
"Jika saya menginginkan perceraian?"
Mata Marshal membulat tajam. "Kamu ini ngomong apa, sih? Jangan bicara sembarangan! Sudah kubilang TIDAK AKAN ADA KATA PERCERAIAN DI ANTARA KITA!"
Viona terperanjat kaget melihat kemarahan Marshal. Padahal Viona hanya mengatakan 'jika', tetapi Marshal sudah semarah itu padanya. Bagaimana jika Viona benar-benar mengatakan suara hatinya yang menginginkan perceraian? Apa suaminya itu akan langsung mengamuk di sana?
"Jangan pernah membicarakan perceraian denganku! Kita tidak akan pernah berpisah, paham!"
"Tuan, saya-"
"Apa?! Jangan pernah mengatakan kalimat itu lagi padaku!" Marshal langsung berdiri dari duduknya. Mendekat pada Viona, kemudian berdiri di depan istrinya yang mulai terlihat takut. "Sekali lagi kamu mengatakan perceraian di depanku, maka aku akan mengurungmu di kamar selamanya! Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Zahra!"
Dikerjapkannya mata beberapa kali. Viona berusaha terlihat tenang menghadapi suaminya yang meradang. Marshal terlihat begitu marah padanya. Dia menengadah untuk menembus mata tajam suaminya. "Tuan?"
Rahang Marshal mengeras, memandangi Viona dengan marah. Dia sangat tidak bisa menerima jika kalimat perceraian itu barusan keluar dari mulut istrinya. Dengan sekali gerakkan, Marshal menunduk. Tangannya menangkup rahang Viona. Mencium paksa bibir istrinya yang masih terkejut.
Viona berusaha terlepas, namun Marshal tidak membiarkan kepalanya menjauh sedikit pun. Dia menahan tengkuknya kuat. Marshal menciumnya penuh amarah sehingga Viona terus saja berontak. Dia merasa dilecehkan oleh suaminya sendiri. Viona sadar, jika dia istrinya Marshal dan tidak apa-apa jika disentuh oleh suaminya sendiri. Tapi, bukan begini caranya. Perlakuan Marshal sama saja dengan tindak pelecehan. Apalagi ciumannya semakin buas membuat Viona tidak tahan lagi ingin terlepas.
Posisinya sedang duduk dengan Marshal yang menunduk padanya. Kini Viona menghadapkan tubuhnya tepat pada Marshal. Dia menggerakkan tangan kanannya meraba dada Marshal sehingga ciuman suaminya semakin tidak terkendali. Perlahan tangan itu naik dan mengusap kasar leher suaminya. Perasaannya sudah marah, Viona tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia tidak peduli Marshal akan mati nantinya. Viona hanya ingin terlepas dari ciuman brutal suaminya.
Perlahan jemari lentiknya menekan titik bagian leher Marshal. Tekanan semakin lama semakin tajam menusuk. Marshal terpekik. Langsung terjatuh ke lantai setelah melepas ciumannya.
Dengan terengah-engah, Viona mengambil tissue yang ada di atas meja. Mengelap bibirnya yang berlipstik berantakan. Pandangannya tajam melihat Marshal yang terjatuh di lantai sedang mengatur napas sambil mengusap lehernya.
Rasakan!
Apa yang Viona lakukan barusan pasti membuatnya kesakitan. Jika tekanan berlangsung lama, maka darah menuju otak akan terhenti karena arteri karotis-nya tersumbat. Jika darah tidak berjalan menuju otak, maka otak pun akan kekurangan suplai oksigen yang penting. Akibat dari penyumbatan pembuluh darah tersebut bisa menyebabkan kelumpuhan dan akhirnya merenggut kematian. Terpaksa Viona melakukan hal itu supaya Marshal lepas darinya. Tidak peduli suaminya akan mati, Viona sudah tidak tahan jika terus dipaksa seperti itu.
Tidak ada yang bersuara di ruangan tersebut. Hanya deru napas mereka yang terdengar. Pasangan suami istri itu saling pandang dengan tajam. Sama-sama memancarkan amarah yang membuncah. Namun, di antara keduanya hanya terdiam.
Viona menyimpan tissue bekas bibirnya di atas meja. Merapikan penampilan sejenak, dia duduk kembali. Berusaha kuat untuk menahan diri supaya tidak menghajar suaminya, Viona mengambil gelas milik Marshal yang berisi teh lemon. Tidak peduli itu punya siapa, Viona butuh penenangan diri. Dia meneguknya sampai tandas. Itu pun terpaksa karena dari tadi dia belum memesan apapun.
