Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Jatuh Cinta


__ADS_3

Dua laki-laki yang masih remaja berseragam putih abu berjalan beriringan. Masuk ke dalam sebuah rumah sembari bersenda gurau mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Mereka berhasil menjahili seorang guru matematika setelah pulang sekolah. Karena kesal terhadap guru yang sudah menghukumnya hanya karena terlambat dua menit masuk kelas. Jadilah, mereka balas dendam dengan membocori ban motor milik guru matematika tersebut.


"Pak Seno pasti pulangnya dorong motor, ya, Mars," ucap anak pemilik rumah pada temannya.


"Iya, pak Seno besok pasti gak ngajar, soalnya dia encok," sahut temannya. Mereka kembali tertawa dengan bahagia, seolah mengerjai guru adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.


"Duduk dulu, Mars. Gue ambilin minum. Lo mau minum apa?"


Orang yang dipanggil Mars itu duduk di sofa ruang tamu. "Apa aja yang seger. Kalo ada sama cemilannya, ya, Vin," ucapnya diakhiri cengiran.


"Siap." Anak pemilik rumah mengacungkan jempol dan pergi ke dapur mengambil suguhan untuk temannya.


"Kak ... kakak!" Seorang anak perempuan berteriak dengan keras sambil menuruni tangga.


Remaja yang sedang menunggu di ruang tamu, menoleh ke arah anak perempuan itu. Dia tersenyum. Menyapanya walaupun tidak mengenal siapa anak perempuan yang baru akan beranjak remaja tersebut.


Tidak disangka, ternyata anak perempuan itu membalas senyumannya. Sangat manis. Parasnya juga sangat cantik dengan kulit putih bersih dan rambut sepunggung yang menjuntai hitam legam. Dia memakai dress selutut berwarna putih. Bando pink bertengger di kepalanya.


"Kakak siapa?" tanya anak perempuan itu mendekat.


"Aku Marshal, teman kakakmu."


Anak perempuan itu hanya mengangguk. Pandangannya kembali menyapu seisi ruangan, mencari keberadaan kakaknya.


"Adek? Kamu sudah pulang ternyata," teman Marshal yang tadi pergi ke dapur, muncul dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Dia tersenyum girang melihat gadis kecil itu. Menyimpan nampan di atas meja, kemudian memeluk anak perempuan itu dengan erat. "kapan kamu kembali? Kakak kok, gak tau kamu pulang hari ini?"


Anak perempuan itu tertawa dengan riang saat kakaknya memeluk erat. Dia sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan kakaknya setelah satu bulan mereka berpisah, karena sang adik berlibur ke rumah neneknya.

__ADS_1


"Mama sama papa, mana?"


"Kenapa malah nanyain mama sama papa? Kak Vino gak kangen sama aku?" Anak itu malah merajuk. Bibirnya mengerucut membuat sang kakak tertawa dengan gemas.


"Haha ... kangen. Kangen banget malah." Mereka kembali berpelukan dengan erat. Vino-kakak dari anak perempuan itu mencubit gemas pipi adiknya. Dia mencium kening adiknya penuh sayang.


Marshal hanya terdiam melihat kehangatan kakak dan adik yang melepas rindu. Dia baru melihat adik dari Vino. Ternyata adik sahabatnya itu sangat lucu dan cantik. Begitu menggemaskan.


"Dek, kenalin, Marshal. Dia teman kakak," ujar Vino memperkenalkan Marshal pada adiknya yang malah bersembunyi di balik tubuh kurus Vino. Adiknya itu kini nampak malu, tidak seramah tadi saat menyapa Marshal.


"Mars, dia Viona. Adik gue. Maklum, dia mungkin malu ketemu cowok ganteng, ye, kan, Dek?" goda Vino pada adiknya yang semakin bersembunyi. Meskipun dia masih kecil, tapi dia sudah punya rasa ketertarikan terhadap banyak hal. Dia bukan anak kecil yang tidak paham apa-apa. Viona sudah berusia sebelas tahun. Sekarang dia masih sekolah dasar, sebentar lagi lulus. Dia sudah mengerti dengan godaan kakaknya.


