Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Dia punya kekasih


__ADS_3

"Telanjang"


Viona harus membuka matanya lebar-lebar. Dengan santainya Marshal berucap seperti itu.


Viona semakin kembali kesal pada Marshal.


Masa iya aku harus pulang telanjang? aku masih punya urat malu, Tuan. Enak saja dia bilang seperti itu. Gumam hati Viona sembari memasang wajah cemberut sejutek-juteknya.


"Lagian kenapa kamu gak bawa baju ganti?kalo gini kan jadi repot. Terus sekarang mau gimana?" Viona menggeleng penuh bingung.


Marshal menghela napas. Dan Viona, dia terlihat berpikir keras dalam kebingungan.


'Ah, gimana dong nih? Aku gak mau pake ini terus. Ribet.. tapi gak ada baju ganti. Terus aku harus gimana?.. Aargh..


Dia melirik Viona dari atas sampai bawah. Dan langsung kembali membalikkan tubuh Viona memunggunginya. Lalu kembali menaikkan ritsletingnya dan kembali merapikan gaun yang dikenakan Viona.


Viona kaget juga heran dengan tindakan Marshal yang tiba-tiba. Dia mengernyit kemudian membalikkan badan menghadap Marshal.


"Kamu nanti pulang pakai ini saja. Mana mungkin kamu pulang telanjang. Itu sangat tidak etis"


"Tapi, Tuan. Gaunnya ribet. Saya tidak mau memakainya lagi. Badan saya sudah tidak enak memakainya"


"Kan tidak ada baju ganti. Apa kamu mau pulang dengan telanjang? Apa kamu tidak tahu mal-..." belum selesai Marshal mengomeli Viona, Seseorang masuk keruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Mereka melirik kearah itu. Kearah orang yang baru saja masuk. Terlihat Wanita cantik memakai gaun hitam menghampiri mereka. Dia langsung merangkul pinggang Marshal yang berdiri didekatnya.


"Ayo, aku mau pulang" ujarnya manja memeluk Marshal dari samping.


Viona hanya menyaksikan itu dalam diamnya dengan heran.


Siapa wanita ini? Kenapa dia datang langsung meluk tuan begitu saja? Apa dia orang spesial untuk tuan? atau keluarganya juga?.. ah, kayanya bukan deh. Aku udah kenalan sama semua keluarganya. Kayanya aku baru liat dia.


"Amanda, kamu tunggu dimobil. Dan tolong panggilkan Rio kesini!" Ucap Marshal lembut membelai pipi wanita itu. Amanda namanya.


Amanda melepaskan pelukannya. "Baiklah, aku tunggu di mobil ya, Sayang" Amanda pun berlalu keluar ruangan.


Sayang? Dia manggil sayang? Siapa dia? Apa dia pacarnya tuan?..


"Nanti kamu pulang diantar Rio. Aku harus mengantar pacarku pulang dulu" ujar Marshal santai membuat Viona membulatkan matanya saat mendengar kata pacarku.


"Pacar? itu tadi pacar Tuan?" Tanyanya memastikan.


"Iya" sahutnya santai membuat Viona semakin terbelalak.


Dia punya pacar? Jika dia punya pacar, kenapa dia malah nikahin aku gak nikah sama pacarnya saja?..


"Jadi Tuan punya pacar?.." Marshal mengangguk. "Terus, kenapa tuan malah nikah sama saya? Kenapa gak nikah sama pacar tuan saja?"


"Kenapa memangnya? Kamu gak suka? Aku mau nikahin siapa aja itu hakku, urusanku, bukan urusanmu. Hidup-hidup aku, kenapa kamu yang repot. Terserah aku mau lakuin apapun" nada angkuh Marshal membuat Viona semakin tersulut emosi.


Viona mengepalkan tangannya geram dengan Marshal. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Marshal. Bisa-bisanya dia tetap terlihat angkuh saat ini. Jelas Viona bisa saja mempermasalahkan hal itu. Ini menyangkut hidupnya juga. Viona yang Marshal nikahi disini, tapi kenapa Marshal malah seenaknya bicara seperti itu, seakan dia mempermainkan Viona untuk dinikahinya.

__ADS_1


"Apa kamu keberatan jika aku punya pacar?" Tanya Marshal seperti mengejek saat melihat Viona yang terlihat kesal.


Viona menyunggingkan senyuman sinisnya. Cih.. Mana mungkin saya keberatan tuan. kata hatinya yakin.


Marshal mendekatkan wajahnya kedekat Viona. "Apa kamu keberatan jika aku punya pacar?" Tanyanya kembali.


