
Tengah malam Marshal baru pulang. Banyak perkejaan yang harus dia urusi di kantor.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Marshal melirik ke arah kamar Viona yang jaraknya cukup jauh dengan kamar miliknya. Tadinya, Marshal ingin menemui Viona. Dia ingin Viona melayaninya yang baru pulang bekerja. Seperti biasanya. Viona menyiapkan air untuknya mandi, membukakan kemeja dan membantunya berpakaian setelah mandi usai. Keinginannya dia urungkan. Dia sadar diri, Viona pasti sudah tertidur tengah malam begini.
Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Viona pasti sudah menyelami alam mimpi.
Akhirnya Marshal melakukan semuanya sendiri. Beberapa hari ini Viona memang tidak menjadi istri yang baik karena masalah yang terjadi itu. Tapi, keinginan Marshal untuk dilayani seorang istri selalu dia dambakan setiap hari.
Setiap perhatian dan perlakuan Viona selalu membuatnya menghangat. Dia suka Viona yang menurut dan melayaninya dengan baik. Dia selalu merindukkan Viona yang selalu kesal jika Marshal usili saat membantunya berpakaian.
Lupakan dulu Viona! Istrinya itu juga pasti butuh istirahat. Marshal pun demikian. Tubuhnya sangat lelah. Dia ingin segera memejamkan mata dengan nyaman di ranjang yang empuk.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Marshal segera naik ke atas ranjang. Langsung terlelap begitu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh lelahnya. Tidak ada yang bisa dipeluk di sana. Sebelum memejamkan mata, dia tersenyum. Guling ternyaman yang pernah ia bawa tidur adalah tubuh istrinya. Marshal merindukkan tubuh itu. Tapi, dia enggan untuk beranjak. Rasa lelah membawanya hanyut ke alam mimpi dengan cepat.
***
Rasa lapar yang sudah tidak bisa ditahan membuatnya tidak bisa tertidur dengan pulas. Dia turun dari ranjang, keluar dari kamar. Tujuannya hanya menuju kamar Viona. Entah apa yang dia pikirkan, tapi kakinya ingin menuju kamar itu.
Dibukanya perlahan pintu kamar istrinya yang ternyata tidak dikunci, Marshal berjalan masuk dengan malas. Wajah cantik istrinya bersinar di bawah lampu temaram. Dia mendekat ke ranjang. Menyentuh bahu Viona. Mengguncangnya pelan. Viona tidak terusik sama sekali. Tidurnya sangat lelap.
"Viona, bangun!" suara Marshal terdengar pelan didekat telinga istrinya. Viona tetap pulas. Tidak menggeliat sedikitpun. Marshal kembali menyentuh bahunya. Viona tetap tidak bergeming. Disentuh pipinya, dia tusuk-tusuk pelan dengan ujung jari telunjuk. Baru Viona menggeliat dan perlahan matanya terbuka.
"Tuan?" Wajah ngantuk Viona nampak terkejut. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat Marshal. "Kenapa Tuan di sini?" Viona melirik pada nakas. Jam di atas nakas menunjukkan pukul dua dini hari.
"Aku lapar." Wajah Marshal sangat terlihat memelas. Dia duduk di ranjang menghadap pada istrinya yang langsung terbangun.
Viona duduk, memijit pelan tengkuknya. Dengan setengah sadar, dia turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Marshal hanya terdiam memperhatikannya. Dia sebenarnya tidak tega jika harus membangunkan Viona. Tapi, dia sudah sangat lapar. Perutnya sakit. Dia bisa saja membangunkan pekerjanya, tapi tidak Marshal lakukan. Karena menurutnya itu akan menyusahkan. Dia harus pergi ke ruangan belakang yang ada di lantai bawah. Tidak tega juga jika harus mengganggu istirahat para pekerjanya.
Lalu kenapa dia tega mengganggu istrinya?
Marshal juga tidak tahu. Pikiran dan kakinya hanya tertuju pada Viona. Dia juga kasihan melihat Viona harus bangun dini hari seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi, rasa sakit di perutnya semakin menjadi. Jika Marshal masak sendiri, dia tidak mau. Tubuhnya sangat lelah setelah seharian penuh dia mengurusi banyak pekerjaan di kantor.
Melihat pantulan dirinya di cermin setelah mencuci muka dan gosok gigi. Viona masih mengantuk, sangat. Dia masih setengah sadar. Yang dia ingat, Marshal hanya mengatakan bahwa ia lapar. Viona berpikir, mungkin suaminya itu ingin dia memasak.
