tuan. Saya tidak pakar dalam hal seperti itu."
"Hahaha ...." Rio masih memaksakan tawa yang malah terlihat konyol. Dia melirik pada Marshal yang berdehem dan memandang dokter Rizwan dengan serius. Rio membuang muka ke arah lain. Percuma pura-pura cool, tapi lemot, cibirnya dalam hati.
"Bukankah dokter sudah menikah? Ngomong-ngomong, sudah punya keuntungan berapa, nih?" tanya Marshal disertai kekehan guna menghilangkan rasa canggung atas pertanyaannya yang menyerempet jadi kehal pribadi.
"Keuntungan, ya ...," Dokter Rizwan mengangguk-anggukan kepala dan tertawa ringan, seolah perumpamaan yang Marshal berikan mengenai sebutan anak terdengar sangat konyol. "Sudah punya dua. Alhamdulillah. Laki-laki dan perempuan. Yang pertama berusia empat tahun dan satu lagi masih bayi. Baru satu bulan dilahirkan."
"Wah, ternyata masih kecil-kecil, ya. Selamat atas kelahiran bayi barunya." Marshal tersenyum, ikut bahagia mendengarnya. Dia melirik pada Rio yang malah membuang muka. Dalam hati Marshal merutuki asistennya. Lihat saja nanti, jika Rio masih bersikap seolah tidak mau ikut campur dengan urusan kehamilan nyonya, maka Marshal akan mengacuhkannya. Tidak peduli dengan bonus Rio yang belum sempat dia berikan, walaupun sudah dia janjikan beberapa hari belakangan, karena telah mengorek informasi mengenai Viona selama mereka berpisah.
Kembali lagi pada dokter Rizwan. Marshal tersenyum canggung. Dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Dokter Rizwan sudah menikah, sudah mempunyai dua anak. Sudah punya pengalaman menghadapi istri yang tengah hamil. Marshal berniat menjadikannya sebagai narasumber supaya dia sedikit banyaknya paham mengenai kehamilan. Dan supaya dia juga bisa mengerti dengan sikap istrinya yang selalu mengejutkan dengan tindakannya akhir-akhir ini.
"Dokter, bolehkah saya bertanya?" suara Marshal terdengar sedikit memelan. Dia ragu dan malu sendiri, jika harus bertanya seperti itu, apalagi di sebuah kantin yang siapa saja bisa berada di sana. Terlebih, kedudukan ayahnya sebagai pemilik rumah sakit, sudah sangat cukup membuatnya terkenal dna banyak diketahui oleh hampir seluruh pekerja di rumah sakit.
"Dokter sudah berpengalaman dalam hal rumah tangga, sudah pasti banyak pengalamannya. Apalagi sudah mempunya buah hati." Marshal tersenyum canggung pada Dokter Rizwan yang menyimak dengan baik. "Bagaimana pengalaman saat menghadapi masa kehamilan sang istri? Apakah bisa berbagi? Kebetulan istri saya juga sedang mengandung saat ini."
"Pengalaman yang merungsingkannya, ya, maksud, Tuan?" Dokter Rizwan tertawa pelan mengatakan hal itu. "Berapa bulan nyonya mengandung saat ini?"
"Baru awal trimester pertama."
Kekehan dokter Rizwan kembali terdengar. Marshal juga ikut terkekeh meski sudah sangat penasaran.
__ADS_1
"Pasti nyonya sangat sensitif, tentu saja, kan, ya. Dan yang saya alami saat istri saya tengah mengandung ...." Banyaklah semua cerita pengalaman yang dokter Rizwan bagi kepada Marshal dan Rio yang mendengarkan dengan diam.
Lumayan untuk bekal setelah menikah nanti, ucap Rio dalam hati, menyimak cerita dokter Rizwan dengan seksama.