
"Kenapa? Apa ada info terbaru dari Rio?"
"Semua baik-baik saja."
"Chal?"
"Semuanya baik-baik saja, Sayang." Marshal tersenyum hangat, menyimpan ponsel ke laci nakas dan menyusul istrinya untuk segera berbaring di ranjang. Setidaknya, malam ini dia bisa tidur sedikit lebih tenang. Urusan ancaman Amanda sudah bisa ditangani dengan baik. Ingatkan dia untuk memberikan hadiah kepada Rio. Asistennya sudah terlalu banyak membantu sampai semua masalah tuntas. Rio sangat berguna, Marshal bersyukur mempunyainya.
"Ssts ... semua baik-baik saja, Sayang. Sudah, ayo tidur!"
Viona menekuk wajah. Baru saja dia ingin bertanya, tapi Marshal malah menyangkalnya lebih dulu. Padahal dia sangat ingin tahu.
"Amanda sudah diamankan polisi. Rio membawanya ke tahanan. Mungkin besok aku akan melihatnya."
Viona berbalik cepat, melihat suaminya yang berbaring miring di belakang. Raut wajahnya terlihat bingung dengan banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan. Tapi, Marshal malah memeluknya erat membuat Viona tersentak dan berontak, tidak mau. Marshal tidak melonggarkan pelukannya membuat Viona merasa sesak.
"Aku mengantuk, tapi kalau kamu ingin menghabiskan malam dengan kesenangan, tidak masalah aku rasa."
Tangan Viona memukul keras tubuh Marshal. Melihat seringaian licik dari bibir suaminya, Viona jadi sebal. Marshal mulai memperlihatkan sisi kemesumannya. Dia bergidig ngeri merasakan embusan napas Marshal menerpa wajah.
"Tadi udah, ah! Chal!" Viona mendorong keras tubuh Marshal. Dia tidak mau disosor bagian leher, tapi Marshal tidak mempedulikan protesannya. "Chal!"
"Itu tadi. Aku mau sekarang."
"Gak mau!" Viona menggeliat seperti cacing kepanasan menghindari serangan Marshal. Dia bahkan menggeram keras, kesal terhadap suaminya yang kembali buas.
__ADS_1
"Oke-oke, kita tidur." Marshal terkekeh sendiri, melonggarkan pelukannya. Dia berhenti menggoda Viona, sebelum istrinya murka. Baiklah, dia harus menahannya. Viona tidak akan selalu siap, jika dia minta. Marshal.juga seharusnya tidak memaksa. Lagian sudah tadi siang sampai sore. Meskipun Marshal ingin mengulanginya malam ini, tapi dia juga merasa sudah cukup. Kasihan Viona jika kelelahan dua kali dalam sehari.
"Tangannya diam!"
"Baik, Sayang."
***
"Selalu saja begitu. Gak boleh inilah, itulah, nyenyenyenyenye ...."
Rio mengernyit bingung melihat Viona yang baru saja turun dari tangga terus menggerutu. Marshal mengikuti langkahnya dari belakang, berusaha untuk mengajak istrinya bicara. Beberapa kali tangan Marshal menggapai tangan Viona, tapi terus menerima tepisan kasar.
Ada apa dengan mereka, pagi-pagi sudah terlihat tidak akur?
Rio memperhatikan keduanya dengan penasaran. Viona pergi ke dapur mengambil sebuah minuman coklat dingin dari kulkas. Marshal mengikutinya terus mengoceh, memohon entah untuk apa, mengajak Viona bicara tapi tidak dipedulikan.
"Tapi, aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Kamu tahu aku bagaimana, kan."
Rio menggelengkan kepala melihat Viona yang terus dibuntuti oleh Marshal. Dia heran sendiri, kadang mereka terlihat romantis sampai membuat jiwa Rio iri, tapi sering juga terlihat tidak akur seperti saat ini sampai Rio pusing melihatnya.