Setelah menyimpan gelas, Viona mengalihkan pandangannya pada Marshal yang sedang berusaha untuk bangun. Suaminya itu masih mengusap leher dengan pelan, kemudan dia duduk di kursi semula. Berhadapan dengan istrinya yang sudah berbuat kejam padanya. Viona benar-benar menakutkan. Jika dicium paksa, dia selalu saja membalasnya dengan tanpa perasaan. Niat Marshal ingin membungkam mulut istrinya supaya tidak mengatakan kata 'perceraian' lagi, tapi Viona ternyata malah di luar kendali.
Hal pertama, balasan yang pernah Marshal dapatkan adalah sebuah cekikan dari dasi jika pagi hari dia menciumnya. Kemudian sebuah injakkan kaki. Lalu cekikan di leher dan sekarang Viona hampir saja merenggut nyawanya. Entah dari mana keahlian Viona berasal. Dengan lihainya dia menggerakkan tangan yang semula memabukkan malah menjadi sebuah tekanan yang bisa menghentikkan jalur darahnya. Sungguh, apa yang Viona lakukan selalu di luar ekspektasinya. Viona punya sejuta tingkah laku yang belum Marshal ketahui dengan benar.
"Apa yang kamu lakukan barusan? Kenapa malah-"
__ADS_1
"Kita bicara baik-baik, Tuan." Viona sudah terlihat tenang sekarang. Berhadapan dengan Marshal pun dia tidak menyorotkan tatapan tajam lagi.
Marshal akhirnya mengikuti untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Dia ingin minum, tetapi gelasnya sudah kosong akibat tingkah istrinya. Dia hanya bisa menelan ludah. Mengatur kembali napas yang masih belum teratur.
Dihelanya napas dalam. Viona harus melupakan apa yang terjadi barusan. Dia harus fokus untuk mengutarakan apa saja yang sedang ada dalam pikirannya sekarang. Masalah Marshal yang menjalin hubungan dengan Amanda, sehingga ikut menyeret namanya. Masalah itu harus segera selesai karena Viona sudah lelah menghadapi semuanya.
"Apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya? Jika saya tidak boleh mengatakan perceraian, maka solusi apa yang bisa Tuan berikan?" Viona memulai dengan tenang. Pandangannya terlihat serius memandangi Marshal yang juga sedang memandanginya.
"Aku akan menyelesaikan semuanya, Ra. Kamu tenang saja!"
"Bagaimana saya bisa tenang, Tuan, jika saya ikut terbawa-bawa dalam masalah ini. Bahkan sekarang keluarga saya sudah mengetahuinya."
Duduk menyandar menghadap Viona. Marshal terdiam. Istrinya terlihat tenang, namun dari sorot matanya mengatakan hal lain. "Nanti malam, aku akan bicara di depan semua orang. Aku pasti akan bisa menyelesaikannya, percayalah!"
Viona bungkam. Terlihat sedang berpikir. Tangan kanan dan kiri saling bertautan di atas meja. Viona menundukkan kepala. "Saya harap masalah bisa cepat selesai," ucapnya dengan lirih.
Marshal mengangguk cepat. "Masalah memang akan aku selesaikan. Aku janji, Ra! Tapi, ingat, jangan pernah kamu membahas perceraian lagi denganku! Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu!"
Baru Viona menengadah. "Perceraian masih akan dibahas, Tuan. Mereka pasti akan menyarankan hal ini untuk mengakhiri masalah. Saya juga tidak mungkin bisa menghindarinya, jika nanti mereka bertanya pada saya tentang bagaimana kelanjutannya."
Viona berdecak pelan. Marshal jadi loading, jika sedang dalam kedaan seperti ini. "Saya sudah pernah bilang, papa Wisnu selalu memberikan saya saran untuk menggugat cerai. Katanya, beliau akan setuju, jika saya melakukan hal itu."
"Jadi, kamu beneran mau kita bercerai?" Sorotan mata Marshal mulai tajam. Api amarah kembali hidup dalam dirinya. Jika Viona mengatakan perceraian, dia selalu meradang karena dia sangat tidak mau hal itu terjadi. "Kenapa?"
Viona kembali diam. Mengatupkan dua bibir ke dalam. Banyak kalimat yang ingin ia lontarkan pada Marshal, tapi tidak berani. Viona takut Marshal akan marah padanya. Entah itu karena isi pikirannya atau karena kalimat yang terlontar dari mulutnya. Dia jadi bingung untuk berucap di depan suaminya sekarang.
