Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kemarahan Kembali


__ADS_3

WARNING!


Terdapat sedikit kekerasan dan beberapa kata kasar di bab ini. Saya harap Anda tidak terbawa emosi. Tapi, jika sudah merasa muak dengan kelakuan di tampan Marshal, Anda bisa menyiapkan sapu terlebih dahulu. Panci juga boleh jika ada.


Untuk nimpuk suaminya Viona.


Sehat dan bahagia selalu, Readers!


Selamat membaca!


________________________


"Mohon maaf sekali, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah," ucap penjaga rumah Wisnu, lagi.


Marshal berdecak dengan kesal. Kenapa ayahnya sampai tidak membiarkan dia masuk ke dalan rumah untuk menemui Viona? Wisnu sudah sangat keterlaluan. Dia membiarkan Marshal memohon di depan gerbang hanya untuk diizinkan masuk dan bertemu dengan istrinya. Tapi, penjaga rumah itu terus saja melarangnya masuk dengan alasan karena sudah diperintah oleh Wisnu,


"Jika Marshal datang jangan biarkan dia masuk! Kalau pergi langsung usir saja," begitu katanya.


"Sudahlah, Tuan. Percuma kita di sini kalau tidak dibolehkan masuk. Langsung temui saja Tuan besar di kantornya," ujar Rio berdiri di samping mobilnya.


Marshal melirik pada Rio sekilas dan kembali memandang dua penjaga rumah yang tidak kunjung membukakan gerbang untuknya. "Biarkan aku masuk sebentar saja! Aku hanya ingin menemui istriku," mohonnya lagi.


Dia sudah lupa siapa dirinya dan sedang memohon kepada siapa. Seolah dia hanya orang asing di sana. Padahal Marshal merupakan anak dari pemilik rumah.


"Tidak bisa, Tuan muda. Mohon maaf. Saya hanya menjalankan perintah." Salah satu penjaga tersenyum dengan perasaan tidak enak telah menolak. Dia tidak bisa melanggar perintah dari Wisnu.


Marshal akhirnya pasrah dan mengikuti saran Rio untuk menemui ayahnya langsung. Hari masih siang, Wisnu pasti sedang di kantornya. Marshal harus segera menemuinya dan meminta maaf, mungkin. Supaya dia diizinkan bertemu dengan Viona dan membawanya pulang kembali.


***


"Lihat, itu!" Wisnu menyodorkan tablet pipih pada anaknya.


Marshal mengamati layar tablet dengan bingung. Terpangpang sebuah artikel yang menyatakan tentang kejadian waktu di pesta. Banyak yang menyoroti kejadian tersebut sehingga mengundang polemik di kalangan para pengusaha. Tentu saja nama Marshal dan ayahnya tercantum jelas di sana. Ayah dan anak yang merangkap menjadi dua pengusaha hebat itu, kini mendapat sorotan tajam dari berbagai orang.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Pesta papa kamu hancurkan dan sekarang ... lihat! Semua sudah tahu kelakuan bejatmu, Chal. Bahkan banyak investor kita yang kini malah menangguhkan perusahaan." Wisnu menatap tajam Marshal yang hanya terdiam sambil menggeser layar tablet. Melihat satu-per satu artikel yang membahas tentang masalah mereka pada saat pesta kemarin.


Marshal sendiri baru tahu jika kejadian itu menjadi sorotan tajam publik. Dalam semalam semuanya jadi rumit dan dengan cepat naik ke permukaan. Hal ini pasti akan berpengaruh besar bagi perusahaan.


"Kamu memang sudah keterlaluan. Apa yang kamu lakukan membuat semuanya berantakkan. Papa tidak tahu harus berbuat apa, sekarang. Berita ini sudah menyebar. Papa takut ini akan berpengaruh besar terhadap pandangan orang pada kita. Pokoknya papa tidak mau tahu, kamu harus selesaikan masalah ini sampai benar-benar putih kembali."

__ADS_1


Marshal memijit pelipis dengan pelan. Kepalanya langsung berdenyut hebat. Niat dia datang ke kantor Wisnu adalah untuk membicarakan masalah Viona supaya bisa dia bawa pulang. Tapi, masalah baru malah datang. Sekarang Wisnu terlihat sangat lelah menghadapi anaknya. Ayahnya kini tidak terlihat marah dan ingin menghajarnya lagi, melainkan terlihat frustasi.


