Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Ditinggal Lagi


__ADS_3

"Padahal menginap lagi di sini. Mama belum puas ngobrol sama kamu." Berat bagi Lina untuk mengizinkan Viona pulang. Dia sudah lama tidak bisa bersama dengan anaknya, dan giliran berkunjung, Viona malah menginap satu hari dan sekarang dia mengatakan harus segera pulang ke rumah suaminya.


"Nanti kapan-kapan aku ke sini lagi, Ma." Viona memeluk Lina dengan erat. Sama-sama tidak mau untuk saling berjauhan lagi. "Atau besok aku ke sini lagi. Kalo suami aku bekerja, aku main ke sini." Viona melirik suaminya yang hanya terdiam. "Boleh 'kan, Chal?"


Marshal tersenyum dan memberi anggukan. Tidak ada salahnya jika Viona mau berkunjung ke rumah orangtuanya sendiri. Daripada istrinya merasa bosan, Marshal juga tidak bisa setiap saat menemaninya karena sibuk dengan pekerjaan. Mungkin jika Viona bisa bebas bertemu dengan ibunya, istrinya itu tidak akan mengeluhkan lagi jika dia merasa terkekang.


Setelah berpamitan pada ibu mertuanya, Marshal membukakan pintu mobil untuk istrinya. Viona masuk dan mengucapkan terima kasih. Dengan tidak tahu malunya, Marshal malah meminta balasan dengan kecupan di pipi. Viona tidak mau melakukannya karena Lina masih memperhatikan mereka. Tapi, suaminya terus saja meminta membuat Viona harus memperingatkannya dengan sebuah cubitan kecil di lengan Marshal.


Tidak mendapat apa yang dia inginkan, Marshal akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Duduk di balik kemudi dan mulai menyalakan mesin.


"Bolehkan jika kecupannya aku tagih sekarang? Mama sudah tidak memperhatikan kita."


Viona melirik ke luar kaca. Lina sudah masuk kembali ke dalam rumah. Dia melirik lagi pada Marshal. Suaminya itu tengah tersenyum jahil padanya. Viona langsung memalingkan muka ke samping.


"Cepat berangkat, nanti kamu bisa terlambat untuk bekerja."


Marshal malah mencibir. Viona menghindari keinginannya dan malah membuang muka. Dia mendengus kesal. Baru akan menginjak gas untuk segera menjalankan mobilnya, ponsel Marshal yang berada di balik saku jas terdengar berdering. Marshal merogohnya dan mematikan mesin mobil.


"Siapa?" Viona melirik pada suaminya yang terlihat menyernyitkan dahi.


"Rio." Marshal menerima panggilan dan menempelkannya ke dekat telinga.


Viona memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh suaminya. Marshal sedang berbicara serius dengan asistennya. Terlihat dia kadang mengernyit, kadang alisnya terangkat dan juga kepalanya mengangguk.


"Siapkan semuanya! Aku sebentar lagi pulang." Marshal menutup sambungan dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku.


"Ada apa?"


Marshal kembali menyalakan mesin yang sempat dia matikan saat menerima panggilan. Dia melirik pada Viona sejenak dan mulai melajukan mobilnya. "Aku harus ke luar kota sekarang. Ada masalah penggelapan dana proyek. Sepertinya masalah ini sangat besar dan mereka tidak bisa mengatasinya sampai aku harus turun tangan sendiri."


Viona mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Harus pergi hari ini juga?"


"Iya, Sayang. Masalahnya harus segera ditangani. Jumlah dana yang digelapkan tidak sedikit, tapi terbilang dari tujuh puluh lima prosen anggaran proyek mereka selipkan ke kantong. Pantas saja setiap laporan pengeluaran dari mereka, semuanya kurang masuk di akal. Aku akhir-akhir ini tidak terlalu fokus memantau. Jadilah seperti ini."


Viona hanya memandang kasihan pada suaminya. Marshal terlihat sangat stress setelah menerima panggilan dari Rio, padahal sebelumnya dia biasa saja.


"Berarti ke dokternya tidak jadi?"