"Zahra!" desak Marshal memastikan perkiraannya. "Jangan bilang kamu menginginkan hal itu ...?" Kepala Marshal menggeleng-geleng pelan di saat otaknya malah berpikir jika Viona memang menginginkannya. Melihat Viona yang hanya terdiam, dia jadi takut. Marshal benar-benar takut jika Viona memang mau mereka bercerai. "Jawab aku! Kamu tidak menginginkan perceraian, kan? Kenapa, huh? Bukankah kamu tidak pernah mempermasalahkan hubunganku dengan Amanda? Tapi kenapa sekarang kamu malah seperti ini? Jadi, selama ini kamu cemburu padanya? Iya? Jawab aku, Zahra!"
Dengan ragu Viona memandangi Marshal. Mungkin memang sudah saatnya dia mengeluarkan semua yang ada dalam benaknya. Sudah saatnya dia mengutarakan apa saja yang menjadi ketidaksukaannya.
"Jujur," Viona mulai bicara dengan pelan, "sampai saat ini saya belum bisa menerima pernikahan ini, Tuan."
Marshal tertegun mendengarnya. Jadi, selama ini Viona tidak pernah menerima pernikahannya? Marshal kira Viona sudah menerimanya, karena melihat dari sikap Viona yang mulai nyaman berada di rumahnya dan mau melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, Marshal kira Viona sudah bisa mengikuti perannya dengan sepenuh hati. Tapi, ternyata tidak? Hati Marshal terasa tercubit mendengar pengakuan pedih tersebut.
"Saya tidak pernah mempermasalahkan hubungan Tuan dengan nona Amanda. Bukan hubungan kalian yang jadi masalah saya, tapi takdir." Viona kembali menunduk. Mengusapkan telunjuk di permukaan meja untuk menghilangkan kecanggungan. "Saya selalu merasa jika pernikahan ini adalah sebuah bencana bagi saya. Semuanya terjadi begitu cepat dan tidak bisa dipercaya. Bahkan pernikahan kita tidak dilandasi cinta."
Viona menggelengkan kepalanya pelan. Mengambil napas dan membuangnya perlahan. Menangadah untuk bisa berpandangan dengan Marshal yang terlihat kacau. "Sebenarnya, pernikahan macam apa yang kita jalani ini, Tuan?"
__ADS_1
Marshal terdiam dengan tatapan mata sendu. Terlihat berkaca-kaca. Viona memang mengatur setiap kalimat dalam ucapannya terasa berbelit, namun dia paham dan tahu apa yang akan Viona katakan selanjutnya. Bibirnya kelu untuk berucap. Semuanya belum terjadi, tetapi hatinya sudah berdenyut nyeri. Entah kenapa, amarahnya tidak bisa dikeluarkan setelah mendengar pengakuan pahit dari mulut istrinya.
"Jika bukan karena Tuan punya jasa terhadap keluarga saya ... saya tidak mungkin mau menikah dengan Anda. Saya punya cita-cita dan keinginan sendiri. Tapi, nasib malah berkata lain dan membawa saya pada situasi ini." Viona tersenyum kecut. Kembali menghela napas. "Dua hari saya merenung jauh dari Tuan. Saya baru sadar ... pernikahan yang Tuan buat ini ternyata memiliki banyak duri. Tuan mengajak saya untuk berenang di samudera yang tiada akhir dengan berbagai badai yang menimpa. Namun, sayangnya badai itu Tuan sendiri yang membuatnya. Saya hanya pengikut yang selalu menemani Anda ke mana pun Anda membawa saya. Saya lelah, Tuan. Saya sudah tidak tahan jika terus bersandiwara. Tuan terlalu jauh mengajarkan saya terus berbohong untuk memainkan sebuah drama. Menutupi masalah satu dan lainnya."
Marshal menunduk melihat tangannya yang digamit Viona. Diusapnya lembut penuh perhatian. Viona menggenggamnya erat seolah sulit untuk melepaskan. Hati Marshal menghangat menerima perlakuan itu. Dia merasa Viona hanya miliknya dan tetap untuknya. Tapi, dunia terasa runtuh seketika. Jantungnya berdebar hebat di kala Viona mengambil tangan Marshal mendekat ke wajahnya. Mencium punggung tangannya dengan sopan dan kembali mengusapnya perlahan bekas kecupan.
"Jika bisa saya mengajukan perceraian, maka saya menginginkannya sekarang."
