
Setelah Viona pergi dibawa oleh Rahma, Wisnu mencercarnya dengan berbagai pertanyaan yang sangat rumit untuk dijawab. Dengan terpaksa Marshal mengatakan semuanya pada Wisnu. Dia mengakui jika dia masih berhubungan dengan Amanda. Tentu saja dia mengakuinya jika dia melakukan itu tanpa sepengetahuan Viona. Wisnu semakin murka dan langsung menendangnya saat itu juga. Mendaratkan beberapa pukulan lagi pada anaknya.
"Siapa yang mengajarkanmu menjadi seorang bajing*n?" bentak Wisnu dihadapan Marshal yang bersimpuh di hadapannya. Hanya mengandalkan lutut untuk bertumpu, Marshal sudah tidak bisa berdiri dengan benar.
"Apa istimewanya wanita itu sampai kamu menduakan Viona?"
Marshal tidak menjawabnya. Dia hanya menunduk. Jika dipikir ulang, sebenarnya bukan Viona yang diselingkuhi, tapi Amanda. Karena hubungannya dengan Amanda lebih dulu terjalin sebelum menikahi Viona.
Dibuangnya napas dengan kasar. Wisnu menatap Marshal dengan pandangan nanar. "Papa tidak menyangka ... kamu membuat papa kecewa, Chal. Papa selalu percaya sama kamu, papa selalu bisa banggain kamu. Tapi, sekarang ... kamu lebih gila daripada seorang pencuri."
"Pa?" panggil Marshal pada ayahnya yang akan pergi setelah menghajarnya habis-habisan. Begitu jelas terlihat, jika Wisnu benar-benar kecewa mendapati kelakuan anaknya yang seperti itu.
Wisnu yang baru saja akan beranjak, membalik badan untuk menatap tajam putranya. "Gunakan dulu otakmu untuk merenungi kesalahan. Viona akan papa bawa dulu. Papa tidak mau dia tinggal bersama laki-laki bajingn seperti kamu, Chal."
"Tapi, Pa-"
"Papa bawa untuk sementara atau papa pulangkan dia pada orangtuanya?"
Marshal tercengang mendengarnya. Sampai kesusahan menelan ludah. Pilihan rumit yang tidak mungkin bisa dipilih. Dia tidak mungkin bisa menerima jika sampai Wisnu benar-benar memulangkan Viona pada orangtuanya. Bisa berakhir pernikahan mereka.
"Gunakan otak kanan untuk berpikir, sebelum kamu membuang berlian seperti Viona setelah kamu menyakitinya." Wisnu berlalu begitu saja meninggalkan Marshal yang masih tertegun melihat kepergiaannya.
"Arghh!" Diacaknya rambut dengan frustasi. Semuanya jadi rumit. Untuk sementara waktu dia harus rela berjauhan dengan Viona jika tidak mau Wisnu benar-benar memulangkannya atau bahkan membuat pernikahan mereka berakhir.
***
Sepertinya sebentar lagi kepalanya akan pecah. Dia tidak bisa sedikit pun merasa tenang. Masalah yang dihadapinya sungguh sulit untuk diselesaikan. Berkali-kali dia menghubungi istrinya yang sedang berada di rumah Wisnu, tetapi istrinya itu tidak kunjung menerima panggilan darinya.
Ada apa dengan Viona? Apa dia juga ikut menghakimi Marshal?
Tapi tidak mungkin. Dari awal Viona tidak pernah mempermasalahkan hubungannya dengan Amanda. Viona tidak mungkin ikut-ikutan membenci dirinya. Jika pun iya, pasti sudah dari dulu Viona lakukan.
__ADS_1
Kembali merenung di dalam kamar. Tangannya terangkat untuk mengusap jejak hadiah pemberian Wisnu. Masih terasa sakit. Tapi, dia tidak terlalu menghiraukan rasa sakitnya. Yang dia pikirkan hanya jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Ponsel yang dia genggam sedari tadi untuk menghubungi istrinya, kini berdering. Dengan cepat Marshal melihat layarnya. Senyuman terbit saat berpikir jika itu panggilan dari Viona. Namun, senyuman itu surut seketika saat layar menampilkan gambar kekasihnya.
