Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kecemasan


__ADS_3

Perasaan Viona tidak nyaman saat ini. Seperti ada yang mengganjal di hati, tapi dia tidak tahu kenapa bisa seperti itu.


"Ness, aku pulang aja, ya. Udah Maghrib juga."


Aness memberengut tidak boleh. Viona baru satu jam berada di rumahnya, tapi sekarang dia sudah mau pamit pulang. "Bentaran ajalah, Vi. Udah lama lo gak main di sini. Lagian suami lo juga gak ada, kan."


Itulah masalahnya. Viona teringat terus dengan Marshal. Dia tidak tahu sedang apa suaminya saat ini. Perasaannya tidak nyaman mengingat Marshal yang sangat jauh darinya. "Aku pulang aja, deh. Kapan-kapan ke sini lagi, ya."


"Ya, udah, deh. Lo pulang sama siapa?" Terpaksa Aness mengizinkan, meskipun dia belum puas bersama Viona.


"Egi nungguin dari tadi sama satpam rumah kamu. Aku pulang sama dia."


Aness menganggukkan kepala dan mengantar Viona sampai ke pintu utama. "Hati-hati, ya! Kalo udah sampe rumah, kabarin!"


"Iya. Bye, Ness! Maaf aku mampir cuma sebentar."


"Gak apa-apa. Besok juga bisa main lagi, kan."


Viona berpamitan dengan Aness. Dia memanggil sopirnya untuk segera pulang. Dalam perjalanan pulang pun pikirannya tertuju pada Marshal. Viona tidak enak hati memikirkan suaminya. Dia memutuskan untuk menghubungi Marshal dan menanyakan keadaannya. Namun, panggilannya tidak ada yang mendapat sambutan. Viona semakin gundah. Dia gelisah sendiri sampai tidak sadar jika mobilnya sudah berhenti di depan rumah.


"Iya. Baik, Yo. Baik."


Sekilas Viona mendengar Egi yang menerima panggilan dari Rio saat membukakan pintu mobil untuknya. Viona melihat Egi yang tampak serius berbicara lewat telepon. Pikirannya langsung tertuju pada Marshal. Perasaannya semakin tidak karuan. Buru-buru dia masuk ke dalam rumah dan menghempaskan badan ke kasur. Dia mengambil lagi ponsel dan menghubungi suaminya. Namun, tidak bisa dan malah kini nomor Marshal tidak aktif.


Ke mana dia? Sedang apa? Apa dia baik-baik saja? Viona semakin terusik dengan perasaan yang lambat laun mulai tidak bisa dia kendalikan. Dia mencoba menghubungi nomor Rio, namun sama. Tidak mendapat jawaban. Ada apa dengan mereka berdua? Viona sangat mencemaskannya. Dia hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa terhadap Rio dan juga suaminya.


Sedangkan di tempat yang terus dicemaskan Viona, kini terjadi kekacauan besar. Kebakaran sudah berhasil dipadamkan, meskipun lumayan lama karena api merambat dengan cepat. Semua orang panik dan berhambur saling membantu dan juga menyelamatkan diri. Untung saja resort tersebut sudah ditutup untuk pengunjung, sehingga saat kebakaran susulan terjadi, jumlah orang tidak terlalu banyak, tidak membuat kepanikan meningkat dan api bisa cepat teratasi.


"Handphone-ku mati, Yo," keluh Marshal menunjukkan ponselnya pada Rio. Dia ingin menghubungi seseorang, tapi tidak bisa.


Untung saja dia bisa selamat dari kobaran api, saat dia menerobos masuk ke dalam kamar untuk mengambil cincin nikahnya. Marshal berhasil mengambilnya dengan cepat. Saat keluar kamar, dia terkejut melihat banyak orang sudah menanti dirinya. Semua berteriak histeris supaya Marshal tidak nekat untuk masuk. Dan betapa leganya semua pegawai saat melihat bos mereka keluar dengan selamat, meskipun Marshal keluar dengan keadaan pucat dan terus terbatuk-batuk. Dia terlalu banyak menghirup asap di dalam, sehingga saat Marshal keluar, banyak orang yang segera menggendongnya menuju ruangan yang aman.

__ADS_1


"Lebih baik Tuan istirahat! Biar saya yang menghubungi tuan besar." Rio memberikan segelas air pada Marshal. Dia menemani majikannya yang baru sadarkan diri. Marshal sempat pingsan karena pernapasannya terlalu sesak dengan asap. Tapi, untungnya saat ini dia sudah mulai membaik. Dokter sudah memeriksanya. Dan kini dia berada di kamar lain yang lebih aman jauh dari tempat kejadian.


Marshal masih saja terbatuk-batuk melihat Rio yang beranjak untuk menghubungi Wisnu. Satu-satunya orang yang bisa membantu dengan cepat adalah ayahnya. Marshal yakin, Wisnu punya detektif hebat untuk menyelidiki kasus ini. Marshal sudah lelah dan geram dengan kejadian yang terus terulang dua hari ini. Dia cukup kewalahan menghadapi masalah yang bahkan hampir meregang nyawanya. Jika saja Rio tidak membangunkannya tadi, mungkin sekarang nyawa Marshal sudah tamat dilahap si jago merah.


Di tengah keterpurukannya, Marshal sampai diinfus. Dia mendapatkan perawatan ekstra sampai sempat dioksigen sebentar. Dia melirik jemari tangannya yang dia angkat ke atas. Marshal tersenyum tipis melihat jari manisnya yang kini sudah terisi kembali. Dia mencium cincin nikahnya sangat lama. Matanya memburam mengingat wajah Viona.


