Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Ternyata Hanya Obsesi


__ADS_3

"Sejak aku bilang, 'mulai sekarang aku yang berkuasa' itu adalah titik awal pengetesan aku terhadap kamu. Tapi, ternyata uji cobaku tidak kamu sadari, karena kamu tetaplah kamu yang sama. Tidak ada perubahan yang benar-benar berubah dari diri kamu. Kamu menurut hanya di awal, karena tidak mau aku pergi. Lalu, akhirnya kamu kembali pada sikapmu yang semula, melarang dan tidak percaya dengan apa yang aku lakukan."


Marshal menyandarkan punggung di kursi kerjanya dengan pikiran kalut. Jadi, dari kemarin, Viona mengujinya? Marshal sama sekali tidak menyadari hal itu. Kenapa juga Viona harus melakukan hal itu padanya? Jika hanya untuk mengujinya, berarti ucapan Viona terhadap Sendi tadi, itu hanya omong kosong? Tidak serius Viona inginkan, begitu?


Kepala Marshal ingin pecah rasanya, memikirkan cara berpikir Viona memang sulit. Entah apa yang istrinya inginkan, Marshal tidak bisa menebak jalan pikirannya. Viona kadang menurut, kadang berkata bijak, kadang juga membantah dan tidak jarang, ucapannya mampu membuat Marshal tertohok, bahkan tidak mengerti sama sekali.


"Tuan?" panggil Rio entah untuk keberapa kalinya. Marshal tidak fokus, diajak bicara mengenai proyek yang di luar kota, dia malah terus melamun.


Sekarang mereka berada di ruangan kerja Marshal yang ada di rumahnya, setelah tadi mengantarkan Viona untuk pulang sebentar dan sekarang istrinya sedang berada di rumah Rahma. Keluar dari rumah sakit, mereka memang sempat berdebat hebat dan sampai saat ini Marshal belum bisa melupakannya. Padahal Viona sudah tidak lagi bersamanya. Setelah berselisih paham, Viona memaksa minta diantarkan ke rumah Rahma. Dia takut ibu mertuanya kesepian dan juga kasian, sedang sakit jika ditinggalkan terlalu lama, katanya.


Marshal menuruti permintaan istrinya yang ingin diberikan waktu untuk tidak bertemu. Jujur saja, Marshal pun masih bingung dengan apa yang Viona rencanakan. Istrinya bilang, dia masih ragu terhadap Marshal dan sekarang sangat membencinya. Tetapi, Viona tadi sempat bilang,


"Kamu bilang mencintai, tapi yang aku lihat hanya obsesi," ucap Viona lemah, melihat ke arah depan. "Hidup bersama orang yang hanya terobsesi bisa menyiksa diri. Aku mau, kita menjalani pernikahan saling mengerti dan saling pengertian dengan kemauan masing-masing. Tidak ada yang egois maupun terlalu mengekang."


Apa itu artinya Viona memberikan Marshal kesempatan untuk berubah? Jika benar, berarti uji coba Viona adalah ingin melihat keseriusannya dalam mengubah sikap dan memperbaiki rumah tangga. Marshal memang sudah berniat untuk melakukannya. Dia sudah memantapkan hati untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan memperbaiki hubungannya dengan Viona. Tapi, ternyata Viona masih meragukannya. Lalu apa yang harus Marshal lakukan supaya Viona percaya dan yakin, jika dia benar-benar ingin memperbaiki rumah tangganya? Dengan cara apa Marshal harus membuktikannya?


Sebenarnya Marshal ragu dengan pemikirannya sendiri, tapi dia tetap berdiri. "Rio, kita pergi sekarang! Lupakan dulu masalah kerjaan, aku harus membereskan masalah bersama nyonya."


Rio mengernyit dalam melihat Marshal keluar dari ruangan kerja tanpa peduli dengan kebingungannya. Diliriknya dokumen di tangan, data proyek yang sedari tadi Rio ocehkan di depan Marshal. Dokumen itu Rio lemparkan dengan kesal pada meja. Capai-capai dia membacakannya, tapi ternyata Marshal tidak menyimaknya. Lalu untuk apa tadi Marshal menyuruhnya untuk memeriksa dokumen itu, jika akhirnya dia tetap memikirkan istrinya.