"Kamu tahu ...," Wisnu memandangi Marshal dengan tajam. Seringaian muncul di wajahnya. "saat ini papa ingin sekali memenggal kepalamu, Chal."


Marshal terperanjat kaget. Menelan ludah dengan susah payah. Ucapan Wisnu tidak benar, kan? Apa sebegitu murkanya, sampai dia ingin memenggal kepala anaknya sendiri?


Embusan napasnya terdengar kasar. Wisnu menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya dengan pelan. "Jika saja kamu bukan anak papa, sudah papa lakukan sejak kemarin malam," ucapnya dengan lirih.


Marshal bernapas lega. Wisnu tidak benar-benar ingin membunuh anaknya. Tapi, dia masih takut terhadap Wisnu. Ayahnya itu pasti tidak akan mudah untuk memaafkannya begitu saja. Pasti tetap menghukumnya dengan kejam.


"Aku minta maaf, Pa. Secepatnya aku akan membereskan masalah ini!" ucap Marshal dengan sungguh-sungguh. Menyimpan tablet di atas meja dan kembali memandangi Wisnu yang mulai memejamkan mata. Wisnu pasti sangat kecewa padanya.


"Bersihkan nama papa hari ini juga dan selesaikan semua kebusukan yang telah kamu perbuat!"


Marshal mengangguk. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Semuanya jadi kacau sampai menyeret nama perusahannya dan juga Wisnu. Penilaian publik terhadap perusahaan juga pasti akan menurun drastis setelah berita perselingkuhannya tersebar. Marshal yang selalu dianggap sebagai pengusaha pintar dan hebat tidak tertandingi itu kini sudah tercemar. Orang-orang pasti tidak akan mudah kembali percaya padanya.


"Kenapa kamu melakukan itu?" Wisnu duduk dengan tegak mengintrogasi putranya.


Marshal menunduk memandangi meja kerja Wisnu. Apa yang harus dia bilang jika sudah ditanya seperti itu? Marshal tidak mungkin menjawabnya dengan jujur. Karena jika dia berkata jujur untuk saat ini, masalah baru akan datang dan Wisnu akan membunuhnya saat itu juga.


Wisnu belum tahu alasan dia menikah dengan Viona.


"Hanya pecundang yang akan menghindari pertanyaan itu."


Pyar ...!


Wisnu melempar gelas yang ada di atas meja hingga mengenai dinding ruangan kerjanya. Marshal tercengang melihat itu. Dia semakin takut melihat kemarahan Wisnu yang kini terus menatap padanya.


"Khilaf kamu bilang?"


Marshal mengangguk pelan. Beberapa kali menghela dan membuang napas. Dia takut Wisnu kembali menghajarnya. Bekas semalam saja masih tersisa di wajahnya, bagaimana jika Wisnu malah menambah lebamnya? Atau mungkin malah menghilangkan kepalanya?


"Brengsk!" umpat Wisnu menggema memenuhi ruangan. "Mana ada khilaf dilakukan dengan sadar?!"


Degup jantung Marshal semakin kencang. Dia hanya bisa menunduk dengan takut. Sepertinya Wisnu akan kembali murka. Wajah ayahnya sudah memerah menahan amarah. Gemeretak giginya terdengar menahan kegeraman. Hanya butuh waktu hitungan detik, mungkin bogeman mentah akan melayang kembali di rahangnya.


Dan benar saja. Sejurus kemudian, Wisnu beranjak dari duduknya. Menghampiri Marshal yang masih menunduk takut. Tangan yang terkepal kuat langsung menghantam rahang yang masih lebam, bekas pukulan semalam.


Marshal langsung terjungkal dari tempat duduknya. Tidak bisa melawan. Dia tahu, dia memang salah. Bukan saatnya untuk melawan kala Wisnu sudah meradang. Ayahnya pasti akan mematahkan lehernya saat itu juga jika dia berani mengelak.

__ADS_1


"Aku menyesal telah membanggakanmu sejak dulu. Anak yang kupamerkan, sekarang malah menjadi seorang bajingn!"


Ringisan sakit terdengar dari orang yang masih terkapar di atas lantai. Sudut bibirnya kembali pecah dan mengalirkan darah. Dia berusaha bangkit kembali untuk terduduk. Rasa bersalah terlihat dari sorot matanya. Apa yang Wisnu katakan memang benar. Seharusnya dia memang tidak pernah dibanggakan. Karena dia hanya seorang bajingn.


"Pergi dari ruanganku dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku! Aku tidak punya anak brengsk sepertimu."