Ditekannya panel merah untuk menolak panggilan. Saat ini dia sedang tidak mau berbicara dengan Amanda. Masih bingung dengan perasaannya. Marshal memang sedikit kesal dengan kekasihnya. Jika saja tadi Amanda tidak datang, semuanya tidak akan jadi seperti ini. Tapi, sesal pun percuma. Semuanya sudah terjadi. Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan. Tapi, waktunya mencari solusi untuk menyelesaikan.
Sudah hampir dua puluh panggilan dari Amanda dia tolak. Tidak ada niat sedikitpun untuknya bicara dengan Amanda. Saat ini dia hanya ingin berbicara dengan Viona. Entah kenapa, tapi hatinya hanya ingin berdiskusi untuk mencari jalan keluar dengan istrinya.
Untuk masalah Amanda, dia akan pikirkan nanti, setelah istrinya bisa dia bawa pulang lagi. Tapi, bagaimana dia bisa membawa pulang Viona, jika Wisnu belum bisa memaafkannya?
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Setelah Marshal mempersilakannya masuk, Rio muncul di balik pintu dengan membawa kompresan dan beberapa obat di tangannya. Marshal yang meminta. Dengan cepat Rio mendekat dan duduk di sofa, bersebelahan dengan Marshal.
"Biar saya obati," ucap Rio menawarkan diri, tetapi Marshal malah menolaknya dan mulai mengompres lukanya sendiri dengan bercermin pada layar ponsel.
Akhirnya Rio hanya diam. Memperhatikan sang majikan yang babak belur setelah dihajar oleh ayahnya. Ada rasa puas dalam diri asistennya itu setelah mengetahui jika Marshal ketahuan. Dia harap Marshal bisa menghentikkan kegilaannya setelah kejadian ini. Tapi, melihat majikannya yang terluka dan terlihat banyak beban, Rio jadi tidak tega. Bagaimana pun juga, dia pasti merasa khawatir jika terjadi apa-apa pada Marshal.
"Yo," Rio yang sedang membuka tutup salep untuk obat luka, dia menoleh pada Marshal dengan pandangan yang menanti. "apakah di dunia ini ada seorang pria yang mencintai dua wanita dalam waktu yang bersamaan?"
Rio mendengus dengan keras. Menyimpan salep di atas meja dengan sekali lemparan. Muak rasanya dia melihat Marshal yang sesekali meringis sedang mengobati lukanya. Selalu kalimat itu yang Marshal tanyakan. "Sudahlah, Tuan. Jangan membicarakan hal ini pada saya lagi!"
apa ada di dunia ini yang mencintai dua wanita sekaligus?
Karena hal itulah yang dia rasakan. Dia mencintai Viona dan juga Amanda. Jika disuruh memilih, dia selalu bingung harus memilih yang mana. Dia tidak mau melepaskan salah satu dari mereka. Tapi jika diambil dari nalar, tidak mungkin juga jika dia terus-terusan menggenggam keduanya.
"Yo, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Stop it! Saya tidak mendengar apapun." Rio menutup kedua telinga dengan tangannya. Mata terpejam dan langsung mengalihkan hadapan. Dia tidak mau melihat, mendengar, bahkan kalau bisa lebih baik dia menjauh dari Marshal yang punya perasaan membingungkan itu.
"Yo, aku serius bertanya. Bisakah kamu sedikit mengerti? Hanya kamu yang ada di sini."
"Oke, baiklah, baik ...." Rio membuka mata. Melepaskan tangan dari telinga. Dia menghadap pada Marshal lagi. Jika bukan bicara dengannya, Marshal akan bicara pada siapa? Istrinya sedang tidak ada, mau tidak mau Rio harus mengakar menjadi temannya lagi. "Jadi, apa yang ingin Tuan tanyakan pada penasihat dadakan yang tampan ini?"
