
Karena tidak bisa mengendalikan pikirannya, Marshal kembali bangun di tengah malam. Dia kesal karena sosok Viona terus saja berkeliaran dalam benaknya, sehingga dia tidak bisa tidur sama sekali.
Diturunkannya kaki dari ranjang, Marshal duduk dengan kaki menjuntai. Jika meminta Viona pindah tidur dengannya, itu tidak mungkin. Viona pasti sudah tidur tengah malam seperti ini. Semuanya gara-gara Michelle. Jika saja adiknya itu tidak memaksa tidur dengan Viona, sekarang Marshal pasti sudah tidur nyenyak sambil memeluk tubuh hangat istrinya.
Tidak tahan dengan kejenuhan, diam sendiri di dalam kamar yang hening. Marshal keluar dari kamar. Mencari hal apapun yang bisa mengalihkan pikirannya dari Viona. Dia ingin tidur, supaya hari besok bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Namun, tubuhnya sulit sekali diajak kompromi. Matanya memang terpejam, tapi bayangan Viona terus saja berkeliaran tanpa mau beranjak sedetik pun. Sekarang Marshal yakin, Viona pasti melakukan guna-guna untuknya. Kegilaan Marshal terhadap istrinya terlalu berlebihan, melebihi perasaan cintanya. Marshal tidak bisa menahan diri untuk berjauhan dengan istrinya, walaupun hanya satu detik. Pelet apa yang Viona gunakan untuknya? Kenapa manjur sekali?
Saat menuruni tangga, dia mengernyit melihat arah dapur yang lumayan jauh, namun terlihat menyala. Biasanya dapur akan gelap di malam hari karena asisten rumah tangganya selalu mematikan lampu. Karena heran, Marshal pun melangkahkan kakinya ke sana. Dia terkejut melihat seorang wanita yang sedang memasak sendirian. Orang yang paling disayanginya itu terlihat sedang asyik mengolah makanan sambil bersenandung pelan.
Marshal melangkah maju, semakin mendekat pada wanita yang sedang berkutat di depan kompor, memunggunginya. "Mama, ngapain di sini malam-malam?"
Wanita yang sedang memasak itu terkesiap. Hampir berteriak karena kaget. Untung saja Marshal segera menampakkan dirinya di depan sang ibu, sehingga Rahma tidak jadi mengeluarkan teriakannya. "Kamu ngagetin aja," kesal Rahma mengusap-usap dadanya.
"Mama ngapain?" Marshal memandangi Rahma dengan kesal. Ibunya sedang sakit, tapi kenapa malah memasak tengah malam seperti ini, bukannya istirahat. "Jika lapar, Mama 'kan bisa minta tolong orang lain. Papa ke mana?"
Rahma kembali melanjutkan memasaknya. "Papa lagi tidur. Mama diam-diam keluar, kalo gak gini, papa mana mungkin ngizinin."
"Sini, aku yang masak. Mama duduk saja!" Marshal mengambil alih spatula yang sedang mengaduk balado cumi. Melihat apa yang dimasak Rahma, Marshal mengerti kenapa ibunya memasak diam-diam. Selama sakit, makanan Rahma selalu dijaga. Apalagi Viona yang lumayan cerewet jika mengurusi orang sakit, selalu melarangnya makan ini-itu. "Lain kali, minta tolong orang lain, Ma. Mama 'kan masih sakit."
Kondisi Rahma memang sudah lebih membaik, sudah bisa melakukan apapun sendiri. Tapi, Marshal tetap saja khawatir dengan kondisinya.
Rahma hanya bergumam, berdiri di samping anaknya yang cekatan menambahkan garam dan gula sedikit pada masakan yang dia buat. Rahma memang tidak pandai memasak, pantas jika rasanya kurang sedap. Berbeda dengan Marshal yang sedikit banyaknya bisa mengolah makanan enak. Marshal memang tidak pernah terlihat memasak sekarang ini, karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Dan merasa punya banyak pekerja, dia tidak perlu susah-susah memasak. Padahal sebenarnya dia lumayan pintar dalam hal dapur, karena lama tinggal sendiri di luar negeri waktu bersekolah dulu.