"Aku gak mau!" Viona melotot tajam, menyimpan botol kaca berisi minuman cokelat dengan kasar di atas meja bar, menimbulkan suara benturan keras antar kaca. "Kamu selalu aja begitu." Wajahnya terlihat kesal.
"Semua yang aku lakukan demi kamu. Demi kebaikan kamu."
"Terserah!" Viona beranjak dari dapur, membawa semangkuk salad buah yang sudah disiapkan oleh Erni untuknya. Dia berjalan cepat menuju ruang keluarga dan Marshal masih setia membuntutinya.
__ADS_1
Rio masih memperhatikan mereka dalam diam. Dia sudah lapar ingin sarapan, sebelum berangkat bekerja. Tapi, drama pagi ini terasa membingungkan dan mulai menarik. Sayang jika dilewatkan.
"Sarapan duluan, Yo!" Marshal melewati Rio begitu saja, menyusul langkah istrinya. Dengan pakaian yang sudah rapi, siap untuk berangkat ke kantor, Marshal sepertinya masih sibuk berbicara dengan Viona. Berusaha membujuknya untuk bicara baik-baik, entah tentang apa, Rio tidak tahu apapun.
Kedua majikannya menghilang, setelah belokkan menuju ruang keluarga. Rio menggelengkan kepala lagi, menghela napas pelan dan pergi ke ruang makan. Lebih baik dia sarapan duluan, seperti titah Marshal. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Paling lima menit lagi, mereka sudah baikkan. Ya, Rio harap seperti itu.
Tapi, ternyata harapannya salah. Marshal masuk ke ruang makan seorang diri. Dia duduk bersebrangan dengan Rio yang sudah menyantap makanannya sedari tadi. Raut wajah Marshal terlihat frustrasi. Entah ada masalah rumit apalagi yang terjadi di anatara dia dan istrinya.
"Kenapa aku punya nyonya yang sangat keras kepala? Dia selalu saja tidak mau kalah dariku dalam segala hal," ucap Marshal entah bicara pada siapa.
Rio memperhatikannya bingung sambil mengunyah. Marshal mengambil makanan terlihat stress. Tidak tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Sesekali dia mengembuskan napasnya kasar, sebelum menyantap sarapan paginya dengan tenang.
"Sayang, cepat kemari! Temani aku sarapan!" teriak Marshal keras sebelum menyuapkan sendok kedua.
"Tidak mau!" sahutan Viona terdengar lebih pelan, penuh nada penolakan yang ditekan. Memang ruang makan dan ruang keluarga jaraknya dekat, hanya terhalang satu belokkan. Jika berteriak, sudah pasti orang yang berada di sana bisa mendengarnya.
Rio memperhatikan lagi raut wajah Marshal. Suami Viona terlihat kesal sekarang. Dia mengunyah kasar, mengembuskan napas seperti orang kalap akan oksigen. Ada masalah apalagi dengan mereka? Kenapa Marshal terlihat begitu tersiksa?
"Yo, nyonya marah karena aku tidak mengizinkannya ikut ke kantor polisi. Dia ingin bertemu Amanda, katanya. Untuk apa kurasa. Dia memaksa dan akhirnya kita berselisih lagi. Bagaimana menurutmu?"
"Bagaimana apanya, Tuan?" Rio terlihat bingung, menyimpan sendok untuk fokus menghadap pada majikannya. "Memangnya kenapa jika nyonya ingin ikut?"
Marshal malah mendengus. "Untuk apa dia ikut? Jika dia bertemu Amanda, menurutmu apa yang akan terjadi? Aku takut, Amanda semakin menaruh dendam nantinya."
Rio memilih tidak berkomentar apapun lagi. Dia kembali menyantap sarapannya, sesekali mengangguk mendengar pembicaraan Marshal tentang istrinya.
__ADS_1
"Nanti berangkat lewat pintu belakang supaya dia tidak tahu. Aku tidak mau dia ikut," bisik Marshal, sedikit condong ke arah Rio.