Marshal terdiam. Dia lupa akan hal itu. Tadinya mereka akan pergi ke dokter untuk konsultasi. Tapi, jika begini, berarti harus ditunda terlebih dahulu.


"Nanti setelah aku pulang, kita pergi ke sana."


"Nunggu kamu pulang pasti lama. Entah kapan kamu pulangnya. Aku pergi sendiri aja, deh. Sekarang kamu antarkan aku ke sana. Habis itu, kamu pulang ke rumah untuk berkemas."


"Tidak bisa, Sayang. Kita ke dokter untuk konsultasi. Aku harus menemani kamu. Pokoknya kamu tidak boleh pergi sendiri. Harus ditemani olehku."


"Nunggu kamu pulang kelamaan, Chal."


"Memangnya kenapa? Aku pergi tidak akan lama. Setelah kasus ini selesai, aku pasti langsung kembali."


Viona melirik Marshal dengan kesal. "Ya, sudah, tidak usah ke dokter saja. Aku nanti beli pil saja di apotek. Sama saja, kan."

__ADS_1


Marshal memelankan laju mobilnya. Dia melirik Viona dengan tajam. Perdebatan yang seperti ini biasanya berlanjut dan berakhir dengan tidak enak. "Kita tetap harus ke dokter. Harus konsultasi supaya lebih tepat dan tidak membuat efek samping yang berbahaya." Marshal kembali fokus menatap ke depan. Hari masih pagi, lalu lintas nampak lumayan ramai. Banyak orang yang berangkat untuk memulai aktivitas mereka dengan bekerja. "Untuk apa terlalu terburu-buru? Aku akan keluar kota, kamu masih bisa bernapas, Sayang. Tidak ada aku, kamu berarti masih aman."


Viona langsung terdiam. Bukan itu maksudnya. Dia juga tahu jika Marshal tidak ada, mereka tidak akan melakukannya. Berarti tidak membutuhkan alat kontrasepsi. Tapi, halnya berbeda. Marshal tidak akan paham.


"Pokoknya, aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke dokter sendiri, atau kamu membeli pil dari apotek. Tunggu aku sampai pulang, baru kita bicarakan lagi!"


Viona hanya bergumam. Marshal sedang terlihat terburu-buru untuk pergi keluar kota. Suaminya juga terlihat banyak pikiran. Viona tidak akan menyulut api. Takut suaminya malah kesal padanya, jika dia terus menimpali dan berakhir dengan mereka yang kembali berdebat.


***


"Kamu di sana berapa hari?"


"Belum tahu, Sayang. Lamanya aku di sana sesuai dengan kasusnya selesainya kapan."


Viona menyiapkan satu koper keperluan suaminya. Dia juga tidak tahu berapa hari suaminya di luar kota. Dia hanya menyiapkan apa yang sekiranya akan diperlukan oleh Marshal semasa di sana. Viona juga tidak lupa untuk menyelipkan obat-obatan termasuk vitamin untuk Marshal. Menjaga-jaga, takut jika imun suaminya menurun karena terlalu sibuk mengurus masalah pekerjaan.


"Aku di sini sendiri lagi."


Marshal sedang berada di dekat ranjang, menyiapkan berbagai berkas yang akan dibutuhkan. Dia berbalik badan pada istrinya yang baru saja selesai menutup koper. "Masih ada banyak orang yang menemani kamu, Sayang. Di rumah ini kamu tidak akan pernah sendiri. Aku hanya pergi sebentar. Aku pastikan tidak akan lebih dari dua hari. Aku juga punya pekerjaan di sini yang harus diurusi."


"Tetap saja aku sendiri." Viona menarik koper ke dekat suaminya. "Mereka selalu menjaga jarak denganku, Chal. Aku ingin memperlakukan mereka sebagai teman, tapi mereka tidak mau dan tetap saja merasa aku ini adalah majikannya."


Para pekerja di rumah itu memang banyak. Tapi, Viona tidak bisa bebas untuk bercengkrama dengan mereka. Karena para pekerja itu selalu merasa segan padanya. Padahal Viona sudah mengingatkan mereka untuk bersikap biasa saja. Tapi, mereka tetap saja tidak bisa diajak santai.