"Sayang, aku baik-baik saja. Kamu jangan cemas berada di sana!"


"Chal!" Viona memeluk erat guling dalam dekapan. Dia tidak bisa fokus untuk hal lain. Pikirannya tidak enak terus terbayang wajah Marshal. Dia cemas karena suaminya sulit dihubungi. Marshal ke mana? Dia sedang apa? Viona tidak akan bisa tenang sebelum dia tahu keadaan suaminya.


Dia mengambil kembali ponsel, mendial nomor Marshal masih dengan harapan mendapat jawaban. Namun, nihil. Nomornya tidak aktif. Siapa lagi yang harus dia hubungi? Sejak tadi dia menelepon Rio, tidak bisa terhubung. Nomor Rio selalu saja sibuk, sedang dalam panggilan lain.


Dengan setitik harapan tersisa, Viona menekan nomor asisten suaminya. Dia menyimpan ponsel begitu saja di kasur setelah dia mengaktifkan loudspeaker. Sembari menunggu panggilan tersambung, Viona membenamkan wajah di guling dalam dekapannya. Dia menyerah. Panggilan tidak kunjung tersambung.


"Chal, kamu ke mana?!" Viona menjerit keras penuh nada cemas. Dia memukul-mukul kasur penuh tenaga.


"Halo, Nyonya?"


"Emm ...."


"Rio! Kalian gak apa-apa, kan?" Viona geram karena Rio yang malah terdiam. "Rio, kamu dengar aku, kan?"


"I-iya, Nyonya. Kami baik-baik saja. Kenapa?"


"Jangan berbohong! Kalian kenapa? Apa yang terjadi? Kalian gak apa-apa, kan?" Viona tidak percaya dengan ucapan Rio. Dia merasa tidak enak hati. Apalagi mendengar Rio yang menyahut dengan gugup. Pikiran Viona semakin kalut. "Rio!"


Tidak ada suara Rio dari seberang sana. Hanya terdengar suara orang bisik-bisik dan suara gemerasak. Debar jantung Viona semakin tidak beraturan. Perasaan cemasnya semakin meningkat. Dia terus memangggil Rio dengan tidak sabaran.


"Sayang?"


"Chal? Kamu baik-baik aja, kan?" Viona senang luar biasa bisa mendengar suara suaminya. Dia sedikit bernapas lega mengetahui suaminya masih bisa bersuara. "Kamu sedang apa? Di sana baik-baik aja?"

__ADS_1


"Aku baik, Sayang. Kamu kenapa? Aku baik-baik saja di sini."


"Aku kepikiran sama kamu, Chal. Kamu benaran gak apa-apa? Aku cemas. Dari tadi gak bisa tenang, keinget kamu terus." Viona sudah mulai berkaca-kaca. Setetes air luruh begitu saja tanpa disuruh. "Aku takut kamu kenapa-napa." Tangisnya tumpah seketika sambil mendekap erat guling di tubuhnya.


"Hei, Sayang, kenapa malah nangis? Aku tidak apa-apa. Sungguh, aku baik-baik saja."


"Aku takut kamu kenapa-napa, Chal. Aku khawatir." Viona menyusut idungnya. Air mata terus mengalir membuktikan bahwa dia benar-benar khawatir. "Katakan, kamu gak kenapa-napa, kan?


"Aku baik, Sayang. Sungguh! Sudah, jangan menangis! Aku di sini baik-baik saja."


"Jangan bohong! Tapi, aku gak percaya kamu baik-baik aja." Viona mengusap matanya dan segera mengalihkan panggilan ke vidio. Yang pertama dia lihat adalah pemilik ponsel. Rio tersenyum canggung padanya. Wajahnya juga terlihat sedikit pucat. "Tuan mana?" Viona masih tersedu-sedu saat ini.


"A-ada."


"Mana? Aku mau lihat dia."


Lama Rio memandang arah lain, alisnya mengisyaratkan seperti sedang berbicara. Sesekali mulutnya juga komat kamit. Viona tahu, Marshal berada di sana sekarang. Viona kembali cemas, kenapa suaminya tidak mau menerima panggilan vidio darinya? Apa Marshal benar baik-baik saja?


"Chal, aku mau lihat kamu!" Viona berteriak keras ke arah layar ponsel. Dia menangis lagi karena kesal, layar tidak kunjung menunjukkan wajah suaminya.


"Sayang, aku baik-baik saja."


Viona semakin keras menangis melihat wajah suaminya yang pucat. "Kamu kenapa?" Marshal malah menggeleng dan memberikan senyuman dibuat-buat. "Chal, jangan bohong! Kamu kenapa?"


"Aku baik-baik saja, Sayang. Sungguh! Kamu lihat 'kan, aku tidak kenapa-napa."


Viona tidak percaya. Melihat Marshal yang sedang setengah berbaring dengan wajah yang pucat, dia jadi khawatir. Perasaannya mengatakan, pasti telah terjadi sesuatu terhadap Marshal. Mata Viona terbebelak kaget melihat tangan suaminya yang terangkat saat mengusap pelipis. "Tangan kamu diinfus? Kamu kenapa?"


"Ng-nggak, Sayang. Mana ada infusan. Aku baik-baik saja." Setelah mengatakan itu panggilan terputus.


Viona kesal bercampur cemas yang tidak bisa tersalurkan dan berakhir dengan tangisan yang kembali ia keluarkan. Dia terus mencoba menghubungi nomor Rio lagi. Namun tidak mendapat jawaban dan malah nomornya sekarang tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Marshal!" Dengan ketakutan, dia memukul bantal. Menyalurkan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.


__ADS_2