Marshal menggeleng cepat. Balas menggenggam tangan Viona dengan erat. "Tidak. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menggugat cerai. Kita tidak akan pernah berpisah, Ra. Kita akan tetap bersama," ucap Marshal dengan penuh ketakutan.
Viona ikut menggelengkan kepalanya. "Tapi, saya tidak bisa meneruskan pernikahan ini, Tuan. Saya mohon, izinkan saya untuk mengambil keputusan. Perceraian-"
"TIDAK!" Marshal menatap tajam Viona. "Jangan pernah mengatakan itu lagi padaku! Aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita. Kamu pikir pernikahan itu permainan, dengan mudahnya kamu mengatakan kata cerai?!"
"Tuan yang memulai permainan, saya hanya mengikuti." Marshal mengernyit dalam. Tidak paham dengan maksud kalimat Viona. Istrinya itu gemar sekali menggunakan kalimat yang sulit dicerna. "Jika Tuan tidak mempermainkan pernikahan ini, mana mungkin Tuan menjalinnya sampai bercabang? Nona Amanda? Dan berbagai rahasia Tuan sembunyikan dari banyak orang. Ini bukan pernikahan, Tuan, melainkan sebuah permainan."
Marshal semakin mengeratkan genggaman di tangan Viona karena istrinya terus berusaha untuk terlepas. Dia tidak bisa membiarkan Viona lepas darinya begitu saja. Sekarang Viona mulai berani padanya. Bahkan argumen yang dikeluarkan istrinya terasa begitu tajam menyindirnya.
"Tuan ...."
"Tidak!" Marshal mengunci pandangan Viona. Genggaman di tangan semakin terasa menyiksa. "Aku tidak akan melepaskanmu, Zahra. Kamu istriku, tidak seharusnya kamu berkata seperti itu pada suamimu sendiri."
Viona tertawa hambar. Akhirnya menyerah dengan genggaman Marshal yang begitu menyesakkan. "O, ya? Saya rasa, saya bukan seorang istri, melainkan boneka. Tuan hanya menikahi saya untuk menutupi semua rahasia, bukan?"
Mata Marshal membulat tajam. Viona semakin berani padanya, bahkan ucapan Viona semakin merembet ke mana-mana. Apa yang Viona katakan sama sekali tidak benar. Dia tidak pernah menganggap Viona sebagai bonekanya. Viona istrinya dan akan tetap menjadi istrinya.
"Jaga bicaramu, Zahra! Jangan pernah bicara yang tidak-tidak!"
"Baik." Viona tersenyum manis. "Saya hanya ingin mengatakan pada Tuan, jika saya tersiksa dengan pernikahan ini. Saya tidak pernah bisa menerima pernikahan ini sepenuh hati, walaupun saya sudah mencona untuk mengiklaskannya. Saya hanya ingin Tuan paham, jika saya juga manusia yang menginginkan kebebasan, bukan tekanan seperti yang Tuan berikan. Biarkan saya memilih, Tuan."
Kepala Marshal menggeleng-geleng tidak suka dengan ucapan istrinya. Setetes air mata hampir jatuh dari tempatnya. Marshal berusaha keras menangkis semua pemikiran buruk yang sedang menghantamnya.
"Maaf, Tuan. Saya memilih mundur. Kita akhiri saja pernikahan ini! Masalah jasa Tuan terhadap keluarga saya ... saya ikhlas, jika Tuan akan melakukan apapun terhadap kami. Saya ingin bebas."
"Tidak. Tidak, Ra! Jangan! Aku tidak bisa. Aku mohon, jangan!" Marshal mengecup tangan Viona yang digenggamnya penuh ketakutan. "Aku tidak bisa kehilanganmu, Sayang! Sungguh, aku tidak mau kita bercerai. Aku mohon, bertahanlah sebentar lagi, aku akan menyelesaikannya."
Viona tetap keukeuh pada pendiriannya. Keputusannya sudah bulat. Dia sudah memikirkannya dengan matang. Masalah jasa Marshal, dia akan berusaha untuk mengembalikannya. Dengan uang kembali, bukan pengabdian lagi. Viona lelah berpura-pura. Lelah terus bersandiwara. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jika perpisahan lebih baik, maka dia akan melakukannya. Hidup bagai di dalam jeruji besi membuatnya sesak dan tidak bisa berdiri sendiri. Viona terkekang. Dia ingin kebebasan. Biarlah perceraian yang menjadi hasil akhir penyelesaian.
__ADS_1