"Nanti aku bicara pada mereka. Atau mau aku telepon Michelle untuk menginap di sini?"


"Jangan, deh! Sepertinya Michelle sedang sibuk untuk persiapan ujian."


Marshal selesai dengan berkas yang sudah dia siapkan. Dia melihat Viona tidak tega jika harus meninggalkannya. Tapi, Marshal tidak bisa membawa Viona pergi. Jika dia membawa istrinya, mungkin bisa. Tapi, Marshal tidak yakin jika nanti setelah di sana dia akan tetap memperhatikan istrinya. Viona pasti tidak terperhatikan karena Marshal sibuk dengan masalah yang dia tangani.


"Jadi, mau bagaimana?"


Viona mencebbikkan bibirnya dengan lucu. Dia menggeleng dan duduk di tepi ranjang. "Aku tidak apa-apa." Biasanya dia senang jika Marshal tidak ada. Tapi, untuk kali ini, Viona merasa tidak mau suaminya pergi.


"Aku janji, aku tidak akan lama, Sayang. Kalo masalah ini bisa ringan, mungkin besok aku akan memaksakan diri untuk pulang."


Viona hanya mengangguk dan membenarkan jaket milik suaminya. Dia masih duduk dan Marshal berdiri di depannya. "Nanti jika pulang bawa oleh-oleh, ya." Senyumannya sangat manis membuat Marshal ikut tersenyum melihatnya.


"Aku pergi untuk mengurus pekerjaan, bukan jalan-jalan, Sayang." Marshal mengusap wajah istrinya dengan gemas. Dia mencubit pelan pipi istrinya membuat Viona sedikit kesal dan mengembungkan pipinya dengan lucu. "Jangan dulu manja sekarang! Aku harus berangkat, Sayang."


"Siapa yang manja?" ucap Viona dengan sebal. Suaminya malah tertawa ringan dan kembali mencubit pipinya dengan gemas.


"Jika setiap aku akan pergi, kamu seperti ini, bisa-bisa aku batal untuk keluar kota."


Viona tidak menimpali dan malah berdiri. Dia kembali membenarkan jaket milik suaminya supaya terpasang dengan rapi. "Berangkat sekarang? Nanti sampai di sana pasti siang kalo kamu gak pergi-pergi."


"Aku menunggu Rio. Dia masih di jalan."


Viona mengangguk mengerti. Dia kembali duduk diikuti Marshal yang malah menempel padanya. Diambilnya ponsel dan Viona melihat-lihat isinya. Tadi ada pesan masuk yang belum sempat dia balas.


"Sayang?"

__ADS_1


Viona menoleh ke samping. Jantungnya langsung berdegub kencang. Wajah suaminya berada di depan mata, bahkan hidung mereka bersentuhan saat Viona melirik pada suaminya. Buru-buru Viona memundurkan wajahnya. Namun, Marshal malah menarik tengkuknya dan ciuman di bibir dia berikan pada istrinya.


Degub jantungnya semakin tidak karuan. Marshal menciumnya begitu lembut meskipun menuntut. Viona menyimpan ponsel di atas ranjang dan tangannya meremas lengan Marshal. Dia membalas apa yang sudah suaminya lakukan. Tidak lama karena ponsel Viona berbunyi begitu nyaring membuat mereka harus menghentikannya.


Dengan wajah merona, Viona mengambil kembali ponselnya. Dia menundukkan wajah, pura-pura fokus melihat layar ponsel, padahal dadanya masih bergemuruh dengan napas yang belum teratur. Pipinya terasa panas, Marshal terus memandanginya dengan intens dan malah mengulurkan tangan untuk mengusap bibir istrinya yang basah dengan ujung jempol.


Viona menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Baru pertama kali dia merasa seperti itu jika sudah berciuman dengan suaminya. Entah apa yang terjadi. Viona tidak berani melihat suaminya lagi. Dia segera menerima panggilan yang terus berdering. Untung saja Aness meneleponnya, sehingga keintimannya dengan Marshal tidak berlanjut.


