Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Viona Menyosor Marshal


__ADS_3

"Hufh! Padahal aku tuh belum mau pulang."


Marshal membalik badan hendak masuk ke ruang ganti begitu mendengar suara Viona. "Jika belum mau pulang, terus kenapa kamu gak nolak pas aku ajak pulang?" Marshal melihatnya kesal. Mendengar Viona berbicara seperti itu, seolah-olah dia yang memaksa untuk segera pergi.


"Ya, kan, kamu bilang, 'kita pulang. Ada orang yang ingin menemui aku di rumah'. Jadi, aku ikut pulang aja. Mana mungkin juga aku di sana, sedangkan kamu pulang ke sini." Viona mencebikkan bibir, duduk di tepi ranjang memperhatikan Marshal yang berdiri di depan pintu ruang ganti.


Suaminya terlihat mengehela napas dalam. Menggeleng pelan dan masuk ke dalam sana. Tidak lama kemudian, Marshal keluar sudah berganti pakaian dengan yang lebih rapi. Viona meliriknya menilai. "Katanya orang itu mau datang ke rumah. Kenapa harus memakai pakaian serapih itu?" Dia hanya heran saja melihatnya.


Tapi, Marshal mengartikan lain. Dia mengira Viona tidak suka, jika dia memakai pakaian seperti itu. Marshal hendak berbalik badan untuk mengganti pakaian lagi. Ponsel berdering membuat Marshal mengurungkan niatnya dan lebih memilih mengangkat panggilan dan keluar dari kamar.


Melihat suaminya yang pergi, Viona mendengus sebal. Mungkin karena mood-nya yang naik turun hari ini, sehingga dia gampai sekali kesal dan tidak jelas menyikapi suaminya sendiri.


"Sayang ak-"


"Apa?!" Viona melirik tajam, langsung menyentak melihat Marshal yang kembali masuk ke dalam kamar. Baru saja dia akan berbaring di atas ranjang, Marshal sudah mengganggunya.


"Kamu kenapa?" Marshal berjalan masuk ke dalam kamar. Melangkah pelan serta memberikan tatapan aneh pada Viona. Dia mengambil dompet yang tertinggal di laci nakas, masih memperhatikan Viona yang terlihat kesal di ranjang. Marshal pun menghampiri dan duduk di sampingnya. "Kenapa, hm? Apa aku buat salah?"


Viona hanya terdiam membuat helaan napas Marshal terdengar keras. "Aku harus pergi ke luar. Orang yang ingin bertemu, ternyata tidak jadi datang ke rumah. Dia malah mengajak untuk bertemu di restoran terdekat. Bagaimana?" Melihat Viona yang masih terdiam, Marshal mengusap wajahnya. "Apa aku boleh pergi?"


Viona hanya memberikan anggukan samar dan melepaskan diri dari Marshal.

__ADS_1


Dia merebahkan tubuhnya, berbaring miring dan mulai memejamkan mata. Namun, satu tangannya terangkat untuk mengusap perut. Tiba-tiba Viona meringis.


Melihat hal itu Marshal jadi cemas. Dia ikut mengusap perut Viona, memperhatikannya khawatir. "Kamu kenapa? Sakit?"


Viona mengangguk pelan, mengusap-usap perutnya sambil sesekali meringis. Rujak pedas yang dia makan di rumah Lina tadi yang membuatnya seperti itu. Ditambah dengan siklus haid yang memang selalu membuat perut mulas. Dia hanya ingin diperhatikan. Mendengar Marshal akan pergi, sakitnya malah semakin menjadi. Padahal sejak tadi, Viona bisa menahannya dan terlihat baik-baik saja.


"Apa perlu ke dokter?"


Viona menggeleng. Sedikit menekan perutnya yang malah semakin mulas. Mulas yang rutin di rasakan oleh kaum hawa memang sedikut banyaknya cukup menyiksa.


"Mau minum obat?"


Viona menggeleng lagi membuat Marshal semakin khawatir padanya. Marshal tidak jadi beranjak dan malah memeluk tubuh Viona. "Makanya, aku bilang jangan terlalu pedas," omelnya pelan seperti bisikan, "Sakitnya karena rujak atau memang menstruasi?"