"Adik lo ternyata cantik, Vin," puji Marshal sembari tersenyum. Dia sangat suka pada anak perempuan itu.


"Iyalah, kakaknya juga ganteng," gurau Vino mendapat gelengan kepala dari Marshal. Memang tidak bisa dipungkiri jika Vino mempunyai paras yang bagus. Sama seperti Marshal. Mereka selalu digilai banyak wanita, bahkan di sekolah mereka selalu dijuluki Dua Dewa, sangking tampan dan mempesonanya.


***


Melihat sekeliling dengan setengah sadar. Dia masih berada di rumah Heru ternyata. Di sampingnya Viona dan Zean masih terlelap dalam cahaya lampu temaram. Ternyata anak dari kakaknya itu masih berada di sana. Apa Miranda tidak mengambil Zean, atau tidak ingat dengan anaknya?


Marshal mengubah posisi tidur yang semula terlentang jadi menyamping menghadap istrinya. Viona memeluk Zean yang tertidur di tengah-tengah mereka. Dia terdiam memandangi wajah sang istri yang masih terpejam erat. Senyum mengembang di bibirnya kala kejadian waktu itu kembali dia mimpikan. Tidak disangka, ternyata apa yang dia inginkan sudah menjadi kenyataan. Marshal sulit percaya akan hal itu.


Mimpi dari sepenggalan cerita yang pernah terjadi dalam kehidupannya selalu datang. Marshal sulit melupakannya. Kejadian pertama kali dia bertemu dengan anak perempuan yang sangat cantik. Senyumannya yang menyejukkan mampu meluluhkan hati siapa pun yang melihatnya. Bahkan Marshal sendiri sangat sulit melupakan senyuman tulus yang indah itu.


Diusapnya kepala Viona yang masih terlelap. Marshal menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Senyum terukir kembali di wajahnya.


Jatuh cinta.


Itulah yang dia rasakan saat melihat anak perempuan itu tersenyum. Dia sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu. Sulit dimengerti memang. Marshal yang saat itu sudah kelas tiga SMA, bisa menyukai gadis belia yang bahkan masih mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Tapi, itulah yang dia rasakan saat itu. Awalnya dia kira itu hanya perasaan suka biasa. Namun, semakin hari perasaan itu semakin berlanjut.

__ADS_1


Marshal sangat sulit jatuh cinta meskipun banyak perempuan yang menggilainya. Di sekolah dia disebut sang dewa tanpa dewi, karena dia tidak pernah sekali pun terlihat punya kekasih. Marshal tidak pernah tertarik untuk berpacaran saat masih bersekolah. Dia tidak pernah melirik perempuan lebih. Hanya sebatas teman. Dia tidak pernah merasa jatuh hati pada perempuan mana pun saat itu. Tapi, sesuatu menggebu dalam rongga dada kala seorang gadis kecil tersenyum tulus padanya.


Sejak saat itu dia tidak bisa fokus pada apapun. Selalu mengingat adik dari Vino tersebut. Seringkali dia memaksa untuk bisa berkunjung ke rumah temannya tersebut. Hampir setiap pulang sekolah dia berkunjung ke tempat sahabatnya. Semua itu dia lakukan hanya demi melihat gadis manis yang Vino miliki. Dia tertarik pada anak perempuan bernama Viona Azzahra Pratama tersebut.


Hingga tiba saatnya dia lulus sekolah. Ayahnya meminta dia bersekolah di luar negeri mengambil jurusan bisnis. Marshal yang saat itu tidak menyukai bisnis dan tidak mau menjadi penerus pemimpin perusahaan, dia menolak dengan tegas. Bidang yang Marshal senangi hanyalah segala sesuatu yang berbau seni. Dia bahkan ingin menjadi seorang arsitektur, tetapi ayahnya tetap kekeh supaya dia mengambil jurusan bisnis. Ayahnya itu mau Marshal menjadi penerus yang bisa diandalkan. Beliau ingin Marshal yang mengelola perusahaannya kelak. Karena Marshal satu-satunya anak laki-laki yang dia miliki.