Viona benar, Marshal tetaplah Marshal. Rio setuju dengan pendapat istri majikannya. Dengan langkah lebar, dia menyusul Marshal dan mereka pergi ke rumah Wisnu.


Marshal tetap diam hingga sampai di kediaman orangtuanya. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar Rahma, karena dia duga, Viona pasti berada di sana. Dan benar saja, saat Marshal masuk, Viona sedang membantu Rahma untuk meminum obat.

__ADS_1


"Ma, aku pinjam mantu Mama sebentar, ya." Dia menarik tangan Viona cepat untuk berdiri dan keluar dari sana. Tidak menghiraukan reaksi kaget dari ibu dan istrinya yang sangat terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.


Viona menolak untuk dibawa, Marshal tidak peduli dan terus menariknya untuk keluar dari kamar Rahma menuju halaman belakang. "Aku sudah paham sekarang," ucapnya, tetap menahan tangan Viona untuk berada di dalam cengkramannya. "kamu melakukan hal itu ... karena kamu mau melihat perjuanganku, kan?"


Viona tercengang, langsung menarik tangannya hingga terlepas dari tangan Marshal. Suaminya terlihat begitu yakin dengan ucapannya. Viona sampai menghela napas kasar melihat tatapannya yang kian menghunus tajam.


"Dengan cara apa aku harus membuktikannya, Ra, supaya kamu tahu jika aku serius mau mempertahankan kamu? Kenapa kamu masih ragu dengan perjuanganku?"


Viona diam memandangi Marshal. Suaminya sudah bisa memahami apa yang dia inginkan dan sekarang dia mengutarakan semuanya. Tebakan Marshal memang tidak salah, Viona masih meragukannya karena dia tidak mau menjalani pernikahan dengan orang yang hanya mempermainkan sebuah pernikahan.


Marshal membuang napasnya dengan kasar, melihat Viona dengan lekat. "Oke, aku sadar sekarang," katanya dengan nada penuh keyakinan, "aku memang tidak bisa menjadi suami seperti yang kamu harapkan. Kamu menangguhkan aku, karena kamu berpikir jika aku hanya mempermainkan pernikahan ini, bukan?"


Meraih tangan Viona dan menggenggamnya erat ditaruh di depan dada. "Aku berubah. Itu yang kamu mau?" Viona hanya diam memandangi tangan dan wajah suaminya bergantian. "Baik, aku akan berubah. Demi kamu, aku akan melakukan apapun. Kita jalani pernikahan ini dengan benar. Jangan ada sandiwara lagi! Apa perlu aku juga membongkar semuanya di depan keluargaku? Membuka semua kebohongan yang masih aku tutupi, supaya pernikahan kita benar-benar tanpa rahasia."


Embusan napas Marshal terdengar kasar. Viona masih diam, tidak menyela dan tidak tahu kenapa Marshal mengatakan hal seperti itu. "Aku gila, Ra," Marshal menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "aku gila karena mungkin apa yang kamu katakan itu benar. Aku hanya terobsesi sama kamu."


"Kamu benar, obsesi yang aku punya ini ternyata menyiksa kamu. Aku terlalu terobsesi sama kamu, bukan benar-benar mencintai kamu." Tangannya semakin erat meremas tangan Viona menempel di dadanya. "Jika kamu meragukan perjuanganku terhadap rumah tangga kita, maka aku akan membuktikannya dari awal."


Ditariknya tangan dengan pelan, Viona memandangi Marshal dengan tatapan tenang. "Kenapa kamu begitu yakin jika itu yang aku maksudkan? Baru dua jam waktu terlewat, cepat sekali kamu menyimpulkan."


"Karena aku yakin, kamu sebenarnya masih mau mempertahankan pernikahan kita, hanya saja kamu ragu dengan sikapku yang seperti ini." Alis Viona terangkat, apa yang dia tembakkan ternyata tepat sasaran. "Kamu tidak benar-benar mau kembali pada laki-laki itu, tapi kamu hanya ingin melihat bagaimana cara aku mempertahankanmu. Bagaimana cara aku berjuang demi memperbaiki pernikahan kita. Itu yang kamu mau 'kan, makanya kamu melakukan semua kegilaan ini?"


Samar, Viona mengangguk pelan. Ternyata dia punya suami yang sangat cerdas sekarang. Marshal akan berpikir jika dia disakiti terlebih dahulu ternyata.

