
"Aku tidak suka, jika kamu-"
"Aku tahu ... aku hanya berkata jujur. Tadi kamu yang bertanya, jadi aku jawab."
Viona menganggukan kepala, mengusap rahang suaminya dengan lembut membuat Marshal menundukkan wajah, melihat Viona dengan tatapan dingin. "Kenapa harus dia?"
Viona melepas pelukannya di tubuh Marshal. Menghela napas kasar sebelum bicara, "Aku juga tidak tahu, mungkin-eh, mau ke mana?" Viona menahan suaminya yang mau beranjak. Marshal hanya menatapnya dingin tidak bersuara sedikit pun. Viona baru tahu, jika suaminya marah tanpa bicara terasa semenyeramkan itu. Biasanya dia langsung protes, tapi saat ini hanya diam saja.
Sebelum Marshal kembali beranjak, Viona menahannya lagi membuat Marshal duduk di tempat semula. "Kamu marah?"
"Iya," Marshal memancarkan ketidaksukaannya, begitu kentara. "aku tidak suka mendengarnya. Aku cemburu, Ra. Kenapa harus dia? Jika laki-laki lain, mungkin aku bisa terima, tapi dia ...."
Viona kembali mengembuskan napasnya kasar, menggaruk kepala dengan bingung. Marshal tidak mau melihatnya sekarang. Dia lebih memilih melihat ke arah lain.
"Dia memang cinta pertamaku," Dirangkulnya lengan Marshal, Viona menyandarkan kepala di bahu suaminya. Melihat tangan suaminya mengepal, Viona mengusapnya pelan. Marshal masih tidak mau bergeming. "tapi, mungkin ... kamu bisa jadi cinta terakhir untukku."
Hening beberapa saat. Mereka sama-sama melihat ke arah depan. Air hujan masih deras turun ke permukaan kolam membuat ikan-ikan berlomba untuk bermain di sana.
"Ulangi lagi!" titah Marshal dengan lirih.
Viona mendongak untuk melihat suaminya. Pandangan mereka bertemu dan sama-sama diam tanpa mengalihkan pandangan. Embusan hawa dingin menyeruak terasa membuat Viona semakin menempel di tubuh suaminya.
"Katakan sekali lagi!"
"Apa?"
"Yang tadi ...."
Viona menyurukkan wajahnya di dada Marshal, namun suaminya tidak mengizinkan membuat Viona harus mengangkat kepala, sedikit merajuk. "Aku pikir kamu tidak mendengarnya. Dari tadi diam saja."
Melihat Viona yang malah mengalihkan pandangan, Marshal menyentuh dagunya dan memalingkan wajah Viona untuk melihat padanya lagi. "Aku diam karena aku takut apa yang aku dengar hanya halusinasi. Takut terlalu berharap, padahal itu tidak nyata terucap dari bibirmu, melainkan hanya khayalanku."
Viona menggeleng cepat, memegang tangan Marshal yang berada di dagunya. "Kamu memang bukan cinta pertama, tapi, mungkin cinta terakhirku," ucap Viona dengan lembut, menggenggam tangan Marshal dan mencium punggung tangannya.
"Benarkah? Apa aku lagi-lagi berhalusinasi?" Seulas senyum terbit di bibirnya, menatap Viona dengan dalam.
Istrinya mengangguk pelan dan tersenyum. "Bukan halusinasi. Tapi, mungkin bisa," ucapnya masih terdengar ada keraguan.
__ADS_1
Marshal langsung memberengut mendengarnya. Senyuman yang semula terbit, surut seketika merasa tidak ada harapan dari istrinya. "Berhenti membuatku berharap, Zahra! Kamu selalu saja seperti ini."
Marshal menarik tangan yang digenggam oleh istrinya dengan kasar membuat Viona termangu melihat Marshal yang marah. Dia bingung, kenapa Marshal mengatakan seperti itu?
"Chal, harapan bisa diwujudkan. Aku memang ragu untuk melakukannya, tapi aku akan berusaha. Aku sudah memilih kamu, sulit ataupun mudah, aku tetap harus mencintai suamiku, bukan? Aku tidak mungkin seperti ini selamanya. Setiap orang bisa berubah kapan saja. Aku hanya ingin kamu bersabar untuk-" Tubuh Viona tersentak, karena Marshal memeluknya tiba-tiba.
"Aku hanya ingin kamu mencintaiku, Sayang. Bukan hanya harapan. Aku mau kenyataan."
"Bantu aku melakukannya!" Dipejamkannya mata serta menghirup udara sedalam-dalamnya memenuhi rongga dada, membuangnya secara perlahan. Viona mendongak menatap dalam manik mata suaminya. "Aku juga ingin memberikannya untuk suamiku."
Marshal tersenyum, mengangkat tangan untuk mengusap wajah istrinya. "Jika begitu ... jadikan aku cinta terakhirmu, Ra!"
Viona mengangguk dan kembali tenggelam dalam dekapan. "Semoga Tuhan mengizinkan kamu jadi cinta terakhirku, Chal," ucapnya lirih, membalas erat pelukan Marshal.
***
"Awsh!"
Melihat istrinya meringis, Marshal langsung bergerak cepat menghampirinya di depan meja rias. "Kamu kenapa, Sayang?"
"Sakit, shh..." Viona berjongkok mengusap-usap kakinya. "tadi tersandung kaki meja."
