
Tiga hari berlalu setelah kejadian itu. Kondisi Amanda dikatakan semakin membaik. Sampai saat ini, Marshal masih belum bisa melihatnya, karena Amanda sudah dipindahkan ke rumah sakit luar negeri oleh Vennay. Tujuannya adalah supaya Amanda bisa memulai kehidupan baru, setelah tersadar dari komanya nanti.
Vennay tidak mau Amanda merusak rumah tangga Marshal, dan dia akan berusaha membuat Amanda untuk bisa melupakannya. Dia akan berusaha lebih cepat untuk mendekatkan Amanda dengan laki-laki yang menurutnya baik supaya pengalihan Amanda juga cepat melupakan suaminya Viona.
Saat ini yang Marshal lakukan hanya terdiam di depan televisi bersama istrinya. Hari sudah tengah malam, namun mereka masih belum merasa kantuk menyerang. Keduanya terlihat romantis menonton film berdua, ditemani jus alpukat kesukaan Viona dan segelas coklat panas milik suaminya. Dan juga beberapa cemilan tersaji di tengah-tengah mereka.
"Jika aku gendut, kamu yang tanggung jawab, ya!" ucap Viona dengan kurang jelas, karena mulutnya penuh dengan buah.
Marshal melihatnya gemas. Dia tertawa kecil dan mencubit pipi istrinya. Memang Marshal yang meminta Erni untuk menyimpan banyak makanan di meja. Dia sengaja melakukan itu supaya Viona tidak bosan menonton, dan istrinya itu sejak tadi tidak henti mengunyah karena Marshal yang memintanya.
"Aku pasti tanggung jawab, Sayang. Apalagi jika yang gendut bagian ini." Dengan berani Marshal mengusap perut rata istrinya. Viona menepis tangannya dan mulai kembali mengambil buah yang kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Sayang, kamu masih perawan, kan?"
Mata Viona melotot tajam. Dia terbatuk-batuk, tersedak sangking kagetnya mendengar pertanyaan Marshal. Setelah dia minum dan batuknya mereda, Viona memukul keras lengan suaminya.
"Kamu nanya apa tadi?! Kamu pikir aku wanita seperti apa sampai kamu bertanya seperti itu?!"
Viona tidak terima dengan pertanyaan Marshal yang seakan menuduhnya yang tidak-tidak. Menikah saja baru sekali bersama Marshal dan mereka belum pernah melakukan hubungan. Sudah tentu Marshal tahu jawabannya. Tapi, kenapa dia malah bertanya seperti itu membuat Viona sangat tersinggung dan begitu emosi.
"Bukan menuduhmu, Sayang. Aku hanya bertanya." Marshal mengelak, membujuk istrinya yang terlihat sangat marah. "Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu ...."
Viona menatapnya tajam. Dadanya naik turun seiring dengan emosi yang akan meledak kapan saja. Dia menepis tangan Marshal yang menggapainya dan terus meminta maaf.
"Sayang, aku tidak bermaksud ... lupakan saja pertanyaanku tadi! Aku hanya bertanya, karena aku takut-"
"Kamu pikir aku ini wanita murahan? Disentuh sama kamu saja aku enggan. Berani sekali kamu menuduh aku seperti itu!"
__ADS_1
Marshal mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mencoba menggapai Viona lagi, tetapi istrinya malah menjauh dan beranjak pergi. Dengan cepat Marshal menyusulnya. Dia semakin merasa tidak enak dan panik melihat istrinya yang marah dan malah pergi ke kamar miliknya. Padahal mereka sudah tinggal satu kamar. Hari kemarin Marshal menyuruh pekerjanya untuk memindahkan semua barang Viona ke kamar miliknya.
"Sayang!" Marshal menahan Viona yang akan menutup pintu kamar. Viona hanya memandangnya sinis dan masuk ke dalam kamar tersebut. Marshal ikut masuk dan memeluk istrinya cepat. Menahan Viona supaya tidak menghindarinya lagi. "Jangan marah! Aku minta maaf! Aku percaya kamu tidak seperti itu. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku minta maaf!"
Viona hanya mendengus sebal. Dia memalingkan wajah saat Marshal melihatnya. Perasaannya kesal. Dia merasa direndahkan oleh suaminya sendiri. Padahal baru saja hubungan mereka kembali hangat, tapi Marshal sudah berulah lagi.
"Aku tidak mau kecewa untuk kedua kalinya, Sayang. Amanda ... aku hanya memikirkan ucapannya. Jadi, tidak sengaja malah mengatakan itu padamu."
"Itukan Amanda. Jangan samakan aku dengannya!"
"Iya, Sayang, aku minta maaf! Sampai saat ini, aku memang tidak menyangka jika Amanda ...."
Viona membalik badan melihat pada Marshal. "Kamu bilang tidak menyangka? Kenapa? Bukankah kamu pernah merasakannya, kenapa kamu tidak menyangkanya?"
Marshal membola, dia sangat terkejut.
"Memang benar, bukan? Aku tahu sejauh mana kalian berhubungan."
"Kamu memfitnahku, Sayang." Marshal terlihat tidak terima dengan apa yang istrinya katakan. "Aku tidak pernah melakukan hal lebih bersamanya. Jika hanya berciuman, aku akui jika itu pernah terjadi. Tapi, untuk yang lebih dari itu ... aku sama sekali tidak pernah melakukannya."
