
"Viona?"
Gadis cantik bergaun putih yang sedang berdiri di pinggir kolam, di tengah-tengah taman penuh bunga tersebut berbalik badan. Senyuman manis tersungging di bibirnya kala melihat orang yang memanggil namanya barusan.
"Sendi?" Dia berlari dengan perasaan senang yang teramat dalam, menghampiri laki-laki yang juga memakai pakaian serba putih. Tuxedo lengkap seperti pengantin pria yang sedang berbahagia. "Akhirnya aku bisa bertemu sama kamu."
Mereka berpelukan penuh kasih sayang. Sama-sama saling mencintai dan saling merindukan satu sama lain. Sendi mengusap kepala Viona penuh sayang. "Aku sangat merindukanmu, Vi."
"Aku juga."
Suasana taman penuh dengan berbagai bunga indah, di tengah-tengah terdapat pasangan yang berbahagia sedang memadu kasih penuh cinta. Mereka terlihat begitu senang memancarkan sebuah rasa yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan kata, tidak mungkin bisa dibuktikan dengan suatu kejadian. Hanya bisa dirasakan oleh orang yang sama-sama merasakan rasa yang tidak jauh beda.
Sendi melepaskan pelukannya membuat Viona mendongak dengan heran. "Maafkan aku, Vi. Aku senang kita bertemu lagi, tapi maaf, aku harus pergi. Jaga diri kamu baik-baik, ya!"
"Pergi?" Viona memandangi wajah Sendi yang mulai pucat. "Kamu mau ke mana? Kita baru saja bertemu, Sen."
Senyuman hangat terukir dengan menawan di wajah Sendi yang tampan. Dia mengusap kembali kepala Viona dengan pelan. "Kita mungkin tidak bisa bertemu lagi, aku harus pergi."
"Tapi ke mana? Aku gak mau ditinggal sendirian, Sen."
"Ke suatu tempat. Aku mohon, jaga diri kamu baik-baik setelah aku tidak ada, ya! Bahagialah dengan kehidupanmu yang sekarang ... tanpa aku."
Viona menggeleng dengan cepat, matanya sudah berkaca-kaca. "Tidak, aku tidak mau kamu pergi. Aku mau hidup sama kamu, Sen. Kita pasti bisa bersama." Buliran bening meluruh dari mata Viona. Melihat Sendi penuh rasa tidak rela. "Aku mohon, jangan pergi! Aku mencintaimu, kita akan hidup bersama."
"Tapi kamu sudah menikah, Vi. Tidak ada kesempatan-"
"Ada, Sen," potong Viona dengan cepat. Menatap mata Sendi sedalam-dalamnya. "kita masih bisa bersama. Aku akan mengakhirinya, demi hidup bersama kamu. Aku rela meninggalkan dia, asalkan bisa kembali sama kamu." Viona kembali memeluk Sendi dengan erat. Berat untuk melepaskan karena tidak rela untuk merasa kehilangan. Dia tidak mau Sendi pergi darinya.
Tangan Sendi menyambut pelukan Viona dengan tak kalah erat. Mengusap punggung sang pujaan hati penuh kelembutan. "Tapi, aku harus pergi, Vi."
Tangis Viona semakin pecah. Mendekap Sendi erat, menyurukan wajah penuh air mata pada dada laki-laki yang sedang dipeluknya, menggelengkan kepala. "Tidak, Sen. Tetaplah bersamaku! Aku tidak mau kamu pergi, kita akan bersama selamanya. Aku sayang kamu, jangan tinggalkan aku!"
____
Pertama kali membuka mata, pandangannya putih, berubah menjadi buram dan samar-samar mulai terlihat ada cahaya silau menajamkan mata. Perlahan Sendi menggeleng pelan kepalanya yang terasa begitu berat dan sakit sekali. Tidak tahu sekarang berada di mana. Hanya terdengar suara teriakan yang langsung menyapa kesadarannya.
__ADS_1
"Dokter, anak saya sudah siuman ...!"
Itu suara Fatma, dia ingat betul suara itu. Ibunya mendekat padanya dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata, beberapa kali mengucapkan syukur. Sendi hanya diam, masih berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.
Setelah beberapa kali ibunya memencet tombol darurat yang ada di samping ranjang pasien, dua orang berbaju putih masuk ke dalam ruangan tersebut. Satu laki-laki, yang segera mengecek tubuhnya dan satu lagi perempuan yang setia membantu si dokter untuk memeriksa.
"Syukurlah, Sendi sudah sadar, Nyonya," ucap seorang dokter laki-laki tersebut pada Fatma.
***
Dibukanya pintu secara perlahan, Marshal masuk ke dalam kamar dengan membawa banyak makanan. Terlihat Viona masih di atas ranjang dengan selimut menutupi sampai kepalanya. Marshal sampai menghembuskan napas dengan kasar melihat istrinya. Viona jika sudah marah, ternyata lama sekali. Dia baru tahu dan baru menyadari, jika sifat diam Viona lebih menakutkan daripada kehilangan sepuluh prosen saham yang dimilikinya.
