Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Aku Mau Kamu


__ADS_3

Butuh waktu lama bagi Marshal untuk bisa menenangkan Amanda. Sekarang, tangisan kekasihnya itu sudah mulai mereda. Marshal mengambil tissue di atas meja, mengusapnya di wajah Amanda yang basah akibat air mata yang terus saja mengalir sejak tadi.


"Kamu tahu 'kan, aku sangat sayang sama kamu, Honey? Aku selama ini tertekan dengan perasaanku sendiri. Aku tidak rela kamu menikah dengan dia, dan sekarang kamu menghindari aku karena dia."


Marshal hanya terdiam memandangi Amanda yang sudah kembali memperlihatkan sikap manjanya. Dia lebih suka Amanda yang manja daripada melihatnya mengeluarkan air mata seperti tadi. Tapi, sepertinya sikap manja itu tidak akan terlihat lagi. Manisnya Amanda akan surut, jika dia mengatakan apa yang membuatnya datang ke sana.


"Manda aku minta maaf, jika tadi aku membentakmu. Aku juga minta maaf, jika selama ini ada sikapku yang kurang mengenakan padamu. Aku minta maaf untuk segalanya." Marshal menggenggam tangan Amanda, mengusapnya pelan. "Kamu mau maafin aku, kan?"


Senyuman Amanda merekah sedikit demi sedikit. Pandangannya mulai melunak dan langsung memeluk Marshal dengan posesif.


Dipejamkannya mata, perasaan Marshal mulai tidak bisa dikatakan baik-baik saja, dan malah semakin tidak karuan. Dia harus bisa mengatakannya. Demi Viona. Demi istrinya, dan demi kelangsungan rumah tangganya.


Perlahan, tangan Marshal terangkat untuk membalas pelukan Amanda. Mengusap punggungnya pelan serta membisikkan kata maaf berulangkali. Terasa kepala Amanda mengangguk, bertumpu di pundaknya. Berat kembali terasa dalam dada. Sesak mulai menyeruak. Haruskah Marshal tega melakukannya?


Lagi-lagi dia ragu untuk berucap. Kenapa semuanya harus terjadi sekarang? Sulit untuk mengatakannya. Kenangam demi kenangan yang pernah dia lewati bersama dengan Amanda kembali berputar. Apa yang menjadi kesenangan dan apa yang menjadi ketidaksukaan Amanda masih Marshal ingat semuanya.


"Kau kekasihnya sekarang. Jaga adikku dengan baik! Jangan sampai aku tahu dia menangis karenamu! Sekalipun dia ingin boneka barbie, kamu harus membelikannya! Dia itu manja, kamu harus ekstra sabar menghadapinya."


Sesak semakin menyiksa di dalam rongga dada. Kalimat demi kalimat bernada gurauan itu muncul. Terngiang dalam telinga, berkelebat dalam memori. Apa yang akan Marshal lakukan pasti sangat melukai wanita itu. Dia juga mengingkari janjinya terhadap kakak Amanda untuk menjaganya. Marshal memang menyayanginya. Sangat. Dia mengenal Amanda memang hanya tiga tahun, kurang lebih. Tapi, rasa sayang Marshal terhadapnya sangat besar. Karena Amanda selalu berlindung padanya. Meminta apapun padanya.


Dihirupnya udara banyak sampai dadanya sedikit membusung. Marshal membuangnya secara perlahan dengan mata yang masih terpejam. Dia berharap bisa tegas mengatakannya. Demi Viona. Demi meraih kepercayaan istrinya. Demi lulus uji coba yang telah Viona berikan untuknya.

__ADS_1


"Manda," Orang yang dipanggil tidak menyahut, malah menyurukan wajah di leher Marshal dan memeluknya semakin manja. "aku minta maaf!" Masih tidak ada sahutan. "Kamu memang wanita yang baik. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Tiga tahun kita berhubungan, aku tidak pernah merasa kamu adalah beban. Aku tidak pernah merasa kamu adalah sesuatu yang tidak layak kusayangi. Kamu adalah wanita yang hebat. Banyak kebahagiaan yang pernah kamu kasih untukku. Meskipun aku tidak bisa meraih restu kedua orangtuaku, tapi kamu tetap sabar menunggunya. Terima kasih."


Marshal menelan ludah mendengar Amanda yang hanya bergumam. Mereka masih berpelukan, duduk di kursi penuh rasa sayang. Dielusnya punggung Amanda perlahan, Marshal kembali menghela napas dalam.


"Maafkan aku ... hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi."


Dengan mata terpejam, Marshal terdiam. Dia sudah siap jika Amanda akan meluapkan reaksinya. Dia siap jika Amanda akan memukulnya, akan berteriak histeris, bahkan membunuhnya sekalipun. Marshal sudah siap. Kalimat itu sudah dia ucapkan. Apapun konsekuensinya, akan dia terima dengan lapang dada. Amanda menangis, dia akan berusaha untuk tegas. Dia sudah mengatakannya dan tidak akan menariknya kembali. Tidak akan. Ada Viona yang menunggu, Marshal tidak mau terbelenggu dengan perasaan seperti ini lagi.


Namun, lama dia terdiam menunggu reaksi lawan bicaranya. Tidak ada sepatah kata pun yang Amanda katakan. Tidak ada pergerakkan darinya. Dengan cemas Marshal melepaskan pelukannya. Rasa bersalah menyeruah. Matanya mulai berkaca-kaca melihat Amanda yang hanya diam memandanginya. Tatapannya kosong, tubuhnya kaku tidak bergerak sedikit pun.


"Manda ...." Dengan perasaan sesak, Marshal menyentuh wajahnya. Amanda tidak bergeming, dan tetap menatapnya kosong. "Manda?" Masih tidak bergeming. Amanda tidak menunjukkan reaksi apapun padanya.