Marshal marah besar pada ayahnya, karena bentrokkan keinginan. Dia datang ke rumah Vino. Pada sahabatnya itu dia menceritakan semua masalah yang sedang dia hadapi. Vino sangat mengerti dengan ketidakmauan Marshal karena Vino pun dituntut demikian. Saat mereka sedang membicarakan hal itu, adik Vino muncul.


Vino melirik pada Marshal, tersenyum jahil. Dia tahu Marshal sangat menyukai adik kecilnya. Dia pun bertanya dengan konyol pada Viona, "Dek, pilih cowok yang jadi arsitek atau jadi pengusaha?"


Viona memandangi kakaknya tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Pilih aja, arsitek atau pengusaha?"


Mulanya Viona terdiam sangat lama. Matanya memutar ke atas. Dia sedang berpikir keras dengan tangan menggaruk dagu. "Kayaknya pengusaha lebih oke, deh. Soalnya papa juga pengusaha, kan? Berarti seorang pengusaha itu hebat. Karena papa juga hebat," jawab Viona dengan polos diakhiri cengiran. Dia tidak mengerti dengan apa yang dia katakan barusan. Hanya menjawab pertanyaan aneh dari kakaknya.


Entah apa yang lucu. Vino tertawa keras. Memukul bokong adiknya dengan gemas. "Yasudah, sana masuk! Tidur!"


Viona mendengus. Dia segera masuk ke dalam rumah sembari mengusap bokong bekas pukulan kakaknya, setelah Vino mencubit kedua pipinya. Viona hanya mengangkat bahu dengan acuh saat Vino berkata pada Marshal, "Denger 'kan, adek gue sukanya pengusaha. Lo pilih mana? Sekarang pilihannya bukan arsitek sama pengusaha, tapi arsitek atau Viona?" Kakak Viona itu tertawa dengan kencang mendapat pukulan dari Marshal.


Sejak saat itu Marshal memilih mengikuti kemauan ayahnya. Pilihannya bukan menjadi pengusaha, tapi Viona, seperti yang Vino katakan. Konyol memang. Tapi, itu salah satu alasan yang merubah pemikirannya untuk mengenyam pendidikan.


Bertahun-tahun dia sekolah di luar negeri. Pikirannya hanya tertuju dan selalu mengingat wajah mungil adiknya Vino. Dia tidak pernah bisa melupakan gadis kecil itu. Karena gadis kecil itulah yang selalu jadi penyemangatnya dalam belajar. Meskipun Marshal tidak suka dengan hal yang berbau bisnis, tapi karena kata-kata Viona, dia bisa memaksakan untuk belajar hingga dia bisa menyelesaikan pendidikannya.


Namun, sesuatu terjadi, menjadikan rasa cinta pada gadis kecil itu perlahan hilang dan Marshal bisa melupakannya. Dia benar-benar melupakan gadis kecil itu saat-


Suara tangis Zean membuyarkan lamunannya. Kesadaran Marshal yang semula berada di masa lalu, sekarang kembali lagi. Dia melihat pada Viona yang terbangun karena gangguan si kecil.


Jam dinding baru menunjukkan setengah dua belas malam. Dengan lembut Viona mengusap kepala Zean supaya kembali terlelap. Mata Viona masih tertutup, tetapi tangannya sibuk mengusap kepala Zean hingga perlahan tangisannya melemah dan kembali tertidur.

__ADS_1


Melihat hal itu, Marshal semakin menghangat. Viona cekatakan mengurusi Zean seperti anaknya sendiri. Jika orang lain yang melihatnya, mungkin mereka tidak akan percaya jika Zean dan Viona baru berkenalan sehari.


"Tetaplah bersamaku, aku tidak mau kehilanganmu lagi. Kamu penyemangatku, Zahra." Marshal beranjak. Mendekat dan mencium kening Viona yang sudah kembali terlelap.


__ADS_2