"Sayang, sarapan dulu, ya," bujuk Marshal mendekat pada Viona yang masih belum mau menampakkan dirinya.
Mulai sekarang, Marshal bertekad untuk mengambil hati Viona. Dia akan memperbaiki semuanya, meskipun dia tetap tidak rela jika Viona menjenguk saingannya. Dia akan membujuk dengan cara lain, asalkan Viona tidak jadi pergi ke rumah sakit. Marshal masih belum rela, jika istrinya bertemu dengan Sendi.
Dengan penuh keraguan, Marshal mendekat ke ranjang setelah menyimpan makanan yang dibawanya di atas meja. Perlahan menyentuh tubuh Viona yang masih terbalut selimut, Marshal mengusap bagian lengan istrinya dengan pelan. "Makan dulu, ya," bujuknya lagi. Viona tetap masih menutup diri. "nanti sakit kalau tidak makan."
Marshal sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan. Jika Viona diam, dia benar-benar ketakutan. Dia selalu ingin bersikap manis pada istrinya, jika sudah melakukan kesalahan, namun dia sendiri kadang masih tidak bisa membebaskan Viona begitu saja.
Apakah benar, dia hanya terobsesi pada Viona?
Sampai saat ini Marshal sudah bisa sedikit melupakan tentang Amanda, meskipun belum berani menemuinya langsung dan memutuskan hubungannya. Tapi, dia mencoba menghindari Amanda sebisa dia untuk melakukan perbaikan terhadap pernikahannya. Itu artinya, Viona lebih berarti dari Amanda, bukan? Tapi, lagi-lagi Marshal bingung. Perasaannya saat ini tidak bisa disimpulkan dengan satu kata atau kalimat. Dia harus bisa benar-benar meyakini dahulu perasaannya sampai dia bisa melepaskan Amanda sepenuhnya dan fokus pada istrinya.
"Sayang," Marshal membuka selimut yang menutupi kepala Viona. Dia sampai menelan ludah karena Viona menatapnya dengan dingin. "sarapan dulu, ya."
Viona tidak menanggapi, memandanginya tanpa ekspresi. Marshal sudah bingung harus bagaimana lagi untuk membujuk Viona supaya bersikap biasa kembali. Bukan hanya renggang, hubungannya dengan Viona malah semakin terasa begitu jauh. Sebelumnya, Viona memang sudah kuat membatasi diri dari Marshal, dan semalam pertahan benteng yang membatasinya itu semakin kokoh dia bangun karena mungkin marah pada Marshal yang melarangnya untuk pergi ke rumah sakit. Dan pemaksaan yang Marshal lakukan, sehingga membuatnya ketakutan, itu juga menjadi faktor yang melatarbelakangi perubahan sikap Viona.
"Mau aku suapi?" Viona tetap diam. Tidak mengeluarkan suara dan juga tidak bergerak. Marshal kembali menelan ludahnya. Suasana yang tercipta begitu terasa menyiksa menghantam diri. "Jangan diam saja, setidaknya berikan aku tanggapan."
Viona bergerak dan menyibakkan selimut dari tubuhnya. Marshal tersenyum senang, Viona pasti mau sarapan setelah ini. Dia segera berdiri dan membantu Viona untuk bangun dengan memegang lengannya. Namun, Viona malah menepis tangannya dan kembali memandanginya dengan tatapan yang sangat Marshal tidak sukai.
"Ayo, sarapan dulu, Sayang!"
Alih-alih menuruti perkataan suaminya, Viona justru melengos begitu saja masuk ke dalam kamar mandi. Marshal menghela napas pelan melihat sikap Viona yang kian dingin. Perubahan yang sangat drastis. Dia lebih suka Viona yang membantahnya daripada diam seperti itu. Rasanya tidak enak, jika hanya dianggap patung oleh istri sendiri.
__ADS_1
Apa sebaikanya dia mengalah? Marshal tidak rela Viona mencemaskan Sendi. Tapi, dia juga tidak mau Viona terus bersikap seperti itu padanya. Marshal tahu, kesalahannya pada Viona bukan hanya tentang larangannya untuk pergi ke rumah sakit, namun juga tentang kenekatannya yang membuat Viona ketakutan. Marshal akui dia memang salah. Dengan cara apa dia bisa menebusnya, Marshal tidak tahu.
Sekeluarnya dari kamar mandi, Viona menuju jendela yang mengantarkan pandangan ke luar melalui balkon. Berdiri di sana masih diam seribu bahasa. Dengan tekadnya, Marshal mendekat penuh keraguan. Menggapai dan mengusap bahu Viona penuh kelembutan.
"Makan dulu, ya! Setelah ini aku akan pergi, menjenguk anaknya rekan bisnisku."
Viona menoleh dengan cepat padanya. Pandangannya dalam menembus mata Marshal guna memastikan apa yang diharapakannya. Marshal tersenyum dengan terpaksa. Kembali mengusap bahu Viona dan segera membalik tubuh istrinya supaya mereka bisa berhadapan.
"Jika mau sarapan, aku akan mengajakmu pergi ke sana. Bagaimana?"
