
"Pokoknya, perketat penjagaan! Awasi terus mereka!"
Viona melirik ke arah balkon mendengar suara Marshal. Tidak lama kemudian, Marshal masuk kembali tanpa perlu repot menutup pintu kaca besar tersebut. Viona memalingkan wajah sebal, karena Marshal selalu saja tersenyum, jika dia melihatnya. Viona juga heran, kenapa suaminya banyak sekali tersenyum setelah beberapa saat lalu. Apa karena mereka kembali melakukannya? Wajah Viona terasa memanas. Dia pura-pura fokus dengan ponsel masih sambil rebahan, meskipun kejadian tadi kembali teringat. Bayangan Marshal yang tengah menggagahinya tadi membuat Viona jadi salah tingkah sendiri. Dia sampai tersentak kaget, buru-buru beringsut menjauh saat Marshal duduk di tepi ranjang yang dekat dengannya.
Marshal terlihat heran. Dia ingin bertanya, tapi Viona malah membalikkan badan memunggunginya yang terlihat kebingungan.
"Mulai sekarang, kamu jangan keluar rumah dulu, ya."
Viona membalik badan cepat menghadap pada Marshal lagi. "Kenapa?" Terkejut sekaligus takut. Viona tidak mau dirinya dikurung di rumah setiap hari. Membayangkannya saja membuat Viona kehabisan napas. Pasti sangat tidak enak. Membosankan. "Apa aku buat kesalahan?"
"Tidak." Marshal menaikkan kakinya ke atas ranjang. Viona bangun dan mereka duduk berhadapan. Tatapan Viona terlihat bertanya-tanya sekaligus kaget dengan ucapannya barusan. "Orang-orang Amanda sedang mencarimu. Entah apa yang akan mereka lakukan. Aku hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa. Jadi, lebih baik untuk sementara waktu, aku tidak mengizinkan kamu keluar rumah dulu."
Viona terlihat tidak terima. Tatapannya nyalang pada Marshal. Masa iya dia harus terkekang lagi. "Kamu 'kan punya pengawal banyak. Kamu hebat. Kamu bisa melakukan segalanya. Tidak mungkin kamu takut sama nona Amanda, kan? Diaļ¼"
"Bukan takut, aku hanya berjaga-jaga."
Viona memalingkan wajah kesal. Itu sama saja dengan takut. Tapi, Marshal kembali menyangkalnya. "Amanda kembali dari Milan, setelah dia berhasil mendekati seorang mafia. Anak buahnya banyak dan mereka kejam, Sayang. Aku belum tahu pasti mereka siapa saja. Yang aku tahu, Amanda ingin aku hancur dan dia ingin membunuhmu."
Apapun yang Marshal jelaskan, Viona tidak mau mendengarkannya. Dia tetap memalingkan wajah membiarkan Marshal mengoceh sendiri. Sampai akhirnya Marshal terlihat kesal karena Viona yang tidak peduli, dia baru meliriknya lagi.
"Apapun yang aku lakukan, semua demi kamu. Aku khawatir."
__ADS_1
Viona hanya mengangguk pelan saat Marshal menatap dalam matanya. Kedua tangan Viona digenggam dan dicium dengan penuh sayang. Viona hanya terdiam. Entah kenapa dia tidak takut sama sekali dengan ancaman Amanda. Marshal selalu mengingatkannya untuk berjaga-jaga, tapi dia sama sekali tidak gentar. Selagi Viona tidak membuat kesalahan, semenakutkan apapun niat Amanda, dia pasti tetap bisa menang. Dia juga tahu, meskipun belum mengenal Amanda, dia tahu wanita itu memang hanya menginginkan Marshal. Dia ingin membunuh Viona karena merasa telah merebut kekasihnya. Viona tidak salah. Sejak awal Marshal yang menikahinya. Dia unggul dari Amanda. Jika Amanda berniat buruk, hal itu pasti niatan balas dendamnya.
***
"Ke mana?" Viona bertanya heran melihat Marshal yang sudah bersiap. Terlihat rapi dan ... tampan. Tidak. Sangat tampan. Marshal selalu tampan dan akan tetap tampan. Viona akui hal itu. Dia tidak akan pernah menyangkalnya.
"Aku ada urusan sebentar, di luar. Kamu diam di rumah. Aku tidak akan lama."
