
"Viona di mana, Ma?"
Wisnu yang baru pulang langsung menanyakan keberadaan menantunya pada Rahma yang menyambutnya di depan pintu utama.
"Ada di kamar. Kenapa?" Rahma mengikuti langkah Wisnu memasuki rumah.
Ayah dari Marshal itu kemudian duduk di sofa ruang tengah. "Tolong panggilkan Viona, Ma!" Rahma mengangguk. Berlalu untuk menjalankan perintah dari suaminya.
Tidak berapa lama, Viona datang menghampiri Wisnu. Dia mendekat sendiri karena Rahma berbelok ke dapur, membuatkan minum untuk Wisnu. Batin Viona bertanya-tanya kenapa Wisnu memanggilnya? Tapi, sebelum bertanya, dia menyalimi dulu tangan mertuanya yang baru pulang bekerja tersebut.
Viona duduk di sofa panjang setelah Wisnu mempersilakan. Menghadap pada mertuanya yang duduk di sofa tunggal. Wajah mertua Viona terlihat sedikit berbeda. Mungkin lelah karena terlalu banyak pikiran.
"Begini, Nak," Wisnu mulai mengeluarkaan suaranya. "bukannya papa terlalu ikut campur urusan kalian. Papa di sini sebagai orangtua hanya ingin ikut menyelesaikan."
Tanpa diperjelas pun, Viona sudah tahu ke mana arah pembicaraan Wisnu. Dia hanya diam mendengarkan dulu Wisnu sampai selesai berbicara.
"Permasalahan yang terjadi sekarang berasal dari putra papa. Untuk menyelesaikannya, papa serahkan sama kamu saja. Kamu maunya bagaimana? Tapi, saran papa, kamu sebaiknya pikirkan dulu baik-baik untuk mengambil langkah selanjutnya. Jika kamu mau pulang dulu ke rumah orangtuamuļ¼"
Viona menggeleng dengan cepat. "Pa," Dia menyela ucapan Wisnu. "Kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya. Dan keputusan aku tetap sama. Untuk sementara aku akan tinggal di sini."
"Tapi, bagaimana dengan orangtuamu? Mereka juga harus tahu masalah ini. Papa tidak mau nantinya mereka berpikir papa menutupi kesalahan Marshal, jika kita tidak memberitahu mereka."
Viona tetap menggeleng. Dia tidak mau keluarganya tahu tentang masalah ini. Orangtuanya pasti akan sangat khawatir padanya dan akan semakin merasa bersalah telah menikahkannya dengan Marshal. Dia tidak mau orangtuanya ikut kepikiran. Melihat Wisnu dan Rahma yang begitu stress saja, Viona sudah merasa kasihan pada mereka. Apalagi jika orangtuanya tahu tentang masalah pernikahannya.
"Kami sudah dewasa, Pa. Bisa menyelesaikannya sendiri. Aku mohon, Papa jangan bilang ke orangtua aku." Tatapan Viona begitu sendu. Penuh mohon supaya keinginannya dituruti oleh Wisnu.
Sejak semalam Wisnu sudah membicarakan hal ini. Bahkan mertuanya itu menawarkan pilihan padanya, jika dia mau pulang ke rumah orangtuanya, Wisnu akan mengizinkan.
Wisnu hanya menghela napas. Tidak tahu kenapa Viona malah bersikap tenang seperti ini. Padahal masalah yang dia hadapi sangat berat, bahkan begitu menyakitkan. Tapi, Viona terlihat biasa saja. Sama sekali tidak terlihat sedih ataupun marah. Wisnu sendiri pun heran melihatnya. Entah menantunya itu terlalu kuat atau memang menutupi kesedihannya di depan orang lain. Tapi, Viona terlihat begitu tegar untuk saat ini.
"Semua keputusan papa serahkan sama kamu. Apapun yang jadi keputusan kamu, papa hanya bisa mendukung. Jika kamu mau menggugat cerai, papa setuju. Papa tidak akan membela putra papa. Bagaimanapun, dia tetap salah dan kamu punya hak untuk melakukan apapun."