Keluar dari kamar mandi, Viona tidak mengatakan apapun. Dia berjalan keluar dari kamar diikuti Marshal di belakangnya. Mereka terdiam hingga sampai di dapur. Marshal duduk di bar stool, sedangkan Viona menuju kulkas. Mencari bahan makanan untuk dimasaknya.
"Tuan mau makan apa?" Viona berdiri di depan kulkas. Berbalik pada Marshal yang sedang menguap di meja bar.
"Apa saja asalkan enak di lambung. Perutku sakit, sudah lama tidak diisi."
__ADS_1
Viona kembali memilih bahan makanan. Tidak habis pikir dengan ucapan Marshal. Memangnya kapan terakhir kali suaminya itu makan sampai bilang perutnya sudah lama tidak diisi. Jarang-jarang juga Marshal membangunkannya tengah malam begini. Viona pun merasa heran dengan sikap tidak biasa dari suaminya.
"Kapan terkahir kali Tuan makan? Tadi makan malam, kan?" Viona membawa bahan yang sudah dipilihnya. Beberapa sayuran dia potong.
Marshal masih memperhatikannya. "Sarapan tadi," sahutnya lemah.
Viona yang sedang mencuci sayuran langsung berbalik badan. Matanya membulat tidak percaya. "Berarti tidak makan siang?"
Marshal menggeleng dengan pelan. Melipat tangan di atas meja, kemudian menyembunyikan kepalanya di balik lipatan tangan. "Malam juga tidak makan," ucapnya malas.
Viona menghembuskan napasnya dengan kasar. Marshal selalu saja melewatkan jam makannya, padahal tadi Viona sudah menyiapkan bekal untuknya. "Kenapa tidak makan? Tuan bisa sakit jika terus melupakan jam makan siang."
"Aku sibuk. Tidak sempat."
"Sesibuk apapun pekerjaan, harusnya Tuan menyempatkan diri untuk makan. Hanya sebentar. Apa susahnya Tuan tinggal istirahat sepuluh menit untuk sesuap makanan. Hanya membuang waktu untuk makan tidak akan membuat perusahaan bangkrut. Jika sudah seperti ini, Tuan bisa sakit. Justru dengan melewatkan makan, terus sakit, perusahaan akan bangkrut secara perlahan. Heran saya, kenapa Tuan bisa fokus bekerja di saat perut kosong," omel Viona panjang lebar sambil menyiapkan wajan di atas kompor listrik.
Wajah yang semula mengantuk dan bersembunyi di balik lipatan tangan, kini mendongak. Marshal tersenyum melihat pada Viona yang sedang menyiapkan bumbu. Bukan kesal diceramahi oleh istrinya, justru Marshal senang. Viona begitu perhatian padanya.
"Maaf."
Viona berbalik. Alisnya terangkat tanda tidak mengerti, kenapa Marshal mengatakan maaf?
Viona hanya diam. Termangu mendengar penuturan Marshal yang lembut. "Lain kali jangan lupa untuk makan! Sesibuk apapun pekerjaan, Tuan harus tetap makan! Berarti lain kali, saya akan marah jika lunch box yang saya buat tidak habis isinya. Saya akan memaksa mulai sekarang, supaya Tuan tetap makan!" ucap Viona sungguh-sungguh membuat Marshal tertawa kecil. Istrinya sangat menggemaskan jika sedang mengomel.
Viona kembali menghadap kompor dan bahan masakan. Dia ingin segera menyelesaikan masakannya supaya Marshal cepat makan dan dia bisa kembali tidur dengan nyenyak tanpa gangguan.
Marshal terus memperhatikan gerak-gerik istrinya. Senyuman tidak pernah pudah dari bibirnya. Dia senang mempunyai istri sebaik Viona. Istrinya itu sangat perhatian dan pintar memasak. Semua bisa Viona lakukan sendiri. Memang seharusnya dia bersyukur bisa menikahi perempuan secantik dan sebaik Viona. Semua sikap istrinya Marshal suka, kecuali satu, di saat istrinya mulai beropini dan membantahnya
"Zahra!"
Viona berbalik badan saat ada suara yang memanggil nama seseorang. Dia lihat sekitaran. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya mereka berdua. "Apa Tuan memanggil seseorang?"
Marshal tersenyum pada Viona. Tangannya bersidekap di atas meja. Tidak menjawab pertanyaan dari istrinya. Viona mengangkat bahu dengan acuh. Mungkin dia salah dengar karena masih mengantuk. Jadi, telinganya sedikit erorr. Viona kembali menyelesaikan masakannya.
