Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Dia Tersinggung


__ADS_3

Marshal menatap sinis wajah istrinya. Jika mengingat masalah itu, dia jadi malu sendiri. Dia yang melarang Viona untuk ikut campur, dia juga yang malah mengubah keputusan seenaknya. Jika dipikir-pikir, dulu Marshal memang terlalu menuruti keinginan Amanda sampai dia rela menduakan istrinya. Eh, atau Amanda yang sebenarnya dia duakan?


"Ehem!" Rio sengaja berdehem untuk menyudahi perang tatapan antara Viona dan Marshal. Suami-istri tersebut langsung melirik padanya membuat Rio jadi salah tingkah sendiri. "Tuan ... em, saya rasa jika berita itu kembali naik, tetap saja akan berpengaruh besar. Dulu, saat berita itu baru muncul, banyak investor kita yang menangguhkannya, kan. Banyak juga yang memutus kerja sama secara sepihak karena tidak mau menjalin kerja sama dengan perusahaan yang pemimpinnya malah berkelakuan tidak baik."


"Tuh, dengar, mereka tidak mau bekerja sama dengan pemimpin yang punya kelakuan tercela!" sindir Viona sambil kembali menyuapi suaminya.


Marshal menatapnya tajam. Viona memang semakin berani dengannya. Sejak tadi, dia terus saja menyindirnya. "Menurutku, tidak masalah, Yo. Aku malah khawatir image perusahaan semakin buruk, jika kasus ini yang malah berkelanjutan."


"Maksudnya, Tuan?"


Marshal meminta minun dulu sebelum menjelaskan, "Berita yang panas saat ini tentang pencemaran nama baik. Mereka mengatakan jika aku menuduh tuan Suryo seenak jidat. Bagaimana jika kasus ini malah jadi boomerang untukku? Mereka bisa saja langsung percaya dengan berita itu dan menganggap kekuasaanku semakin buruk. Image-ku pasti semakin turun. Bahkan mereka tidak ada yang mau menoleh perusahaan kita lagi. Karena mereka pasti akan setuju untuk konfrontasi, jika pemimpin perusahaan Mars Corporation sangatlah buruk. Tidak patut di contoh. Selain tukang selingkuh, aku juga pasti disebut tukang fitnah nantinya."


"Itukan salah kamu sendiri. Siapa yang nyuruh selingkuh? Cih, disalahkan tidak mau. Tapi, aslinya-"


"Apa?" Marshal meraih wajah Viona dengan cepat, manatap tajam mata istrinya. "Jangan dulu ikut campur! Aku sedang serius, Sayang. Nanti kita bahas masalah itu, kalo kamu baru sadar, kamu sebenarnya cemburu, 'kan aku pacaran sama Amanda? Sekarang mending diam dulu! Aku sedang bicara dengan Rio."


Nah, kan, sifat menyebalkannya kambuh lagi. Jika seperti ini, Viona merasa Marshal memang lebih baik sakit. Meskipun dia manja, tapi Marshal tidak akan berani menuntutnya seperti saat ini jika sedang lemah.


Viona akhirnya memilih diam. Dia hanya menyimak percakapan mereka, tidak ikut berkomentar lagi. Takut Marshal malah menegurnya dan dia akan kesal sendiri nantinya.

__ADS_1


"Aaa ...." Marshal membuka kembali mulutnya, meminta Viona untuk menyuapinya lagi di sela diskusinya dengan Rio.


Bukan menuruti keinginan suaminya, Viona malah memasukkan sendok yang berisi salad ke dalam mulutnya sendiri membuat Marshal melotot tidak terima. Dengan polosnya, Viona malah tersenyum geli sambil mengunyah. "Habis kamu serius sama Rio. Aku kira udah gak mau makan lagi. Debat sama Rio pasti bikin kenyang juga, kan."


Marshal terus memelototinya. "Kenapa kamu jadi seperti ini? Aku sedang serius, tapi kamu malah terus saja mengajak aku bercanda? Apa susahnya tinggal suapi aku lagi? Kamu niat gak, sih, layanin suami?" ucapnya dengan nada pelan namun penuh penekanan.


Viona akhirnya menunduk, menyimpan mangkuk salad di atas meja. Senyumannya surut seketika. Tidak bicara lagi, dia langsung berdiri. Sebelum pergi dia melihat pada Marshal sejenak, kemudian melirik pada Rio. Asisten suaminya itu hanya melihatnya datar. Viona melihat lagi Marshal yang masih menatapnya. Dia segera memalingkan pandangan, berlalu pergi dari sana.