__ADS_1


"Kamu mau aku menyadari bagaimana sikapku sendiri terhadap kamu?" Lagi, Viona menganggukkan kepala. "Kamu mau aku mengerti dengan apa yang aku lakukan dan apa dampaknya terhadap orang lain. Kamu mau melihat seberapa besar keinginanku untuk mempertahankan pernikahan kita. Kamu mengujiku karena kamu ingin meyakinkan, jika pernikahan kita bisa diperbaiki."


Viona mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat, menahan tangan Marshal yang memegang kedua bahunya. "Iya, itu yang aku mau," ujarnya dengan tegas. "Itu yang aku harapkan, itu yang aku inginkan. Sebuah pernikahan tidak akan berjalan lancar jika tidak saling mengerti dan saling memahami. Aku melakukan semua ini hanya ingin membuat kamu paham dan mengerti, jika pernikahan kita harus dijalani dengan benar, tidak seperti sebelumnya. Aku memang benci terhadap sikap kamu, tapi jika kamu serius ingin mengubahnya, aku bisa memaafkan. Hanya dengan cara ini aku bisa menyadarkan kamu apa artinya sebuah pernikahan."


Embusan napas Marshal terdengar seperti semburan. Mendongakkan wajah ke atas dengan perasaan lelah. "Jika hanya mengharapkan seperti ini, kenapa kamu sampai membuat kepalaku pecah dilanda kerumitan, Sayang ...?" Sekali lagi, Marshal membuang napas kasar dan memandangi Viona dengan lekat. Memegang kedua bahunya dengan gemas. "Itu berarti kamu masih mau memperbaiki semuanya denganku?"


Viona mengedikkan bahu. "Semua tergantung kamu. Dari awal aku memilih kembali, kamu pasti sudah tahu jawabannya, bukan?"


Mata Marshal membulat sempurna dengan binar harapan indah. Senyuman singgah merekah di bibirnya. "Berarti ucapanmu pada laki-laki itu ... benar-benar tidak serius?"


Viona mencebik, memandang Marshal dengan jengah. "Awalnya serius, tapi jika kamu sungguhan untuk ... ya, mungkin tidak akan pernah aku lakukan."


Dengan bahagia Marshal memeluk tubuh Viona. Mencium puncak kepalanya beberapa kali sampai Viona mendengus kesal dan memukul tubuhnya dengan cukup keras. "Terima kasih. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk tetap bertahan dalam rumah tangga kita. Aku berjanji akan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Sikapku dan juga apa yang aku rasakan." Marshal melepaskan pelukannya, menangkup wajah Viona dengan kedua tangan. "Kamu mau 'kan, mengubah obsesi ini menjadi cinta? Kita awali semuanya dari awal. Kita tanam benih cinta mulai sekarang. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi aku tetap berharap kamu bisa berubah perasaan terhadapku."


Viona hanya diam memandangi Marshal. Dia tidak yakin bisa melakukan hal itu. Viona termasuk orang yang sangat sulit mengalihkan perasaan, terbukti dari rasa cintanya terhadap Sendi yang tumbuh dan berkembang selama ini.


"Sayang, kamu mau kan?" Marshal mulai tidak sabar menanti jawaban, menguyel-uyel pipi istrinya. "Kita awali semuanya dari nol lagi. Pacaran sambil menjalani pernikahan dan aku berjanji akan berubah demi kamu. Kita akan sama-sama mencoba untuk mengenal cinta yang sesungguhnya."


Viona tetap diam dengan pandangan yang sulit diartikan. Marshal mulai cemas, takut Viona tidak mau sejalan dengan keinginannya.


"Sayang?"


Viona menggeleng pelan. Entah kenapa, keraguan malah kembali hinggap dalam dirinya. "Beri aku waktu untuk berpikir."

__ADS_1


Marshal berdecak kesal. "Tidak perlu berpikir, aku sudah tahu ke mana pikiranmu itu. Kamu yang menguji dan sekarang aku sudah paham dengan apa yang kamu maksudkan. Itu berarti kamu mau ... 'kan?"


Sehat dan bahagia selalu, ya, kalian. Rezeki kalian semakin melimpah di tahun baru inuπŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜Š


__ADS_2