Viona menggeleng tidak mau, tapi Marshal tetap kekeh untuk mengangkat tubuhnya. Akhirnya Viona menurut sampai didudukkan di atas ranjang.
"Kenapa bisa tersandung? Kamu ceroboh! Jika terjadi apa-apa, bagaimana?!"
Viona malah terkekeh melihat suaminya yang begitu panik dan cemas. Padahal dia hanya tersandung sedikit, tidak terluka, tapi Marshal sudah sekhawatir itu. "Tadi aku melamun, jadi tersandung."
"Makanya, kalo jalan jangan melamun! Untung hanya tersandung, bagaimana jika kamu sampai terjatuh? Lain kali, jangan ceroboh! Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Marshal terus saja mengomel sambil memeriksa kaki istrinya membuat Viona terkekeh geli.
"Aku melamunkan suamiku. Jangan salahkan aku, salahkan saja suamiku, kenapa dia ada di pikiranku."
Omelan Marshal langsung terhenti. Dia berjongkok di samping ranjang, memeriksa kaki istrinya. Perlahan dia menengadah untuk melihat Viona. Istrinya malah tertawa geli sambil memukul bahunya.
"Kenapa melihat aku seperti?" Viona mengusap kasar wajah suaminya. Marshal tidak berkedip melihat padanya dengan diam. "Kamu kesurupan?"
Suami Viona tersebut malah mendengus seraya bangun, kemudian duduk di samping istrinya. "Aku serius cemas, tapi kamu malah bercanda."
__ADS_1
Viona semakin geli melihatnya. "Aku tidak apa-apa, jangan berlebihan! Hanya tersandung, bukan tertabrak mobil."
"Aku tetap khawatir, Sayang."
"Iya-iya, tapi aku tidak apa-apa." Viona menghentikan tawanya, cukup sudah menggoda suaminya. Baru dia akan bangun, Marshal sudah mendorong tubuhnya sampai terlentang di atas ranjang dan menindih tubuhnya seraya mengeluarkan seringaian seram.
"Tadi kamu bilang, melamunkan suamimu, hm?" Marshal menyeringai lagi. "Aku gemas denganmu, Sayang. Mulutmu ini selalu saja membuatku hilang akal." Diusapnya pelan bibir bawah Viona, Marshal mulai terlihat misterius.
Viona hanya terdiam. Jantungnya sudah tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Selalu saja takut menghadapi suaminya yang seperti ini.
"Jika aku menghukumnya ... apa boleh?" Marshal mendekatkan wajahnya membuat Viona semakin cemas dan menggigit bagian dalam bibir bawahnya. "Aku ingin merasakannya, sekarang. Boleh, kan? Aku ingin malam ini indah bersama istriku."
Viona memejamkan mata karena wajah Marshal semakin dekat dengannya. Kedua tangannya tertekuk di dada Marshal membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Remasan kecil di baju bagian depan suaminya Viona lakukan saat lembut bibir suaminya menyapa kulit pipi mulusnya. Bukan hanya di pipi, tapi Marshal mencium seluruh bagian wajahnya.
"Aku ingin menguasai ini, boleh?"
Viona membuka mata saat Marshal berhenti menciuminya dan sentuhan jemari di bibir terasa mempermainkannya.
"Aku ingin menguasai ini, Sayang," bisik Marshal di telinga istrinya dengan jemari masih menyentuh bibir Viona. Istrinya langsung menelan ludah saat merasakan bulu-bulu halusnya berdiri mendengar bisikkan suaminya.
Tidak menunggu persetujuan, Marshal langsung menyentuh bibir istrinya dengan hal serupa. Mempermainkannya dengan lihai dan penuh kehati-hatian.
"Balas ciumanku, Sayang!" Dia kembali menguasai permainan. Perlahan Viona membuka bibirnya membiarkan Marshal berbuat semaunya dan memejamkan mata kembali. Dia tidak menolak dan mulai mengimbangi apa yang suaminya inginkan.
Mereka terhanyut dalam permainan yang dikuasai oleh paduka yang masih mendominasi di atas tubuh istrinya. Semakin lama semakin panas dan terasa begitu menghangatkan.
"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Marshal disela decapannya. "Aku ingin kamu menjadi istriku, seutuhnya."
Viona tidak merespon, terlalu kewalahan mengimbangi kebuasan suaminya dalam permainan, hingga tangan Marshal mulai tidak di tempat semula. Menggeser ke bahu istrinya, mengusapnya lembut penuh penghayatan, dan perlahan turun untuk menggapai-
"Oh, Shit!"
Penyatuan buas antar bibir terhenti. Refleks mereka melirik ke arah pintu saat suara ketukan terdengar. Marshal mengumpat, mengambil satu kecupan di bibir istrinya yang basah dan mulai bengkak, sebelum dia beranjak bangun.
Siapa yang menganggu kesenangannya? Lihat saja, orang yang barusan mengetuk pintu pasti habis di tangannya! Emosinya langsung memuncak saat membuka pintu kamar.
"RIO ...!"
__ADS_1
Orang yang dibentak langsung mundur menjauhi pintu. Jantungnya langsung berdebar hebat, terkejut dengan suara Marshal yang tiba-tiba menggema menerpa wajahnya.
Melihat Marshal yang menggeram serta mengacak rambutnya dengan kasar, Rio terheran. Majikannya kenapa? Dia belum mengatakan apapun, tapi Marshal sudah mengeluarkan taringnya. Ada apa dengan majikannya itu?