Viona tersenyum simpul. "Tidak, Tuan. Saya tidak keberatan sama sekali. Lagian itu juga bukan urusan saya. Dan pernikahan ini juga bukan keinginan saya. Jadi saya tidak mungkin keberatan dengan hal itu" jawabnya disertai senyuman sembari menatap lekat wajah Marshal yang ada didepan wajahnya.


Marshal menjauhkan wajahnya. Tersenyum miring melihat Viona.


Kukira dia akan marah? Ternyata dia menerima.


"Bagus kalo gitu. Kamu cukup tahu diri ternyata. Aku cuman ingin mengingatkanmu supaya tidak ikut campur urusanku. Kamu tidak punya hak untuk itu"


Viona tersenyum miring mendengarkannya. "Hiii.. Saya bahkan tidak akan pernah melirik urusan anda, tuan. Waktu saya terlalu berharga jika hanya untuk mengurusi hubungan tuan yang tidak bermakna itu" cibir Viona membuat Marshal geram, emosinya mulai naik karena Viona seakan merendahkan hubungannya dengan Amanda.


"Apa katamu?!" Marshal menyorot Viona tajam. "Waktumu terlalu berharga untuk hubunganku yang tidak bermakna?.." Emosi Marshal semakin meluap. Dia menatap Viona penuh dengan tatapan membunuhnya.


"Mulutmu itu sudah lancang sekali ya..." sorotan Marshal semakin tajam membuat nyali Viona menciut seketika.


Kenapa aku seberani itu tadi?... dia pasti marah besar padaku...


"Jangan pernah kamu bicara omong kosong lagi padaku. Apalagi mengejek hubunganku. Itu bukan urusanmu" Viona hanya mampu menunduk mendengarkan. "Kalau kamu berani membantah ucapanku,.. Habis kamu!" Viona jadi gemetaran takut dibuatnya.


Marshal meraih dagu Viona. Dan memberikan sorotan membunuhnya kembali yang mampu membuat Viona semakin ketakutan juga gemetaran menatapnya.


"Jika kamu berani membantahku, maka aku akan membuat keluargamu hancur. Kalau perlu aku akan mengistirahatkan mereka ditempat terakhirnya.. KUBURAN!" Ancam Marshal penuh penekanan yang tak lepas dari sorotan tajamnya yang tentu saja membuat nyali Viona semakin menciut.


Viona gemetaran melihat Marshal dengan mood yang sepertinya kurang bersahabat itu.


Terdengar suara ketukan pintu. Marshal melepaskan dagu Viona dan menjauh beberapa langkah darinya.


"Maaf, Tuan memanggilku?" Rio memasuki ruangan. Menghampiri Marshal dan Viona.


"Kamu antarkan dia pulang!" Suruh Marshal. Kemudian duduk disofa. Sedangkan Viona masih diam dalam ketakutannya melihat kearah mereka.


Rio mengangguk. "Di antarkan langsung kerumah tuan muda?" Tanya Rio memastikan. "Iya" sahut Marshal santai yang kini fokus pandangan pada ponselnya.


"Tidak. Saya mau pulang kerumah orangtua saya" sambar Viona tiba-tiba membuat Marshal dan Rio langsung menoleh kearahnya.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa minta pulang kerumah Ayahmu? Apa kamu tidak mau pulamg kerumahku?" Marshal menaruh ponselnya diatas meja menatap intens Viona.


"Tidak. Saya tidak mau tinggal dengan Tuan. Lebih baik saya tinggal dengan orangtua saya" tolak Viona dengan nada ketus.


Marshal beranjak dari duduknya menghampiri Viona. "Apa kamu bilang hah? Kamu tidak mau tinggal denganku? Kamu ini istriku sekarang, kamu harus tinggal denganku!" Ucap tegas Marshal kembali dengan sorotan tajamnya.


Viona menunduk tak berani menerima tatapan dari Marshal.


Mana bisa aku tinggal dengannya kalo dia seperti ini... dia orang tidak berperasaan. Gumam Viona dalam hati.


"Tapi saya tidak mau, Tuan. Saya ingin tinggal bersama orangtua saya, Tuan" jawabnya lirih dengan masih menunduk.

__ADS_1


"Kamu tidak mau tinggal denganku?.. kenapa?" Marshal semakin mendekatkan dirinya pada Viona yang membuat Viona semakin gugup gemetaran dan takut pada Marshal.