"Sayang?" Marshal jadi merasa bersalah. Tadinya dia hanya ingin membuat istrinya kesal, tapi Viona sepertinya bukan hanya kesal. "Dia kenapa? Apa aku terlalu kasar barusan?" Marshal bertanya pada Rio.


Laki-laki yang ditanya malah mengedikkan bahunya. Rio hanya diam melihat Marshal yang berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Sesekali dia menegang kepalanya dan berhenti sejenak, kemudian melangkah lagi. Kepala Marshal pasti masih sakit jika dia berjalan. Sangat terlihat dari ekspresi majikannya yang sesekali meringis.


"Sayang?"


Viona tidak menghiraukan suaminya yang terus saja mengikutinya. Marshal mencoba meraih tangannya, Viona malah menepisnya dengan kasar.


"Sayang, apa aku terlalu kasar? Kamu sakit hati?" Marshal menggapai lagi tangan Viona. Istrinya duduk di tepi ranjang, enggan melihat padanya. "Aku minta maaf. Aku gak maksud buat marahin kamu. Aku becanda. Maaf."


Viona segera menarik tangannya yang akan dicium oleh Marshal. Dia mendengus dan segera berdiri. Marshal ikut berdiri dengan pelan. Dia mengikuti Viona yang malah duduk di balkon. Dia kembali membujuknya dan meminta maaf, tapi istrinya masih diam, tidak mau melihat padanya lagi.

__ADS_1


"Jangan marah! Aku minta maaf, ya!"


Marshal pikir ucapannya tidak akan membuat Viona seperti ini. Sekarang melihat istrinya yang tidak mau bicara dan malah menghindarinya membuat Marshal menyesal telah mengatakan hal tadi. Padahal kata-katanya tidak terlalu kasar. Tidak disangka akan menyinggung hati istrinya. "Sayang, jangan marah!" Marshal sudah seperti pengemis cinta. Duduk bersimpuh di hadapan Viona dengan rasa penyesalan yang sangat dalam.


Viona meliriknya sejenak. Tatapannya terlihat sangat sinis dan dia kembali melihat ke arah lain.


Marshal tidak tahu harus bagaimana membujuk Viona. Dia tidak tahu istrinya jika marah harus diperlakukan seperti apa supaya marahnya cepat selesai. Sampai malam menjelang, Marshal hanya bisa terus mengintilinya ke mana pun Viona pergi. Dia terus meminta maaf, tapi istrinya tidak kunjung buka suara. Bahkan sudah tidak melayaninya lagi. Terpaksa Marshal makan dan minum obat sendiri. Viona masih marah dan terus saja mendiamkannya.


"Mau ke mana?"


Sudah waktunya tidur, tapi Viona malah membuka pintu kamar. Dia keluar tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya. Marshal sudah berbenah di atas ranjang, akhirnya dia turun kembali dan segera menyusul istrinya. Untung saja kondisinya semakin membaik, sehingga tidak terlalu kesusahan lagi jika banyak berjalan. Hanya tinggal sakit-sakit sedikit. Suhu tubuhnya juga sudah kembali normal.


"Sayang, kenapa malah ke sini?" Marshal sudah was-was melihat Viona yang malah membuka pintu kamar miliknya dulu. "Sayang?" Dia menahan Viona yang baru saja akan masuk ke dalam sana.


Viona hanya diam, meliriknya dengan tajam. Dia menghempaskan tangannya kasar supaya terlepas dari cengkraman Marshal.


Putra Wisnu Atmadinata tersebut terlihat semakin bingung menghadapi sikap istrinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi pada Viona supaya dia bisa dimaafkan. "Kenapa malah ke sini? Ayo, tidur, sudah malam!" ajak Marshal yang malah dibalas sinis oleh istrinya. Apa yang Marshal pikirkan ternyata memang benar Viona lakukan.


"Aku akan tidur di kamar ini. Kita pisah kamar. Sudah, sana, aku mau tidur!" Viona menjawab ketus, mendorong pelan tubuh Marshal supaya jauh darinya. Dia segera masuk, menutup pintu dengan cepat sebelum Marshal kembali mendekat.

__ADS_1


"Sayang, buka!" Marshal memutar handle pintu, tapi tidak bisa. Viona menguncinya dari dalam. "Sayang, jangan seperti ini! Aku minta maaf! Aku gak mau pisah kamar lagi. Sayang! Sayang, buka! Ck!" Marshal frustrasi sendiri menghadapi kemarahan Viona. Ternyata istrinya jika sudah marah, malah semakin susah digapai. "Sayang? Kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini!"


__ADS_2