Perasaan Marshal semakin kalut. Rasa bersalah menghantam dada semakin sesak. "Maafkan aku!" Dia kembali memeluk tubuh wanita itu. Berulangkali menggumamkan kata "maaf" seraya mengelus rambutnya. Amanda masih tidak mengeluarkan suaranya. Tidak ada kehidupan bersinar di matanya.


Perlahan Amanda mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Marshal. Air mata kembali muncul perlahan dan meleleh tanpa bisa dicegah. "Kamu sungguh mengatakannya?" Nada pilu begitu terasa. Amanda melihat manik mata suaminya Viona dengan lekat, tajam, dan dalam. "Kamu benar-benar mengatakannya?"


Tidak tahu harus berbuat apa, Marshal hanya bisa kembali diam memandangi wajah Amanda. Dia melihatnya tidak tega. Namun, Marshal harus bisa tegas menghadapinya. Ada Viona yang sedang menunggunya untuk kembali. Ada masa depan yang sudah siap menjadikannya imam yang baik untuk keluarganya kelak. Marshal harus kuat, tidak boleh goyah lagi melihat air mata itu perlahan mulai deras menggenangi pipi Amanda.


Tanpa isakan. Hanya air mata yang mengalir, tidak ada suara yang keluar. Amanda bahkan tidak berusaha mengusap air mata tersebut. Dia membiarkannya terus berderai. Luka lama dan luka baru datang silih berganti mendobrak pikirannya. Dia merasakan sesuatu mulai menyeruak bangkit di dalam dirinya. Suatu perasaan sakit yang amat sangat dalam.


"Kamu sungguh mengatakannya?" Amanda tersenyum kecut di balik air mata yang semakin membasahi wajah. "Kamu mengatakan apa yang menjadi ketakutan terbesarku, Marshal! Kamu jahat! Kamu brengs*k! Kamu laki-laki tidak tahu diri! Kamu kejam! Kamu ...."

__ADS_1


Marshal diam menerima pukulan demi pukulan yang menjadi pelampiasan kemarahan dari Amanda. Dia menerima apapun yang Amanda lakukan untuknya. "Pukul aku, Manda! Hukum aku semau kamu! Aku memang jahat, aku kejam. Aku minta maaf."


"Kamu memang jahat! Kamu brengsk! Marshal ... kamu laki-laki tidak berperasaan!" Pukulan Amanda membabi buta dengan tangan mengepalnya menghantam dada Marshal. "Kenapa kamu melakukannya? Kenapa? Kenapa aku selalu kehilangan semua orang yang aku sayang? Kenapa Tuhan kejam padaku? Kenapa, Marshal? Kenapa?"


Marshal masih diam melihat Amanda yang berteriak histeris di depannya. Pukulan tidak henti dia layangkan. Marshal sudah menduga Amanda akan seperti ini. Wanita itu terlalu rapuh. Tidak ada pelindung untuknya. Amanda terluka dan kecewa padanya dalam waktu yang bersamaan.


Diamnya Marshal tidak lama. Dia mulai cemas melihat Amanda yang menyeringai padanya. Wanita itu semakin dekat dengannya membuat Marshal sedikit memundurkan tubuhnya. Amanda malah semakin mendekat dan berhasil mendorong tubuh Marshal sampai setengah baring di sofa.


Mata Marshal terbuka tajam. Amanda mencium bibirnya dengan kasar dan tidak sabaran. Dia sampai sulit mengendalikannya. Marshal mencoba mendorongnya perlahan, Amanda malah semakin menindih tubuhnya dengan bibir yang terus meminta dengan rakus.


"Aku mencintaimu, Marshal. Kenapa kamu malah meninggalkan aku?"


Marshal mulai tidak bisa mengontrol Amanda yang semakin berani dengan aksinya. Bukan hanya bibir, tetapi rahang dan leher menjadi sasarannya. Marshal mendesis pelan saat perih terasa di bagian sisi lehernya. Dia langsung mendorong Amanda untuk menjauh. Sial. Amanda membuat bekas merah di lehernya.


Wanita itu benar-benar tidak mau menyerah. Dia kembali menyerang Marshal dengan agresif. Semakin tidak terkendali. Tangannya bergerilya membuka kancing baju Marshal dengan tidak sabaran. Marshal menahan tangannya untuk berhenti, namun Amanda malah berteriak histeris dan kembali memberikan seringaian kejamnya.


Marshal semakin kesusahan karena Amanda sekarang malah berada dalam pangkuannya. Duduk mengangkang dengan tangan dan kepala yang tidak bisa diam menjelajahi tubuhnya.


"Manda, hentikan!"


Wanita itu tidak mendengarkannya dan malah kembali menyasar wajah Marshal dengan ciuman-ciumannya. Tangannya tidak tinggal diam. Tiga kancing teratas baju Marshal berhasil dia buka. Dengan kasar, tangan Amanda menyibaknya dan mengusap dada bidang Marshal. Ciumannya turun ke leher sampai ke dada. Marshal menggeram karena lagi-lagi Amanda menghisap dan menggigit untuk meninggalkan bekas di sana.

__ADS_1


Marshal tidak tahan lagi. Dia menahan tangan Amanda dengan kuat. "Manda, stop!" bentaknya membuat Amanda menatap padanya dengan tajam. "Hentikan ini sekarang! Aku tahu aku memang jahat padamu. Tapi, aku mohon, jangan seperti ini padaku!"


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh memilikimu? Kenapa aku tidak boleh bersamamu? Kamu lebih memilih dia dan sekarang kamu meninggalkan aku! Aku sendiri, Marshal! Aku mau kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu!"


__ADS_2