Viona hanya terdiam. Pandangannya menunduk melihat lantai. Ingin sekali dia mengiyakan ucapan Wisnu untuk menggugat cerai, tetapi tidak mungkin dia lakukan.
__ADS_1
Jika menggugat cerai dengan alasan perselingkuhan Marshal, apa kata suaminya nanti? Marshal pasti mencercarnya. Suaminya itu pasti akan membahas tentang ucapannya. Viona tidak pernah mempermasalahkan hubungannya dengan Amanda dari dulu, tetapi kenapa sekarang dia malah menangguhkan? Bahkan sampai mau menggugat cerai. Itu sama saja dengan Viona mengingkari ucapannya sendiri. Dia tidak bisa seperti itu. Viona memang tetap tidak akan mempermasalahkan perselingkuhan suaminya. Yang dia tidak suka hanya masalah kenyamanan dan kebebasan.
"Pernikahan kalian baru sebentar, tetapi Marshal sudah berani main belakang. Bagaimana dengan nantinya? Papa tidak mau kamu tersakiti lagi, Nak."
Dengan sikap penuh kebingungan Viona memandangi Wisnu. Meremas tangan di pangkuan adalah cara menghilangkan rasa yang sedang dia alami. Perasaannya tidak karuan. Kenapa hidup dengan menutupi banyak hal harus tidak enak seperti ini?
Marshal telah membawa Viona terjunkan ke dalam jurang yang penuh dengan kebohongan. Penuh dengan pertentangan dan rahasia. Terlalu rumit. Viona sudah tidak tahan lagi. Sampai kapan dia harus hidup penuh topeng seperti ini?
"Kamu maunya bagaimana?"
Viona semakin bingung harus menjawab apa. "Belum tahu, Pa," ucapnya dengan ragu.
Viona kasihan melihat kedua orangtua Marshal. Mereka sangat serius menanggapi masalah ini. Padahal dibalik masalah yang besar itu, banyak sekali rahasia yang menantu dan anaknya sembunyikan.
Mereka menganggap kesalahan Marshal adalah suatu pengkhianatan yang tidak bisa lagi dimaafkan. Namun, Viona tidak merasa demikian. Dia tidak bisa menganggap masalah ini serius karena sama sekali tidak keberatan. Tapi, tetap saja, dia harus menutupi dulu semuanya. Mengikuti alur sandiwara untuk sementara waktu.
"Pa, aku akan coba menyelesaikannya dengan baik-baik. Mungkin ...." Viona menghela napas. Memang sebaiknya dia bertemu dengan Marshal secepatnya. Masalah ini dibuat oleh Marshal dan harus diselesaikan olehnya.
Wisnu mengangguk pelan. "Papa harap cepat selesai. Bagaimana pun penyelesaiannya, papa tetap akan menerima. Jika kamu mau menggugat cerai, papa akan membantu kamu untuk menyelesaikannya."
***
Dua hari sudah terlewat. Viona masih berada di rumah mertuanya, sedangkan Marshal terlihat semakin kacau. Setiap malam tidak bisa tidur. Pikirannya berantakkan. Dia harus mengurus ini itu dengan cepat. Menyelesaikan semua masalah yang sudah dia perbuat.
Untuk hubungannya dengan Amanda, dia sudah mempersiapkan diri untuk mengakhirinya. Perdebatan hebat terjadi antara dirinya dengan Rio kemarin siang. Marshal akhirnya kalah dari asistennya dan mulai menyiapkan diri untuk memutuskan hubungan dengan kekasihnya.
***
"Aku masih mencintainya, Yo. Tidak bisa melepaskan Amanda begitu saja."
"Tuan bodoh jika memilih nona Amanda. Jangan membohongi diri sendiri, Tuan!" Dengan berani Rio menunjuk dada Marshal. Menekan-nekannya dengan sedikit tekanan. "Baik, jika Tuan tidak mau ... pertahankanlah nona Amanda! Tapi, Tuan harus siapkanlah mental untuk kehilangan segalanya!"