Marshal sampai terkejut dengan ucapan Wisnu. Segera bangun dan meraih tangan ayahnya. "Pa, aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf." Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak percaya jika kemarahan Wisnu akan berakhir dengan membuangnya. "Pa, aku mohon, jangan seperti ini!"


Wisnu menghempaskan tangan Marshal dengan kasar. "Dalam waktu sehari kau berulah banyak, Marshal!" bentaknya tepat di depan wajah putranya. "Kau tahu? Reputasiku bahkan sekarang ikut tercoreng karena ulahmu. Belum lagi ibumu semalaman menangis karena masih tidak menyangka, jika anaknya berbuat kotor."


Marshal mulai terlihat gundah. Sampai sebenci itukah mereka? Kenapa Wisnu menyebut perbuatannya kotor? "Pa, aku sungguh minta maaf. Aku tahu aku salah. Maafkan aku!" Dia bersimpuh di hadapan Wisnu. Menunduk untuk memeluk kaki ayahnya.


Wisnu mengepalkan tangan di samping paha. Dia tidak tega melihat Marshal seperti ini, tetapi dia merasa kecewa. Hanya ingin supaya anaknya bisa berpikir dengan jernih dan tidak membuat kesalahan lagi. Marshal sudah dewasa, seharusnya dia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, anaknya itu seakan buta dengan apa yang dia lakukan.


Suasana ruangan lama terasa hening. Mereka sibuk menyelami pikiran masing-masing. Wisnu berusaha keras untuk tidak menghajar anaknya kembali. Tapi, perasaan kesalnya tidak bisa mereda begitu saja. Baginya, pengkhianatan adalah sebuah kesalahan yang paling besar.


"Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan istrimu?"


Marshal menengadah. Wisnu membuang pandangan darinya yang masih bersimpuh. Jika saja Wisnu tahu jika Viona bahkan mengizinkannya untuk berpacaran, apa reaksi ayahnya itu? Apa dia akan percaya padanya? Atau malah kembali menyalahkannya?


"Pergilah! Jangan temui aku jika masalah belum bersih!"


Perlahan Marshal bangun. Perasaannya yang tidak karuan kini mulai terasa sedikit lega. Ucapan Wisnu menyiratkan jika masih ada kesempatan untuknya memperbaiki semua. Wisnu belum benar-benar membuangnya. Mungkin hanya rasa kesal dan kecewa saja yang Wisnu rasakan. Ayahnya itu pasti masih menyayanginya. Tidak mungkin memutus hubungan keluarga begitu saja.


"Aku janji akan menyelesaikan semuanya, Pa. Tapi, Vionaļ¼"


"Jangan harap bisa bertemu dengan menantuku, jika hubunganmu dengan wanita itu belum berakhir!" sarkas Wisnu dengan masih keras.


Bahu Marshal sampai terkulai lemas. Harus berapa lama lagi dia berjauhan dengan Viona? Sehari saja rasanya begitu menyiksa. Dan lagi, bagaimana dia memutuskan Amanda? Mengakhiri hubungannya dengan Amanda adalah hal yang sulit untuk dilakukannya.


"Izinkan aku menemuinya sebentar, Pa!" mohon Marshal selembut mungkin. Meskipun keinginan menemui Viona terasa sangat besar, tapi dia tidak mungkin berucap melebihi oktaf yang dipakai pendingin ruangan. Harus setenang dan sepelan mungkin supaya amarah Wisnu tidak kembali terpancing.


"Untuk apa? Meminta maaf?" Marshal mengangguk dengan cepat.


Lucu. Meminta maaf untuk apa? Selama ini Viona tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Amanda. Dia tidak membuat kesalahan, kan? Untuk apa meminta maaf pada istrinya?


"Pastikan wanita itu jauh dari kalian sebelum kamu menemuinya."


"Hubunganku dengan Amanda akan aku akhiri, Pa. Aku mohon, izinkan aku bertemu lagi dengannya!"

__ADS_1


Wisnu menggeleng dengan tegas. Tidak peduli Marshal memohon bahkan keberatan dengan keputusannya. Wisnu sudah menganggap Viona seperti anaknya sendiri walaupun dia belum lama mengenalnya. Dia rasa, jika Viona tidak pantas mendapatkan suami seperti Marshal.


"Menantu sebaik Viona tidak pantas untuk kamu. Papa akan memulangkannya pada Heru. Biarkan saja mertua kamu yang mengurus bagaimana kedepannya."


__ADS_2