Karena anda menyebalkan, Tuan. Jawabnya dalam hati


Marshal mendekatkan wajahnya kesamping telinga Viona. "Kamu harus tinggal denganku! Atau aku akan membuat keluargamu menjadi gelandangan" bisik Marshal yang ampuh membuat Viona semakin gemetar ketakutan. Dia tahu ucapan Marshal tidak main-main. Keputusannya akan cepat terwujud seperti membalikkan telapak tangan.


Marshal melirik Viona dengan senyuman liciknya. "Bagaimana? Kamu akan pulang kerumahku, kan?"


"Baik" sahut Viona lirih masih menunduk. Di sudah pasrah.


Marshal meraih dagu Viona supaya bisa menatapnya. "Tatap aku!" Viona memberanikan diri menatap Marshal.


"Katakan sekali lagi! Kamu mau'kan pulang dan tinggal dirumahku?"


Viona mengangguk lemah. "Baik saya akan pulang kerumah tuan" sahutnya lirih dengan suara yang gemetaran.


Ternyata dia bisa menurut juga padaku. Dia pasti mudah dikendalikan...


Marshal mengusap dagu dan pipi Viona sekilas yang membuat Viona merasa risih dengan tindakannya itu.


"Nanti kamu pulang diantar Rio. Aku ada urusan sebentar" ucap Marshal menurunkan tangannya dari wajah Viona.


Urusan katanya.. bilang aja nganterin pacar pulang. Sahut hati Viona jengah.


"Rio, antarkan dia pulang sampai kedepan kamarnya! Aku takut dia akan melarikan diri" titahnya Marshal tetap memandang Viona tanpa menoleh sedikitpun pada Rio.


Melarikan diri? Memangnya aku akan melarikan diri kemana? Bukannya aku akan terpenjara olehmu, Tuan?..


Marshal membalikkan tubuhnya untuk beranjak pergi dari ruangan. Namun dengan segera ia kembali membalikkan badan menghadap Viona kembali. "Oh, iya. Kita tidak akan tidur sekamar. Kita akan tinggal beda kamar. Apa kamu tidak masalah kalau kita tidur beda kamar?"


Oh, tentu saja tidak masalah. Siapa juga yang sudi sekamar dengannya 'Gumam hatinya senang.


"Tidak, Tuan. Justru saya senang jika kita berbeda kamar. Saya memang tidak ingin sekamar dengan tuan" jawabnya antusias disertai senyuman manisnya membuat Marshal menaikkan alisnya.


Kenapa dia malah senang kita tidak sekamar? Apa sebegitu tidak maunya dia terhadapku?... apa aku sangat menakutkan baginya, sampai dia tidak mau tidur denganku.


"Bagus kalau kamu tidak keberatan. Jangan pernah berharap kita akan tidur sekamar. Aku tidak mau tidur denganmu" ucapnya dipertegas dengan nada ketus.


Tentu saja itu tidak mungkin aku inginkan. Bahkan aku ingin agar kita tidak bertemu lagi.


Viona kembali menyunggingkan senyuman bahagianya. "Tentu saja, tuan. Saya tidak akan berharap sejauh itu. Saya malah senang sekali jika kita memang tidak sekamar. Saya harap, kita memang tidak akan pernah sekamar selamanya" ujarnya dengan Antusias dengan raut wajah yang begitu berbinar semakin membuat Marshal heran juga kesal terhadap respon Viona.


Kenapa dia bisa begitu senang tidak tidur denganku? Dia aneh. Disaat wanita lain banyak yang berebut ingin tidur denganku, dia malah tidak mau. Padahal dia istriku... Dia bilang selamanya tidak ingin tidur denganku, bagaimana mungkin itu terjadi. Akukan suaminya. Aku pria normal. Tidak mungkin bertahan beda kamar dengan istri sendiri. Bisa-bisanya dia terlihat senang seperti itu. Dia ini gila, atau benar-benar tidak suka padaku?..


"Pulanglah! Aku harus pergi dulu"


Viona mengangkat gaunnya sedikit seolah menunjukkan pertanyaannya pada Marshal. Marshal yang melihat itu sangat paham betul. Kemudian dia diam untuk berpikir sejenak.


"Rio, tolong carikan baju untuk dia! Dia tidak mungkin pulang dengan gaun yang merepotkan ini"


Rio mengangguk dan berlalu keluar ruangan.

__ADS_1


"Jangan macam-macam saat tidak ada aku! Aku pergi dulu. Kamu pulang bersama Rio! Barang-barangmu sudah ada dimobil" ujarnya kemudian berlalu keluar ruangan setelah mendapat anggukan dari Viona.


BERSAMBUNG....


__ADS_2