Marshal langsung terdiam. Mata membulat terkejut dengan apa yang Viona lakukan padanya. Tidak menyangka karena Viona menyosor duluan.


"Diam! Aku gak mau ada yang berisik. Jangan mengomel! Nanti juga baik lagi. Ini gak akan lama."


Marshal menjilat bibirnya sendiri merasakan sisa bibir Viona. Baru saja dia akan bergerak, memakan umpan, Viona sudah menghentikan bungkamannya. Padahal kesempatan yang bagus. Tapi, Viona memang hanya berniat membungkam, bukan memberikannya kenikmatan.


Raut khawatir masih menyelimuti Marshal. Melihat Viona yang meringkuk seperti bayi, Marshal kembali memberikan pelukan padanya. Berharap sakit Viona bisa cepat hilang. Dia tidak tega melihat wajah Viona mengernyit disertai ringisan seperti itu. Marshal tidak tega dan tidak mau melihatnya. Selain ringisan malam pertama mereka.

__ADS_1


***


Pertemuan dibatalkan secara mendadak. Marshal lebih memilih menurunkan harga diri, meminta maaf sebesar-besarnya pada klien yang sudah berjanjian untuk bertemu dengannya di restoran terdekat. Viona kesakitan. Marshal tidak tega meninggalkannya sendirian.


Dan hari sudah berganti malam. Viona masih tertidur dalam pelukan Marshal. Sesekali dia menggeliat dan meringis. Keningnya juga berkeringat dingin. Marshal kasihan melihanya. Apa semua wanita merasakan datang bulan seperti itu? Selama ini dia kurang memperhatikan Viona. Karena sejak awal menikah mereka pisah kamar, baru beberapa bulan belakangan mereka benar-benar tinggal satu kamar. Marshal jarang tahu Viona kedatangan tamu. Sekarang dia mengetahuinya sejak awal dan merasa tidak tega.


"Sayang, bangun! Makan dulu!" Diusapnya pipi Viona dengan lembut, istrinya hanya menggeliat. Sejak siang Viona tidak mau makan dan sekalinya ingin makan, dia mau yang pedas. Marshal tidak mengizinkan. Perutnya saja belum membaik. Dan dia juga tdi sempat membaca artikel, jika orang sedang haid tidak boleh memakan makanan pedas. "Makanannya dibawa ke sini. Mau, ya?"


Viona menggeleng. Menarik tangan Marshal supaya memeluknya lagi. Dan satu tangan lainnya dia tuntun untuk mengusap punggung bagian bawahnya. Hal itu terasa nyaman bagi Viona. Sakitnya tidak terlalu terasa, jika dia diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


Marshal tidak membantah. Dia mengusap bagian-bagian mana saja yang bisa membuat istrinya nyaman. Viona sedang dalam mode manja. Justru Marshal malah senang. Dia merasa dibutuhkan dan lebih dekat dengan Viona. Jika seperti itu, Marshal jadi tahu, Viona juga wanita yang memang punya kelemahan. Tidak banyak keras kepala dan sangat suka diperhatikan seperti wanita lainnya.


Satu kecupan mendarat di kening Viona. Marshal menciumnya hangat dan lama. Tangannya tidak berhenti mengusap punggung Viona dan terus melafalkan doa supaya sakit Viona cepat mereda dan segera hilang.


"Chal ...." Viona bergumam, semakin mengeratkan pelukan.


"Iya, Sayang, kenapa?" Marshal menunduk dan kembali mengecup kening istrinya.


Viona mengangkat wajah. Terlihat pucat dan kelelahan. Bibirnya tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.


Cup!

__ADS_1


"Makasih." Kedua tangannya melingkar ke leher Marshal. Viona menyurukan kepala untuk kembali bersandar di dada suaminya. Dia memejamkan mata, tidak peduli dengan reaksi Marshal yang mendapat hadiah luar biasa.


Tubuhnya tegang, terkejut. Marshal tidak menyangka Viona akan melakukan itu padanya. Seulah senyum terbit. Inikah indahnya cinta? Semakin hari Viona semakin terbuka, semakin dekat dan semakin menyayanginya. Viona terlihat tulus dan penuh perhatian. Marshal berharap kehangatan ini bisa berlanjut sampai tua. Hanya mau yang memisahkan.


__ADS_2