"Zahra!"
Panggilan itu terdengar lagi. Tangan Viona yang sedang mengaduk masakannya di atas wajan, terhenti. Apa dia salah dengar lagi? Tapi dia yakin jika itu suara Marshal. Lantas Viona kembali berbalik badan. Suaminya tetap di posisi semula. Senyuman masih mengembang di wajahnya. Marshal terdiam. Tidak mengatakan apapun. Viona jadi heran. Siapa yang memanggil-manggil nama Zahra barusan? Di sana tidak ada siapa pun, selain mereka berdua.
"Tuan," Viona sedikit berbisik pada Marshal. "apa di rumah ini ada hantu?"
__ADS_1
Alis Marshal terangkat. Melirik sekeliling yang terasa sepi. Kenapa juga istrinya berkata seperti itu?
"Dari tadi saya dengar seseorang memanggil nama Zahra. Dia siapa? Apa penunggu rumah ini?" Bulu kuduk Viona berdiri membayangkan jika di rumah itu memang ada hantunya.
Tawa Marshal pecah mendengar ucapan istrinya. Viona semakin heran melihat reaksi Marshal. Dia sedang ketakutan tapi Marshal malah menertawakannya. Padahal di sana tidak ada yang lucu. "Zahra itu memang penunggu rumah ini."
Mata Viona membulat. Spatula yang dipegangnya hampir saja terjatuh. Dia semakin takut setelah mendengarnya.
Tawa Marshal semakin pecah melihat Viona mulai ketakutan. "Dia nyonya di rumah ini," ucapnya lagi. "Parasnya cantik. Dia sedang memasak di sana." Marshal menunjuk arah kompor. Di mana Viona berada sekarang.
"Jangan becanda, Tuan!" Viona melirik kiri kanan dengan takut. Dingin mulai merambat di tangannya. Apa benar hantu itu sedang memasak? Berarti dia menemani Viona?
"Beneran," Tawa Marshal terhenti. Kini dia nampak serius. "dia sedang memasak sekarang. Memakai piyama berwarna biru muda. Wajahnya sangat pucat sekali." Viona melirik bajunya sendiri. Dia memakai piyama berwarna biru muda. Apa yang Marshal maksud itu istrinya? Tapi, dia Viona bukan Zahra.
"Tuan, jangan becanda, ah! Saya takut." Viona menggigit bibir bawahnya. Perasaannya mulai tidak enak.
"Kenapa harus takut? Dia gadis baik."
"Tuan!"
Tawa Marshal kembali menggema. "Tidak usah takut. Dia istriku."
Mulut Viona menganga dengan lebar. Apa Marshal menikahi seorang hantu? Jika benar, berarti selama ini dia di madu?
"Dia baik sekali. Cantik lagi." Marshal turun dari bar stool. Mendekat pada Viona yang masih ternganga tidak percaya. Tangan Marshal menggapai kompor, kemudian mematikannya.
Dia berdiri di samping Viona. "Dia istriku," bisiknya membuat Viona meremang. "Belum lama kunikahi." Viona diam memandangi Marshal dengan bingung. Suaminya itu malah tersenyum. Dengan jahil menyentuh hidungnya. "Udah, ah. Gak lucu. Aku gak bisa becanda."
"Eh, maksudnya?" Viona bertanya dengan cengo.
"Yang tadi manggil itu aku. Aku memanggilmu, Zahra." Marshal menjauh dan kembali duduk di bar stool.
"Kenapa Zahra? Nama saya Viona."
Marshal menghela napas panjang. Istrinya itu masih tidak mengerti ternyata. "Viona Azzhara Pratama, itu namamu, kan?" Viona mengangguk dengan ragu. Masih bingung.
"Jika aku memanggilmu Zahra, tidak apa? Aku lebih suka memanggil seperti itu."
Viona menggaruk kepala dengan bingung. "Tidak apa, sih. Tapi, kenapa harus Zahra?" Marshal mengedikkan bahu. Tidak menjawab pertanyaan istrinya.
__ADS_1
Viona kembali balik badan menghadap kompor. Menyalakannya dan kembali melanjutkan masakannya yang tertunda. Pikirannya melayang ke mana-mana. Selama ini tidak pernah ada yang memanggilnya Zahra, tapi entah kenapa saat Marshal yang memanggil nama itu, rasanya dia tidak asing dengan intonasi panggilannya. Sepertinya pernah ada yang memanggilnya dengan sebutan dan intonasi itu. Tapi, Viona tidak tahu siapa dan kapan panggilan itu ia terima.