Marshal tidak mengerti dengan ucapan Rio. Kenapa Rio bilang seperti itu padanya?
__ADS_1
Asistennya itu menghela napas dalam. Menepuk bahu Marshal dengan tingkat kepercayadirian tinggi. Marshal hanya terdiam. Membiarkan Rio memperlakukan majikannya dengan sesuka hati.
"Perusahaan, keluarga, kepercayaan orang lain dan juga nyonya Viona ... tidak akan bisa Tuan miliki lagi, jika Tuan mengambil keputusan yang salah," ucapnya pelan. Dia berbalik badan untuk meninggalkan Marshal yang masih terdiam. "Pikirkan dulu baik-baik sebelum Tuan kehilangan semuanya."
***
Setelah dipikir ulang oleh Marshal, ternyata ucapan asistennya itu memang benar. Memilih satu wanita sama dengan mempertaruhkam segalanya.
Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan banyak hal. Meskipun berat, dia tetap harus memilih jalan yang tepat. Setidaknya itu akan lebih memudahkannya untuk cepat keluar dari semua masalah.
"Maafkan aku, Manda," gumamnya dengan lirih. Memijit pelipis yang semakin ngilu.
Hela napas dalam ... buang perlahan ...
Lupakan dulu sejenak semua masalah yang sedang dia alami saat ini. Banyak kertas menunmpuk di depan mata, sudah menanti tangan Marshal untuk mencoretkan tinta di atasnya.
Sedang sibuk-sibuknya memeriksa dokumen, Rio masuk ke dalam ruangannya. Marshal menoleh ke arah pintu. Wajah Rio tampak ragu untuk berucap. Kenapa dia?
"Ada apa?"
"Em, itu ... Tuan," Rio menggaruk pelan kepalanya. Marshal masih menunggunya untuk kembali bicara. "Ada tuan Heru ingin menemui, Anda."
Marshal langsung membelalak. Menyimpan semua pekerjaannya dan berdiri. Untuk apa mertuanya datang? Belum melihat Heru pun, Marshal sudah panik ketakutan.
"Apa boleh saya persilakan masuk?"
Marshal nampak bingung. Tapi tidak mungkin dia mengusir mertuanya sendiri, kan? Dia memandangi Rio yang sama terlihat bingung. Mereka sudah bisa menebak kedatangan Heru untuk apa.
Akhirnya Marshal mengangguk dengan terpaksa. Baru dia akan menyelesaikan semuanya, kini sudah muncul sayatan baru.
Tidak lama kemudian, Heru masuk. Dengan gugup Marshal menyalaminya dan mempersilakan Heru duduk di sofa yang ada di ruangannya. Mertuanya itu masih terlihat ramah. Dia tersenyum dan tidak lupa mengusap bahu Marshal saat menantunya menunduk untuk mencium tangannya.
"Apa kabar, Pa?" Marshal duduk berseberangan dengan Heru. Degup jantungnya mulai tidak beraturan. Dia sangat ketakutan sekarang.
__ADS_1
"Selalu baik," sahut Heru dengan ramah. Justru dengan sikap tenang dari mertuanya itu semakin membuat perasaan Marshal tidak karuan. "Papa ke sini ingin menanyakan masalah itu ... Apa semua yang ada di surat kabar itu benar?"
Memejamkan mata untuk berpikir sejenak. Berita sudah menyebar luas di luaran sana. Heru pasti sudah mengetahuinya. Lalu apa yang harus dia katakan? Jika Heru mengetahui semuanya, dia takut Heru akan mengambil Viona kembali darinya. Marshal tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau kehilangan Viona. Baru berjauhan sebentar saja rasanya sudah sangat menyesakkan, apalagi jika Heru mengambil Viona untuk selamanya. Tidak. Marshal tidak akan kuat menerimanya.