"Iya, Ness?" Viona tetap menunduk. Dia mengusap pelan bibirnya dengan telunjuk. Rasa bibir suaminya masih bisa dia rasakan. Viona memalingkan wajah ke arah lain guna menghindari tatapan Marshal yang terus tertuju padanya.


"Mami Frans ngajak party di rumahnya. Lo mau datang, kan?"


Viona melirik suaminya dengan canggung. Mungkin dia bisa mengalihkan rasa sepi dengan bersenang-senang bersama temannya. "Kapan itu?"


"Nanti sore. Tapi, kayaknya bakal sampai malam, sih. Gimana?"


"Em ...," Viona melirik lagi pada Marshal yang terus memandanginya. Lagi-lagi dia malu saat Marshal mengulurkan tangan untuk merapikan rambutnya ke belakang. "nanti aku izin dulu, deh, Ness."


"Oke. Lo harus datang pokoknya. Gue gak mau tahu, ya. Minta izin yang bener, biar gak dilarang keluar rumah kayak anak gadis aja."


Viona menutup panggilan setelah muak mendengar suara tawa sahabatnya. Dia memang masih gadis, pantas jika Marshal melarang-larang dirinya untuk pergi bebas.


"Chal!" Viona memberanikan diri untuk melihat suaminya. Dia menyimpan ponsel di sampingnya duduk dan menghadap pada Marshal.


"Ada apa, Sayang? Barusan yang menelepon siapa?"


Viona semakin gugup melihat tatapan Marshal yang lembut dan penuh kasih sayang. Senyumannya yang manis bahkan terlihat sangat tampan. "Aness. Dia ngajak aku ke party maminya Frans. Nanti sore. Aku boleh pergi, kan?"


Marshal terlihat berpikir. Viona memegang tangan suaminya, dengan tatapan yang memohon, dia mengerjap lucu. "Boleh, kan?"


Marshal malah terkekeh pelan. Dia mengusap wajah Viona dengan lembut dan mencubit hidung istrinya dengan gemas. "Kamu meminta izin atau memaksa untuk diizinkan?"


Viona mendengus sebal. Dia mencibir pelan karena suaminya yang terus saja menggodanya.


"Boleh. Tapi, pulangnya jangan terlalu malam! Apalagi aku pergi, kamu harus hati-hati!"


Senyuman Viona merekah dengan senang. Akhir-akhir ini Marshal baik dan selalu menuruti keinginannya.


Setelah lama diam di dalam kamar dengan mengobrol ringan, Viona mengantar suaminya untuk berangkat. Dia tersenyum hangat pada Marshal yang terus saja mengatakan jika dia berat untuk meninggalkan Viona.


"Jangan macam-macam selama aku tidak ada!"


Viona mengangguk, tetap tersenyum pada suaminya. Marshal mencium kening istrinya cukup lama. Kemudian, berpindah ke pipi dan berakhir di hidung mancung istrinya. Viona mendorongnya pelan karena kecupan Marshal tidak kunjung berhenti. Padahal dia sudah sangat malu dilihat oleh Rio yang menunggu majikannya. Asisten suaminya itu terlihat mengulum senyum membuat Viona ingin sekali melempari wajahnya dengan sepatu.


"Yang ini belum, cup!" Marshal mencium dalam bibir istrinya dan memberikan pelukan hangat.


Viona kembali mencibir dengan kesal. Suaminya itu memang tidak punya malu. "Sudah, kamu nanti berangkatnya kesiangan!"


"Baik-baik di rumah, ya! Jika ada apa-apa, hubungi aku!"


Viona mengangguk. Dia melambaikan tangan pada suaminya yang sudah naik ke dalam mobil. Dan senyuman yang semula mengembang, surut seketika saat mobil yang ditumpangi oleh suaminya sudah tidak terlihat lagi. Dia baru ingat, kenapa akhir-akhir ini dia selalu merona jika nendapat perlakuan manis dari suaminya? Padahal biasanya dia cuek saja.

__ADS_1


__ADS_2