__ADS_1
Wajah yang penuh lebam itu hanya menatap datar. Dia sedang kebingung, sama sekali tidak mau bercanda. "Katakan semua yang ada di otakmu saat ini. Aku akan mendengarkannya. Otakku buntu, aku bingung harus bagaimana."
Rio menghela napas dalam. Mempersiapkan diri untuk memberikan petuah yang bijak. "Tuan beneran mau dengarkan pendapat saya?"
Marshal mengangguk dengan yakin. Menyandar pada sofa dengan nyaman setelah selesai mengobati luka. Tangannya memijit pelipis pelan. Masalah yang dia hadapi saat ini terlalu rumit dan sangat sulit untuk dia selesaikan.
"Sebenarnya Tuan itu mencintai nyonya atau nona Amanda?"
Marshal menoleh dengan tajam. "Kenapa kamu malah bertanya seperti itu? Sudah tahu jawabannya masih saja bertanya. Aku ingin solusinya bukan pernyataan perasaannya."
Hela napas. Sabar, Rio! Marshal memang orangnya sedikit minta ditimpuk, batin Rio.
"Jangan salah, Tuan! Ini pertanyaan yang bermutu tinggi. Sebelum mencari solusi, Tuan harus bisa meyakinkan diri dulu, sebenarnya Tuan ini mencintai siapa? Yang lebih besar cinta Tuan untuk siapa?"
"Yo, jangan bertele-tele! Aku sedang pusing. Kamu sudah tahu aku mencintai keduanya, jadi cepatlah carikan aku solusi."
"Justru solusinya bisa didapatkan jika Tuan bisa meyakinkan perasaan diri sendiri," ucap Rio dengan pelan.
Marshal terdiam. Menatap langit-langit kamar dengan gundah. "Aku tidak tahu, Yo. Aku hanya merasa tidak mau kehilangan keduanya. Aku menyayangi Amanda, begitu juga istriku. Aku tidak mau melepaskan salah satu dari mereka."
Rio menganga lebar. Matanya membulat melihat pada Marshal. Hanya Marshal, laki-laki paling serakah yang pernah Rio kenal. Apa isi otaknya sampai Marshal berkata seperti itu?
"Yo, ap-"
"Sudah, Tuan! Saya tidak mau mendengar perasaan Tuan yang membingungkan itu lagi. Kepala saya ikut pusing dan sekarang saya lapar." Rio beranjak dari duduknya dengan cepat. Sudah merasa jengkel mendengar ocehan Marshal yang tidak punya kepastian itu. Lebih baik dia pergi sekarang juga.
"Tuan pikirkan saja dulu, hati Tuan sebenarnya menginginkan siapa yang harus dipertahankan?" ucap Rio sebelum menutup pintu kamar, meninggalkan Marshal yang terdiam melihat kepergiaannya dengan pikiran yang teramat semrawut.
"Pilih salah satu atau tidak dua-duanya?!" teriak Rio dari balik pintu kamar sebelum dia benar-benar pergi.
Hanya Rio yang tahu semuanya tentang Marshal. Dan yang mereka bahas hanya itu saja setiap saat hingga membuat Rio kelenger sendiri. Dia heran pada Marshal, jika dia benar-benar mencintai Viona sampai mau menikahinya, harusnya dia lepaskan saja Amanda dan jangan berhubungan lagi dengannya!
__ADS_1
Tapi, emang Marshal-nya sudah aneh tingkat dewa. Dia selalu bilang tidak bisa melepaskan Amanda karena juga masih mencintainya. Tapi, dia juga malah menikahi Viona. Dan sekarang dia bilang tidak bisa melepaskan salah satu dari mereka. Apa yang Marshal inginkan sebenarnya?
"Bodo amatlah! Mati saja kau Tuan!"