Viona tidak mendengarkan apa yang suaminya katakan. Dia tidak percaya karena yakin hubungan Marshal dan Amanda sudah terjalin lebih jauh. Tapi, melihat kekecewaan Marshal, Viona juga bingung. Dia hanya berpikir, mungkin Marshal mengatakan hal itu hanya untuk mengelak dari kemarahan Viona yang sudah dia singgung mengenai keperawanan. Viona paham, Marshal menyinggung hal itu mungkin karena sampai saat ini Viona belum bisa melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Sejak kejadian itu, Marshal mulai berhati-hati untuk bicara dengan istrinya. Setiap kalimat yang ingin dia utarakan selalu dia pikirkan dulu baik-baik. Karena takut menyinggung atau bahkan membuat emosi istrinya kembali muncul ke permukaan.
"Aku ingin ke rumah mama. Sudah lama aku tidak ke sana," ucap Viona pada Marshal yang sedang fokus melihat layar laptopnya.
Sengaja Viona menemui suaminya di kantor. Dia suntuk berada di rumah sendirian hanya bergelut dengan skripsi yang sebentar lagi akan segera usai.
__ADS_1
"Tunggu sampai pekerjaanku selesai, nanti kita pergi bersama," sahut Marshal tanpa melihat lagi pada istrinya.
Awalnya, suami Viona itu terlihat begitu kaget dengan kedatangan istrinya yang sangat tiba-tiba. Viona tidak pernah mengunjunginya sampai ke kantor, kalaupun ada hal yang sangat penting ingin ia ucapkan. Tapi, kali ini Viona malah mendatanginya dan mengatakan jika dia bosa berada di rumah dan ingin pergi keluar. Tujuannya hanya meminta izin, tapi Viona malah pergi ke kantor, bukan meneleponnya saja seperti biasa. Marshal pikir ada hal lain yang istrinya inginkan, tetapi ternyata Viona hanya butuh teman. Marshal senang mendengarnya karena dia merasa dibutuhkan.
"Kapan pekerjaannya selesai?" Viona bersandar di tembok dekat dengan kursi kerja suaminya.
"Sedikit lagi, Sayang. Kamu duduk dulu di sana!"
Viona malah menggeleng saat Marshal menyuruhnya untuk duduk di sofa. Putri kesayangan Heru Pratama itu malah berbalik badan, berjalan menuju jendela yang ukurannya sangat besar seperti dinding. Dia bergidig ngeri melihat pemandangan indah dari ketinggian yang sangat menakjubkan itu. Ternyata gedung milik suaminya ini sangat tinggi, sampai gedung-gedung lain terlihat lebih pendek terlihat dari sana.
Marshal hanya tersenyum melihat Viona yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela. Istrinya itu terus bicara mengenai pemandangan tersebut. Marshal hanya menimpali seadanya karena dia juga sedang sibuk dengan pekerjaan.
"Nanti, jika kamu sudah tua, siapa yang akan mengelola ini semua? Perusahaan kamu banyak dan sangat besar. Tersebar di mana-mana. Siapa yang akan kamu jadikan penerusnya untuk mengendalikan ini semua?" Viona masih berdiri di depan jendela dengan kaca tebal yang sangat indah.
Marshal meliriknya dan tersenyum penuh arti. "Tentu saja anak kamu, Sayang. Memangnya siapa lagi yang akan meneruskannya?"
Viona berbalik badan, menunjuk dirinya sendiri. "Anakku? Kenapa? Ini semua 'kan perusahaan milik kamu. Kenapa anakku yang jadi penerusnya?"
Tidak tahan, tawa Marshal menggema. Dia menggelengkan kepala melihat istrinya yang sangat lucu itu. "Anak kamu 'kan anakku juga, Sayang. Sudah tentu mereka yang akan meneruskannya."
"Eh?" Viona berpikir sejenak sebelum dia mengangguk-anggukan kepala. "O, iya, ya ...."
Marshal hanya bisa menggeleng dan terus tertawa. Istrinya terlihat begitu lucu jika tidak bisa berpikir dengan baik. Namun, tanpa Marshal ketahui, di balik ke-loadingnya, Viona justru mulai berpikir ke mana-mana. Dia mulai membayangkan jika nanti mereka punya anak. Anaknya tumbuh besar dan menggantikan Marshal menjadi pemimpin perusahaan, sedangkan suaminya sudah tua renta dan hanya bisa makan, tidur dan sakit pinggang. Dengan pikiran itu, Viona terkekeh sendiri membuat Marshal heran melirik padanya.
"Kamu kenapa?"
"Tidak." Viona memalingkan wajah, tidak kuasa membayangkan wajah suaminya yang tampan itu berubah menjadi keriput. Rambutnya beruban, tubuhnya melemah dan giginya mulai rontok. Viona berbalik lagi sejenak hanya untuk melirik suaminya. Dia melihat wajah Marshal. Ditiliknya lekat-lekat dan tawa Viona menyembur dengan keras. Baru dibayangkan saja Viona sudah geli pada suaminya. Apalagi jika terjadi?
__ADS_1
Marshal memandang istrinya dengan aneh. Viona tertawa sendiri, padahal tidak ada hal lucu sama sekali. Mungkin istrinya butuh refresing, makanya dia seperti itu.