"Kalian sudah baikan?"
Marshal melirik sejenak pada mamanya, dia mengangguk dan memasang senyuman semanis mungkin. Rahma langsung memeluk tubuhnya dari samping. "Semoga kalian baik-baik saja, selalu. Mama akan terus mendoakan kebaikan rumah tangga kalian."
"Makasih, Ma. Maaf, aku belum bisa jadi anak dan suami yang baik untuk kalian."
Pletak!
__ADS_1
Marshal mengaduh saat Rahma menjitak keningnya.
"Asal tidak diulangi lagi, mama memaafkan. Viona istri baik, kamu jangan pernah menyakiti dia lagi! Si model jelek itu tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan mantu mama."
"Iya, Ma, Iya ... mantu Mama paling sempurna. Dia istri baik, saleha paling cantik tentunya."
"Jangan pernah berpaling dari dia! Kalo mama tahu kamu main gila lagi, mama tidak akan menghalangi Viona untuk menggugat cerai."
Sambil mengaduk masakan, Marshal mengangguk. Rahma sudah kembali baik padanya. Dia bahagia. Satu per satu masalah sudah bisa dia selesaikan dan Marshal berharap, tidak akan ada kerumitan lagi dalam keluarganya. Dia ingin hidup bahagia bersama Viona, selamanya.
***
Bukannya kembali ke kamar, Marshal malah melangkah menuju kamar adiknya. Setelah dia menemani Rahma memasak, makan, sampai mengantarkan ibunya kembali ke kamar untuk beristirahat, Marshal kembali naik ke lantai atas. Niatnya ingin tidur. Namun, dia malah ingin melihat dulu keadaan Viona yang sepertinya sedang asyik di alam mimpi.
Marshal mendengus sebal karena perkiraannya benar. Masuk ke dalam kamar Michelle, dia sudah bisa melihat tubuh Viona yang berbaring miring menghadap adiknya. Michelle memeluk Viona dari samping, terlihat nyaman sekali. Memang tidur bersama Viona sangat nyaman, karena Marshal pun sering merasakannya.
Dilangkahkannya kaki pelan mendekati ranjang, Marshal hanya bisa menggeleng sambil mengulum senyum. Bagaimana istrinya bisa tidur senyenyak itu, padahal suaminya saja tidak bisa tidur karena terus terpikir akan sosoknya. Selain tidak mencintainya, Viona ternyata juga tidak peduli padanya. Miris sekali yang menjadi suaminya. Hanya mendapatkan status saja tanpa diakui oleh istri sendiri memang sakit sekali.
Tangan Marshal menyentuh kepala Viona dan mengusapnya secara perlahan. Dia terkesiap saat Viona menggeliat. Diusapnya kembali untuk mengantar Viona ke alam mimpi, tetapi istrinya malah membuka mata. Viona mengernyit dengan mata menyipit menyesuaikan cahaya. Sedetik kemudian matanya membuka lebar begitu melihat sosok Marshal yang memasang senyuman sok manis.
"Ngapain di sini?" Viona melirik Marshal, kemudian melirik adik iparnya yang masih terlelap. "Gak tidur?"
Marshal duduk di tepi ranjang setelah menggeser tubuh Michelle supaya agak ke tengah. Memandangi wajah mengantuk Viona yang masih melihat padanya. "Bagaimana aku bisa tidur, kamu terus menggangguku."
Viona hanya diam dan kembali memejamkan mata. Dia sungguh mengantuk saat ini, tidak ada tenaga untuk meladeni suaminya yang aneh.
"Sayang, tidurnya pindah, yuk!" Marshal membujuk sembari mengusap bahu istrinya yang terhalang tubuh Michelle.
Viona kembali membuka mata dengan malas, tidak berkata apa-apa dan malah mengibaskan tangannya. "Aku ngantuk, malas pindah. Kamu tidur sendiri saja. Bukannya dari tadi juga sendiri," ujar Viona terdengar seperti gumaman. Matanya sulit sekali untuk terbuka. Dia sangat mengantuk dan mencoba mengabaikan suaminya begitu saja.