Viona memperhatikan suaminya dengan serius. Ingin bertanya lagi, tapi Marshal terlihat buru-buru. Atau dia tidak peduli dengan kehadiran Viona?
"Aku keluar bertemu klien baru. Hanya beberapa jam, nanti aku pulang. Aku pastikan pulang sebelum kamu mengantuk. Okay?"
Viona mengangkat tangan menutupi mulutnya, dia pura-pura menguap. "Sekarang sudah malam. Aku mengantuk," ucapnya tidak terdengar jelas.
Viona mendengus sebal, keluar dari ruang ganti meninggalkan Marshal yang langsung tergelak tawa. Dia duduk di tepi ranjang, menyalakan televisi mencari saluran yang seru untuk ditonton. Kegiatannya terganggu. Marshal menghampirinya membawa senyuman sejuta dosis yang menggoda seperti sesaat sebelumnya. Viona mulai muak. Tatapan dan senyuman itu memang sangat sayang, jika diabaikan. Tapi, dia mencoba acuh supaya Marshal tidak semakin menggila dengan tingkahnya.
"Mau ikut?"
Viona mendongak. Marshal sedang memakai jam tangan, berdiri di depannya. Dia menggeleng pelan. "Untuk apa aku ikut?"
"Emm ... untuk menjaga suamimu."
__ADS_1
Alis Viona terangkat sebelah. Dia tidak mengerti dengan ucapan Marshal.
"Sayang, suamimu ini sangat tampan. Apa kamu tidak takut, jika aku keluar? Banyak wanita di luar sana yang memperhatikanku. Apa kamu akan diam saja?" Tawa Marshal pecah melihat Viona yang memasang ekspresi pura-pura muntah, membuatnya semakin angkuh untuk terus menggoda. Badan Marshal sedikit membungkuk, condong pada istrinya. "Klien baru yang kali ini seorang janda. Dia masih muda dan ... dia haus perjaka," lanjutnya dengan bisikan.
Viona malah terkekeh. "Kamu bukan perjaka."
"Ya. Tapi, rasa perjaka." Marshal kembali tergelak melihat mata Viona yang membulat tajam. Reaksi macam apa itu? Kenapa Viona terlihat tidak terima? "Sudah aku bilang, kamu harus menjagaku, kalau tidak mau aku diambil oleh wanita lain."
"Cih!" Viona memalingkan wajah, sebal. Marshal jadi seperti ini, suka sekali menggodanya. "Apa?" Dia melotot tajam saat Marshal duduk merapat padanya. Tangan Marshal melingkari pinggang Viona dengan erat. "Sana pergi! Katanya mau pergi. Eh, mau ngapain?!" Viona memundurkan kepala, karena wajah Marshal semakin mendekat padanya disertai seringaian liciknya yang Viona tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Yakin, tidak mau ikut?" suara Marshal terdengar pelan, seperti bisikan. Dia semakin mendesak Viona hingga terbaring menjauhi wajahnya.
Kini Marshal berada di atas tubuh istrinya. Dia kembali menyeringai, menyerang bibir kesukaannya. Viona terbelalak, memukul Marshal dengan keras. Marshal tidak peduli dan malah memperdalam tautannya.
"Chal!" Viona memukul lagi suaminya.
Marshal malah tertawa melepaskan bibir Viona, menggantinya dengan kecupan ringan di pipi. "Aku sengaja biar tidak lupa dengan rasa istriku. Supaya tidak tergoda wanita lain di luar sana."
Wajah Viona cemberut. Dia bangun dengan perasaan kesal yang besar. "Yaudah, sana pergi!" Tangan lembutnya mendorong tubuh Marshal untuk menjauh.
"Baiklah, aku akan pergi. Baik-baik di rumah, ya. Jika ada apa-apa segera hubungi aku." Marshal berdiri, merapikan pakaian sejenak. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Viona. "Jangan menungguku pulang. Jika ngantuk, segera tidur. Aku tidak janji akan pulang cepat." Kepalanya kembali menunduk untuk berbisik pada Viona. "Jika aku pulang telat, jangan marah. Aku akan menemani klien jandaku."
__ADS_1
"Marshal!"
Orang yang diteriaki malah tertawa dan segera berjalan keluar kamar. Viona memanggil-manggil namanya dengan kesal. Dia malah tergelak di balik pintu kamar. Viona tidak rela dia menemani klien janda. Apa itu sebuah kecemburuan? Jika benar, Marshal sangat beruntung kali ini.