Pandangan Viona menghangat. Marshal tidak bilang akan menjenguk siapa, tapi harapan Viona sangat yakin, jika yang Marshal maksud adalah Arga, ayahnya Sendi. Apakah saat ini Marshal mengizinkannya untuk menjenguk Sendi? Viona senang sekali, jika apa yang Marshal maksudkan adalah hal yang dia inginkan.
Senyuman masih terpatri di bibir sang suami yang mengusap lembut pipi istrinya. Tidak ada penolakan maupun tangan yang menepis, menghentikan ulahnya. "Setelah sarapan, kita pergi ke sana." Terpaksa Marshal mengalah. Biarlah hatinya tidak suka, daripada dia harus tersiksa menghadapi sikap dingin istrinya. "Aku mengizinkanmu menemui dia, asal kamu tidak lagi diam padaku. Aku tidak suka jika didiamkan, maka bersikaplah hangat mulai sekarang."
Viona menilik keseriusan Marshal dengan menatap mata suaminya dalam-dalam. Tidak ada sorot tipuan dari mata suaminya, Viona akhirnya mengangguk. Dia hanya ingin menemui Sendi untuk saat ini. Kecemasannya terhadap Sendi tidak bisa diredam sejak semalam, sehingga Viona sangat sulit untuk tenang. Belum lagi, masalahnya dengan Marshal yang malah semakin ruyam. Viona benar-benar stress memikirkannya sampai saat ini.
Senyuman Marshal semakin lebar terukir, senang karena Viona mau meresponnya lagi. Mengalah demi menuruti keinginan istri sangatlah sulit dia lakukan. Terlebih keinginan Viona itu membuatnya tidak suka dengan hati yang mendadak jadi panas. Untuk kali ini saja, tak apa. Marshal hanya mau hubungannya dengan Viona kembali baik-baik saja.
"Mau sarapan apa, hm?" Marshal menarik tubuh Viona ke arah sofa, di meja sudah tersaji makanan yang tadi dibawanya. Viona menurut saja, meskipun belum banyak bicara. Tapi, Marshal bahagia, setidaknya Viona tidak lagi mengacuhkannya. "Mau aku suapi makannya?"
Viona yang baru duduk, memicingkan mata melihat suaminya. Sikap Marshal hari ini terasa aneh baginya. Bukan hanya panggilan manis dan kalimat lembut yang Marshal ucapkan, tapi perilakunya juga terasa berbeda. Viona tidak boleh terlarut dalam sikapnya, Marshal mungkin melakukan hal itu untuk membujuknya yang sedang marah. Biasanya seperti itu dan setelahnya Marshal akan kembali pada sikap aslinya. Viona tidak terlalu mempedulikan hal itu untuk sekarang. Yang dia pikirkan hanya Sendi, dia ingin segera melihat keadaannya.
"Kenapa?" tanya Marshal dengan heran, karena Viona terus saja memandanginya. "Kamu tenang saja, aku akan mengizinkan kamu menjenguknya." Viona tetap tidak bergeming, Marshal menghela napas sejenak. Viona pasti masih meragukan ucapannya. "Aku janji, Sayang! Benaran, kamu bisa menjenguknya. Tapi, setelah selesai sarapan, ya."
Viona hanya diam. Dia memang masih ragu, karena tidak percaya jika Marshal akan berubah pikiran secepat itu. Dari semalam dia tidak membolehkannya untuk menjenguk Sendi sampai mereka berselisih dingin. Tapi, sekarang dengan entengnya dia bilang boleh. Viona sungguh tidak mengerti dengan isi pikiran suaminya sendiri. Tak apalah, yang penting dia bisa menjenguk Sendi.
"Mau aku suapi?"
Viona menggeleng, namun Marshal malah menyodorkan sesendok makanan ke depan mulutnya.
"Aaa ... buka mulutnya, Sayang!" Viona tetap menggeleng, Marshal tidak mau menyerah. "Aku sepertinya belum pernah menyuapimu. Jadi, biarkan untuk saat ini aku melakukannya!"
"Aku bisa makan sendiri." Viona masih saja menolak saat sendok tersebut sudah di depan bibirnya.
Marshal justru memasang senyuman hangat, memaksa Viona supaya mau dia suapi. "Makanlah, Sayang, aku tidak suka penolakan!" Viona menahan tangan Marshal supaya tidak menyodorinya lagi, namun Marshal bersikukuh, "Mau makan aku suapi atau tidak jadi pergi?"
__ADS_1
Dengan sedikit mendengus sebal, Viona terpaksa membuka mulut untuk melahap suapan dari Marshal. Dia lakukan semata-mata supaya bisa pergi ke rumah sakit. Tidak ada hal lain yang menjadi alasannya menuruti perintah Marshal, karena masih marah dan benci terhadap suaminya.
"Istri baik. Aku suka jika kamu menurut seperti ini, Sayang." Marshal tersenyum lebar, mengusap puncak kepala Viona dengan penuh perhatian. "Sarapan yang banyak, ya! Aku tidak mau kamu sakit."