__ADS_1
Tanpa Viona sadari, Marshal beranjak dan memutari ranjang. Berdiri tepat di sisi bagian Viona berbaring, Marshal mengembuskan napas pelan serta menyeringai. Menyingkirkan tangan Michelle yang memeluk tubuh Viona, dengan segera dia mengangkat tubuh istrinya.
Viona terkejut dan langsung membuka mata lebar saat tubuhnya terangkat dengan paksa. Dia ingin berteriak, tetapi Marshal segera mengintruksinya untuk diam dengan mengacungkan telunjuk di depan bibir.
"Apa-apaan, sih, kamu?" kesal Viona dengan refleks mengalungkan tangan di leher suaminya karena takut terjatuh. Marshal hanya memasang senyuman jahil, mencuri satu ciuman dari bibir istrinya dan membawa Viona keluar dari kamar Michelle.
Viona menolak dan terus meronta minta diturunkan, tetapi Marshal seolah tidak peduli dengan protesan istrinya. Dengan sengaja, Marshal melonggarkan tangan yang sedang menggendong tubuh istrinya ala bridal style, sehingga Viona hampir terjatuh. Karena takut, Viona semakin erat mengalungkan tangan di leher suaminya. Marshal menyeringai puas dan meminta Viona untuk membuka pintu kamar mereka.
Viona menurut dengan terpaksa, padahal dia sangat ingin berontak dan mencekik leher suaminya. Sayang, keberaniannya tidak cukup besar untuk saat ini. Dia yang setengah mengantuk, tidak punya cukup tenaga untuk melawan sikap seenaknya Marshal yang selalu saja seperti itu.
"Turunin!" Viona meronta karena Marshal tetap tidak mau menurunkan tubuhnya. "Chal, turunin!"
Marshal menyeringai jahil dan menggeleng. "Beri aku satu ciuman!" pintanya memonyongkan bibir pada Viona.
"Dasar gila!" maki Viona berontak sekuat tenaga. Menendang-nendang udara dan memukup dada suaminya, sehingga Marshal awalahan menahannya dan,
Brugh!
"Awsh!" Viona meringis di atas lantai. Dengan cepat Marshal menggendongnya kembali dan menurunkannya di atas ranjang penuh cemas.
"Makanya, diam! Jadi, jatuh, kan," omel Marshal panik melihat istrinya yang mengusap bokong sambil meringis. "Mana yang sakit?" Marshal memeriksa tubuh Viona khawatir. Istrinya malah menepis tangan Marshal sambil memaki tidak jelas penuh kekesalan. "Coba kalo tadi kamu gak berontak, pasti gak bakal jatuh."
"Salah kamu yang gak benar nahannya!" dengus Viona menggeser tubuhnya sambil sesekali meringis menahan sakit di pinggang dan bokongnya. Rasa kantuknya hilang seketika. Marshal benar-benar menyebalkan! "Awas, ah!" Viona turun dari ranjang dengan cepat.
"Mau ke mana?"
"Tidur ke kamar Michelle," sahut Viona cuek sambil berdiri. Marshal menahan tubuhnya sampai terduduk kembali. Aura kemarahan Viona pancarkan, menepis tangan Marshal yang menahan tangannya. "Sudah malam, lebih baik tidur daripada ribut."
"Aku gak ngajak ribut, cuma ngajak tidur. Kamu tidak boleh tidur di kamar Michelle lagi, tidur di sini!"
__ADS_1
Viona mengusap pinganggnya seraya terus meringis. Marshal memandangnya khawatir. "Kamu keterlaluan. Mau buat aku encok?"
"Maaf," Marshal ikut mengusap pinggang istrinya penuh rasa bersalah. "tapi salah kamu yang beron-" Glek! Marshal menelan ludah susah melihat tatapan tajam Viona. "Iya-iya, aku yang salah."